logo
● Warga Rumbai Silahkan Kunjungi Pasar Murah, Beras SPHP Dijual Rp60 Ribu Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Udara Pekanbaru Kian Mengkhawatirkan, PM2.5 Enam Kali Ambang Batas WHO Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Hujan Lebat Disertai Petir Malam Ini, BMKG Pantau 11 Titik Panas di Riau Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Diduga Dipicu Sengketa Tanah, Adik Bacok Kakak Kandung Hingga Tewas di Ukui Pela Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Rupiah Makin Terpuruk, Ditutup di Level Rp18.060 per Dolar AS Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Kejati Riau Tahan 8 Tersangka Korupsi Dana PI PT SPRH, Kerugian Negara Rp64,22 M Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Polda Riau Sita 2,1 Kg Sabu dan 284 Catridge Etomidate di Pekanbaru, Dua DPO Dib Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Pansel KPU 2027–2032 Segera Diumumkan, DPR Tekankan Integritas Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / News / Pekanbaru
Kabut Asap Pekanbaru Kian Pekat, BMKG Ungkap Asalnya dari Sumsel
Pegerakan angin yang membawa kabut asap dari pengamatan BMKG Pekanbaru (foto:wahyu/falatehan)
Kabut Asap Pekanbaru Kian Pekat, BMKG Ungkap Asalnya dari Sumsel
Editor: Ridho Haztil | Penulis: wahyu falatehan
Rubrik: news | 7 Oktober 2026 | 16:29:17

PEKANBARU-Kabut asap kembali menyelimuti Kota Pekanbaru dan sejumlah wilayah di Provinsi Riau pada Rabu (7/10/2026). Kondisi udara yang terlihat berkabut mulai dirasakan masyarakat sejak sehari sebelumnya dan menyebabkan jarak pandang di sejumlah kawasan menurun.

Meski kualitas udara memburuk, aktivitas masyarakat di Pekanbaru masih berlangsung seperti biasa. Sejumlah warga yang harus beraktivitas di luar rumah terlihat mulai menggunakan masker sebagai langkah perlindungan terhadap paparan asap.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru menyebut kabut asap yang masuk ke wilayah Riau bukan berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dalam jumlah signifikan di Riau.

iklan-view

Kepala BMKG Stasiun Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, Warjono, mengatakan kondisi tersebut lebih dipengaruhi oleh asap kiriman dari wilayah provinsi tetangga.

“Karena kabut asap yang mengepung Riau bukan berasal dari wilayah setempat, melainkan kiriman dari provinsi tetangga,” ujar Warjono.

Menurutnya, data pemantauan satelit menunjukkan jumlah titik panas atau hotspot yang terdeteksi di Provinsi Riau masih relatif sedikit, yakni kurang dari 10 titik.

Kondisi berbeda terlihat di Provinsi Sumatera Selatan. Berdasarkan data yang disampaikan BMKG, jumlah hotspot di wilayah tersebut terpantau mencapai lebih dari 2.000 titik.

Pergerakan asap dari Sumatera Selatan menuju Riau turut dipengaruhi kondisi angin. Angin yang bergerak dari arah tenggara menuju utara membuat asap dari wilayah selatan berpotensi terbawa hingga memasuki sejumlah daerah di Riau, termasuk Pekanbaru.

Kondisi tersebut menyebabkan kabut asap lebih mudah terkonsentrasi di wilayah yang dilalui pergerakan massa udara tersebut.

BMKG Pekanbaru mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak buruk kualitas udara. Warga dianjurkan mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama ketika kondisi kabut semakin pekat.

Bagi masyarakat yang terpaksa harus beraktivitas di luar rumah, penggunaan masker sangat dianjurkan untuk mengurangi paparan partikel asap yang dapat mengganggu sistem pernapasan.

Masyarakat juga diminta memperhatikan kondisi kesehatan dan segera mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila mulai mengalami keluhan akibat paparan asap.

BMKG bersama instansi terkait akan terus memantau perkembangan cuaca, arah angin, serta kondisi atmosfer yang dapat memengaruhi pergerakan asap di wilayah Riau.(*)

Home / News
Kabut Asap Pekanbaru Kian Pekat, BMKG Ungkap Asalnya dari Sumsel
Editor: Ridho Haztil | Penulis: wahyu falatehan
Rubrik: news | 7 Oktober 2026 | 16:29:17
Kabut Asap Pekanbaru Kian Pekat, BMKG Ungkap Asalnya dari Sumsel
Pegerakan angin yang membawa kabut asap dari pengamatan BMKG Pekanbaru (foto:wahyu/falatehan)

PEKANBARU-Kabut asap kembali menyelimuti Kota Pekanbaru dan sejumlah wilayah di Provinsi Riau pada Rabu (7/10/2026). Kondisi udara yang terlihat berkabut mulai dirasakan masyarakat sejak sehari sebelumnya dan menyebabkan jarak pandang di sejumlah kawasan menurun.

Meski kualitas udara memburuk, aktivitas masyarakat di Pekanbaru masih berlangsung seperti biasa. Sejumlah warga yang harus beraktivitas di luar rumah terlihat mulai menggunakan masker sebagai langkah perlindungan terhadap paparan asap.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru menyebut kabut asap yang masuk ke wilayah Riau bukan berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dalam jumlah signifikan di Riau.

Kepala BMKG Stasiun Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, Warjono, mengatakan kondisi tersebut lebih dipengaruhi oleh asap kiriman dari wilayah provinsi tetangga.

“Karena kabut asap yang mengepung Riau bukan berasal dari wilayah setempat, melainkan kiriman dari provinsi tetangga,” ujar Warjono.

Menurutnya, data pemantauan satelit menunjukkan jumlah titik panas atau hotspot yang terdeteksi di Provinsi Riau masih relatif sedikit, yakni kurang dari 10 titik.

Kondisi berbeda terlihat di Provinsi Sumatera Selatan. Berdasarkan data yang disampaikan BMKG, jumlah hotspot di wilayah tersebut terpantau mencapai lebih dari 2.000 titik.

Pergerakan asap dari Sumatera Selatan menuju Riau turut dipengaruhi kondisi angin. Angin yang bergerak dari arah tenggara menuju utara membuat asap dari wilayah selatan berpotensi terbawa hingga memasuki sejumlah daerah di Riau, termasuk Pekanbaru.

Kondisi tersebut menyebabkan kabut asap lebih mudah terkonsentrasi di wilayah yang dilalui pergerakan massa udara tersebut.

BMKG Pekanbaru mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak buruk kualitas udara. Warga dianjurkan mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama ketika kondisi kabut semakin pekat.

Bagi masyarakat yang terpaksa harus beraktivitas di luar rumah, penggunaan masker sangat dianjurkan untuk mengurangi paparan partikel asap yang dapat mengganggu sistem pernapasan.

Masyarakat juga diminta memperhatikan kondisi kesehatan dan segera mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila mulai mengalami keluhan akibat paparan asap.

BMKG bersama instansi terkait akan terus memantau perkembangan cuaca, arah angin, serta kondisi atmosfer yang dapat memengaruhi pergerakan asap di wilayah Riau.(*)