logo
● Warga Rumbai Silahkan Kunjungi Pasar Murah, Beras SPHP Dijual Rp60 Ribu Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Udara Pekanbaru Kian Mengkhawatirkan, PM2.5 Enam Kali Ambang Batas WHO Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Hujan Lebat Disertai Petir Malam Ini, BMKG Pantau 11 Titik Panas di Riau Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Diduga Dipicu Sengketa Tanah, Adik Bacok Kakak Kandung Hingga Tewas di Ukui Pela Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Rupiah Makin Terpuruk, Ditutup di Level Rp18.060 per Dolar AS Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Kejati Riau Tahan 8 Tersangka Korupsi Dana PI PT SPRH, Kerugian Negara Rp64,22 M Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Polda Riau Sita 2,1 Kg Sabu dan 284 Catridge Etomidate di Pekanbaru, Dua DPO Dib Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Pansel KPU 2027–2032 Segera Diumumkan, DPR Tekankan Integritas Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / Lingkungan / Jakarta
El Niño Pengaruhi Jadwal Musim Hujan, BMKG Minta Warga Bersiap Hadapi Cuaca Ekstrem
Ilustrasi Orang melintasi hujan (foto:istock)
El Niño Pengaruhi Jadwal Musim Hujan, BMKG Minta Warga Bersiap Hadapi Cuaca Ekstrem
Editor: Ridho Haztil | Penulis: raka sagara
Rubrik: lingkungan | 21 Oktober 2026 | 20:15:25

JAKARTA-Masyarakat di berbagai wilayah Indonesia diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi menjelang akhir 2026 hingga awal 2027.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan hujan dengan intensitas lebat hingga ekstrem berpeluang lebih sering terjadi selama puncak musim hujan.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan bahwa musim hujan tahun ini diperkirakan datang lebih lambat dibandingkan periode biasanya. Kondisi tersebut berkaitan dengan fenomena El Niño yang saat ini memengaruhi pola musim di Indonesia.

Menurut Faisal, sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada November hingga Desember 2026. Meski demikian, periode musim hujan yang lebih singkat perlu menjadi perhatian karena dapat memengaruhi distribusi curah hujan.

Dalam keterangannya di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (21/10/2026), Faisal menyampaikan bahwa puncak musim hujan diperkirakan berlangsung selama tiga bulan, yakni Desember 2026, Januari 2027, dan Februari 2027.

BMKG memperkirakan curah hujan pada periode awal musim hujan secara umum masih berada dalam kategori normal apabila dibandingkan dengan rata-rata klimatologis selama 30 tahun terakhir.

Namun, kondisi tersebut bukan berarti risiko cuaca ekstrem dapat diabaikan. Periode musim hujan yang relatif pendek berpotensi membuat hujan lebat hingga sangat lebat lebih sering terjadi pada waktu-waktu tertentu.

Peningkatan intensitas hujan menjelang pergantian tahun berpotensi menimbulkan sejumlah bencana, terutama banjir dan tanah longsor. Wilayah dengan sistem drainase yang kurang memadai, kawasan bantaran sungai, serta daerah perbukitan perlu memberikan perhatian lebih terhadap perkembangan cuaca.

Faisal menegaskan bahwa langkah antisipasi perlu dilakukan sejak dini untuk mengurangi dampak yang mungkin timbul akibat cuaca ekstrem.

Upaya mitigasi dapat dilakukan melalui pembersihan saluran air, pemeriksaan kondisi tanggul, pemantauan debit sungai, serta peningkatan kesiapsiagaan masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana.

Pemerintah daerah juga perlu memperkuat koordinasi dengan instansi terkait agar informasi mengenai potensi hujan lebat dapat diteruskan kepada masyarakat secara cepat dan tepat.

Selain kesiapan pemerintah, partisipasi masyarakat turut berperan penting dalam mengurangi risiko bencana. Warga diimbau mengikuti perkembangan prakiraan cuaca dan peringatan dini yang diterbitkan BMKG, terutama ketika terjadi peningkatan intensitas hujan di wilayah masing-masing.

Masyarakat yang tinggal di sekitar sungai maupun lereng perbukitan sebaiknya mengenali tanda-tanda bahaya, seperti kenaikan permukaan air secara cepat, munculnya retakan tanah, atau pergerakan material di lereng.(*) 


El Niño Pengaruhi Jadwal Musim Hujan, BMKG Minta Warga Bersiap Hadapi Cuaca Ekstrem
Editor: Ridho Haztil | Penulis: raka sagara
Rubrik: lingkungan | 21 Oktober 2026 | 20:15:25
El Niño Pengaruhi Jadwal Musim Hujan, BMKG Minta Warga Bersiap Hadapi Cuaca Ekstrem
Ilustrasi Orang melintasi hujan (foto:istock)

JAKARTA-Masyarakat di berbagai wilayah Indonesia diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi menjelang akhir 2026 hingga awal 2027.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan hujan dengan intensitas lebat hingga ekstrem berpeluang lebih sering terjadi selama puncak musim hujan.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan bahwa musim hujan tahun ini diperkirakan datang lebih lambat dibandingkan periode biasanya. Kondisi tersebut berkaitan dengan fenomena El Niño yang saat ini memengaruhi pola musim di Indonesia.

Menurut Faisal, sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada November hingga Desember 2026. Meski demikian, periode musim hujan yang lebih singkat perlu menjadi perhatian karena dapat memengaruhi distribusi curah hujan.

Dalam keterangannya di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (21/10/2026), Faisal menyampaikan bahwa puncak musim hujan diperkirakan berlangsung selama tiga bulan, yakni Desember 2026, Januari 2027, dan Februari 2027.

BMKG memperkirakan curah hujan pada periode awal musim hujan secara umum masih berada dalam kategori normal apabila dibandingkan dengan rata-rata klimatologis selama 30 tahun terakhir.

Namun, kondisi tersebut bukan berarti risiko cuaca ekstrem dapat diabaikan. Periode musim hujan yang relatif pendek berpotensi membuat hujan lebat hingga sangat lebat lebih sering terjadi pada waktu-waktu tertentu.

Peningkatan intensitas hujan menjelang pergantian tahun berpotensi menimbulkan sejumlah bencana, terutama banjir dan tanah longsor. Wilayah dengan sistem drainase yang kurang memadai, kawasan bantaran sungai, serta daerah perbukitan perlu memberikan perhatian lebih terhadap perkembangan cuaca.

Faisal menegaskan bahwa langkah antisipasi perlu dilakukan sejak dini untuk mengurangi dampak yang mungkin timbul akibat cuaca ekstrem.

Upaya mitigasi dapat dilakukan melalui pembersihan saluran air, pemeriksaan kondisi tanggul, pemantauan debit sungai, serta peningkatan kesiapsiagaan masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana.

Pemerintah daerah juga perlu memperkuat koordinasi dengan instansi terkait agar informasi mengenai potensi hujan lebat dapat diteruskan kepada masyarakat secara cepat dan tepat.

Selain kesiapan pemerintah, partisipasi masyarakat turut berperan penting dalam mengurangi risiko bencana. Warga diimbau mengikuti perkembangan prakiraan cuaca dan peringatan dini yang diterbitkan BMKG, terutama ketika terjadi peningkatan intensitas hujan di wilayah masing-masing.

Masyarakat yang tinggal di sekitar sungai maupun lereng perbukitan sebaiknya mengenali tanda-tanda bahaya, seperti kenaikan permukaan air secara cepat, munculnya retakan tanah, atau pergerakan material di lereng.(*)