
JAKARTA-Masyarakat di berbagai wilayah Indonesia diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi menjelang akhir 2026 hingga awal 2027.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan hujan dengan intensitas lebat hingga ekstrem berpeluang lebih sering terjadi selama puncak musim hujan.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan bahwa musim hujan tahun ini diperkirakan datang lebih lambat dibandingkan periode biasanya. Kondisi tersebut berkaitan dengan fenomena El Niño yang saat ini memengaruhi pola musim di Indonesia.
Menurut Faisal, sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada November hingga Desember 2026. Meski demikian, periode musim hujan yang lebih singkat perlu menjadi perhatian karena dapat memengaruhi distribusi curah hujan.
Dalam keterangannya di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (21/10/2026), Faisal menyampaikan bahwa puncak musim hujan diperkirakan berlangsung selama tiga bulan, yakni Desember 2026, Januari 2027, dan Februari 2027.
BMKG memperkirakan curah hujan pada periode awal musim hujan secara umum masih berada dalam kategori normal apabila dibandingkan dengan rata-rata klimatologis selama 30 tahun terakhir.
Namun, kondisi tersebut bukan berarti risiko cuaca ekstrem dapat diabaikan. Periode musim hujan yang relatif pendek berpotensi membuat hujan lebat hingga sangat lebat lebih sering terjadi pada waktu-waktu tertentu.
Peningkatan intensitas hujan menjelang pergantian tahun berpotensi menimbulkan sejumlah bencana, terutama banjir dan tanah longsor. Wilayah dengan sistem drainase yang kurang memadai, kawasan bantaran sungai, serta daerah perbukitan perlu memberikan perhatian lebih terhadap perkembangan cuaca.
Faisal menegaskan bahwa langkah antisipasi perlu dilakukan sejak dini untuk mengurangi dampak yang mungkin timbul akibat cuaca ekstrem.
Upaya mitigasi dapat dilakukan melalui pembersihan saluran air, pemeriksaan kondisi tanggul, pemantauan debit sungai, serta peningkatan kesiapsiagaan masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana.
Pemerintah daerah juga perlu memperkuat koordinasi dengan instansi terkait agar informasi mengenai potensi hujan lebat dapat diteruskan kepada masyarakat secara cepat dan tepat.
Selain kesiapan pemerintah, partisipasi masyarakat turut berperan penting dalam mengurangi risiko bencana. Warga diimbau mengikuti perkembangan prakiraan cuaca dan peringatan dini yang diterbitkan BMKG, terutama ketika terjadi peningkatan intensitas hujan di wilayah masing-masing.
Masyarakat yang tinggal di sekitar sungai maupun lereng perbukitan sebaiknya mengenali tanda-tanda bahaya, seperti kenaikan permukaan air secara cepat, munculnya retakan tanah, atau pergerakan material di lereng.(*)







JAKARTA-Masyarakat di berbagai wilayah Indonesia diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi menjelang akhir 2026 hingga awal 2027.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan hujan dengan intensitas lebat hingga ekstrem berpeluang lebih sering terjadi selama puncak musim hujan.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan bahwa musim hujan tahun ini diperkirakan datang lebih lambat dibandingkan periode biasanya. Kondisi tersebut berkaitan dengan fenomena El Niño yang saat ini memengaruhi pola musim di Indonesia.
Menurut Faisal, sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada November hingga Desember 2026. Meski demikian, periode musim hujan yang lebih singkat perlu menjadi perhatian karena dapat memengaruhi distribusi curah hujan.
Dalam keterangannya di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (21/10/2026), Faisal menyampaikan bahwa puncak musim hujan diperkirakan berlangsung selama tiga bulan, yakni Desember 2026, Januari 2027, dan Februari 2027.
BMKG memperkirakan curah hujan pada periode awal musim hujan secara umum masih berada dalam kategori normal apabila dibandingkan dengan rata-rata klimatologis selama 30 tahun terakhir.
Namun, kondisi tersebut bukan berarti risiko cuaca ekstrem dapat diabaikan. Periode musim hujan yang relatif pendek berpotensi membuat hujan lebat hingga sangat lebat lebih sering terjadi pada waktu-waktu tertentu.
Peningkatan intensitas hujan menjelang pergantian tahun berpotensi menimbulkan sejumlah bencana, terutama banjir dan tanah longsor. Wilayah dengan sistem drainase yang kurang memadai, kawasan bantaran sungai, serta daerah perbukitan perlu memberikan perhatian lebih terhadap perkembangan cuaca.
Faisal menegaskan bahwa langkah antisipasi perlu dilakukan sejak dini untuk mengurangi dampak yang mungkin timbul akibat cuaca ekstrem.
Upaya mitigasi dapat dilakukan melalui pembersihan saluran air, pemeriksaan kondisi tanggul, pemantauan debit sungai, serta peningkatan kesiapsiagaan masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana.
Pemerintah daerah juga perlu memperkuat koordinasi dengan instansi terkait agar informasi mengenai potensi hujan lebat dapat diteruskan kepada masyarakat secara cepat dan tepat.
Selain kesiapan pemerintah, partisipasi masyarakat turut berperan penting dalam mengurangi risiko bencana. Warga diimbau mengikuti perkembangan prakiraan cuaca dan peringatan dini yang diterbitkan BMKG, terutama ketika terjadi peningkatan intensitas hujan di wilayah masing-masing.
Masyarakat yang tinggal di sekitar sungai maupun lereng perbukitan sebaiknya mengenali tanda-tanda bahaya, seperti kenaikan permukaan air secara cepat, munculnya retakan tanah, atau pergerakan material di lereng.(*)