
PEKANBARU-Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Abdul Muhaimin Iskandar atau Cak Imin, mengajak para santri di seluruh Indonesia untuk mengambil peran lebih besar dalam membangun masa depan bangsa. Menurutnya, santri tidak cukup hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga harus mampu menjawab persoalan kemiskinan, ketertinggalan, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).
Pesan tersebut disampaikan Cak Imin saat menghadiri peringatan Hari Santri Nasional (HSN) ke-11 tahun 2026 di Pondok Pesantren Darel Hikmah, Pekanbaru, Riau.
Kehadirannya disambut ribuan santri bersama para kiai dan tokoh masyarakat. Kegiatan diawali dengan upacara pengibaran bendera Merah Putih di halaman pesantren.

Dalam amanatnya, Cak Imin menyoroti peran historis Riau sebagai salah satu wilayah penting dalam perkembangan peradaban Islam di Nusantara.
“Tanah Riau memiliki sejarah panjang sebagai salah satu pusat peradaban Islam yang menjadi jalan keselamatan bagi seluruh bangsa,” tegasnya.
Santri Dituntut Menguasai Teknologi dan Ilmu Pengetahuan
Cak Imin, yang dikenal dengan sebutan Panglima Santri, menegaskan bahwa tantangan zaman menuntut generasi pesantren untuk memperluas kemampuan di luar pendidikan keagamaan.
Menurutnya, dinamika ekonomi dunia dan perkembangan geopolitik membutuhkan generasi yang memiliki integritas, wawasan luas, serta keterampilan modern. Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi bagian penting agar santri dapat berkontribusi dalam pembangunan nasional.
“Indonesia membutuhkan generasi yang berintegritas sekaligus mampu menghadapi persoalan global. Kemandirian nasional harus ditopang oleh SDM yang berkualitas,” ujarnya.
Peringatan Hari Santri Nasional tahun ini diharapkan menjadi momentum bagi kebangkitan generasi santri untuk terlibat aktif dalam mengatasi persoalan sosial, memperkuat ekonomi masyarakat, serta menjaga persatuan dan keutuhan bangsa.
Tiga Strategi Pemerintah untuk Mengurangi Ketimpangan
Dalam kesempatan tersebut, Cak Imin juga memaparkan tiga langkah dasar Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat untuk mengatasi ketimpangan sosial dan ekonomi.
Pertama, penguatan Data Tunggal Ekonomi, yakni penyatuan dan perumusan data sebagai acuan penanganan kemiskinan agar program pemerintah lebih terintegrasi dan tepat sasaran.
Kedua, pergeseran paradigma kebijakan, dari pendekatan yang berfokus pada bantuan sosial menuju pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan. Pendekatan ini diharapkan dapat membuka peluang bagi masyarakat untuk meningkatkan kemandirian ekonomi.
Ketiga, keterlibatan kolektif masyarakat, dengan memberikan ruang bagi berbagai elemen untuk berpartisipasi dalam gerakan pemberdayaan ekonomi.
Melalui ketiga langkah tersebut, pemberdayaan masyarakat diharapkan tidak hanya berorientasi pada penanganan persoalan jangka pendek, tetapi juga mendorong peningkatan kapasitas dan kemandirian masyarakat.
Peringatan Hari Santri Ditutup dengan Penyerahan Bantuan
Puncak peringatan Hari Santri Nasional ke-11 di Provinsi Riau berlangsung meriah. Acara ditutup dengan persembahan Mars Santri dan tarian khas Melayu Riau yang menambah semarak suasana.
Sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan pendidikan Islam di daerah, kegiatan tersebut juga diakhiri dengan penyerahan bantuan hibah bagi pondok pesantren di Provinsi Riau.
Melalui peringatan ini, pesantren diharapkan terus menjadi pusat pendidikan, pembentukan karakter, dan pengembangan sumber daya manusia yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.(*)







PEKANBARU-Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Abdul Muhaimin Iskandar atau Cak Imin, mengajak para santri di seluruh Indonesia untuk mengambil peran lebih besar dalam membangun masa depan bangsa. Menurutnya, santri tidak cukup hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga harus mampu menjawab persoalan kemiskinan, ketertinggalan, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).
Pesan tersebut disampaikan Cak Imin saat menghadiri peringatan Hari Santri Nasional (HSN) ke-11 tahun 2026 di Pondok Pesantren Darel Hikmah, Pekanbaru, Riau.
Kehadirannya disambut ribuan santri bersama para kiai dan tokoh masyarakat. Kegiatan diawali dengan upacara pengibaran bendera Merah Putih di halaman pesantren.
Dalam amanatnya, Cak Imin menyoroti peran historis Riau sebagai salah satu wilayah penting dalam perkembangan peradaban Islam di Nusantara.
“Tanah Riau memiliki sejarah panjang sebagai salah satu pusat peradaban Islam yang menjadi jalan keselamatan bagi seluruh bangsa,” tegasnya.
Santri Dituntut Menguasai Teknologi dan Ilmu Pengetahuan
Cak Imin, yang dikenal dengan sebutan Panglima Santri, menegaskan bahwa tantangan zaman menuntut generasi pesantren untuk memperluas kemampuan di luar pendidikan keagamaan.
Menurutnya, dinamika ekonomi dunia dan perkembangan geopolitik membutuhkan generasi yang memiliki integritas, wawasan luas, serta keterampilan modern. Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi bagian penting agar santri dapat berkontribusi dalam pembangunan nasional.
“Indonesia membutuhkan generasi yang berintegritas sekaligus mampu menghadapi persoalan global. Kemandirian nasional harus ditopang oleh SDM yang berkualitas,” ujarnya.
Peringatan Hari Santri Nasional tahun ini diharapkan menjadi momentum bagi kebangkitan generasi santri untuk terlibat aktif dalam mengatasi persoalan sosial, memperkuat ekonomi masyarakat, serta menjaga persatuan dan keutuhan bangsa.
Tiga Strategi Pemerintah untuk Mengurangi Ketimpangan
Dalam kesempatan tersebut, Cak Imin juga memaparkan tiga langkah dasar Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat untuk mengatasi ketimpangan sosial dan ekonomi.
Pertama, penguatan Data Tunggal Ekonomi, yakni penyatuan dan perumusan data sebagai acuan penanganan kemiskinan agar program pemerintah lebih terintegrasi dan tepat sasaran.
Kedua, pergeseran paradigma kebijakan, dari pendekatan yang berfokus pada bantuan sosial menuju pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan. Pendekatan ini diharapkan dapat membuka peluang bagi masyarakat untuk meningkatkan kemandirian ekonomi.
Ketiga, keterlibatan kolektif masyarakat, dengan memberikan ruang bagi berbagai elemen untuk berpartisipasi dalam gerakan pemberdayaan ekonomi.
Melalui ketiga langkah tersebut, pemberdayaan masyarakat diharapkan tidak hanya berorientasi pada penanganan persoalan jangka pendek, tetapi juga mendorong peningkatan kapasitas dan kemandirian masyarakat.
Peringatan Hari Santri Ditutup dengan Penyerahan Bantuan
Puncak peringatan Hari Santri Nasional ke-11 di Provinsi Riau berlangsung meriah. Acara ditutup dengan persembahan Mars Santri dan tarian khas Melayu Riau yang menambah semarak suasana.
Sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan pendidikan Islam di daerah, kegiatan tersebut juga diakhiri dengan penyerahan bantuan hibah bagi pondok pesantren di Provinsi Riau.
Melalui peringatan ini, pesantren diharapkan terus menjadi pusat pendidikan, pembentukan karakter, dan pengembangan sumber daya manusia yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.(*)