logo
Pemko Pekanbaru Tegaskan Rumah Sakit Tak Boleh Bedakan Pasien BPJS dan Umum Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Pemko Pekanbaru Buka Peluang Bangun Waste Station di Kampus UNRI Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Kapal Berbendera Tanzania Disergap di Bengkalis, Diduga Bawa Lebih 2 Ton Methamp Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Penanganan Gempa NTT, Pemerintah Masih Mampu Belum Buka Bantuan Asing Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Gempa NTT Rusak 19.297 Rumah, Lebih dari 6.000 Bangunan Masuk Kategori Berat Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Desa Sungai Gantang Sukses Bentangkan Bendera 1.081 Meter di Jembatan Rumbai Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi 133 HGB Pedagang STC Dipersoalkan, Pemko Pekanbaru Didesak Buka Dasar Kebijakan Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi DPRD Pekanbaru Soroti Data Desil Warga: Salah Klasifikasi Bisa Bikin Bantuan Ter Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / News / Bukittinggi
Enam Kali Meletus dalam Sebulan, Gunung Marapi Belum Tenang, Abu Vulkanik Capai 2 Kilometer
Gunung Marapi kembali erupsi. (Foto: Istimewa)
Enam Kali Meletus dalam Sebulan, Gunung Marapi Belum Tenang, Abu Vulkanik Capai 2 Kilometer
Editor: Boy Surya Hamta
Rubrik: news | 31 Mei 2026 | 10:16:57

BUKITTINGGI–Gunung Marapi kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang intens. Sepanjang Mei 2026, gunung api aktif di Sumatera Barat itu tercatat enam kali meletus. Rentetan aktivitas tersebut membuat jumlah erupsi Marapi sejak Januari hingga akhir Mei mencapai 47 kali.

Data pemantauan Pos Pengamatan Gunung Api Bukittinggi menunjukkan, meski masih berstatus Level II atau Waspada, aktivitas di kawah aktif Marapi masih berlangsung. Asap kawah terus teramati, sementara beberapa kali letusan berhasil terekam melalui instrumen pemantauan vulkanik.

Letusan paling menonjol terjadi pada Sabtu, 30 Mei 2026. Pada pukul 08.42 WIB, kolom abu membumbung sekitar 2.000 meter di atas puncak gunung. Dari kejauhan, abu berwarna kelabu pekat tampak bergerak mengikuti arah angin menuju wilayah timur laut.

Ketua Pos PGA Bukittinggi, Ahmad Rifandi, menyebut erupsi tersebut menjadi yang terbesar selama Mei. Selain terlihat jelas secara visual, aktivitas itu juga meninggalkan rekaman seismik yang cukup kuat.

“Kolom abu teramati tebal dan mengarah ke Tanah Datar. Rekaman amplitudo maksimum mencapai 30 milimeter dengan durasi sekitar satu menit 25 detik,” katanya.

Jika melihat pola aktivitas selama bulan ini, sebagian besar erupsi sebenarnya tidak terlihat langsung oleh masyarakat. Namun getaran yang terekam alat pemantauan menunjukkan bahwa dinamika vulkanik di bawah permukaan masih berlangsung.

Catatan Magma ESDM memperlihatkan erupsi pertama bulan Mei terjadi pada 5 Mei sore. Meski tidak tampak secara visual, letusan tersebut menghasilkan amplitudo 23,2 milimeter selama 33 detik.

Aktivitas serupa kembali muncul pada dini hari 6 Mei. Letusan berlangsung selama 79 detik dengan amplitudo hampir 20 milimeter. Tidak ada kolom abu yang terlihat, namun instrumen mencatat pelepasan energi dari dalam tubuh gunung.

Memasuki pertengahan bulan, aktivitas kembali berulang. Pada 12 dan 13 Mei, seismograf kembali mendeteksi erupsi dengan amplitudo cukup signifikan. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan di dalam sistem vulkanik Marapi masih aktif meskipun tidak selalu menghasilkan letusan besar.

Baru pada 16 Mei, masyarakat kembali dapat menyaksikan erupsi secara langsung. Saat itu kolom abu setinggi sekitar 500 meter terlihat keluar dari kawah aktif sebelum terbawa angin ke arah tenggara.

Gunung Marapi selama ini dikenal sebagai salah satu gunung api paling aktif di Pulau Sumatera. Lokasinya yang berada dekat pusat permukiman membuat setiap perubahan aktivitas selalu mendapat perhatian serius dari pemerintah dan masyarakat.

Selain memiliki potensi bahaya vulkanik, Marapi juga menjadi ikon alam Sumatera Barat. Panorama gunung ini dapat dilihat dari berbagai sudut Kota Bukittinggi dan Padang Panjang. Pada pagi hari yang cerah, embusan asap dari puncaknya sering menjadi pemandangan yang mudah dikenali warga.

Karena itu, peningkatan aktivitas vulkanik tidak hanya menjadi isu kebencanaan, tetapi juga menyangkut aktivitas ekonomi, pariwisata, hingga mobilitas masyarakat di kawasan sekitar gunung.

Pusat pemantauan vulkanologi mengingatkan masyarakat agar tetap mematuhi seluruh rekomendasi keselamatan yang berlaku selama status Waspada masih diberlakukan. Wisatawan juga diminta tidak mendekati area yang telah ditetapkan sebagai zona berbahaya.

Di tengah meningkatnya aktivitas Marapi, kewaspadaan menjadi langkah paling penting. Dengan total 47 letusan hanya dalam lima bulan pertama tahun ini, gunung yang menjadi kebanggaan masyarakat Minangkabau tersebut masih menyimpan dinamika alam yang harus terus dipantau secara serius. (kpc)

Home / News
Enam Kali Meletus dalam Sebulan, Gunung Marapi Belum Tenang, Abu Vulkanik Capai 2 Kilometer
Editor: Boy Surya Hamta
Rubrik: news | 31 Mei 2026 | 10:16:57
Enam Kali Meletus dalam Sebulan, Gunung Marapi Belum Tenang, Abu Vulkanik Capai 2 Kilometer
Gunung Marapi kembali erupsi. (Foto: Istimewa)

BUKITTINGGI–Gunung Marapi kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang intens. Sepanjang Mei 2026, gunung api aktif di Sumatera Barat itu tercatat enam kali meletus. Rentetan aktivitas tersebut membuat jumlah erupsi Marapi sejak Januari hingga akhir Mei mencapai 47 kali.

Data pemantauan Pos Pengamatan Gunung Api Bukittinggi menunjukkan, meski masih berstatus Level II atau Waspada, aktivitas di kawah aktif Marapi masih berlangsung. Asap kawah terus teramati, sementara beberapa kali letusan berhasil terekam melalui instrumen pemantauan vulkanik.

Letusan paling menonjol terjadi pada Sabtu, 30 Mei 2026. Pada pukul 08.42 WIB, kolom abu membumbung sekitar 2.000 meter di atas puncak gunung. Dari kejauhan, abu berwarna kelabu pekat tampak bergerak mengikuti arah angin menuju wilayah timur laut.

Ketua Pos PGA Bukittinggi, Ahmad Rifandi, menyebut erupsi tersebut menjadi yang terbesar selama Mei. Selain terlihat jelas secara visual, aktivitas itu juga meninggalkan rekaman seismik yang cukup kuat.

“Kolom abu teramati tebal dan mengarah ke Tanah Datar. Rekaman amplitudo maksimum mencapai 30 milimeter dengan durasi sekitar satu menit 25 detik,” katanya.

Jika melihat pola aktivitas selama bulan ini, sebagian besar erupsi sebenarnya tidak terlihat langsung oleh masyarakat. Namun getaran yang terekam alat pemantauan menunjukkan bahwa dinamika vulkanik di bawah permukaan masih berlangsung.

Catatan Magma ESDM memperlihatkan erupsi pertama bulan Mei terjadi pada 5 Mei sore. Meski tidak tampak secara visual, letusan tersebut menghasilkan amplitudo 23,2 milimeter selama 33 detik.

Aktivitas serupa kembali muncul pada dini hari 6 Mei. Letusan berlangsung selama 79 detik dengan amplitudo hampir 20 milimeter. Tidak ada kolom abu yang terlihat, namun instrumen mencatat pelepasan energi dari dalam tubuh gunung.

Memasuki pertengahan bulan, aktivitas kembali berulang. Pada 12 dan 13 Mei, seismograf kembali mendeteksi erupsi dengan amplitudo cukup signifikan. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan di dalam sistem vulkanik Marapi masih aktif meskipun tidak selalu menghasilkan letusan besar.

Baru pada 16 Mei, masyarakat kembali dapat menyaksikan erupsi secara langsung. Saat itu kolom abu setinggi sekitar 500 meter terlihat keluar dari kawah aktif sebelum terbawa angin ke arah tenggara.

Gunung Marapi selama ini dikenal sebagai salah satu gunung api paling aktif di Pulau Sumatera. Lokasinya yang berada dekat pusat permukiman membuat setiap perubahan aktivitas selalu mendapat perhatian serius dari pemerintah dan masyarakat.

Selain memiliki potensi bahaya vulkanik, Marapi juga menjadi ikon alam Sumatera Barat. Panorama gunung ini dapat dilihat dari berbagai sudut Kota Bukittinggi dan Padang Panjang. Pada pagi hari yang cerah, embusan asap dari puncaknya sering menjadi pemandangan yang mudah dikenali warga.

Karena itu, peningkatan aktivitas vulkanik tidak hanya menjadi isu kebencanaan, tetapi juga menyangkut aktivitas ekonomi, pariwisata, hingga mobilitas masyarakat di kawasan sekitar gunung.

Pusat pemantauan vulkanologi mengingatkan masyarakat agar tetap mematuhi seluruh rekomendasi keselamatan yang berlaku selama status Waspada masih diberlakukan. Wisatawan juga diminta tidak mendekati area yang telah ditetapkan sebagai zona berbahaya.

Di tengah meningkatnya aktivitas Marapi, kewaspadaan menjadi langkah paling penting. Dengan total 47 letusan hanya dalam lima bulan pertama tahun ini, gunung yang menjadi kebanggaan masyarakat Minangkabau tersebut masih menyimpan dinamika alam yang harus terus dipantau secara serius. (kpc)