logo
Pemko Pekanbaru Tegaskan Rumah Sakit Tak Boleh Bedakan Pasien BPJS dan Umum Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Pemko Pekanbaru Buka Peluang Bangun Waste Station di Kampus UNRI Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Kapal Berbendera Tanzania Disergap di Bengkalis, Diduga Bawa Lebih 2 Ton Methamp Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Penanganan Gempa NTT, Pemerintah Masih Mampu Belum Buka Bantuan Asing Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Gempa NTT Rusak 19.297 Rumah, Lebih dari 6.000 Bangunan Masuk Kategori Berat Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Desa Sungai Gantang Sukses Bentangkan Bendera 1.081 Meter di Jembatan Rumbai Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi 133 HGB Pedagang STC Dipersoalkan, Pemko Pekanbaru Didesak Buka Dasar Kebijakan Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi DPRD Pekanbaru Soroti Data Desil Warga: Salah Klasifikasi Bisa Bikin Bantuan Ter Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / News / PEKANBARU
Jembatan Nelayan Ujung Ambles, Warga Rumbai Pekanbaru Terpaksa Memutar Hingga 3 Kilometer
Seorang pengendara motor berusaha untuk melewati jembatan di Jalan Nelayan Ujung, Rumbai, Pekanbaru yang ambles sejak Jumat pekan lalu. (Foto: Wahyu)
Jembatan Nelayan Ujung Ambles, Warga Rumbai Pekanbaru Terpaksa Memutar Hingga 3 Kilometer
Editor: Arya Mahendra | Penulis: wahyu falatehan
Rubrik: news | 15 Juni 2026 | 16:26:42

PEKANBARU – Aktivitas warga di Kelurahan Sri Meranti, Kecamatan Rumbai, Kota Pekanbaru, terganggu setelah jembatan di Jalan Nelayan Ujung ambles dan tidak lagi bisa dilalui kendaraan. Infrastruktur yang selama ini menjadi akses utama masyarakat menuju Jalan Yos Sudarso itu mengalami kerusakan sejak Jumat pekan lalu.

Bagi warga setempat, kerusakan jembatan bukan sekadar persoalan infrastruktur. Amblesnya jembatan membuat perjalanan sehari-hari menjadi lebih sulit dan memakan waktu.

Salah seorang warga, Tarmizi, mengaku kini harus mencari jalur alternatif yang lebih jauh untuk beraktivitas. Menurutnya, warga terpaksa memutar melalui Jembatan Leighton I atau Jalan Kartika Palas dengan tambahan jarak sekitar tiga kilometer.

iklan-view

"Kalau mau lewat sekarang harus mutar. Bisa lewat Jembatan Leighton I atau Jalan Kartika Palas, jaraknya sekitar tiga kilometer," ujarnya kepada PekanbaruTV.com, Senin (15/6/1026).

Tarmizi menuturkan, kondisi jembatan sebelumnya masih baik. Namun dalam beberapa waktu terakhir, jembatan kerap dilintasi kendaraan dan alat berat yang digunakan untuk mendukung sejumlah proyek di kawasan tersebut. Ia menduga beban kendaraan bertonase besar menjadi salah satu faktor yang mempercepat kerusakan.

Harapan warga kini sederhana, yakni agar jembatan segera diperbaiki karena menjadi jalur vital yang menghubungkan permukiman mereka dengan pusat aktivitas di Kota Pekanbaru.

Menanggapi kondisi tersebut, Pemerintah Kota Pekanbaru langsung mengerahkan tim teknis dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) untuk melakukan pemeriksaan di lapangan.

Wali Kota Pekanbaru, Agung Nugroho, mengatakan hasil pengecekan awal menunjukkan adanya pergerakan tanah yang menyebabkan bagian oprit atau sisi penghubung jembatan mengalami penurunan. Akibatnya, struktur jalan menuju jembatan mengalami kerusakan cukup parah dan membahayakan pengguna jalan.

"Tim sudah turun ke lokasi untuk melihat kondisi sebenarnya dan menyiapkan langkah penanganan. Karena jalur ini banyak dimanfaatkan masyarakat, tentu harus segera ditangani," kata Agung.

Pemko Pekanbaru juga berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai Sumatera (BWSS) III karena di sekitar lokasi sedang berlangsung pekerjaan penguatan tebing sungai menggunakan metode pemancangan. Aktivitas tersebut diduga turut memengaruhi kondisi tanah di sekitar konstruksi jembatan.

Selain itu, berdasarkan keterangan warga, sebelum ambles terjadi sebuah kendaraan crane berbobot besar sempat melintasi jembatan. Informasi tersebut kini menjadi bagian dari kajian tim teknis untuk memastikan penyebab pasti kerusakan.

"Warga menyampaikan setelah kendaraan berat melintas, kondisi jembatan mulai menunjukkan penurunan. Namun penyebab pastinya masih akan dikaji lebih lanjut oleh tim teknis," jelas Agung.

Saat ini kawasan sekitar jembatan berada dalam pengawasan guna mencegah risiko bagi masyarakat. Pemerintah Kota Pekanbaru menargetkan langkah penanganan dapat segera dilakukan setelah proses koordinasi teknis dengan pihak terkait selesai.

Di tengah upaya pemerintah mencari solusi, warga Sri Meranti berharap perbaikan dapat segera direalisasikan. Sebab bagi mereka, jembatan itu bukan hanya penghubung jalan, melainkan urat nadi yang selama ini memudahkan aktivitas, pekerjaan, dan kehidupan sehari-hari. (why)

Home / News
Jembatan Nelayan Ujung Ambles, Warga Rumbai Pekanbaru Terpaksa Memutar Hingga 3 Kilometer
Editor: Arya Mahendra | Penulis: wahyu falatehan
Rubrik: news | 15 Juni 2026 | 16:26:42
Jembatan Nelayan Ujung Ambles, Warga Rumbai Pekanbaru Terpaksa Memutar Hingga 3 Kilometer
Seorang pengendara motor berusaha untuk melewati jembatan di Jalan Nelayan Ujung, Rumbai, Pekanbaru yang ambles sejak Jumat pekan lalu. (Foto: Wahyu)

PEKANBARU – Aktivitas warga di Kelurahan Sri Meranti, Kecamatan Rumbai, Kota Pekanbaru, terganggu setelah jembatan di Jalan Nelayan Ujung ambles dan tidak lagi bisa dilalui kendaraan. Infrastruktur yang selama ini menjadi akses utama masyarakat menuju Jalan Yos Sudarso itu mengalami kerusakan sejak Jumat pekan lalu.

Bagi warga setempat, kerusakan jembatan bukan sekadar persoalan infrastruktur. Amblesnya jembatan membuat perjalanan sehari-hari menjadi lebih sulit dan memakan waktu.

Salah seorang warga, Tarmizi, mengaku kini harus mencari jalur alternatif yang lebih jauh untuk beraktivitas. Menurutnya, warga terpaksa memutar melalui Jembatan Leighton I atau Jalan Kartika Palas dengan tambahan jarak sekitar tiga kilometer.

"Kalau mau lewat sekarang harus mutar. Bisa lewat Jembatan Leighton I atau Jalan Kartika Palas, jaraknya sekitar tiga kilometer," ujarnya kepada PekanbaruTV.com, Senin (15/6/1026).

Tarmizi menuturkan, kondisi jembatan sebelumnya masih baik. Namun dalam beberapa waktu terakhir, jembatan kerap dilintasi kendaraan dan alat berat yang digunakan untuk mendukung sejumlah proyek di kawasan tersebut. Ia menduga beban kendaraan bertonase besar menjadi salah satu faktor yang mempercepat kerusakan.

Harapan warga kini sederhana, yakni agar jembatan segera diperbaiki karena menjadi jalur vital yang menghubungkan permukiman mereka dengan pusat aktivitas di Kota Pekanbaru.

Menanggapi kondisi tersebut, Pemerintah Kota Pekanbaru langsung mengerahkan tim teknis dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) untuk melakukan pemeriksaan di lapangan.

Wali Kota Pekanbaru, Agung Nugroho, mengatakan hasil pengecekan awal menunjukkan adanya pergerakan tanah yang menyebabkan bagian oprit atau sisi penghubung jembatan mengalami penurunan. Akibatnya, struktur jalan menuju jembatan mengalami kerusakan cukup parah dan membahayakan pengguna jalan.

"Tim sudah turun ke lokasi untuk melihat kondisi sebenarnya dan menyiapkan langkah penanganan. Karena jalur ini banyak dimanfaatkan masyarakat, tentu harus segera ditangani," kata Agung.

Pemko Pekanbaru juga berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai Sumatera (BWSS) III karena di sekitar lokasi sedang berlangsung pekerjaan penguatan tebing sungai menggunakan metode pemancangan. Aktivitas tersebut diduga turut memengaruhi kondisi tanah di sekitar konstruksi jembatan.

Selain itu, berdasarkan keterangan warga, sebelum ambles terjadi sebuah kendaraan crane berbobot besar sempat melintasi jembatan. Informasi tersebut kini menjadi bagian dari kajian tim teknis untuk memastikan penyebab pasti kerusakan.

"Warga menyampaikan setelah kendaraan berat melintas, kondisi jembatan mulai menunjukkan penurunan. Namun penyebab pastinya masih akan dikaji lebih lanjut oleh tim teknis," jelas Agung.

Saat ini kawasan sekitar jembatan berada dalam pengawasan guna mencegah risiko bagi masyarakat. Pemerintah Kota Pekanbaru menargetkan langkah penanganan dapat segera dilakukan setelah proses koordinasi teknis dengan pihak terkait selesai.

Di tengah upaya pemerintah mencari solusi, warga Sri Meranti berharap perbaikan dapat segera direalisasikan. Sebab bagi mereka, jembatan itu bukan hanya penghubung jalan, melainkan urat nadi yang selama ini memudahkan aktivitas, pekerjaan, dan kehidupan sehari-hari. (why)