logo
UPDATE: Korban Tewas Gempa NTT Bertambah Jadi 53 Orang, Bantuan Dikerahkan ke Lo Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Kasino di Nagoya Batam Digerebek: 10 WNA dan 187 WNI Diamankan, Polisi Sita Rp7, Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Polres Pelalawan Gerebek Transaksi Narkoba di Kebun Sawit, Dua Pria Ditangkap Ba Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi UPDATE: Kapal Tenggelam di Perairan Rupat Bawa 15 PMI Ilegal, 13 Orang Selamat d Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Warga RW 016 Tobekgodang Semarakkan HUT ke-81 Kemerdekaan RI dengan Beragam Kegi Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Speedboat Berpenumpang PMI Ilegal Terbalik Dihantam Badai di Perairan Rupat, 3 O Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Ratusan Gempa Susulan Menggoyang NTT, Terbaru Berkekuatan M5,2 Minggu Pagi Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Harimau Belum Masuk Perangkap, Warga Danai Diminta Tak Lengah Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / Lingkungan / Internasional
Gempa Dahsyat Angkat Dasar Laut Filipina Setinggi 2 Meter, Terumbu Karang Kini Terpanggang Matahari
Terumbu karang muncul dari permukaan air setelah gempa bumi berkekuatan magnitude 7,8 di Filipina. (Foto: ASEAN Today)
Gempa Dahsyat Angkat Dasar Laut Filipina Setinggi 2 Meter, Terumbu Karang Kini Terpanggang Matahari
Editor: Arya Mahendra
Rubrik: lingkungan | 15 Juni 2026 | 16:45:47

MANILA – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,8 yang mengguncang Filipina pada 8 Juni lalu tidak hanya meninggalkan duka bagi puluhan keluarga korban, tetapi juga memicu tragedi lingkungan yang mengancam kehidupan pesisir dalam jangka panjang.

Getaran kuat yang berpusat di lepas pantai Pulau Mindanao itu mengangkat sebagian dasar laut hingga sekitar dua meter. Fenomena geologi yang dikenal sebagai "pengangkatan pantai" tersebut membuat hamparan terumbu karang dan padang lamun yang selama ini berada di bawah permukaan laut mendadak muncul ke daratan.

Bagi warga pesisir, perubahan itu terlihat jelas hanya dua hari setelah gempa terjadi. Garis pantai di sejumlah wilayah bahkan dilaporkan bertambah lebar hingga sekitar 200 meter. Laut yang sebelumnya menjadi rumah bagi ribuan biota kini tampak surut, menyisakan hamparan karang dan lamun yang terpapar terik matahari.

iklan-view

Data terbaru dari otoritas penanggulangan bencana Filipina mencatat sedikitnya 61 orang meninggal dunia akibat gempa tersebut, sementara sekitar 40 orang lainnya masih dinyatakan hilang. Namun, dampak yang terjadi di bawah permukaan laut juga tak kalah mengkhawatirkan.

Institut Vulkanologi dan Seismologi Filipina menjelaskan bahwa pergeseran di Palung Cotabato telah mendorong sebagian wilayah pesisir di Provinsi Sarangani dan Davao Occidental naik ke atas permukaan air. Hasil pengukuran menunjukkan kenaikan daratan mencapai sekitar dua meter.

Tim survei yang diterjunkan ke lokasi menemukan pemandangan memilukan. Bentangan panjang terumbu karang dan padang lamun terlihat mengering di bawah sinar matahari. Foto-foto yang dirilis Departemen Lingkungan Hidup Filipina memperlihatkan ikan-ikan mati serta berbagai biota laut yang terdampar di atas karang yang kini tak lagi terendam air.

Para ahli lingkungan memperingatkan bahwa kerusakan ini berpotensi memicu efek berantai terhadap ekosistem pesisir. Terumbu karang dan padang lamun merupakan habitat penting bagi berbagai spesies laut, mulai dari ikan karang, belut, kerang hingga beragam jenis moluska. Ketika habitat tersebut mati, populasi satwa yang bergantung padanya juga terancam menurun drastis.

Hingga kini, pemerintah Filipina masih berupaya menghitung luas wilayah yang terdampak. Besarnya area yang harus disurvei membuat penilaian kerusakan belum dapat dilakukan secara menyeluruh.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa bencana alam tidak hanya merenggut nyawa manusia, tetapi juga dapat mengubah wajah alam dalam sekejap. Di pesisir selatan Mindanao, luka akibat gempa kini tidak hanya dirasakan oleh para penyintas, tetapi juga oleh ekosistem laut yang selama ini menjadi sumber kehidupan masyarakat setempat. (**)

Sumber: vietnam.vn

Gempa Dahsyat Angkat Dasar Laut Filipina Setinggi 2 Meter, Terumbu Karang Kini Terpanggang Matahari
Editor: Arya Mahendra
Rubrik: lingkungan | 15 Juni 2026 | 16:45:47
Gempa Dahsyat Angkat Dasar Laut Filipina Setinggi 2 Meter, Terumbu Karang Kini Terpanggang Matahari
Terumbu karang muncul dari permukaan air setelah gempa bumi berkekuatan magnitude 7,8 di Filipina. (Foto: ASEAN Today)

MANILA – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,8 yang mengguncang Filipina pada 8 Juni lalu tidak hanya meninggalkan duka bagi puluhan keluarga korban, tetapi juga memicu tragedi lingkungan yang mengancam kehidupan pesisir dalam jangka panjang.

Getaran kuat yang berpusat di lepas pantai Pulau Mindanao itu mengangkat sebagian dasar laut hingga sekitar dua meter. Fenomena geologi yang dikenal sebagai "pengangkatan pantai" tersebut membuat hamparan terumbu karang dan padang lamun yang selama ini berada di bawah permukaan laut mendadak muncul ke daratan.

Bagi warga pesisir, perubahan itu terlihat jelas hanya dua hari setelah gempa terjadi. Garis pantai di sejumlah wilayah bahkan dilaporkan bertambah lebar hingga sekitar 200 meter. Laut yang sebelumnya menjadi rumah bagi ribuan biota kini tampak surut, menyisakan hamparan karang dan lamun yang terpapar terik matahari.

Data terbaru dari otoritas penanggulangan bencana Filipina mencatat sedikitnya 61 orang meninggal dunia akibat gempa tersebut, sementara sekitar 40 orang lainnya masih dinyatakan hilang. Namun, dampak yang terjadi di bawah permukaan laut juga tak kalah mengkhawatirkan.

Institut Vulkanologi dan Seismologi Filipina menjelaskan bahwa pergeseran di Palung Cotabato telah mendorong sebagian wilayah pesisir di Provinsi Sarangani dan Davao Occidental naik ke atas permukaan air. Hasil pengukuran menunjukkan kenaikan daratan mencapai sekitar dua meter.

Tim survei yang diterjunkan ke lokasi menemukan pemandangan memilukan. Bentangan panjang terumbu karang dan padang lamun terlihat mengering di bawah sinar matahari. Foto-foto yang dirilis Departemen Lingkungan Hidup Filipina memperlihatkan ikan-ikan mati serta berbagai biota laut yang terdampar di atas karang yang kini tak lagi terendam air.

Para ahli lingkungan memperingatkan bahwa kerusakan ini berpotensi memicu efek berantai terhadap ekosistem pesisir. Terumbu karang dan padang lamun merupakan habitat penting bagi berbagai spesies laut, mulai dari ikan karang, belut, kerang hingga beragam jenis moluska. Ketika habitat tersebut mati, populasi satwa yang bergantung padanya juga terancam menurun drastis.

Hingga kini, pemerintah Filipina masih berupaya menghitung luas wilayah yang terdampak. Besarnya area yang harus disurvei membuat penilaian kerusakan belum dapat dilakukan secara menyeluruh.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa bencana alam tidak hanya merenggut nyawa manusia, tetapi juga dapat mengubah wajah alam dalam sekejap. Di pesisir selatan Mindanao, luka akibat gempa kini tidak hanya dirasakan oleh para penyintas, tetapi juga oleh ekosistem laut yang selama ini menjadi sumber kehidupan masyarakat setempat. (**)

Sumber: vietnam.vn