
PEKANBARU – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menghantui Provinsi Riau. Sepanjang Januari hingga Mei 2026, luas lahan yang terbakar mencapai 15.318 hektare, melonjak drastis dibandingkan periode yang sama tahun lalu dan menjadi yang terbesar dalam tujuh tahun terakhir, kecuali tahun 2019.
Data Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (BPKH) Wilayah Sumatera menunjukkan sebagian besar area yang terbakar merupakan lahan gambut, yakni mencapai 14.162,6 hektare atau sekitar 92 persen dari total luas kebakaran. Sementara itu, kebakaran di lahan mineral tercatat seluas 1.155,4 hektare.
Kepala BPKH Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, mengatakan data tersebut merupakan hasil analisis citra satelit yang dilakukan melalui kerja sama Kementerian Kehutanan, Kementerian Lingkungan Hidup, dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

“Ini merupakan data luasan karhutla periode Januari-Mei berdasarkan analisis citra satelit hasil kolaborasi lintas lembaga,” kata Ferdian dalam keterangannya, Rabu (17/6/2026).
Kabupaten Bengkalis menjadi wilayah dengan tingkat kebakaran tertinggi di Riau. Total lahan yang terbakar mencapai 8.237 hektare, dengan dominasi lahan gambut seluas 8.017,6 hektare dan lahan mineral 219,4 hektare.
Posisi kedua ditempati Kabupaten Pelalawan dengan luas kebakaran mencapai 4.538,8 hektare. Dari jumlah tersebut, 4.328,4 hektare merupakan lahan gambut dan 210,3 hektare lahan mineral.
Kebakaran juga meluas di Kabupaten Indragiri Hilir dengan total area terdampak mencapai 947,2 hektare. Berbeda dengan daerah lain, komposisi kebakaran di wilayah ini relatif seimbang antara lahan mineral seluas 423,5 hektare dan lahan gambut 523,7 hektare.
Sementara itu, Kota Dumai mencatat luas kebakaran sebesar 600,9 hektare, dengan 528,3 hektare di antaranya merupakan lahan gambut.
Jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya, lonjakan karhutla tahun ini sangat signifikan. Pada Januari-Mei 2025, luas kebakaran di Riau hanya tercatat 751,1 hektare. Artinya, luas karhutla tahun ini meningkat lebih dari 20 kali lipat.
Secara historis, angka 15.318 hektare juga menjadi yang terbesar sejak 2019, ketika karhutla melahap 27.724 hektare lahan di Riau pada periode Januari-Mei. Setelah itu, luas kebakaran cenderung menurun, yakni 6.471,5 hektare pada 2021, 2.325,9 hektare pada 2022, 1.860,5 hektare pada 2023, dan 3.942,7 hektare pada 2024.
Menghadapi kondisi tersebut, Manggala Agni bersama seluruh unsur Satuan Tugas Karhutla terus meningkatkan kesiapsiagaan di lapangan. Berbagai langkah dilakukan, mulai dari pemadaman dini, pembuatan sekat bakar, hingga patroli intensif di wilayah rawan kebakaran.
Selain patroli darat, pemantauan udara juga terus diperkuat untuk mempercepat respons terhadap kemunculan titik panas maupun kebakaran yang baru terdeteksi. Upaya pencegahan turut difokuskan pada sosialisasi kepada masyarakat dan pemantauan kondisi desa-desa rawan karhutla.
Ferdian mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar karena berpotensi memicu kebakaran yang lebih luas, terutama di kawasan gambut yang sangat mudah terbakar dan sulit dipadamkan.
“Patroli darat dan udara terus dilakukan untuk mempercepat respons terhadap titik panas maupun kebakaran yang terdeteksi, sekaligus memperkuat upaya pencegahan di desa-desa rawan karhutla,” ujarnya. (**)
Sumber: Antaranews


PEKANBARU – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menghantui Provinsi Riau. Sepanjang Januari hingga Mei 2026, luas lahan yang terbakar mencapai 15.318 hektare, melonjak drastis dibandingkan periode yang sama tahun lalu dan menjadi yang terbesar dalam tujuh tahun terakhir, kecuali tahun 2019.
Data Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (BPKH) Wilayah Sumatera menunjukkan sebagian besar area yang terbakar merupakan lahan gambut, yakni mencapai 14.162,6 hektare atau sekitar 92 persen dari total luas kebakaran. Sementara itu, kebakaran di lahan mineral tercatat seluas 1.155,4 hektare.
Kepala BPKH Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, mengatakan data tersebut merupakan hasil analisis citra satelit yang dilakukan melalui kerja sama Kementerian Kehutanan, Kementerian Lingkungan Hidup, dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
“Ini merupakan data luasan karhutla periode Januari-Mei berdasarkan analisis citra satelit hasil kolaborasi lintas lembaga,” kata Ferdian dalam keterangannya, Rabu (17/6/2026).
Kabupaten Bengkalis menjadi wilayah dengan tingkat kebakaran tertinggi di Riau. Total lahan yang terbakar mencapai 8.237 hektare, dengan dominasi lahan gambut seluas 8.017,6 hektare dan lahan mineral 219,4 hektare.
Posisi kedua ditempati Kabupaten Pelalawan dengan luas kebakaran mencapai 4.538,8 hektare. Dari jumlah tersebut, 4.328,4 hektare merupakan lahan gambut dan 210,3 hektare lahan mineral.
Kebakaran juga meluas di Kabupaten Indragiri Hilir dengan total area terdampak mencapai 947,2 hektare. Berbeda dengan daerah lain, komposisi kebakaran di wilayah ini relatif seimbang antara lahan mineral seluas 423,5 hektare dan lahan gambut 523,7 hektare.
Sementara itu, Kota Dumai mencatat luas kebakaran sebesar 600,9 hektare, dengan 528,3 hektare di antaranya merupakan lahan gambut.
Jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya, lonjakan karhutla tahun ini sangat signifikan. Pada Januari-Mei 2025, luas kebakaran di Riau hanya tercatat 751,1 hektare. Artinya, luas karhutla tahun ini meningkat lebih dari 20 kali lipat.
Secara historis, angka 15.318 hektare juga menjadi yang terbesar sejak 2019, ketika karhutla melahap 27.724 hektare lahan di Riau pada periode Januari-Mei. Setelah itu, luas kebakaran cenderung menurun, yakni 6.471,5 hektare pada 2021, 2.325,9 hektare pada 2022, 1.860,5 hektare pada 2023, dan 3.942,7 hektare pada 2024.
Menghadapi kondisi tersebut, Manggala Agni bersama seluruh unsur Satuan Tugas Karhutla terus meningkatkan kesiapsiagaan di lapangan. Berbagai langkah dilakukan, mulai dari pemadaman dini, pembuatan sekat bakar, hingga patroli intensif di wilayah rawan kebakaran.
Selain patroli darat, pemantauan udara juga terus diperkuat untuk mempercepat respons terhadap kemunculan titik panas maupun kebakaran yang baru terdeteksi. Upaya pencegahan turut difokuskan pada sosialisasi kepada masyarakat dan pemantauan kondisi desa-desa rawan karhutla.
Ferdian mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar karena berpotensi memicu kebakaran yang lebih luas, terutama di kawasan gambut yang sangat mudah terbakar dan sulit dipadamkan.
“Patroli darat dan udara terus dilakukan untuk mempercepat respons terhadap titik panas maupun kebakaran yang terdeteksi, sekaligus memperkuat upaya pencegahan di desa-desa rawan karhutla,” ujarnya. (**)
Sumber: Antaranews