logo
Pemko Pekanbaru Tegaskan Rumah Sakit Tak Boleh Bedakan Pasien BPJS dan Umum Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Pemko Pekanbaru Buka Peluang Bangun Waste Station di Kampus UNRI Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Kapal Berbendera Tanzania Disergap di Bengkalis, Diduga Bawa Lebih 2 Ton Methamp Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Penanganan Gempa NTT, Pemerintah Masih Mampu Belum Buka Bantuan Asing Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Gempa NTT Rusak 19.297 Rumah, Lebih dari 6.000 Bangunan Masuk Kategori Berat Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Desa Sungai Gantang Sukses Bentangkan Bendera 1.081 Meter di Jembatan Rumbai Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi 133 HGB Pedagang STC Dipersoalkan, Pemko Pekanbaru Didesak Buka Dasar Kebijakan Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi DPRD Pekanbaru Soroti Data Desil Warga: Salah Klasifikasi Bisa Bikin Bantuan Ter Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
KABAR DUKA: Gajah Sumatera Indro Mati di Tesso Nilo, Puluhan Tahun Jadi Andalan Flying Squad
Gajah Indro mati di TNTN.
KABAR DUKA: Gajah Sumatera Indro Mati di Tesso Nilo, Puluhan Tahun Jadi Andalan Flying Squad
Editor: Arya Mahendra | Penulis: dikky kinoi
Rubrik: lingkungan | 29 Juni 2026 | 09:54:22

PELALAWAN – Kabar duka kembali datang dari kawasan konservasi di Riau. Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) jinak bernama Indro mati di Camp Elephant Flying Squad Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Desa Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan, Senin (29/6/2026) dini hari.

Gajah jantan berusia sekitar 45 tahun itu dinyatakan mati pada pukul 03.45 WIB setelah beberapa hari menjalani perawatan intensif oleh tim medis gabungan Balai Taman Nasional Tesso Nilo dan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau.

Balai TNTN menjelaskan, gangguan kesehatan Indro bermula setelah melewati fase musth, yakni periode peningkatan hormon reproduksi yang umumnya membuat gajah jantan menjadi lebih agresif.

iklan-view

Sejak akhir April 2026, Indro mulai memasuki fase tersebut. Memasuki awal Juni, perilakunya semakin agresif sehingga tidak lagi dapat didekati oleh mahout atau pawang demi alasan keselamatan.

Meski demikian, tim Flying Squad tetap memenuhi kebutuhan pakan dan air minum dari jarak aman serta rutin memandikan Indro menggunakan pompa air untuk menjaga kondisi fisiknya.

Pada 24 Juni 2026, tim medis melakukan tindakan sedasi atau pembiusan guna memasang rantai tambahan sebagai langkah pengamanan. Setelah prosedur selesai, Indro kembali sadar dalam kondisi stabil.

Namun sehari setelah tindakan tersebut, kondisi kesehatannya mulai menurun. Nafsu makan dan minumnya berkurang drastis sehingga tim medis melakukan pemantauan selama 24 jam serta berkonsultasi dengan dokter hewan.

Berbagai upaya dilakukan untuk menyelamatkan satwa yang telah lama menjadi bagian penting Flying Squad tersebut. Tim medis memberikan terapi suportif, suplemen, pemeriksaan rutin, hingga penginfusan secara bertahap.

Pada Minggu (28/6/2026), kondisi Indro sempat menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Ia mulai mau minum dan mencoba mengonsumsi pakan. Tim medis kemudian memberikan terapi infus dalam jumlah besar untuk membantu proses pemulihan.

Namun harapan itu tidak bertahan lama. Senin dini hari sekitar pukul 03.30 WIB, Indro ditemukan dalam posisi terbaring. Dokter hewan bersama tim mahout segera melakukan pemeriksaan fungsi pernapasan dan tindakan resusitasi jantung paru (CPR). Meski telah diupayakan, nyawa Indro tidak dapat diselamatkan dan dinyatakan mati 15 menit kemudian.

Balai Taman Nasional Tesso Nilo menegaskan penyebab pasti kematian Indro masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.

Sebagai bagian dari prosedur ilmiah, tim medis langsung melakukan nekropsi atau bedah bangkai. Sampel dari sejumlah organ vital telah diambil untuk menjalani uji patologi di laboratorium terakreditasi. Hasil pemeriksaan tersebut akan menjadi dasar dalam memastikan penyebab klinis kematian Indro.

Setelah proses nekropsi selesai, bangkai Indro dikuburkan di sekitar kawasan camp sesuai prosedur.

Kepergian Indro menjadi kehilangan besar bagi Taman Nasional Tesso Nilo. Selama bertahun-tahun, gajah jinak tersebut menjadi bagian penting Tim Flying Squad dalam membantu mitigasi konflik antara manusia dan gajah liar di sekitar kawasan Tesso Nilo.

Balai TNTN menyampaikan apresiasi kepada para mahout, tim dokter hewan, BBKSDA Riau, serta seluruh pihak yang telah berupaya memberikan penanganan terbaik selama masa kritis Indro.

Peristiwa ini, menurut Balai TNTN, juga akan menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat upaya perawatan, perlindungan, dan pelestarian Gajah Sumatera di masa mendatang. (dik)

KABAR DUKA: Gajah Sumatera Indro Mati di Tesso Nilo, Puluhan Tahun Jadi Andalan Flying Squad
Editor: Arya Mahendra | Penulis: dikky kinoi
Rubrik: lingkungan | 29 Juni 2026 | 09:54:22
KABAR DUKA: Gajah Sumatera Indro Mati di Tesso Nilo, Puluhan Tahun Jadi Andalan Flying Squad
Gajah Indro mati di TNTN.

PELALAWAN – Kabar duka kembali datang dari kawasan konservasi di Riau. Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) jinak bernama Indro mati di Camp Elephant Flying Squad Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Desa Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan, Senin (29/6/2026) dini hari.

Gajah jantan berusia sekitar 45 tahun itu dinyatakan mati pada pukul 03.45 WIB setelah beberapa hari menjalani perawatan intensif oleh tim medis gabungan Balai Taman Nasional Tesso Nilo dan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau.

Balai TNTN menjelaskan, gangguan kesehatan Indro bermula setelah melewati fase musth, yakni periode peningkatan hormon reproduksi yang umumnya membuat gajah jantan menjadi lebih agresif.

Sejak akhir April 2026, Indro mulai memasuki fase tersebut. Memasuki awal Juni, perilakunya semakin agresif sehingga tidak lagi dapat didekati oleh mahout atau pawang demi alasan keselamatan.

Meski demikian, tim Flying Squad tetap memenuhi kebutuhan pakan dan air minum dari jarak aman serta rutin memandikan Indro menggunakan pompa air untuk menjaga kondisi fisiknya.

Pada 24 Juni 2026, tim medis melakukan tindakan sedasi atau pembiusan guna memasang rantai tambahan sebagai langkah pengamanan. Setelah prosedur selesai, Indro kembali sadar dalam kondisi stabil.

Namun sehari setelah tindakan tersebut, kondisi kesehatannya mulai menurun. Nafsu makan dan minumnya berkurang drastis sehingga tim medis melakukan pemantauan selama 24 jam serta berkonsultasi dengan dokter hewan.

Berbagai upaya dilakukan untuk menyelamatkan satwa yang telah lama menjadi bagian penting Flying Squad tersebut. Tim medis memberikan terapi suportif, suplemen, pemeriksaan rutin, hingga penginfusan secara bertahap.

Pada Minggu (28/6/2026), kondisi Indro sempat menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Ia mulai mau minum dan mencoba mengonsumsi pakan. Tim medis kemudian memberikan terapi infus dalam jumlah besar untuk membantu proses pemulihan.

Namun harapan itu tidak bertahan lama. Senin dini hari sekitar pukul 03.30 WIB, Indro ditemukan dalam posisi terbaring. Dokter hewan bersama tim mahout segera melakukan pemeriksaan fungsi pernapasan dan tindakan resusitasi jantung paru (CPR). Meski telah diupayakan, nyawa Indro tidak dapat diselamatkan dan dinyatakan mati 15 menit kemudian.

Balai Taman Nasional Tesso Nilo menegaskan penyebab pasti kematian Indro masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.

Sebagai bagian dari prosedur ilmiah, tim medis langsung melakukan nekropsi atau bedah bangkai. Sampel dari sejumlah organ vital telah diambil untuk menjalani uji patologi di laboratorium terakreditasi. Hasil pemeriksaan tersebut akan menjadi dasar dalam memastikan penyebab klinis kematian Indro.

Setelah proses nekropsi selesai, bangkai Indro dikuburkan di sekitar kawasan camp sesuai prosedur.

Kepergian Indro menjadi kehilangan besar bagi Taman Nasional Tesso Nilo. Selama bertahun-tahun, gajah jinak tersebut menjadi bagian penting Tim Flying Squad dalam membantu mitigasi konflik antara manusia dan gajah liar di sekitar kawasan Tesso Nilo.

Balai TNTN menyampaikan apresiasi kepada para mahout, tim dokter hewan, BBKSDA Riau, serta seluruh pihak yang telah berupaya memberikan penanganan terbaik selama masa kritis Indro.

Peristiwa ini, menurut Balai TNTN, juga akan menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat upaya perawatan, perlindungan, dan pelestarian Gajah Sumatera di masa mendatang. (dik)