logo
Kasino di Nagoya Batam Digerebek: 10 WNA dan 187 WNI Diamankan, Polisi Sita Rp7, Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Polres Pelalawan Gerebek Transaksi Narkoba di Kebun Sawit, Dua Pria Ditangkap Ba Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi UPDATE: Kapal Tenggelam di Perairan Rupat Bawa 15 PMI Ilegal, 13 Orang Selamat d Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Warga RW 016 Tobekgodang Semarakkan HUT ke-81 Kemerdekaan RI dengan Beragam Kegi Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Speedboat Berpenumpang PMI Ilegal Terbalik Dihantam Badai di Perairan Rupat, 3 O Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Ratusan Gempa Susulan Menggoyang NTT, Terbaru Berkekuatan M5,2 Minggu Pagi Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Harimau Belum Masuk Perangkap, Warga Danai Diminta Tak Lengah Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Giliran Simalungun Sumut Diguncang Gempa Magnitudo 6,4, Terasa Hingga Sumbar dan Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / Ekonomi / Pasar
Daya Beli Lesu, Pedagang Tas di Belakang Mal MTC Pekanbaru Terjepit Sewa Kios dan Kenaikan Modal
Pedagang tas dibelakang MTC Panam
Daya Beli Lesu, Pedagang Tas di Belakang Mal MTC Pekanbaru Terjepit Sewa Kios dan Kenaikan Modal
Editor: Ridho Haztil | Penulis: ferdy mahdavikia
Rubrik: ekonomi | 20 Juli 2026 | 14:15:29

PEKANBARU-Penurunan daya beli masyarakat dalam beberapa waktu terakhir berdampak langsung terhadap pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Salah satu yang merasakan tekanan tersebut adalah para pedagang tas di kawasan Pasar Rakyat, tepatnya di belakang Mal MTC Pekanbaru. Mereka mengeluhkan sepinya pembeli di tengah tingginya biaya operasional dan kenaikan harga barang.

Faisal Tanjung, pedagang tas yang telah menjalankan usahanya sejak 2013, mengatakan kondisi penjualan pada tahun ini jauh lebih lesu dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Berdasarkan catatan pembukuannya, omzet yang diperoleh terus mengalami penurunan sehingga semakin sulit menutupi berbagai biaya usaha.

Saat ditemui tim liputan Pekanbaru.Tv, Jumat (17/7/2026), Faisal mengungkapkan bahwa pendapatan harian kini tidak lagi bisa diprediksi. Menurutnya, penjualan sangat bergantung pada kondisi pasar setiap hari yang cenderung tidak menentu.

iklan-view

"Omzet hari ini tidak bisa dihitung pasti. Kadang ada yang laku tiga potong, dua potong, bahkan sering juga tidak ada yang terjual sama sekali. Jadi benar-benar menggantung," ujarnya.

Selain minimnya jumlah pembeli, para pedagang juga harus menghadapi kenaikan modal usaha. Faisal menyebut harga barang mengalami peningkatan sekitar 5 hingga 15 persen akibat berbagai faktor eksternal. Kenaikan tersebut turut memengaruhi harga bahan pendukung seperti plastik kemasan, sehingga biaya operasional ikut membengkak.

Namun, menurut Faisal, beban terbesar yang saat ini paling dirasakan adalah tingginya tarif sewa kios. Ia menilai biaya sewa yang berlaku tidak lagi sebanding dengan kondisi penjualan yang terus menurun. Meski demikian, para pedagang tetap bertahan karena usaha tersebut menjadi sumber utama penghasilan keluarga.

Untuk menghadapi situasi tersebut, Faisal berupaya mempertahankan pelanggan dengan menyediakan pilihan produk yang lengkap, mulai dari tas ransel hingga tas wanita yang banyak diminati kalangan mahasiswi. Ia juga menjaga kebersihan dan penataan toko agar tetap menarik perhatian calon pembeli yang melintas.

Di akhir wawancara, Faisal berharap pemerintah memberikan perhatian lebih terhadap pelaku UMKM yang tengah menghadapi perlambatan ekonomi. Menurutnya, membaiknya daya beli masyarakat menjadi kunci agar roda perdagangan kembali bergerak.

"Jangan disiksa rakyat bawah. Kalau rakyat susah, penjual juga ikut susah karena tidak ada yang mampu membeli. Titik perbaikannya ada pada ekonomi masyarakat. Kalau daya beli naik, kami juga bisa bertahan," tegasnya.(rie)

Home / Ekonomi
Daya Beli Lesu, Pedagang Tas di Belakang Mal MTC Pekanbaru Terjepit Sewa Kios dan Kenaikan Modal
Editor: Ridho Haztil | Penulis: ferdy mahdavikia
Rubrik: ekonomi | 20 Juli 2026 | 14:15:29
Daya Beli Lesu, Pedagang Tas di Belakang Mal MTC Pekanbaru Terjepit Sewa Kios dan Kenaikan Modal
Pedagang tas dibelakang MTC Panam

PEKANBARU-Penurunan daya beli masyarakat dalam beberapa waktu terakhir berdampak langsung terhadap pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Salah satu yang merasakan tekanan tersebut adalah para pedagang tas di kawasan Pasar Rakyat, tepatnya di belakang Mal MTC Pekanbaru. Mereka mengeluhkan sepinya pembeli di tengah tingginya biaya operasional dan kenaikan harga barang.

Faisal Tanjung, pedagang tas yang telah menjalankan usahanya sejak 2013, mengatakan kondisi penjualan pada tahun ini jauh lebih lesu dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Berdasarkan catatan pembukuannya, omzet yang diperoleh terus mengalami penurunan sehingga semakin sulit menutupi berbagai biaya usaha.

Saat ditemui tim liputan Pekanbaru.Tv, Jumat (17/7/2026), Faisal mengungkapkan bahwa pendapatan harian kini tidak lagi bisa diprediksi. Menurutnya, penjualan sangat bergantung pada kondisi pasar setiap hari yang cenderung tidak menentu.

"Omzet hari ini tidak bisa dihitung pasti. Kadang ada yang laku tiga potong, dua potong, bahkan sering juga tidak ada yang terjual sama sekali. Jadi benar-benar menggantung," ujarnya.

Selain minimnya jumlah pembeli, para pedagang juga harus menghadapi kenaikan modal usaha. Faisal menyebut harga barang mengalami peningkatan sekitar 5 hingga 15 persen akibat berbagai faktor eksternal. Kenaikan tersebut turut memengaruhi harga bahan pendukung seperti plastik kemasan, sehingga biaya operasional ikut membengkak.

Namun, menurut Faisal, beban terbesar yang saat ini paling dirasakan adalah tingginya tarif sewa kios. Ia menilai biaya sewa yang berlaku tidak lagi sebanding dengan kondisi penjualan yang terus menurun. Meski demikian, para pedagang tetap bertahan karena usaha tersebut menjadi sumber utama penghasilan keluarga.

Untuk menghadapi situasi tersebut, Faisal berupaya mempertahankan pelanggan dengan menyediakan pilihan produk yang lengkap, mulai dari tas ransel hingga tas wanita yang banyak diminati kalangan mahasiswi. Ia juga menjaga kebersihan dan penataan toko agar tetap menarik perhatian calon pembeli yang melintas.

Di akhir wawancara, Faisal berharap pemerintah memberikan perhatian lebih terhadap pelaku UMKM yang tengah menghadapi perlambatan ekonomi. Menurutnya, membaiknya daya beli masyarakat menjadi kunci agar roda perdagangan kembali bergerak.

"Jangan disiksa rakyat bawah. Kalau rakyat susah, penjual juga ikut susah karena tidak ada yang mampu membeli. Titik perbaikannya ada pada ekonomi masyarakat. Kalau daya beli naik, kami juga bisa bertahan," tegasnya.(rie)