logo
Polres Pelalawan Gerebek Transaksi Narkoba di Kebun Sawit, Dua Pria Ditangkap Ba Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi UPDATE: Kapal Tenggelam di Perairan Rupat Bawa 15 PMI Ilegal, 13 Orang Selamat d Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Warga RW 016 Tobekgodang Semarakkan HUT ke-81 Kemerdekaan RI dengan Beragam Kegi Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Speedboat Berpenumpang PMI Ilegal Terbalik Dihantam Badai di Perairan Rupat, 3 O Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Ratusan Gempa Susulan Menggoyang NTT, Terbaru Berkekuatan M5,2 Minggu Pagi Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Harimau Belum Masuk Perangkap, Warga Danai Diminta Tak Lengah Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Giliran Simalungun Sumut Diguncang Gempa Magnitudo 6,4, Terasa Hingga Sumbar dan Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Kasus Kuansing: Periksa Ketua DPRD dan Pejabat Kemenhut, KPK Kejar Jejak Uang SG Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / News / BUKITTINGGI
Tengah Malam Sungai Meluap Tanpa Hujan, Warga Ngarai Sianok Berlarian Selamatkan Diri dari Banjir
Banjir bercampur lumpur di Kayu Kubu, Kota Bukittinggi, Sumatera Barat karena luapan air sungai Ngarai Sianok yang tiba-tiba meluap tanpa kondisi hujan. (Foto: Antara)
Tengah Malam Sungai Meluap Tanpa Hujan, Warga Ngarai Sianok Berlarian Selamatkan Diri dari Banjir
Editor: Arya Mahendra
Rubrik: news | 24 Juli 2026 | 18:39:51

BUKITTINGGI - Kepanikan menyelimuti warga di kawasan Ngarai Sianok, Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, saat Sungai Sianok tiba-tiba meluap pada Jumat (24/7/2026) dini hari. Tanpa didahului hujan, air bercampur lumpur menerjang permukiman dan merendam delapan rumah, satu mushala, serta tiga warung milik warga.

Di tengah kepanikan itu, aksi cepat para pemuda yang sedang berpatroli ronda malam menjadi penyelamat bagi sejumlah warga. Salah satunya Erna (50), yang mengaku baru menyadari banjir setelah dibangunkan.

"Kalau tidak ada yang membangunkan, mungkin saya direndam banjir. Kami keluar lewat pintu belakang untuk menyelamatkan diri," tutur Erna.

iklan-view

Kepala Pelaksana BPBD Kota Bukittinggi, Zulhendri, menjelaskan luapan sungai bukan disebabkan hujan, melainkan jebolnya sumbatan aliran air yang sebelumnya tertutup material longsoran dinding Ngarai Sianok di bagian hulu, tepatnya di Guguak Randah, Kabupaten Agam.

Akibat peristiwa tersebut, sebanyak 11 kepala keluarga terdampak. Lumpur memenuhi rumah-rumah warga dan menutup akses jalan di sepanjang bibir Ngarai Sianok, kawasan Kayu Kubu, Kecamatan Guguak Panjang, yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Agam.

Meski air sempat mencapai ketinggian sekitar satu meter pada awal kejadian, BPBD memastikan tidak ada korban jiwa.

Petugas gabungan dari BPBD, TNI, Polri, bersama masyarakat langsung bergotong royong membersihkan material lumpur yang menutupi rumah dan jalan agar aktivitas warga dapat kembali normal.

Bagi Erna, banjir kali ini menjadi pengingat bahwa ancaman serupa masih membayangi warga yang tinggal di sepanjang aliran Sungai Sianok. Ia berharap pemerintah segera melakukan langkah pencegahan agar kejadian serupa tidak terus berulang.

Menurutnya, pengerukan dasar sungai yang biasanya dilakukan setiap enam bulan sudah sekitar satu tahun tidak dilaksanakan. Selain itu, warga juga meminta perbaikan tanggul agar mampu menahan luapan air ketika debit sungai meningkat.

Peristiwa ini bukan yang pertama. Pada Juni 2024, Sungai Sianok juga pernah meluap tanpa didahului hujan. Saat itu, pemerintah telah mengimbau warga yang tinggal di kawasan tersebut untuk direlokasi karena wilayah tersebut merupakan kawasan penyangga (buffer zone) yang rawan bencana. (**/ntr)

Home / News
Tengah Malam Sungai Meluap Tanpa Hujan, Warga Ngarai Sianok Berlarian Selamatkan Diri dari Banjir
Editor: Arya Mahendra
Rubrik: news | 24 Juli 2026 | 18:39:51
Tengah Malam Sungai Meluap Tanpa Hujan, Warga Ngarai Sianok Berlarian Selamatkan Diri dari Banjir
Banjir bercampur lumpur di Kayu Kubu, Kota Bukittinggi, Sumatera Barat karena luapan air sungai Ngarai Sianok yang tiba-tiba meluap tanpa kondisi hujan. (Foto: Antara)

BUKITTINGGI - Kepanikan menyelimuti warga di kawasan Ngarai Sianok, Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, saat Sungai Sianok tiba-tiba meluap pada Jumat (24/7/2026) dini hari. Tanpa didahului hujan, air bercampur lumpur menerjang permukiman dan merendam delapan rumah, satu mushala, serta tiga warung milik warga.

Di tengah kepanikan itu, aksi cepat para pemuda yang sedang berpatroli ronda malam menjadi penyelamat bagi sejumlah warga. Salah satunya Erna (50), yang mengaku baru menyadari banjir setelah dibangunkan.

"Kalau tidak ada yang membangunkan, mungkin saya direndam banjir. Kami keluar lewat pintu belakang untuk menyelamatkan diri," tutur Erna.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Bukittinggi, Zulhendri, menjelaskan luapan sungai bukan disebabkan hujan, melainkan jebolnya sumbatan aliran air yang sebelumnya tertutup material longsoran dinding Ngarai Sianok di bagian hulu, tepatnya di Guguak Randah, Kabupaten Agam.

Akibat peristiwa tersebut, sebanyak 11 kepala keluarga terdampak. Lumpur memenuhi rumah-rumah warga dan menutup akses jalan di sepanjang bibir Ngarai Sianok, kawasan Kayu Kubu, Kecamatan Guguak Panjang, yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Agam.

Meski air sempat mencapai ketinggian sekitar satu meter pada awal kejadian, BPBD memastikan tidak ada korban jiwa.

Petugas gabungan dari BPBD, TNI, Polri, bersama masyarakat langsung bergotong royong membersihkan material lumpur yang menutupi rumah dan jalan agar aktivitas warga dapat kembali normal.

Bagi Erna, banjir kali ini menjadi pengingat bahwa ancaman serupa masih membayangi warga yang tinggal di sepanjang aliran Sungai Sianok. Ia berharap pemerintah segera melakukan langkah pencegahan agar kejadian serupa tidak terus berulang.

Menurutnya, pengerukan dasar sungai yang biasanya dilakukan setiap enam bulan sudah sekitar satu tahun tidak dilaksanakan. Selain itu, warga juga meminta perbaikan tanggul agar mampu menahan luapan air ketika debit sungai meningkat.

Peristiwa ini bukan yang pertama. Pada Juni 2024, Sungai Sianok juga pernah meluap tanpa didahului hujan. Saat itu, pemerintah telah mengimbau warga yang tinggal di kawasan tersebut untuk direlokasi karena wilayah tersebut merupakan kawasan penyangga (buffer zone) yang rawan bencana. (**/ntr)