logo
Pasar Kodim Diduga Dialihfungsikan Jadi Kampus, KOMPOR Foundation dan PPSP Perta Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi DPR Dengarkan Tuntutan 36 Ribu Kades AMJ Terkait Perpanjangan Masa Jabatan Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Menpora dan Ketua KOI Resmi Kukuhkan Kontingen Indonesia untuk Asian Games 2026 Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Rupiah Perkasa, Tembus Rp17.500 per Dolar AS, Investor Mulai Kembali ke Pasar In Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Komjak RI Turun ke Kejari Pekanbaru, Pastikan Pengaduan Masyarakat Ditindaklanju Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Eskalasi Konflik Memanas, Harga Minyak Dunia Mendekati Level US$100 per Barel Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Manchester City Pimpin Klasemen Liga Champions Usai Taklukkan Porto Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi 3.056 Kasus Gangguan Kesehatan di Pekanbaru, Pemko Perpanjang PJJ di Tengah Kabu Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
Kesepakatan Hormuz Terancam Makin Sulit
Ilustrasi
Kesepakatan Hormuz Terancam Makin Sulit
Editor: putrajaya
Rubrik: news | 11 Agustus 2026 | 20:10:14

PEKANBARU - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menuntut Iran membayar kompensasi kepada orang-orang yang tewas atau mengalami luka berat akibat tindakan Iran dalam berbagai konflik selama puluhan tahun.

Tuntutan itu disampaikan Trump pada Senin (10/8/2026), setelah Iran lebih dulu meminta Amerika Serikat memberikan kompensasi atas kerusakan akibat perang. Trump mengatakan tuntutan tersebut akan dibawa dalam pembicaraan dengan Iran berikutnya. 

iklan-view

Pernyataan Trump muncul ketika pembicaraan mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz masih berlangsung. Iran dan Oman telah mendekati kesepakatan mengenai rute pelayaran baru di selat tersebut. Namun, Teheran mengatakan pembukaan kembali jalur itu tetap bergantung pada sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi Amerika Serikat. 

Iran sebelumnya menuntut kompensasi atas kerusakan yang ditimbulkan serangan Amerika Serikat dan Israel. Selain kompensasi, Teheran meminta Washington menghentikan sanksi dan ancaman militer serta memenuhi sejumlah tuntutan lain sebelum Selat Hormuz dibuka kembali.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan pada Minggu (9/8) bahwa pembicaraan mengenai pengaturan pelayaran di Hormuz telah memasuki tahap akhir. Namun, ia menegaskan selat tersebut belum akan dibuka sebelum Amerika Serikat memenuhi persyaratan Iran. 

Washington Mengajukan Tuntutan 

Trump mengatakan Iran harus memberikan kompensasi atas korban yang menurutnya ditimbulkan oleh tindakan Iran. Ia juga menyebut sejumlah konflik dan serangan masa lalu sebagai bagian dari dasar tuntutannya.

Salah satu yang disebut Trump adalah serangan terhadap kapal perang USS Cole pada Oktober 2000. Namun, serangan tersebut sebelumnya dikaitkan FBI dengan jaringan Al Qaeda, bukan pemerintah Iran. 

Trump juga menuntut kompensasi bagi keluarga korban tewas dalam demonstrasi antipemerintah di Iran pada Januari.

Hingga Selasa (11/8), belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Iran yang secara khusus menanggapi tuntutan balik Trump.

Namun, posisi Teheran mengenai kompensasi sudah disampaikan dalam pembicaraan mengenai Hormuz. Iran menganggap pembayaran ganti rugi sebagai salah satu syarat penyelesaian konflik dan pembukaan kembali jalur pelayaran.

Pertukaran tuntutan tersebut terjadi saat peluang pembukaan kembali Selat Hormuz masih belum pasti. Reuters melaporkan lalu lintas kapal di selat itu turun menjadi hanya enam kapal pada Senin, jauh di bawah rata-rata sekitar 11 kapal dalam 10 hari terakhir dan jauh dari kondisi sebelum perang yang mencapai 130-140 kapal per hari. 

Ketidakpastian itu juga mulai menekan pasar energi. Harga minyak sempat mendekati US$90 per barel pada Selasa. Harga minyak Brent sebelumnya melonjak sekitar 5 persen dalam dua hari setelah Iran dan Amerika Serikat sama-sama mengajukan tuntutan kompensasi. 

 

Selat Hormuz merupakan jalur utama pengiriman minyak dan gas dunia. Karena itu, semakin panjang kebuntuan antara Washington dan Teheran, semakin besar pula tekanan terhadap pelayaran dan pasar energi. (*)

Home / News
Kesepakatan Hormuz Terancam Makin Sulit
Editor: putrajaya
Rubrik: news | 11 Agustus 2026 | 20:10:14
Kesepakatan Hormuz Terancam Makin Sulit
Ilustrasi

PEKANBARU - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menuntut Iran membayar kompensasi kepada orang-orang yang tewas atau mengalami luka berat akibat tindakan Iran dalam berbagai konflik selama puluhan tahun.

Tuntutan itu disampaikan Trump pada Senin (10/8/2026), setelah Iran lebih dulu meminta Amerika Serikat memberikan kompensasi atas kerusakan akibat perang. Trump mengatakan tuntutan tersebut akan dibawa dalam pembicaraan dengan Iran berikutnya. 

Pernyataan Trump muncul ketika pembicaraan mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz masih berlangsung. Iran dan Oman telah mendekati kesepakatan mengenai rute pelayaran baru di selat tersebut. Namun, Teheran mengatakan pembukaan kembali jalur itu tetap bergantung pada sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi Amerika Serikat. 

Iran sebelumnya menuntut kompensasi atas kerusakan yang ditimbulkan serangan Amerika Serikat dan Israel. Selain kompensasi, Teheran meminta Washington menghentikan sanksi dan ancaman militer serta memenuhi sejumlah tuntutan lain sebelum Selat Hormuz dibuka kembali.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan pada Minggu (9/8) bahwa pembicaraan mengenai pengaturan pelayaran di Hormuz telah memasuki tahap akhir. Namun, ia menegaskan selat tersebut belum akan dibuka sebelum Amerika Serikat memenuhi persyaratan Iran. 

Washington Mengajukan Tuntutan 

Trump mengatakan Iran harus memberikan kompensasi atas korban yang menurutnya ditimbulkan oleh tindakan Iran. Ia juga menyebut sejumlah konflik dan serangan masa lalu sebagai bagian dari dasar tuntutannya.

Salah satu yang disebut Trump adalah serangan terhadap kapal perang USS Cole pada Oktober 2000. Namun, serangan tersebut sebelumnya dikaitkan FBI dengan jaringan Al Qaeda, bukan pemerintah Iran. 

Trump juga menuntut kompensasi bagi keluarga korban tewas dalam demonstrasi antipemerintah di Iran pada Januari.

Hingga Selasa (11/8), belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Iran yang secara khusus menanggapi tuntutan balik Trump.

Namun, posisi Teheran mengenai kompensasi sudah disampaikan dalam pembicaraan mengenai Hormuz. Iran menganggap pembayaran ganti rugi sebagai salah satu syarat penyelesaian konflik dan pembukaan kembali jalur pelayaran.

Pertukaran tuntutan tersebut terjadi saat peluang pembukaan kembali Selat Hormuz masih belum pasti. Reuters melaporkan lalu lintas kapal di selat itu turun menjadi hanya enam kapal pada Senin, jauh di bawah rata-rata sekitar 11 kapal dalam 10 hari terakhir dan jauh dari kondisi sebelum perang yang mencapai 130-140 kapal per hari. 

Ketidakpastian itu juga mulai menekan pasar energi. Harga minyak sempat mendekati US$90 per barel pada Selasa. Harga minyak Brent sebelumnya melonjak sekitar 5 persen dalam dua hari setelah Iran dan Amerika Serikat sama-sama mengajukan tuntutan kompensasi. 

 

Selat Hormuz merupakan jalur utama pengiriman minyak dan gas dunia. Karena itu, semakin panjang kebuntuan antara Washington dan Teheran, semakin besar pula tekanan terhadap pelayaran dan pasar energi. (*)