
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali tertekan pada penutupan perdagangan Selasa (18/8/2026). Rupiah melemah 64 poin atau 0,36 persen ke level Rp17.862 per dolar AS, dari penutupan sebelumnya Rp17.798 per dolar AS.
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova menilai pelemahan rupiah terutama dipicu sentimen global setelah harga minyak dunia melonjak akibat meningkatnya kekhawatiran konflik antara AS dan Iran kembali memanas.
“Rupiah pada perdagangan hari ini melemah, dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak akibat kekhawatiran berlanjutnya konflik AS dan Iran,” kata Rully di Jakarta petang ini seperti dikutip antaranews.

Kekhawatiran tersebut menguat setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak berupaya memperpanjang perjanjian kerangka kerja dengan Iran yang dicapai pada Juni melalui mediasi Pakistan. Pernyataan itu muncul ketika batas waktu negosiasi 60 hari hampir berakhir tanpa tercapainya penyelesaian menyeluruh.
Situasi tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi eskalasi konflik dan gangguan distribusi energi melalui Selat Hormuz, salah satu jalur strategis perdagangan minyak dunia.
Sentimen tersebut langsung tercermin pada harga minyak. Harga minyak mentah Brent naik 2,4 persen menjadi 90,60 dolar AS per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) meningkat 2,2 persen menjadi 84,20 dolar AS per barel.
Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak menjadi persoalan tersendiri karena harga tersebut telah berada jauh di atas asumsi harga minyak dalam APBN 2026 yang sebesar 70 dolar AS per barel.
“Kenaikan harga minyak di atas asumsi APBN 70 dolar AS per barel akan memicu defisit fiskal, sementara kondisi fundamental ekonomi belum solid,” ujar Rully.
Tekanan terhadap rupiah dengan demikian tidak hanya berasal dari sentimen geopolitik global, tetapi juga dari kekhawatiran terhadap beban fiskal Indonesia apabila harga energi dunia bertahan tinggi.
Kondisi tersebut membuat pelaku pasar mencermati perkembangan kebijakan Bank Indonesia (BI), terutama hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada 18-19 Agustus 2026.
Pasar memperkirakan BI tidak menaikkan suku bunga acuan. Namun, menurut Rully, arah kebijakan BI tidak semata ditentukan oleh keputusan suku bunga.
“Bauran kebijakan selain bunga akan menentukan konsistensi kebijakan stabilitas BI,” katanya.
Pelemahan rupiah juga tercermin pada kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) BI. Pada Selasa, JISDOR berada di level Rp17.856 per dolar AS, melemah dari posisi sebelumnya Rp17.836 per dolar AS.
Dengan demikian, tekanan terhadap rupiah pada perdagangan hari ini datang dari kombinasi memanasnya ketegangan AS-Iran, lonjakan harga minyak dunia, potensi membengkaknya tekanan fiskal, serta sikap pasar yang menunggu arah kebijakan BI. (*)




JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali tertekan pada penutupan perdagangan Selasa (18/8/2026). Rupiah melemah 64 poin atau 0,36 persen ke level Rp17.862 per dolar AS, dari penutupan sebelumnya Rp17.798 per dolar AS.
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova menilai pelemahan rupiah terutama dipicu sentimen global setelah harga minyak dunia melonjak akibat meningkatnya kekhawatiran konflik antara AS dan Iran kembali memanas.
“Rupiah pada perdagangan hari ini melemah, dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak akibat kekhawatiran berlanjutnya konflik AS dan Iran,” kata Rully di Jakarta petang ini seperti dikutip antaranews.
Kekhawatiran tersebut menguat setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak berupaya memperpanjang perjanjian kerangka kerja dengan Iran yang dicapai pada Juni melalui mediasi Pakistan. Pernyataan itu muncul ketika batas waktu negosiasi 60 hari hampir berakhir tanpa tercapainya penyelesaian menyeluruh.
Situasi tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi eskalasi konflik dan gangguan distribusi energi melalui Selat Hormuz, salah satu jalur strategis perdagangan minyak dunia.
Sentimen tersebut langsung tercermin pada harga minyak. Harga minyak mentah Brent naik 2,4 persen menjadi 90,60 dolar AS per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) meningkat 2,2 persen menjadi 84,20 dolar AS per barel.
Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak menjadi persoalan tersendiri karena harga tersebut telah berada jauh di atas asumsi harga minyak dalam APBN 2026 yang sebesar 70 dolar AS per barel.
“Kenaikan harga minyak di atas asumsi APBN 70 dolar AS per barel akan memicu defisit fiskal, sementara kondisi fundamental ekonomi belum solid,” ujar Rully.
Tekanan terhadap rupiah dengan demikian tidak hanya berasal dari sentimen geopolitik global, tetapi juga dari kekhawatiran terhadap beban fiskal Indonesia apabila harga energi dunia bertahan tinggi.
Kondisi tersebut membuat pelaku pasar mencermati perkembangan kebijakan Bank Indonesia (BI), terutama hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada 18-19 Agustus 2026.
Pasar memperkirakan BI tidak menaikkan suku bunga acuan. Namun, menurut Rully, arah kebijakan BI tidak semata ditentukan oleh keputusan suku bunga.
“Bauran kebijakan selain bunga akan menentukan konsistensi kebijakan stabilitas BI,” katanya.
Pelemahan rupiah juga tercermin pada kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) BI. Pada Selasa, JISDOR berada di level Rp17.856 per dolar AS, melemah dari posisi sebelumnya Rp17.836 per dolar AS.
Dengan demikian, tekanan terhadap rupiah pada perdagangan hari ini datang dari kombinasi memanasnya ketegangan AS-Iran, lonjakan harga minyak dunia, potensi membengkaknya tekanan fiskal, serta sikap pasar yang menunggu arah kebijakan BI. (*)