
PEKANBARU-Penggunaan rokok elektrik atau vape terus berkembang di kalangan masyarakat, termasuk anak muda di Pekanbaru. Kehadiran vape kini tidak hanya dipandang sebagai bagian dari tren dan gaya hidup, tetapi juga menjadi alternatif bagi sebagian perokok yang ingin mengurangi pengeluaran untuk rokok konvensional.
Raja, salah seorang pengguna vape di Pekanbaru, mengaku telah beralih sepenuhnya ke rokok elektrik sejak dua tahun terakhir. Menurutnya, keputusan tersebut bukan semata-mata karena mengikuti tren, melainkan lebih kepada pertimbangan pengeluaran.
"Alasan memilih vape ya agar menghemat biaya dibandingkan rokok konvensional yang sekarang mahal dan membuat saya jadi boros," ujar Raja, Rabu (19/8/2026).

Ia menyebut, kebutuhan untuk vaping setiap bulannya berada di kisaran Rp250 ribu. Menurutnya, angka tersebut masih lebih terjangkau dibandingkan biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli rokok konvensional secara rutin.
Meningkatnya minat terhadap vape juga ikut mendorong geliat bisnis rokok elektrik di Pekanbaru. Reza, salah seorang penjual vape lokal, mengatakan penjualan di tokonya masih tergolong stabil.
Menurutnya, produk jenis pod menjadi salah satu yang paling banyak diminati konsumen karena ukurannya relatif kecil, praktis, dan mudah digunakan.
"Produk yang paling diminati dan sering dibeli sekarang masih jenis pod, yang kecil dan praktis. Untuk harga perangkat maupun liquid-nya bermacam-macam, tapi relatif terjangkau, rata-rata di bawah Rp100 ribu," jelas Reza.
Ia mengatakan, aktivitas pembelian biasanya mulai meningkat pada sore hingga malam hari. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa vape telah memiliki pasar tersendiri di tengah masyarakat perkotaan.
Namun, di balik pertumbuhan bisnis tersebut, pelaku usaha vape juga menghadapi tantangan dalam memastikan produknya tidak dibeli oleh anak di bawah umur. Reza mengaku tokonya menerapkan pembatasan usia bagi konsumen.
"Mayoritas pembeli kita biasanya berusia 21 tahun, dan memang batas usianya itu harus di atas 21 tahun," tegasnya.
Untuk memastikan aturan tersebut diterapkan, pihak toko mengaku melakukan pengecekan terhadap calon pembeli, terutama mereka yang terlihat masih muda atau baru pertama kali datang.
"Kita selalu bertanya umur juga kalau misalnya ada pembeli yang masuk, terutama kalau terlihat masih baru," katanya.
Fenomena vape di Pekanbaru memperlihatkan adanya perubahan pola konsumsi di kalangan perokok. Bagi sebagian pengguna, vape dipandang sebagai pilihan yang lebih praktis dan ekonomis. Sementara bagi pelaku usaha, meningkatnya permintaan membuka peluang bisnis baru.
Di sisi lain, perkembangan tersebut juga menuntut tanggung jawab dari pelaku usaha dan konsumen. Edukasi mengenai penggunaan vape serta konsistensi dalam menerapkan pembatasan usia menjadi penting agar produk rokok elektrik tidak semakin mudah diakses oleh kelompok yang belum memenuhi ketentuan usia.(*)



PEKANBARU-Penggunaan rokok elektrik atau vape terus berkembang di kalangan masyarakat, termasuk anak muda di Pekanbaru. Kehadiran vape kini tidak hanya dipandang sebagai bagian dari tren dan gaya hidup, tetapi juga menjadi alternatif bagi sebagian perokok yang ingin mengurangi pengeluaran untuk rokok konvensional.
Raja, salah seorang pengguna vape di Pekanbaru, mengaku telah beralih sepenuhnya ke rokok elektrik sejak dua tahun terakhir. Menurutnya, keputusan tersebut bukan semata-mata karena mengikuti tren, melainkan lebih kepada pertimbangan pengeluaran.
"Alasan memilih vape ya agar menghemat biaya dibandingkan rokok konvensional yang sekarang mahal dan membuat saya jadi boros," ujar Raja, Rabu (19/8/2026).
Ia menyebut, kebutuhan untuk vaping setiap bulannya berada di kisaran Rp250 ribu. Menurutnya, angka tersebut masih lebih terjangkau dibandingkan biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli rokok konvensional secara rutin.
Meningkatnya minat terhadap vape juga ikut mendorong geliat bisnis rokok elektrik di Pekanbaru. Reza, salah seorang penjual vape lokal, mengatakan penjualan di tokonya masih tergolong stabil.
Menurutnya, produk jenis pod menjadi salah satu yang paling banyak diminati konsumen karena ukurannya relatif kecil, praktis, dan mudah digunakan.
"Produk yang paling diminati dan sering dibeli sekarang masih jenis pod, yang kecil dan praktis. Untuk harga perangkat maupun liquid-nya bermacam-macam, tapi relatif terjangkau, rata-rata di bawah Rp100 ribu," jelas Reza.
Ia mengatakan, aktivitas pembelian biasanya mulai meningkat pada sore hingga malam hari. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa vape telah memiliki pasar tersendiri di tengah masyarakat perkotaan.
Namun, di balik pertumbuhan bisnis tersebut, pelaku usaha vape juga menghadapi tantangan dalam memastikan produknya tidak dibeli oleh anak di bawah umur. Reza mengaku tokonya menerapkan pembatasan usia bagi konsumen.
"Mayoritas pembeli kita biasanya berusia 21 tahun, dan memang batas usianya itu harus di atas 21 tahun," tegasnya.
Untuk memastikan aturan tersebut diterapkan, pihak toko mengaku melakukan pengecekan terhadap calon pembeli, terutama mereka yang terlihat masih muda atau baru pertama kali datang.
"Kita selalu bertanya umur juga kalau misalnya ada pembeli yang masuk, terutama kalau terlihat masih baru," katanya.
Fenomena vape di Pekanbaru memperlihatkan adanya perubahan pola konsumsi di kalangan perokok. Bagi sebagian pengguna, vape dipandang sebagai pilihan yang lebih praktis dan ekonomis. Sementara bagi pelaku usaha, meningkatnya permintaan membuka peluang bisnis baru.
Di sisi lain, perkembangan tersebut juga menuntut tanggung jawab dari pelaku usaha dan konsumen. Edukasi mengenai penggunaan vape serta konsistensi dalam menerapkan pembatasan usia menjadi penting agar produk rokok elektrik tidak semakin mudah diakses oleh kelompok yang belum memenuhi ketentuan usia.(*)