
PEKANBARU - Kabut asap yang melanda sejumlah wilayah di Riau mulai mereda. Namun, kondisi itu memulihkan aktivitas ekonomi pedagang kaki lima di Kota Pekanbaru.
Pantauan jurnalis Pekanbarutv di Jalan Jenderal Sudirman, Kota Pekanbaru pada Selasa (1/9/2026), menunjukkan kabut asap mulai menipis.
Meski begitu, kualitas udara masih berada pada kondisi yang kurang baik. Indeks kualitas udara (AQI) Kota Pekanbaru tercatat 151.

Di tengah kondisi tersebut, pedagang kaki lima tetap berjualan. Namun, mereka mengaku omzet belum kembali seperti sebelum kabut asap akibat karhutla.
Salah seorang pedagang kaki lima, Salim mengatakan aktivitas jual beli menurun karena kondisi jalan menjadi lebih sepi saat kabut asap menyelimuti wilayah Pekanbaru.
“Paling jalannya agak sepi lantaran kabut asap, jadi lumayan sepi,” kata Salim saat diwawancarai pada Selasa, (1/9/2026).
Kata Salim, penurunan omzet yang dialaminya mencapai sekitar separuh dari pendapatan pada hari normal.
Kondisi itu membuat pendapatannya belum kembali stabil meski aktivitas masyarakat mulai berjalan.
“Setengah dari hari biasanya, belum stabil lagi palingan beberapa hari lagi baru stabil,” ujarnya.
Selain omzet yang menurun, Salim mengaku masih merasakan sedikit gangguan pernapasan selama berjualan.
Namun, keluhan tersebut tidak separah ketika kabut asap berada pada kondisi lebih pekat.
Pedagang kaki lima lainnya, Bento menuturkan bahwa gangguan pernapasan sudah tidak lagi dirasakan. Tetapi, omsetnya juga belum sepenuhnya kembali pulih.
“Kalau pernapasan sudah nggak lagi, tapi jual beli belum stabil walaupun sudah reda,” kata Bento.
Bento mengatakan sebelum kabut asap melanda, ia bisa menjual sekitar 50 kotak dagangan dalam sehari. Imbas kabut asap, jumlah penjualan turun hingga sekitar setengahnya.
“Kalau sebelum kabut asap, 50 kotak habis. Kalau sekarang cuma separuhnya saja,” ujarnya.
Penurunan penjualan tersebut menjadi persoalan bagi pedagang kaki lima yang mengandalkan pendapatan harian untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Oleh sebab itu, mereka berharap kondisi udara segera kembali aman agar aktivitas masyarakat dan perekonomian kembali normal.
Bento meminta pemerintah dapat mempercepat penanganan kabut asap sehingga pedagang kecil dapat kembali memperoleh pendapatan seperti sebelum kabut asap melanda.
“Semoga bisa terkendali, biar pedagang kaki lima seperti kami jualannya bisa normal kembali.Biar pedagang kaki lima seperti kami bisa mencari makan, dapat rezeki. Kami ini kan cari makan dan mengisi dapur saja,” pungkasnya. (har)




PEKANBARU - Kabut asap yang melanda sejumlah wilayah di Riau mulai mereda. Namun, kondisi itu memulihkan aktivitas ekonomi pedagang kaki lima di Kota Pekanbaru.
Pantauan jurnalis Pekanbarutv di Jalan Jenderal Sudirman, Kota Pekanbaru pada Selasa (1/9/2026), menunjukkan kabut asap mulai menipis.
Meski begitu, kualitas udara masih berada pada kondisi yang kurang baik. Indeks kualitas udara (AQI) Kota Pekanbaru tercatat 151.
Di tengah kondisi tersebut, pedagang kaki lima tetap berjualan. Namun, mereka mengaku omzet belum kembali seperti sebelum kabut asap akibat karhutla.
Salah seorang pedagang kaki lima, Salim mengatakan aktivitas jual beli menurun karena kondisi jalan menjadi lebih sepi saat kabut asap menyelimuti wilayah Pekanbaru.
“Paling jalannya agak sepi lantaran kabut asap, jadi lumayan sepi,” kata Salim saat diwawancarai pada Selasa, (1/9/2026).
Kata Salim, penurunan omzet yang dialaminya mencapai sekitar separuh dari pendapatan pada hari normal.
Kondisi itu membuat pendapatannya belum kembali stabil meski aktivitas masyarakat mulai berjalan.
“Setengah dari hari biasanya, belum stabil lagi palingan beberapa hari lagi baru stabil,” ujarnya.
Selain omzet yang menurun, Salim mengaku masih merasakan sedikit gangguan pernapasan selama berjualan.
Namun, keluhan tersebut tidak separah ketika kabut asap berada pada kondisi lebih pekat.
Pedagang kaki lima lainnya, Bento menuturkan bahwa gangguan pernapasan sudah tidak lagi dirasakan. Tetapi, omsetnya juga belum sepenuhnya kembali pulih.
“Kalau pernapasan sudah nggak lagi, tapi jual beli belum stabil walaupun sudah reda,” kata Bento.
Bento mengatakan sebelum kabut asap melanda, ia bisa menjual sekitar 50 kotak dagangan dalam sehari. Imbas kabut asap, jumlah penjualan turun hingga sekitar setengahnya.
“Kalau sebelum kabut asap, 50 kotak habis. Kalau sekarang cuma separuhnya saja,” ujarnya.
Penurunan penjualan tersebut menjadi persoalan bagi pedagang kaki lima yang mengandalkan pendapatan harian untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Oleh sebab itu, mereka berharap kondisi udara segera kembali aman agar aktivitas masyarakat dan perekonomian kembali normal.
Bento meminta pemerintah dapat mempercepat penanganan kabut asap sehingga pedagang kecil dapat kembali memperoleh pendapatan seperti sebelum kabut asap melanda.
“Semoga bisa terkendali, biar pedagang kaki lima seperti kami jualannya bisa normal kembali.Biar pedagang kaki lima seperti kami bisa mencari makan, dapat rezeki. Kami ini kan cari makan dan mengisi dapur saja,” pungkasnya. (har)