
PEKANBARU-Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Provinsi Riau mencapai 4.614 kasus sepanjang Januari hingga Juli 2026. Dari ribuan kasus tersebut, sebanyak 23 orang dilaporkan meninggal dunia.
Data Dinas Kesehatan Provinsi Riau menunjukkan, kasus DBD telah ditemukan di seluruh kabupaten dan kota di Riau.
Kabupaten Rokan Hilir (Rohil) mencatat jumlah kasus paling banyak dengan 992 penderita. Dari jumlah tersebut, enam orang meninggal dunia.
Kabupaten Bengkalis berada di urutan berikutnya dengan 701 kasus dan dua kematian. Sementara Kota Dumai mencatat 610 kasus dengan dua korban meninggal dunia.
Di Kota Pekanbaru, tercatat 566 kasus DBD dengan satu kematian.
Kasus juga ditemukan di sejumlah daerah lainnya. Kuantan Singingi mencatat 399 kasus tanpa kematian, sedangkan Kampar sebanyak 297 kasus dengan empat kematian.
Kemudian Indragiri Hilir mencatat 250 kasus dan dua kematian, sementara Rokan Hulu terdapat 228 kasus dengan dua penderita meninggal dunia.
Selanjutnya, Indragiri Hulu mencatat 167 kasus dengan satu kematian. Siak sebanyak 162 kasus dengan dua kematian, Pelalawan 131 kasus tanpa kematian, dan Kepulauan Meranti 111 kasus dengan satu kematian.
Secara keseluruhan, angka kejadian DBD atau Incidence Rate (IR) di Riau mencapai 63,2 kasus per 100 ribu penduduk. Sedangkan angka kematian atau Case Fatality Rate (CFR) tercatat 0,5 persen.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Zulkifli, mengatakan pihaknya terus meminta pemerintah kabupaten dan kota meningkatkan kewaspadaan terhadap perkembangan kasus DBD.
"Kabupaten dan kota sudah kami minta agar meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat langkah-langkah pencegahan terhadap perkembangan kasus DBD," ujar Zulkifli, Minggu (27/9/2026).
Menurut Zulkifli, hingga kini belum ada daerah di Riau yang menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD.
"Belum ada yang KLB, karena semua kasus masih tetap terkendali oleh seluruh dinas kesehatan kabupaten kota," katanya.
Berdasarkan catatan bulanan, kasus DBD sempat menurun pada awal tahun. Januari terdapat 457 kasus, kemudian turun menjadi 402 kasus pada Februari dan 370 kasus pada Maret.
Memasuki April, jumlah kasus kembali naik menjadi 554 kasus dan meningkat tajam pada Mei dengan 827 kasus.(*)




PEKANBARU-Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Provinsi Riau mencapai 4.614 kasus sepanjang Januari hingga Juli 2026. Dari ribuan kasus tersebut, sebanyak 23 orang dilaporkan meninggal dunia.
Data Dinas Kesehatan Provinsi Riau menunjukkan, kasus DBD telah ditemukan di seluruh kabupaten dan kota di Riau.
Kabupaten Rokan Hilir (Rohil) mencatat jumlah kasus paling banyak dengan 992 penderita. Dari jumlah tersebut, enam orang meninggal dunia.
Kabupaten Bengkalis berada di urutan berikutnya dengan 701 kasus dan dua kematian. Sementara Kota Dumai mencatat 610 kasus dengan dua korban meninggal dunia.
Di Kota Pekanbaru, tercatat 566 kasus DBD dengan satu kematian.
Kasus juga ditemukan di sejumlah daerah lainnya. Kuantan Singingi mencatat 399 kasus tanpa kematian, sedangkan Kampar sebanyak 297 kasus dengan empat kematian.
Kemudian Indragiri Hilir mencatat 250 kasus dan dua kematian, sementara Rokan Hulu terdapat 228 kasus dengan dua penderita meninggal dunia.
Selanjutnya, Indragiri Hulu mencatat 167 kasus dengan satu kematian. Siak sebanyak 162 kasus dengan dua kematian, Pelalawan 131 kasus tanpa kematian, dan Kepulauan Meranti 111 kasus dengan satu kematian.
Secara keseluruhan, angka kejadian DBD atau Incidence Rate (IR) di Riau mencapai 63,2 kasus per 100 ribu penduduk. Sedangkan angka kematian atau Case Fatality Rate (CFR) tercatat 0,5 persen.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Zulkifli, mengatakan pihaknya terus meminta pemerintah kabupaten dan kota meningkatkan kewaspadaan terhadap perkembangan kasus DBD.
"Kabupaten dan kota sudah kami minta agar meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat langkah-langkah pencegahan terhadap perkembangan kasus DBD," ujar Zulkifli, Minggu (27/9/2026).
Menurut Zulkifli, hingga kini belum ada daerah di Riau yang menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD.
"Belum ada yang KLB, karena semua kasus masih tetap terkendali oleh seluruh dinas kesehatan kabupaten kota," katanya.
Berdasarkan catatan bulanan, kasus DBD sempat menurun pada awal tahun. Januari terdapat 457 kasus, kemudian turun menjadi 402 kasus pada Februari dan 370 kasus pada Maret.
Memasuki April, jumlah kasus kembali naik menjadi 554 kasus dan meningkat tajam pada Mei dengan 827 kasus.(*)