logo
● Kualitas Udara Pekanbaru Memburuk, Siswa Kembali Belajar dari Rumah Selama Dua H Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Peneliti Dirgantara 14 Negara Berkumpul di Yogyakarta, Bahas Masa Depan Roket hi Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Konflik Yaman-Saudi Memanas, Rupiah Melemah ke Rp17.917 Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Progres Pengaspalan Tembus 60 Persen, Fraksi Golkar Ingatkan Pemko Pekanbaru Jan Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Dugaan Penipuan Rp9,6 Miliar di Polda Riau, Wali Kota Payakumbuh Zulmaeta Buka S Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Udara Tak Sehat, Pemkab Kuansing Berlakukan PJJ Selama Dua Hari Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Tak Terima Anak Sering Keluar Malam, Ayah di Rohul Tikam Anak Kandung Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Empat Pengunjung Positif Narkoba, Polisi Amankan Pria Bawa Samurai Saat Razia TH Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / News / Kepulauan Meranti
Aktivitas Seksual Sesama Jenis di Kalangan Pelajar Meranti Terungkap, MKKS Dorong Pembinaan Diperkuat
ilustrasi (foto;Kalselmaju)
Aktivitas Seksual Sesama Jenis di Kalangan Pelajar Meranti Terungkap, MKKS Dorong Pembinaan Diperkuat
Editor: Ridho Haztil | Penulis: raka sagara
Rubrik: news | 3 Oktober 2026 | 13:36:50

MERANTI-Dunia pendidikan Kabupaten Kepulauan Meranti dihadapkan pada persoalan serius menyusul terungkapnya aktivitas seksual sesama jenis yang melibatkan dua siswa di salah satu SMA Negeri di Kecamatan Tebingtinggi.

Peristiwa tersebut menjadi perhatian Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA sederajat Kabupaten Kepulauan Meranti. Sekolah dinilai perlu memperkuat pengawasan sekaligus pembinaan terhadap peserta didik agar persoalan serupa tidak berkembang di lingkungan pelajar.

iklan-view

Ketua MKKS SMA sederajat Kepulauan Meranti, Poyadi SPd, mengatakan persoalan yang terjadi menjadi perhatian bersama meskipun kasus tersebut tidak berlangsung di sekolah tempatnya bertugas.

“Yang terjadi itu bukan di sekolah saya. Kejadiannya di salah satu SMA Negeri di Tebingtinggi. Tetapi karena saya Ketua MKKS, tentu persoalan seperti ini menjadi perhatian kami bersama,” ujar Poyadi, dikutip dari Tribunpekanbaru.

Menurut Poyadi, pihak sekolah tempat kedua siswa belajar telah mengambil langkah pembinaan. Namun, penanganan perilaku dan pergaulan peserta didik tidak dapat hanya mengandalkan sekolah.

Keluarga, guru, pemerintah dan lingkungan masyarakat juga dinilai memiliki peran penting dalam memberikan pengawasan serta pendampingan kepada remaja.

Poyadi mengatakan perkembangan teknologi dan media sosial membuat ruang pergaulan pelajar semakin luas. Kondisi tersebut membutuhkan perhatian lebih dari orang tua dan sekolah, terutama dalam membangun komunikasi dengan anak.

“Kita ingin pendekatannya melalui edukasi dan pendampingan. Anak-anak ini harus dibina, diarahkan dan diberikan pemahaman,” katanya.

Sebagai tindak lanjut, MKKS Kepulauan Meranti telah berkoordinasi dengan Bidang SMA Dinas Pendidikan Provinsi Riau. Koordinasi tersebut diarahkan untuk menyiapkan kegiatan sosialisasi dan edukasi bagi peserta didik.

Materi pembinaan nantinya diharapkan tidak hanya menyangkut aturan sekolah, tetapi juga pemahaman mengenai pergaulan yang sehat, batasan perilaku, tanggung jawab serta konsekuensi dari tindakan yang dilakukan.

Poyadi juga mengungkapkan adanya informasi yang ia terima mengenai jejaring pergaulan remaja yang dikaitkan dengan aktivitas seksual sesama jenis. Namun, ia menegaskan informasi tersebut belum dapat disebut sebagai temuan yang telah terverifikasi.

“Informasi yang saya dengar, persoalan ini sudah berkembang dan ada komunitas. Ini yang harus menjadi perhatian kita. Tetapi penanganannya tentu harus dilakukan secara bersama-sama dan dengan cara yang tepat,” ujarnya.

Ia menegaskan pembinaan terhadap siswa tidak cukup hanya dengan memberikan sanksi. Pendekatan melalui komunikasi dan pendampingan dinilai diperlukan untuk mengetahui persoalan yang dihadapi anak sekaligus mencegah perilaku berisiko kembali terjadi.

MKKS berharap kerja sama sekolah, keluarga dan pemerintah dapat memperkuat perlindungan serta pendampingan bagi pelajar di Kepulauan Meranti.(*)

Home / News
Aktivitas Seksual Sesama Jenis di Kalangan Pelajar Meranti Terungkap, MKKS Dorong Pembinaan Diperkuat
Editor: Ridho Haztil | Penulis: raka sagara
Rubrik: news | 3 Oktober 2026 | 13:36:50
Aktivitas Seksual Sesama Jenis di Kalangan Pelajar Meranti Terungkap, MKKS Dorong Pembinaan Diperkuat
ilustrasi (foto;Kalselmaju)

MERANTI-Dunia pendidikan Kabupaten Kepulauan Meranti dihadapkan pada persoalan serius menyusul terungkapnya aktivitas seksual sesama jenis yang melibatkan dua siswa di salah satu SMA Negeri di Kecamatan Tebingtinggi.

Peristiwa tersebut menjadi perhatian Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA sederajat Kabupaten Kepulauan Meranti. Sekolah dinilai perlu memperkuat pengawasan sekaligus pembinaan terhadap peserta didik agar persoalan serupa tidak berkembang di lingkungan pelajar.

Ketua MKKS SMA sederajat Kepulauan Meranti, Poyadi SPd, mengatakan persoalan yang terjadi menjadi perhatian bersama meskipun kasus tersebut tidak berlangsung di sekolah tempatnya bertugas.

“Yang terjadi itu bukan di sekolah saya. Kejadiannya di salah satu SMA Negeri di Tebingtinggi. Tetapi karena saya Ketua MKKS, tentu persoalan seperti ini menjadi perhatian kami bersama,” ujar Poyadi, dikutip dari Tribunpekanbaru.

Menurut Poyadi, pihak sekolah tempat kedua siswa belajar telah mengambil langkah pembinaan. Namun, penanganan perilaku dan pergaulan peserta didik tidak dapat hanya mengandalkan sekolah.

Keluarga, guru, pemerintah dan lingkungan masyarakat juga dinilai memiliki peran penting dalam memberikan pengawasan serta pendampingan kepada remaja.

Poyadi mengatakan perkembangan teknologi dan media sosial membuat ruang pergaulan pelajar semakin luas. Kondisi tersebut membutuhkan perhatian lebih dari orang tua dan sekolah, terutama dalam membangun komunikasi dengan anak.

“Kita ingin pendekatannya melalui edukasi dan pendampingan. Anak-anak ini harus dibina, diarahkan dan diberikan pemahaman,” katanya.

Sebagai tindak lanjut, MKKS Kepulauan Meranti telah berkoordinasi dengan Bidang SMA Dinas Pendidikan Provinsi Riau. Koordinasi tersebut diarahkan untuk menyiapkan kegiatan sosialisasi dan edukasi bagi peserta didik.

Materi pembinaan nantinya diharapkan tidak hanya menyangkut aturan sekolah, tetapi juga pemahaman mengenai pergaulan yang sehat, batasan perilaku, tanggung jawab serta konsekuensi dari tindakan yang dilakukan.

Poyadi juga mengungkapkan adanya informasi yang ia terima mengenai jejaring pergaulan remaja yang dikaitkan dengan aktivitas seksual sesama jenis. Namun, ia menegaskan informasi tersebut belum dapat disebut sebagai temuan yang telah terverifikasi.

“Informasi yang saya dengar, persoalan ini sudah berkembang dan ada komunitas. Ini yang harus menjadi perhatian kita. Tetapi penanganannya tentu harus dilakukan secara bersama-sama dan dengan cara yang tepat,” ujarnya.

Ia menegaskan pembinaan terhadap siswa tidak cukup hanya dengan memberikan sanksi. Pendekatan melalui komunikasi dan pendampingan dinilai diperlukan untuk mengetahui persoalan yang dihadapi anak sekaligus mencegah perilaku berisiko kembali terjadi.

MKKS berharap kerja sama sekolah, keluarga dan pemerintah dapat memperkuat perlindungan serta pendampingan bagi pelajar di Kepulauan Meranti.(*)