logo
● Sasar Kabel FO Semraut, Pemko Pekanbaru Lanjutkan Penertiban ke Jalan Paus Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Warga Rumbai Silahkan Kunjungi Pasar Murah, Beras SPHP Dijual Rp60 Ribu Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Udara Pekanbaru Kian Mengkhawatirkan, PM2.5 Enam Kali Ambang Batas WHO Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Hujan Lebat Disertai Petir Malam Ini, BMKG Pantau 11 Titik Panas di Riau Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Diduga Dipicu Sengketa Tanah, Adik Bacok Kakak Kandung Hingga Tewas di Ukui Pela Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Rupiah Makin Terpuruk, Ditutup di Level Rp18.060 per Dolar AS Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Kejati Riau Tahan 8 Tersangka Korupsi Dana PI PT SPRH, Kerugian Negara Rp64,22 M Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Polda Riau Sita 2,1 Kg Sabu dan 284 Catridge Etomidate di Pekanbaru, Dua DPO Dib Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / Ekonomi / Jakarta
Ahli Ekonomi :Program MBG Gerakkan Ekonomi Desa dan Buka Lapangan Pekerjaan
Guru Besar Universitas YARSI, Prof. Perdana Wahyu Santosa(foto:dokpekanbarutv)
Ahli Ekonomi :Program MBG Gerakkan Ekonomi Desa dan Buka Lapangan Pekerjaan
Editor: Ridho Haztil | Penulis: raka sagara
Rubrik: ekonomi | 21 Oktober 2026 | 21:54:55

JAKARTA-Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai berpotensi menggerakkan ekonomi masyarakat sekaligus membuka lapangan kerja baru, terutama di wilayah pedesaan. Selain mendukung pemenuhan gizi masyarakat, program tersebut juga mendorong perputaran uang melalui keterlibatan tenaga kerja lokal, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta pemasok bahan pangan.

Pengamat Ekonomi GREAT Institute sekaligus Guru Besar Universitas YARSI, Prof. Perdana Wahyu Santosa, mengatakan, besarnya anggaran MBG berpotensi memberikan dampak berantai terhadap aktivitas ekonomi masyarakat hingga ke tingkat desa.

"Program Makan Bergizi Gratis sekarang serapannya sudah sekitar Rp150 triliun. Berarti ada uang sekitar Rp150 triliun yang berputar dalam ekonomi kerakyatan, di akar rumput, dan itu sudah sedikit banyak menggerakkan perekonomian pedesaan," ujar Perdana dalam dialog di salah satu stasiun televisi swasta bertajuk Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran Jaga Stabilitas dan Perkuat Kemandirian Nasional.

Menurut dia, kebutuhan bahan pangan untuk operasional MBG dapat meningkatkan permintaan berbagai komoditas, seperti telur, ayam, daging, dan sayuran. Kondisi ini membuka peluang pasar bagi petani, peternak, serta pemasok bahan pangan lokal.

Selain itu, operasional dapur MBG juga membutuhkan tenaga kerja sehingga berpotensi menciptakan kesempatan kerja baru bagi masyarakat di sekitarnya.

Perdana menyarankan agar pelaksanaan program tersebut lebih diprioritaskan di wilayah pedesaan. Menurutnya, MBG dapat menjadi salah satu penggerak ekonomi desa apabila dijalankan dengan baik dan didukung pengawasan yang memadai.

"Kalau MBG bisa terus berjalan dengan baik dan risiko keracunan maupun persoalan operasional dapat dikurangi, program ini bisa menjadi salah satu andalan untuk menggerakkan perekonomian desa," katanya.

Pandangan serupa disampaikan Analis Politik sekaligus akademikus Ujang Komarudin. Ia menilai, MBG tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan makan, tetapi juga berpotensi meningkatkan aktivitas ekonomi dan membuka kesempatan kerja bagi masyarakat.

"MBG bukan hanya sekadar memberi makan, tetapi ekonomi di sekitar dapur, bahkan di desa, juga berputar. Pekerja-pekerja yang tadinya menganggur mendapatkan pekerjaan, emak-emak yang tadinya tidak punya pekerjaan ikut turut membantu," ungkap Ujang.

Meski demikian, ia menekankan pentingnya pengawasan publik dan perbaikan tata kelola secara berkelanjutan agar pelaksanaan program berjalan sesuai tujuan. Perhatian khusus juga diperlukan untuk memastikan manfaat MBG menjangkau masyarakat yang membutuhkan, termasuk di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Dengan pengelolaan yang baik dan dukungan rantai pasok pangan lokal, MBG diharapkan dapat memperluas kesempatan kerja, meningkatkan peluang usaha bagi masyarakat, serta memperkuat perputaran ekonomi di pedesaan. Sinergi dengan Koperasi Desa Merah Putih juga dinilai berpotensi mendukung distribusi dan penyediaan bahan pangan bagi pelaksanaan program tersebut.(*)

Home / Ekonomi
Ahli Ekonomi :Program MBG Gerakkan Ekonomi Desa dan Buka Lapangan Pekerjaan
Editor: Ridho Haztil | Penulis: raka sagara
Rubrik: ekonomi | 21 Oktober 2026 | 21:54:55
Ahli Ekonomi :Program MBG Gerakkan Ekonomi Desa dan Buka Lapangan Pekerjaan
Guru Besar Universitas YARSI, Prof. Perdana Wahyu Santosa(foto:dokpekanbarutv)

JAKARTA-Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai berpotensi menggerakkan ekonomi masyarakat sekaligus membuka lapangan kerja baru, terutama di wilayah pedesaan. Selain mendukung pemenuhan gizi masyarakat, program tersebut juga mendorong perputaran uang melalui keterlibatan tenaga kerja lokal, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta pemasok bahan pangan.

Pengamat Ekonomi GREAT Institute sekaligus Guru Besar Universitas YARSI, Prof. Perdana Wahyu Santosa, mengatakan, besarnya anggaran MBG berpotensi memberikan dampak berantai terhadap aktivitas ekonomi masyarakat hingga ke tingkat desa.

"Program Makan Bergizi Gratis sekarang serapannya sudah sekitar Rp150 triliun. Berarti ada uang sekitar Rp150 triliun yang berputar dalam ekonomi kerakyatan, di akar rumput, dan itu sudah sedikit banyak menggerakkan perekonomian pedesaan," ujar Perdana dalam dialog di salah satu stasiun televisi swasta bertajuk Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran Jaga Stabilitas dan Perkuat Kemandirian Nasional.

Menurut dia, kebutuhan bahan pangan untuk operasional MBG dapat meningkatkan permintaan berbagai komoditas, seperti telur, ayam, daging, dan sayuran. Kondisi ini membuka peluang pasar bagi petani, peternak, serta pemasok bahan pangan lokal.

Selain itu, operasional dapur MBG juga membutuhkan tenaga kerja sehingga berpotensi menciptakan kesempatan kerja baru bagi masyarakat di sekitarnya.

Perdana menyarankan agar pelaksanaan program tersebut lebih diprioritaskan di wilayah pedesaan. Menurutnya, MBG dapat menjadi salah satu penggerak ekonomi desa apabila dijalankan dengan baik dan didukung pengawasan yang memadai.

"Kalau MBG bisa terus berjalan dengan baik dan risiko keracunan maupun persoalan operasional dapat dikurangi, program ini bisa menjadi salah satu andalan untuk menggerakkan perekonomian desa," katanya.

Pandangan serupa disampaikan Analis Politik sekaligus akademikus Ujang Komarudin. Ia menilai, MBG tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan makan, tetapi juga berpotensi meningkatkan aktivitas ekonomi dan membuka kesempatan kerja bagi masyarakat.

"MBG bukan hanya sekadar memberi makan, tetapi ekonomi di sekitar dapur, bahkan di desa, juga berputar. Pekerja-pekerja yang tadinya menganggur mendapatkan pekerjaan, emak-emak yang tadinya tidak punya pekerjaan ikut turut membantu," ungkap Ujang.

Meski demikian, ia menekankan pentingnya pengawasan publik dan perbaikan tata kelola secara berkelanjutan agar pelaksanaan program berjalan sesuai tujuan. Perhatian khusus juga diperlukan untuk memastikan manfaat MBG menjangkau masyarakat yang membutuhkan, termasuk di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Dengan pengelolaan yang baik dan dukungan rantai pasok pangan lokal, MBG diharapkan dapat memperluas kesempatan kerja, meningkatkan peluang usaha bagi masyarakat, serta memperkuat perputaran ekonomi di pedesaan. Sinergi dengan Koperasi Desa Merah Putih juga dinilai berpotensi mendukung distribusi dan penyediaan bahan pangan bagi pelaksanaan program tersebut.(*)