logo
● Rupiah Makin Terpuruk, Ditutup di Level Rp18.060 per Dolar AS Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Kejati Riau Tahan 8 Tersangka Korupsi Dana PI PT SPRH, Kerugian Negara Rp64,22 M Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Polda Riau Sita 2,1 Kg Sabu dan 284 Catridge Etomidate di Pekanbaru, Dua DPO Dib Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Pansel KPU 2027–2032 Segera Diumumkan, DPR Tekankan Integritas Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Residivis Narkoba Ditangkap di Pekanbaru, Polisi Sita 10 Paket Sabu Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Riau Nihil Penanganan Karhutla, Personel Satgas BNPB Tetap Siaga Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Presiden Prabowo Soroti Keterlibatan Perusahaan Asing dalam Kasus Kebakaran Huta Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Prabowo Ancam Cabut Izin Korporasi Pelanggar Aturan Kebakaran Hutan Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / Ekonomi / KEUANGAN
Rupiah Makin Terpuruk, Ditutup di Level Rp18.060 per Dolar AS
Ilustrasi. Rupiah makin terpuruk dalam perdagangan Kamis (22/10/2026). (Foto: AI/Pekanbarutv.com)
Rupiah Makin Terpuruk, Ditutup di Level Rp18.060 per Dolar AS
Editor: Arya Mahendra
Rubrik: ekonomi | 22 Oktober 2026 | 20:35:38

JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Kamis (22/10/2026). Rupiah terkoreksi 38 poin atau 0,21 persen ke level Rp18.060 per dolar AS, dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di posisi Rp18.022.

Pelemahan ini menunjukkan tekanan terhadap mata uang Garuda masih berlanjut. Di tengah ketidakpastian global dan risiko arus modal keluar, kebijakan pelonggaran likuiditas yang ditempuh Bank Indonesia (BI) belum mampu secara langsung membendung tekanan terhadap rupiah.

iklan-view

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, mengatakan pergerakan rupiah berlangsung bersamaan dengan keputusan BI menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) dan memperpanjang kebijakan rasio Loan to Value/Financing to Value (LTV/FTV).

"BI melanjutkan kebijakan makroprudensial untuk mendukung likuiditas rupiah, termasuk menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) dan memperpanjang kebijakan LTV/FTV," ujarnya di Jakarta.

BI menurunkan GWM rata-rata perbankan sebesar dua poin persentase. Untuk bank umum konvensional, GWM dipangkas dari 9 persen menjadi 7 persen. Sementara itu, GWM bank umum syariah dan unit usaha syariah turun dari 7,5 persen menjadi 5,5 persen.

Kebijakan tersebut diarahkan untuk memperkuat likuiditas perbankan, memperluas ruang penyaluran kredit, serta mendorong aktivitas ekonomi domestik. Namun, dampaknya terhadap nilai tukar tidak berlangsung secara otomatis karena rupiah juga dipengaruhi perkembangan pasar keuangan global, ekspektasi suku bunga Amerika Serikat, dan minat investor terhadap aset domestik.

Kepemilikan Asing Menyusut

Di pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tercatat menurun di sejumlah tenor. Yield SBN acuan tenor lima tahun berada di level 7,21 persen, turun satu basis poin. Tenor 10 tahun tercatat 7,43 persen atau turun dua basis poin, sedangkan tenor 15 tahun dan 20 tahun masing-masing berada di level 7,42 persen dan 7,41 persen.

Sementara itu, kepemilikan investor asing pada obligasi pemerintah Indonesia tercatat turun Rp2,37 triliun menjadi Rp918 triliun per 20 Oktober 2026. Nilai tersebut setara dengan 13,07 persen dari total obligasi pemerintah yang beredar.

Data tersebut menjadi salah satu indikator yang perlu dicermati di tengah dinamika arus modal dan pergerakan nilai tukar. Meski demikian, penurunan kepemilikan asing pada SBN tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa arus modal keluar menjadi penyebab langsung pelemahan rupiah pada perdagangan Kamis.

Dari sisi transaksi, volume perdagangan obligasi pemerintah pada Rabu (21/10) mencapai Rp24,39 triliun, meningkat dibandingkan Rp15,71 triliun pada sesi sebelumnya.

JISDOR Ikut Melemah

Tekanan terhadap rupiah juga tercermin pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia. Pada Kamis (22/10), JISDOR tercatat Rp18.047 per dolar AS, melemah dibandingkan posisi sebelumnya Rp17.986.

Pergerakan tersebut memperlihatkan rupiah masih menghadapi tekanan, meskipun BI menempuh kebijakan untuk menjaga likuiditas dan mendukung pertumbuhan ekonomi.

Ke depan, arah rupiah akan dipengaruhi kombinasi sentimen global, perkembangan suku bunga AS, pergerakan arus modal, serta kepercayaan investor terhadap perekonomian domestik. Efektivitas kebijakan BI dalam menjaga stabilitas pasar keuangan juga menjadi faktor penting yang patut dicermati. (*)

Home / Ekonomi
Rupiah Makin Terpuruk, Ditutup di Level Rp18.060 per Dolar AS
Editor: Arya Mahendra
Rubrik: ekonomi | 22 Oktober 2026 | 20:35:38
Rupiah Makin Terpuruk, Ditutup di Level Rp18.060 per Dolar AS
Ilustrasi. Rupiah makin terpuruk dalam perdagangan Kamis (22/10/2026). (Foto: AI/Pekanbarutv.com)

JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Kamis (22/10/2026). Rupiah terkoreksi 38 poin atau 0,21 persen ke level Rp18.060 per dolar AS, dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di posisi Rp18.022.

Pelemahan ini menunjukkan tekanan terhadap mata uang Garuda masih berlanjut. Di tengah ketidakpastian global dan risiko arus modal keluar, kebijakan pelonggaran likuiditas yang ditempuh Bank Indonesia (BI) belum mampu secara langsung membendung tekanan terhadap rupiah.

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, mengatakan pergerakan rupiah berlangsung bersamaan dengan keputusan BI menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) dan memperpanjang kebijakan rasio Loan to Value/Financing to Value (LTV/FTV).

"BI melanjutkan kebijakan makroprudensial untuk mendukung likuiditas rupiah, termasuk menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) dan memperpanjang kebijakan LTV/FTV," ujarnya di Jakarta.

BI menurunkan GWM rata-rata perbankan sebesar dua poin persentase. Untuk bank umum konvensional, GWM dipangkas dari 9 persen menjadi 7 persen. Sementara itu, GWM bank umum syariah dan unit usaha syariah turun dari 7,5 persen menjadi 5,5 persen.

Kebijakan tersebut diarahkan untuk memperkuat likuiditas perbankan, memperluas ruang penyaluran kredit, serta mendorong aktivitas ekonomi domestik. Namun, dampaknya terhadap nilai tukar tidak berlangsung secara otomatis karena rupiah juga dipengaruhi perkembangan pasar keuangan global, ekspektasi suku bunga Amerika Serikat, dan minat investor terhadap aset domestik.

Kepemilikan Asing Menyusut

Di pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tercatat menurun di sejumlah tenor. Yield SBN acuan tenor lima tahun berada di level 7,21 persen, turun satu basis poin. Tenor 10 tahun tercatat 7,43 persen atau turun dua basis poin, sedangkan tenor 15 tahun dan 20 tahun masing-masing berada di level 7,42 persen dan 7,41 persen.

Sementara itu, kepemilikan investor asing pada obligasi pemerintah Indonesia tercatat turun Rp2,37 triliun menjadi Rp918 triliun per 20 Oktober 2026. Nilai tersebut setara dengan 13,07 persen dari total obligasi pemerintah yang beredar.

Data tersebut menjadi salah satu indikator yang perlu dicermati di tengah dinamika arus modal dan pergerakan nilai tukar. Meski demikian, penurunan kepemilikan asing pada SBN tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa arus modal keluar menjadi penyebab langsung pelemahan rupiah pada perdagangan Kamis.

Dari sisi transaksi, volume perdagangan obligasi pemerintah pada Rabu (21/10) mencapai Rp24,39 triliun, meningkat dibandingkan Rp15,71 triliun pada sesi sebelumnya.

JISDOR Ikut Melemah

Tekanan terhadap rupiah juga tercermin pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia. Pada Kamis (22/10), JISDOR tercatat Rp18.047 per dolar AS, melemah dibandingkan posisi sebelumnya Rp17.986.

Pergerakan tersebut memperlihatkan rupiah masih menghadapi tekanan, meskipun BI menempuh kebijakan untuk menjaga likuiditas dan mendukung pertumbuhan ekonomi.

Ke depan, arah rupiah akan dipengaruhi kombinasi sentimen global, perkembangan suku bunga AS, pergerakan arus modal, serta kepercayaan investor terhadap perekonomian domestik. Efektivitas kebijakan BI dalam menjaga stabilitas pasar keuangan juga menjadi faktor penting yang patut dicermati. (*)