
JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Kamis (22/10/2026). Rupiah terkoreksi 38 poin atau 0,21 persen ke level Rp18.060 per dolar AS, dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di posisi Rp18.022.
Pelemahan ini menunjukkan tekanan terhadap mata uang Garuda masih berlanjut. Di tengah ketidakpastian global dan risiko arus modal keluar, kebijakan pelonggaran likuiditas yang ditempuh Bank Indonesia (BI) belum mampu secara langsung membendung tekanan terhadap rupiah.

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, mengatakan pergerakan rupiah berlangsung bersamaan dengan keputusan BI menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) dan memperpanjang kebijakan rasio Loan to Value/Financing to Value (LTV/FTV).
"BI melanjutkan kebijakan makroprudensial untuk mendukung likuiditas rupiah, termasuk menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) dan memperpanjang kebijakan LTV/FTV," ujarnya di Jakarta.
BI menurunkan GWM rata-rata perbankan sebesar dua poin persentase. Untuk bank umum konvensional, GWM dipangkas dari 9 persen menjadi 7 persen. Sementara itu, GWM bank umum syariah dan unit usaha syariah turun dari 7,5 persen menjadi 5,5 persen.
Kebijakan tersebut diarahkan untuk memperkuat likuiditas perbankan, memperluas ruang penyaluran kredit, serta mendorong aktivitas ekonomi domestik. Namun, dampaknya terhadap nilai tukar tidak berlangsung secara otomatis karena rupiah juga dipengaruhi perkembangan pasar keuangan global, ekspektasi suku bunga Amerika Serikat, dan minat investor terhadap aset domestik.
Kepemilikan Asing Menyusut
Di pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tercatat menurun di sejumlah tenor. Yield SBN acuan tenor lima tahun berada di level 7,21 persen, turun satu basis poin. Tenor 10 tahun tercatat 7,43 persen atau turun dua basis poin, sedangkan tenor 15 tahun dan 20 tahun masing-masing berada di level 7,42 persen dan 7,41 persen.
Sementara itu, kepemilikan investor asing pada obligasi pemerintah Indonesia tercatat turun Rp2,37 triliun menjadi Rp918 triliun per 20 Oktober 2026. Nilai tersebut setara dengan 13,07 persen dari total obligasi pemerintah yang beredar.
Data tersebut menjadi salah satu indikator yang perlu dicermati di tengah dinamika arus modal dan pergerakan nilai tukar. Meski demikian, penurunan kepemilikan asing pada SBN tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa arus modal keluar menjadi penyebab langsung pelemahan rupiah pada perdagangan Kamis.
Dari sisi transaksi, volume perdagangan obligasi pemerintah pada Rabu (21/10) mencapai Rp24,39 triliun, meningkat dibandingkan Rp15,71 triliun pada sesi sebelumnya.
JISDOR Ikut Melemah
Tekanan terhadap rupiah juga tercermin pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia. Pada Kamis (22/10), JISDOR tercatat Rp18.047 per dolar AS, melemah dibandingkan posisi sebelumnya Rp17.986.
Pergerakan tersebut memperlihatkan rupiah masih menghadapi tekanan, meskipun BI menempuh kebijakan untuk menjaga likuiditas dan mendukung pertumbuhan ekonomi.
Ke depan, arah rupiah akan dipengaruhi kombinasi sentimen global, perkembangan suku bunga AS, pergerakan arus modal, serta kepercayaan investor terhadap perekonomian domestik. Efektivitas kebijakan BI dalam menjaga stabilitas pasar keuangan juga menjadi faktor penting yang patut dicermati. (*)







JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Kamis (22/10/2026). Rupiah terkoreksi 38 poin atau 0,21 persen ke level Rp18.060 per dolar AS, dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di posisi Rp18.022.
Pelemahan ini menunjukkan tekanan terhadap mata uang Garuda masih berlanjut. Di tengah ketidakpastian global dan risiko arus modal keluar, kebijakan pelonggaran likuiditas yang ditempuh Bank Indonesia (BI) belum mampu secara langsung membendung tekanan terhadap rupiah.
Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, mengatakan pergerakan rupiah berlangsung bersamaan dengan keputusan BI menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) dan memperpanjang kebijakan rasio Loan to Value/Financing to Value (LTV/FTV).
"BI melanjutkan kebijakan makroprudensial untuk mendukung likuiditas rupiah, termasuk menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) dan memperpanjang kebijakan LTV/FTV," ujarnya di Jakarta.
BI menurunkan GWM rata-rata perbankan sebesar dua poin persentase. Untuk bank umum konvensional, GWM dipangkas dari 9 persen menjadi 7 persen. Sementara itu, GWM bank umum syariah dan unit usaha syariah turun dari 7,5 persen menjadi 5,5 persen.
Kebijakan tersebut diarahkan untuk memperkuat likuiditas perbankan, memperluas ruang penyaluran kredit, serta mendorong aktivitas ekonomi domestik. Namun, dampaknya terhadap nilai tukar tidak berlangsung secara otomatis karena rupiah juga dipengaruhi perkembangan pasar keuangan global, ekspektasi suku bunga Amerika Serikat, dan minat investor terhadap aset domestik.
Kepemilikan Asing Menyusut
Di pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tercatat menurun di sejumlah tenor. Yield SBN acuan tenor lima tahun berada di level 7,21 persen, turun satu basis poin. Tenor 10 tahun tercatat 7,43 persen atau turun dua basis poin, sedangkan tenor 15 tahun dan 20 tahun masing-masing berada di level 7,42 persen dan 7,41 persen.
Sementara itu, kepemilikan investor asing pada obligasi pemerintah Indonesia tercatat turun Rp2,37 triliun menjadi Rp918 triliun per 20 Oktober 2026. Nilai tersebut setara dengan 13,07 persen dari total obligasi pemerintah yang beredar.
Data tersebut menjadi salah satu indikator yang perlu dicermati di tengah dinamika arus modal dan pergerakan nilai tukar. Meski demikian, penurunan kepemilikan asing pada SBN tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa arus modal keluar menjadi penyebab langsung pelemahan rupiah pada perdagangan Kamis.
Dari sisi transaksi, volume perdagangan obligasi pemerintah pada Rabu (21/10) mencapai Rp24,39 triliun, meningkat dibandingkan Rp15,71 triliun pada sesi sebelumnya.
JISDOR Ikut Melemah
Tekanan terhadap rupiah juga tercermin pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia. Pada Kamis (22/10), JISDOR tercatat Rp18.047 per dolar AS, melemah dibandingkan posisi sebelumnya Rp17.986.
Pergerakan tersebut memperlihatkan rupiah masih menghadapi tekanan, meskipun BI menempuh kebijakan untuk menjaga likuiditas dan mendukung pertumbuhan ekonomi.
Ke depan, arah rupiah akan dipengaruhi kombinasi sentimen global, perkembangan suku bunga AS, pergerakan arus modal, serta kepercayaan investor terhadap perekonomian domestik. Efektivitas kebijakan BI dalam menjaga stabilitas pasar keuangan juga menjadi faktor penting yang patut dicermati. (*)