logo
Blackout Sumatera, Ditlantas Polda Riau Siaga Penuh: Patroli Blue Light Ditingka Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Sumatera Blackout! Pekanbaru Gelap Gulita, Diduga Gangguan Jaringan 275 kV di Mu Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Nekat Haji Lewat Jalur Nonprosedural, 6 WNI Dicegah Berangkat di Bandara SSK II Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Rupiah Tersungkur ke Rp17.673 per Dolar AS, Jadi Mata Uang Terlemah Sepekan Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Ratusan Mahasiswa Demo Polda Riau, Desak Penindakan Mafia BBM Ilegal dan Copot K Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Polresta Pekanbaru Dalami Kasus Dugaan Pengeroyokan di SMK Pertanian, Pihak Seko Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Toko Elektronik Online Palsu Tipu Korban Rp154 Juta, Polresta Pekanbaru Bekuk Pe Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Trump dan Netanyahu Perang Mulut di Telepon Gara-gara AS Tunda Serangan Besar ke Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / News / FEATURE
Marsinah: Hidup Sederhana, Mati Dibungkam, Namanya Kini Abadi...
Presiden Prabowo Subianto meninjau museum Marsinah di Desa Nglundo, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur.
Marsinah: Hidup Sederhana, Mati Dibungkam, Namanya Kini Abadi...
Editor: Arya Mahendra | Penulis: arya mahendra
16 Mei 2026 | 18:08:31

PAGI di Desa Nglundo, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, terasa berbeda pada Sabtu, 16 Mei 2026. Di desa kecil yang dulu hanya mengenal Marsinah sebagai anak yatim sederhana, kini berdiri sebuah museum dan rumah singgah yang membawa namanya.

Di tempat itu, orang-orang datang bukan sekadar untuk mengenang kematian tragis seorang buruh perempuan. Mereka datang untuk mengingat keberanian.

Presiden Prabowo Subianto meresmikan Museum Marsinah dan Rumah Singgah sebagai penghormatan bagi perempuan yang selama puluhan tahun menjadi simbol perlawanan buruh Indonesia. Setelah lebih dari tiga dekade, negara akhirnya memberi tempat terhormat bagi nama yang dulu hanya hidup dari poster demonstrasi, nyanyian jalanan, dan teriakan massa aksi Hari Buruh.

Marsinah kini bukan lagi sekadar korban. Ia telah menjadi sejarah.

iklan-view

Perjalanan hidupnya jauh dari gemerlap. Ia lahir di Desa Nglundo pada 10 April 1969 dari keluarga sederhana. Ibunya meninggal saat ia baru berusia tiga tahun. Sejak kecil, Marsinah diasuh neneknya, Puirah, dan bibinya, Sini.

Museum Marsinah.

Masa kecil Marsinah dipenuhi perjuangan. Ia membantu keluarga dengan menjual jagung dan gabah. Tidak ada kemewahan dalam hidupnya, bahkan untuk sekadar bermimpi pun terasa mahal.

Namun, Marsinah kecil punya tekad yang besar. Ia ingin sekolah tinggi, bahkan bercita-cita menjadi sarjana hukum. Sayang, keterbatasan ekonomi memaksanya mengubur mimpi itu.

Seperti ribuan anak muda desa lain pada masa itu, Marsinah memilih merantau.

Di Surabaya, hidupnya keras. Ia pernah bekerja di pabrik plastik sambil berjualan nasi bungkus demi bertahan hidup. Tahun 1989, ia diterima bekerja di pabrik sepatu Bata, sebelum akhirnya pindah ke PT Catur Putera Surya (CPS), pabrik jam tangan di Porong, Sidoarjo.

Di situlah jalan hidupnya berubah.

Marsinah bukan tipe buruh yang mudah tunduk. Ia dikenal vokal dan berani berbicara ketika rekan-rekannya memilih diam. Tahun 1993, ketika pemerintah menetapkan kenaikan upah minimum, manajemen perusahaan menolak menjalankannya.

Bagi sebagian orang, melawan perusahaan di era Orde Baru adalah tindakan berbahaya. Tapi bagi Marsinah, diam justru lebih menakutkan.

Patung Marsinah di kampung halamannya.

Pada 3 hingga 4 Mei 1993, para buruh melakukan mogok kerja. Marsinah tampil sebagai salah satu juru runding. Dengan suara tegas, ia menuntut kenaikan upah dari Rp1.700 menjadi Rp2.250 per hari, ditambah tunjangan kehadiran Rp550.

Tuntutan yang hari ini terdengar sederhana, kala itu bisa dianggap ancaman.

Situasi kemudian berubah mencekam. Pada 5 Mei 1993, sebanyak 13 buruh dipanggil ke Kodim Sidoarjo dan dipaksa mengundurkan diri. Marsinah malam itu pergi mencari teman-temannya ke markas militer.

Ia tak pernah kembali.

Empat hari kemudian, jasadnya ditemukan di sebuah gubuk kecil di wilayah Nganjuk. Tubuh perempuan 24 tahun itu penuh luka. Hasil autopsi menunjukkan adanya tanda-tanda penyiksaan berat sebelum ia dibunuh.

Kematian Marsinah mengguncang Indonesia.

Namanya segera menjelma simbol perlawanan terhadap ketidakadilan dan represi kekuasaan. Di tengah ketakutan yang menyelimuti era Orde Baru, kisah Marsinah menjadi suara yang sulit dibungkam.

Kasusnya sempat disidik, sejumlah orang diadili, tetapi banyak kejanggalan muncul. Para terdakwa mengaku disiksa agar mengaku bersalah. Mahkamah Agung akhirnya membebaskan mereka karena lemahnya bukti.

Sementara itu, dugaan keterlibatan aparat tak pernah benar-benar terjawab.

Tiga puluh tahun lebih berlalu, tetapi luka itu belum sepenuhnya sembuh. Hingga kini, banyak aktivis HAM dan organisasi buruh terus mendesak agar dalang di balik pembunuhan Marsinah diungkap.

Namun, waktu ternyata tidak mampu menghapus namanya.

Marsinah hidup dalam lagu-lagu perjuangan. Namanya diteriakkan dalam demonstrasi buruh. Kisahnya diangkat ke film, teater, hingga puisi. Ia menjadi lambang keberanian perempuan pekerja yang menolak tunduk pada ketidakadilan.

Kini, negara akhirnya memberi pengakuan resmi.

Demo menuntut keadilan untuk Marsinah.

Pada 10 November 2025, pemerintah menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada Marsinah. Sebuah penghormatan yang diperjuangkan selama bertahun-tahun oleh aktivis buruh, pegiat HAM, hingga masyarakat kecil yang percaya bahwa keberanian perempuan desa dari Nganjuk itu tidak boleh dilupakan.

Museum yang diresmikan hari ini bukan sekadar bangunan.

Ia adalah pengingat bahwa sejarah Indonesia pernah ditulis oleh seorang buruh perempuan yang memilih melawan rasa takut.

Marsinah mungkin telah lama tiada. Namun suaranya masih hidup—di ruang-ruang pabrik, di jalanan demonstrasi, dan di hati mereka yang terus memperjuangkan keadilan. (**)

Disarikan dari berbagai sumber. 

Home / News
Marsinah: Hidup Sederhana, Mati Dibungkam, Namanya Kini Abadi...
Editor: Arya Mahendra | Penulis: arya mahendra
Rubrik: news | 16 Mei 2026 | 18:08:31
Marsinah: Hidup Sederhana, Mati Dibungkam, Namanya Kini Abadi...
Presiden Prabowo Subianto meninjau museum Marsinah di Desa Nglundo, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur.

PAGI di Desa Nglundo, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, terasa berbeda pada Sabtu, 16 Mei 2026. Di desa kecil yang dulu hanya mengenal Marsinah sebagai anak yatim sederhana, kini berdiri sebuah museum dan rumah singgah yang membawa namanya.

Di tempat itu, orang-orang datang bukan sekadar untuk mengenang kematian tragis seorang buruh perempuan. Mereka datang untuk mengingat keberanian.

Presiden Prabowo Subianto meresmikan Museum Marsinah dan Rumah Singgah sebagai penghormatan bagi perempuan yang selama puluhan tahun menjadi simbol perlawanan buruh Indonesia. Setelah lebih dari tiga dekade, negara akhirnya memberi tempat terhormat bagi nama yang dulu hanya hidup dari poster demonstrasi, nyanyian jalanan, dan teriakan massa aksi Hari Buruh.

Marsinah kini bukan lagi sekadar korban. Ia telah menjadi sejarah.

Perjalanan hidupnya jauh dari gemerlap. Ia lahir di Desa Nglundo pada 10 April 1969 dari keluarga sederhana. Ibunya meninggal saat ia baru berusia tiga tahun. Sejak kecil, Marsinah diasuh neneknya, Puirah, dan bibinya, Sini.

Museum Marsinah.

Masa kecil Marsinah dipenuhi perjuangan. Ia membantu keluarga dengan menjual jagung dan gabah. Tidak ada kemewahan dalam hidupnya, bahkan untuk sekadar bermimpi pun terasa mahal.

Namun, Marsinah kecil punya tekad yang besar. Ia ingin sekolah tinggi, bahkan bercita-cita menjadi sarjana hukum. Sayang, keterbatasan ekonomi memaksanya mengubur mimpi itu.

Seperti ribuan anak muda desa lain pada masa itu, Marsinah memilih merantau.

Di Surabaya, hidupnya keras. Ia pernah bekerja di pabrik plastik sambil berjualan nasi bungkus demi bertahan hidup. Tahun 1989, ia diterima bekerja di pabrik sepatu Bata, sebelum akhirnya pindah ke PT Catur Putera Surya (CPS), pabrik jam tangan di Porong, Sidoarjo.

Di situlah jalan hidupnya berubah.

Marsinah bukan tipe buruh yang mudah tunduk. Ia dikenal vokal dan berani berbicara ketika rekan-rekannya memilih diam. Tahun 1993, ketika pemerintah menetapkan kenaikan upah minimum, manajemen perusahaan menolak menjalankannya.

Bagi sebagian orang, melawan perusahaan di era Orde Baru adalah tindakan berbahaya. Tapi bagi Marsinah, diam justru lebih menakutkan.

Patung Marsinah di kampung halamannya.

Pada 3 hingga 4 Mei 1993, para buruh melakukan mogok kerja. Marsinah tampil sebagai salah satu juru runding. Dengan suara tegas, ia menuntut kenaikan upah dari Rp1.700 menjadi Rp2.250 per hari, ditambah tunjangan kehadiran Rp550.

Tuntutan yang hari ini terdengar sederhana, kala itu bisa dianggap ancaman.

Situasi kemudian berubah mencekam. Pada 5 Mei 1993, sebanyak 13 buruh dipanggil ke Kodim Sidoarjo dan dipaksa mengundurkan diri. Marsinah malam itu pergi mencari teman-temannya ke markas militer.

Ia tak pernah kembali.

Empat hari kemudian, jasadnya ditemukan di sebuah gubuk kecil di wilayah Nganjuk. Tubuh perempuan 24 tahun itu penuh luka. Hasil autopsi menunjukkan adanya tanda-tanda penyiksaan berat sebelum ia dibunuh.

Kematian Marsinah mengguncang Indonesia.

Namanya segera menjelma simbol perlawanan terhadap ketidakadilan dan represi kekuasaan. Di tengah ketakutan yang menyelimuti era Orde Baru, kisah Marsinah menjadi suara yang sulit dibungkam.

Kasusnya sempat disidik, sejumlah orang diadili, tetapi banyak kejanggalan muncul. Para terdakwa mengaku disiksa agar mengaku bersalah. Mahkamah Agung akhirnya membebaskan mereka karena lemahnya bukti.

Sementara itu, dugaan keterlibatan aparat tak pernah benar-benar terjawab.

Tiga puluh tahun lebih berlalu, tetapi luka itu belum sepenuhnya sembuh. Hingga kini, banyak aktivis HAM dan organisasi buruh terus mendesak agar dalang di balik pembunuhan Marsinah diungkap.

Namun, waktu ternyata tidak mampu menghapus namanya.

Marsinah hidup dalam lagu-lagu perjuangan. Namanya diteriakkan dalam demonstrasi buruh. Kisahnya diangkat ke film, teater, hingga puisi. Ia menjadi lambang keberanian perempuan pekerja yang menolak tunduk pada ketidakadilan.

Kini, negara akhirnya memberi pengakuan resmi.

Demo menuntut keadilan untuk Marsinah.

Pada 10 November 2025, pemerintah menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada Marsinah. Sebuah penghormatan yang diperjuangkan selama bertahun-tahun oleh aktivis buruh, pegiat HAM, hingga masyarakat kecil yang percaya bahwa keberanian perempuan desa dari Nganjuk itu tidak boleh dilupakan.

Museum yang diresmikan hari ini bukan sekadar bangunan.

Ia adalah pengingat bahwa sejarah Indonesia pernah ditulis oleh seorang buruh perempuan yang memilih melawan rasa takut.

Marsinah mungkin telah lama tiada. Namun suaranya masih hidup—di ruang-ruang pabrik, di jalanan demonstrasi, dan di hati mereka yang terus memperjuangkan keadilan. (**)

Disarikan dari berbagai sumber.