
PEKANBARU - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau masih menjadi ancaman serius. Sejumlah titik kebakaran masih aktif di Kabupaten Pelalawan dan Indragiri Hulu dengan total luasan lahan terbakar sedikitnya mencapai 94 hektare. Medan yang sulit dijangkau, bahan bakar berupa vegetasi kering, hingga keterbatasan sumber air menjadi tantangan utama dalam upaya pemadaman.
Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Wilayah Sumatera Kementerian Kehutanan mencatat, titik karhutla terluas berada di Kelurahan Kerumutan, Kabupaten Pelalawan. Setelah dilakukan pemetaan dan digitasi lapangan, luas lahan yang terbakar meningkat dari perkiraan awal 20 hektare menjadi 64 hektare.
Kepala Balai Dalkarhut Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, mengatakan proses penanganan di lokasi tersebut telah memasuki hari ketujuh. Petugas masih menghadapi medan yang berat karena jarak menuju titik api cukup jauh dan akses darat sangat terbatas.

"Vegetasi di lokasi sangat padat. Untuk membawa peralatan menuju kepala api, personel harus menggunakan kendaraan roda dua sekitar 45 menit, kemudian melanjutkan perjalanan sejauh 1,5 kilometer," ujarnya, Kamis (6/8/2026).
Untuk mempercepat penanganan, tim mendapat dukungan alat berat guna membuka akses menuju lokasi kebakaran, membuat sekat bakar, serta membangun embung sebagai sumber air. Pergantian personel juga dilakukan agar kondisi fisik petugas tetap terjaga selama operasi berlangsung.
Masih di Kerumutan, karhutla juga terjadi di Desa Mak Teduh, dengan luas sekitar 10 hektare. Penanganan di lokasi ini telah memasuki hari ketiga dan difokuskan pada proses pendinginan guna memastikan tidak ada bara api yang berpotensi memicu kebakaran kembali.
Medan di Desa Mak Teduh juga tidak mudah dijangkau. Tim harus memutar sejauh dua kilometer dengan berjalan kaki karena akses utama terputus oleh kanal. Hujan dengan intensitas tinggi sempat mengguyur kawasan tersebut selama sekitar 45 menit, namun belum sepenuhnya memadamkan titik api.
Sementara itu, di Desa Sungai Guntung Hilir, Kabupaten Indragiri Hulu, kebakaran juga masih berlangsung di lahan seluas 20 hektare. Operasi pemadaman telah memasuki hari ketiga dengan kondisi di lapangan yang tidak kalah berat.
Selain vegetasi yang kering dan mudah terbakar, petugas harus menghadapi asap pekat, angin kencang, serta keterbatasan sumber air akibat embung yang mengering. Tim terpaksa menarik bentangan selang hingga sekitar 600 meter dari sumber air yang tersedia di sisi selatan lokasi.
Saat ini, Manggala Agni Daerah Operasi Rengat masih menangani seluruh titik karhutla tersebut. Di saat bersamaan, pemerintah juga menggencarkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dengan target wilayah rawan karhutla, yakni Pelalawan, Siak, Indragiri Hilir, dan Kepulauan Meranti, guna membantu meningkatkan potensi hujan dan menekan meluasnya kebakaran. (**/ntr)




PEKANBARU - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau masih menjadi ancaman serius. Sejumlah titik kebakaran masih aktif di Kabupaten Pelalawan dan Indragiri Hulu dengan total luasan lahan terbakar sedikitnya mencapai 94 hektare. Medan yang sulit dijangkau, bahan bakar berupa vegetasi kering, hingga keterbatasan sumber air menjadi tantangan utama dalam upaya pemadaman.
Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Wilayah Sumatera Kementerian Kehutanan mencatat, titik karhutla terluas berada di Kelurahan Kerumutan, Kabupaten Pelalawan. Setelah dilakukan pemetaan dan digitasi lapangan, luas lahan yang terbakar meningkat dari perkiraan awal 20 hektare menjadi 64 hektare.
Kepala Balai Dalkarhut Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, mengatakan proses penanganan di lokasi tersebut telah memasuki hari ketujuh. Petugas masih menghadapi medan yang berat karena jarak menuju titik api cukup jauh dan akses darat sangat terbatas.
"Vegetasi di lokasi sangat padat. Untuk membawa peralatan menuju kepala api, personel harus menggunakan kendaraan roda dua sekitar 45 menit, kemudian melanjutkan perjalanan sejauh 1,5 kilometer," ujarnya, Kamis (6/8/2026).
Untuk mempercepat penanganan, tim mendapat dukungan alat berat guna membuka akses menuju lokasi kebakaran, membuat sekat bakar, serta membangun embung sebagai sumber air. Pergantian personel juga dilakukan agar kondisi fisik petugas tetap terjaga selama operasi berlangsung.
Masih di Kerumutan, karhutla juga terjadi di Desa Mak Teduh, dengan luas sekitar 10 hektare. Penanganan di lokasi ini telah memasuki hari ketiga dan difokuskan pada proses pendinginan guna memastikan tidak ada bara api yang berpotensi memicu kebakaran kembali.
Medan di Desa Mak Teduh juga tidak mudah dijangkau. Tim harus memutar sejauh dua kilometer dengan berjalan kaki karena akses utama terputus oleh kanal. Hujan dengan intensitas tinggi sempat mengguyur kawasan tersebut selama sekitar 45 menit, namun belum sepenuhnya memadamkan titik api.
Sementara itu, di Desa Sungai Guntung Hilir, Kabupaten Indragiri Hulu, kebakaran juga masih berlangsung di lahan seluas 20 hektare. Operasi pemadaman telah memasuki hari ketiga dengan kondisi di lapangan yang tidak kalah berat.
Selain vegetasi yang kering dan mudah terbakar, petugas harus menghadapi asap pekat, angin kencang, serta keterbatasan sumber air akibat embung yang mengering. Tim terpaksa menarik bentangan selang hingga sekitar 600 meter dari sumber air yang tersedia di sisi selatan lokasi.
Saat ini, Manggala Agni Daerah Operasi Rengat masih menangani seluruh titik karhutla tersebut. Di saat bersamaan, pemerintah juga menggencarkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dengan target wilayah rawan karhutla, yakni Pelalawan, Siak, Indragiri Hilir, dan Kepulauan Meranti, guna membantu meningkatkan potensi hujan dan menekan meluasnya kebakaran. (**/ntr)