logo
Usai Santap MBG, Siswa Karo Hilang Ingatan dan Dirujuk ke RSCM Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Akademisi Kritik Penanganan Karhutla Riau: Jangan Sekadar Padamkan Api Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Kejar Kemiskinan 2 Persen, Pemko Pekanbaru Petakan Wilayah Prioritas Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Kejagung Sita Rp5 Miliar, Nama Ferry Boboho Muncul dalam Penyidikan Kasus Febrie Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Istri Sedang Melahirkan, Pengurus Ponpes Ash-Sholihah Sleman Diduga Perkosa Eks Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Kuasa Hukum PT SPRH Divonis 12 Tahun, Korupsi Dana PI PHR Rugikan Negara Rp64,2 Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Rupiah Melemah ke Rp17.585, Reli 5 Hari Terhenti di Akhir Pekan, Ancaman The Fed Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Ombudsman Dorong DPM-PTSP Pekanbaru Jadi Benchmark Tata Kelola Investasi Nasiona Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / Lingkungan / Pekanbaru
OMC di Riau Masuk Hari Kedelapan, 12 Ton Garam Disebar untuk Tekan Karhutla
Persiapan modifikasi cuaca untuk mengatasi karhutla di Riau. (Foto: Antara)
OMC di Riau Masuk Hari Kedelapan, 12 Ton Garam Disebar untuk Tekan Karhutla
Editor: Boy Surya Hamta | Penulis: yob ayrus
Rubrik: lingkungan | 7 Agustus 2026 | 16:31:35

PEKANBARU-Pemerintah terus memperkuat upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Memasuki hari kedelapan pelaksanaan, sebanyak 12 ton garam (NaCl) telah disemai ke awan sebagai upaya meningkatkan potensi hujan di sejumlah wilayah yang menjadi prioritas penanganan.

Langkah tersebut dilakukan bersamaan dengan operasi udara dan pemadaman darat guna mencegah meluasnya kebakaran di tengah musim kemarau yang masih berlangsung di sejumlah daerah di Riau.

iklan-view

Berdasarkan data hingga Jumat (7/8/2026), penyemaian garam telah dilakukan di kawasan yang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap karhutla, meliputi Kabupaten Pelalawan, Siak, Bengkalis, Indragiri Hulu, Indragiri Hilir, Rokan Hilir, Kepulauan Meranti, serta Kota Dumai.

Selama delapan hari pelaksanaan OMC, tim telah melaksanakan 12 sorti penerbangan dengan total bahan semai mencapai 12.000 kilogram natrium klorida (NaCl).

Selain mengupayakan hujan buatan, pemerintah juga mengerahkan berbagai armada udara untuk mempercepat penanganan kebakaran di lapangan.

Operasi tersebut didukung satu unit helikopter patroli BNPB, satu unit pesawat patroli sekaligus pesawat OMC, serta lima unit helikopter water bombing yang bertugas melakukan penyiraman di lokasi-lokasi kebakaran.

Kepala Bidang Kedaruratan BPBD dan Damkar Provinsi Riau, Jim Ghafur, mengatakan operasi udara menjadi salah satu strategi penting karena mampu menjangkau kawasan yang sulit diakses melalui jalur darat.

Menurutnya, penyemaian garam ke awan terus dilakukan untuk meningkatkan peluang terjadinya hujan di daerah-daerah yang rawan kebakaran. Di saat yang sama, helikopter water bombing tetap menjalankan misi penyiraman pada lokasi yang masih ditemukan titik api.

Ia menjelaskan, kombinasi antara operasi udara dan upaya pemadaman yang dilakukan personel di lapangan mulai menunjukkan hasil. Sejumlah lokasi yang sebelumnya terbakar kini telah berhasil dikendalikan sehingga risiko meluasnya kebakaran dapat ditekan.

Meski demikian, Satgas Karhutla tetap mengoptimalkan seluruh sumber daya yang tersedia agar titik api yang masih tersisa dapat segera dipadamkan sebelum berkembang menjadi kebakaran dengan skala lebih besar.

"Kami terus mengoptimalkan seluruh sumber daya yang ada, baik personel di lapangan maupun dukungan udara agar titik api yang masih tersisa dapat segera dipadamkan," kata Jim Ghafur, Jumat.

Waspadai Munculnya Titik Api Baru

BPBD Riau menilai keberhasilan pengendalian karhutla tidak hanya bergantung pada operasi pemadaman, tetapi juga partisipasi masyarakat dalam mencegah munculnya kebakaran baru.

Karena itu, masyarakat kembali diingatkan untuk tidak membuka lahan menggunakan cara membakar. Praktik tersebut dinilai masih menjadi salah satu penyebab utama munculnya titik api setiap musim kemarau.

Pemerintah juga memastikan seluruh personel Satgas Karhutla tetap disiagakan penuh mengingat kondisi di lapangan dapat berubah dalam waktu singkat. Faktor cuaca, arah angin, serta tingkat kekeringan lahan masih menjadi variabel yang memengaruhi potensi meluasnya kebakaran.

Jim menyebut perkembangan penanganan karhutla akan terus dipantau secara berkala agar setiap perubahan kondisi dapat segera direspons melalui pengerahan personel maupun dukungan operasi udara.

OMC Jadi Bagian Strategi Pengendalian Karhutla

Operasi Modifikasi Cuaca menjadi salah satu instrumen yang rutin digunakan pemerintah ketika potensi karhutla meningkat di Riau. Teknologi tersebut dilakukan dengan menyemai bahan higroskopis berupa garam ke awan yang memenuhi syarat sehingga meningkatkan peluang terjadinya hujan.

Strategi ini dipadukan dengan patroli udara, water bombing, patroli darat, pemadaman langsung, serta pengawasan di kawasan rawan kebakaran. Pendekatan tersebut diharapkan mampu mengurangi risiko meluasnya asap sekaligus meminimalkan dampak terhadap kesehatan masyarakat, aktivitas ekonomi, dan transportasi.

Riau merupakan salah satu provinsi yang setiap musim kemarau menghadapi ancaman karhutla akibat karakteristik lahan gambut yang mudah terbakar ketika mengalami kekeringan. Oleh sebab itu, upaya pencegahan terus menjadi prioritas pemerintah selain penanganan saat kebakaran telah terjadi.

Seiring masih berlangsungnya musim kemarau, pemerintah berharap kolaborasi antara operasi udara, petugas di lapangan, dan kepatuhan masyarakat untuk tidak membakar lahan dapat menjaga kondisi tetap terkendali serta mencegah bertambahnya titik api di berbagai wilayah Riau. (tpc)

OMC di Riau Masuk Hari Kedelapan, 12 Ton Garam Disebar untuk Tekan Karhutla
Editor: Boy Surya Hamta | Penulis: yob ayrus
Rubrik: lingkungan | 7 Agustus 2026 | 16:31:35
OMC di Riau Masuk Hari Kedelapan, 12 Ton Garam Disebar untuk Tekan Karhutla
Persiapan modifikasi cuaca untuk mengatasi karhutla di Riau. (Foto: Antara)

PEKANBARU-Pemerintah terus memperkuat upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Memasuki hari kedelapan pelaksanaan, sebanyak 12 ton garam (NaCl) telah disemai ke awan sebagai upaya meningkatkan potensi hujan di sejumlah wilayah yang menjadi prioritas penanganan.

Langkah tersebut dilakukan bersamaan dengan operasi udara dan pemadaman darat guna mencegah meluasnya kebakaran di tengah musim kemarau yang masih berlangsung di sejumlah daerah di Riau.

Berdasarkan data hingga Jumat (7/8/2026), penyemaian garam telah dilakukan di kawasan yang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap karhutla, meliputi Kabupaten Pelalawan, Siak, Bengkalis, Indragiri Hulu, Indragiri Hilir, Rokan Hilir, Kepulauan Meranti, serta Kota Dumai.

Selama delapan hari pelaksanaan OMC, tim telah melaksanakan 12 sorti penerbangan dengan total bahan semai mencapai 12.000 kilogram natrium klorida (NaCl).

Selain mengupayakan hujan buatan, pemerintah juga mengerahkan berbagai armada udara untuk mempercepat penanganan kebakaran di lapangan.

Operasi tersebut didukung satu unit helikopter patroli BNPB, satu unit pesawat patroli sekaligus pesawat OMC, serta lima unit helikopter water bombing yang bertugas melakukan penyiraman di lokasi-lokasi kebakaran.

Kepala Bidang Kedaruratan BPBD dan Damkar Provinsi Riau, Jim Ghafur, mengatakan operasi udara menjadi salah satu strategi penting karena mampu menjangkau kawasan yang sulit diakses melalui jalur darat.

Menurutnya, penyemaian garam ke awan terus dilakukan untuk meningkatkan peluang terjadinya hujan di daerah-daerah yang rawan kebakaran. Di saat yang sama, helikopter water bombing tetap menjalankan misi penyiraman pada lokasi yang masih ditemukan titik api.

Ia menjelaskan, kombinasi antara operasi udara dan upaya pemadaman yang dilakukan personel di lapangan mulai menunjukkan hasil. Sejumlah lokasi yang sebelumnya terbakar kini telah berhasil dikendalikan sehingga risiko meluasnya kebakaran dapat ditekan.

Meski demikian, Satgas Karhutla tetap mengoptimalkan seluruh sumber daya yang tersedia agar titik api yang masih tersisa dapat segera dipadamkan sebelum berkembang menjadi kebakaran dengan skala lebih besar.

"Kami terus mengoptimalkan seluruh sumber daya yang ada, baik personel di lapangan maupun dukungan udara agar titik api yang masih tersisa dapat segera dipadamkan," kata Jim Ghafur, Jumat.

Waspadai Munculnya Titik Api Baru

BPBD Riau menilai keberhasilan pengendalian karhutla tidak hanya bergantung pada operasi pemadaman, tetapi juga partisipasi masyarakat dalam mencegah munculnya kebakaran baru.

Karena itu, masyarakat kembali diingatkan untuk tidak membuka lahan menggunakan cara membakar. Praktik tersebut dinilai masih menjadi salah satu penyebab utama munculnya titik api setiap musim kemarau.

Pemerintah juga memastikan seluruh personel Satgas Karhutla tetap disiagakan penuh mengingat kondisi di lapangan dapat berubah dalam waktu singkat. Faktor cuaca, arah angin, serta tingkat kekeringan lahan masih menjadi variabel yang memengaruhi potensi meluasnya kebakaran.

Jim menyebut perkembangan penanganan karhutla akan terus dipantau secara berkala agar setiap perubahan kondisi dapat segera direspons melalui pengerahan personel maupun dukungan operasi udara.

OMC Jadi Bagian Strategi Pengendalian Karhutla

Operasi Modifikasi Cuaca menjadi salah satu instrumen yang rutin digunakan pemerintah ketika potensi karhutla meningkat di Riau. Teknologi tersebut dilakukan dengan menyemai bahan higroskopis berupa garam ke awan yang memenuhi syarat sehingga meningkatkan peluang terjadinya hujan.

Strategi ini dipadukan dengan patroli udara, water bombing, patroli darat, pemadaman langsung, serta pengawasan di kawasan rawan kebakaran. Pendekatan tersebut diharapkan mampu mengurangi risiko meluasnya asap sekaligus meminimalkan dampak terhadap kesehatan masyarakat, aktivitas ekonomi, dan transportasi.

Riau merupakan salah satu provinsi yang setiap musim kemarau menghadapi ancaman karhutla akibat karakteristik lahan gambut yang mudah terbakar ketika mengalami kekeringan. Oleh sebab itu, upaya pencegahan terus menjadi prioritas pemerintah selain penanganan saat kebakaran telah terjadi.

Seiring masih berlangsungnya musim kemarau, pemerintah berharap kolaborasi antara operasi udara, petugas di lapangan, dan kepatuhan masyarakat untuk tidak membakar lahan dapat menjaga kondisi tetap terkendali serta mencegah bertambahnya titik api di berbagai wilayah Riau. (tpc)