logo
Pasar Kodim Diduga Dialihfungsikan Jadi Kampus, KOMPOR Foundation dan PPSP Perta Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi DPR Dengarkan Tuntutan 36 Ribu Kades AMJ Terkait Perpanjangan Masa Jabatan Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Menpora dan Ketua KOI Resmi Kukuhkan Kontingen Indonesia untuk Asian Games 2026 Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Rupiah Perkasa, Tembus Rp17.500 per Dolar AS, Investor Mulai Kembali ke Pasar In Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Komjak RI Turun ke Kejari Pekanbaru, Pastikan Pengaduan Masyarakat Ditindaklanju Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Eskalasi Konflik Memanas, Harga Minyak Dunia Mendekati Level US$100 per Barel Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Manchester City Pimpin Klasemen Liga Champions Usai Taklukkan Porto Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi 3.056 Kasus Gangguan Kesehatan di Pekanbaru, Pemko Perpanjang PJJ di Tengah Kabu Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
Karhutla Riau Mengganas, Api Merangsek ke Hutan Primer, 114 Hektare Terbakar di Pelalawan dan Inhu
Tim Manggala Agni Daops Rengat memadamkan kebakaran hutan di Kerumutan, Pelalawan. (Foto: Manggala Agni Via Antara)
Karhutla Riau Mengganas, Api Merangsek ke Hutan Primer, 114 Hektare Terbakar di Pelalawan dan Inhu
Editor: Arya Mahendra
Rubrik: lingkungan | 9 Agustus 2026 | 19:51:37

PEKANBARU - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Riau hingga Minggu (9/8/2026) masih sulit dikendalikan. Dua lokasi yang menjadi perhatian serius berada di Kelurahan Kerumutan, Kecamatan Kerumutan, Kabupaten Pelalawan, dan Sungai Guntung Hilir, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu).

Di dua lokasi tersebut, total area yang terbakar diperkirakan mencapai 114 hektare. Namun, luasan tersebut masih berpotensi bertambah karena proses pemantauan dan pendataan di lapangan masih berlangsung.

Di Kerumutan, karhutla telah memasuki hari ke-11 dan membakar sekitar 64 hektare lahan. Sementara di Sungai Guntung Hilir, api telah bertahan selama tujuh hari dengan luas lahan terbakar diperkirakan mencapai 50 hektare.

iklan-view

Kepala Daops Manggala Agni Rengat, Muhammad Sodik, mengatakan kondisi di kedua lokasi masih menjadi tantangan bagi tim pemadam. Padatnya bahan bakar, asap pekat, kencangnya angin serta sulitnya akses menuju kepala api membuat proses pemadaman berlangsung lebih lama.

Di Kerumutan, bahkan kepala api berada di kawasan yang ditumbuhi tanaman akasia liar. Lokasinya cukup sulit dijangkau sehingga tim membutuhkan waktu lama untuk membawa peralatan menuju titik api.

Untuk melangsir peralatan menggunakan kendaraan roda dua, petugas membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam. Sementara jika berjalan kaki, jarak menuju kepala api mencapai sekitar 1,5 kilometer.

Kondisi tersebut membuat upaya pemadaman tidak hanya mengandalkan personel di darat. Tim Manggala Agni juga mempercepat pembukaan akses dengan dukungan alat berat.

Sebanyak 19 embung disiapkan di sekitar lokasi Kerumutan untuk mendekatkan sumber air dengan titik operasi pemadaman. Alat berat juga digunakan untuk membuka akses menuju lokasi api serta membuat sekat bakar guna mengendalikan pergerakan api.

Situasi tak kalah mengkhawatirkan terjadi di Sungai Guntung Hilir, Inhu. Kepala api dilaporkan telah merangsek ke arah hutan primer, sementara akses menuju titik tersebut belum sepenuhnya terbuka.

Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Dalkarhut) Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, mengatakan kondisi di lokasi masih cukup berat.

“Bahan bakarnya padat, asap pekat dan angin bertiup kencang. Kepala api juga sudah merangsek masuk ke arah hutan primer,” ujarnya.

Tim Manggala Agni terus melakukan penyisiran untuk mencari jalur menuju kepala api. Dari sisi barat, petugas bergerak ke arah utara untuk membuka akses dan mendekati titik api.

Operasi pemadaman di Sungai Guntung Hilir juga mendapat dukungan satu unit helikopter water bombing dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Dukungan dari udara ini diharapkan membantu menekan api di area yang sulit dijangkau melalui jalur darat.

Selain itu, satu unit alat berat tambahan dikerahkan untuk membuka akses menuju sisi utara kepala api. Alat berat tersebut sekaligus digunakan untuk menyiapkan embung sebagai sumber air dan membuat sekat bakar di sekitar lokasi.

Dengan kondisi api yang belum sepenuhnya terkendali di kedua wilayah, operasi pemadaman masih terus dilanjutkan. Fokus utama tim saat ini adalah membuka akses menuju kepala api, memutus pergerakan api melalui sekat bakar, mendekatkan sumber air dan mencegah api semakin meluas, terutama ke kawasan hutan primer.

Karhutla di Kerumutan dan Sungai Guntung Hilir menjadi gambaran beratnya penanganan kebakaran di Riau ketika api berada di medan sulit dijangkau, bahan bakar sangat padat dan kondisi cuaca turut mendukung penyebaran api. (ntr/mcr)

Karhutla Riau Mengganas, Api Merangsek ke Hutan Primer, 114 Hektare Terbakar di Pelalawan dan Inhu
Editor: Arya Mahendra
Rubrik: lingkungan | 9 Agustus 2026 | 19:51:37
Karhutla Riau Mengganas, Api Merangsek ke Hutan Primer, 114 Hektare Terbakar di Pelalawan dan Inhu
Tim Manggala Agni Daops Rengat memadamkan kebakaran hutan di Kerumutan, Pelalawan. (Foto: Manggala Agni Via Antara)

PEKANBARU - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Riau hingga Minggu (9/8/2026) masih sulit dikendalikan. Dua lokasi yang menjadi perhatian serius berada di Kelurahan Kerumutan, Kecamatan Kerumutan, Kabupaten Pelalawan, dan Sungai Guntung Hilir, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu).

Di dua lokasi tersebut, total area yang terbakar diperkirakan mencapai 114 hektare. Namun, luasan tersebut masih berpotensi bertambah karena proses pemantauan dan pendataan di lapangan masih berlangsung.

Di Kerumutan, karhutla telah memasuki hari ke-11 dan membakar sekitar 64 hektare lahan. Sementara di Sungai Guntung Hilir, api telah bertahan selama tujuh hari dengan luas lahan terbakar diperkirakan mencapai 50 hektare.

Kepala Daops Manggala Agni Rengat, Muhammad Sodik, mengatakan kondisi di kedua lokasi masih menjadi tantangan bagi tim pemadam. Padatnya bahan bakar, asap pekat, kencangnya angin serta sulitnya akses menuju kepala api membuat proses pemadaman berlangsung lebih lama.

Di Kerumutan, bahkan kepala api berada di kawasan yang ditumbuhi tanaman akasia liar. Lokasinya cukup sulit dijangkau sehingga tim membutuhkan waktu lama untuk membawa peralatan menuju titik api.

Untuk melangsir peralatan menggunakan kendaraan roda dua, petugas membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam. Sementara jika berjalan kaki, jarak menuju kepala api mencapai sekitar 1,5 kilometer.

Kondisi tersebut membuat upaya pemadaman tidak hanya mengandalkan personel di darat. Tim Manggala Agni juga mempercepat pembukaan akses dengan dukungan alat berat.

Sebanyak 19 embung disiapkan di sekitar lokasi Kerumutan untuk mendekatkan sumber air dengan titik operasi pemadaman. Alat berat juga digunakan untuk membuka akses menuju lokasi api serta membuat sekat bakar guna mengendalikan pergerakan api.

Situasi tak kalah mengkhawatirkan terjadi di Sungai Guntung Hilir, Inhu. Kepala api dilaporkan telah merangsek ke arah hutan primer, sementara akses menuju titik tersebut belum sepenuhnya terbuka.

Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Dalkarhut) Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, mengatakan kondisi di lokasi masih cukup berat.

“Bahan bakarnya padat, asap pekat dan angin bertiup kencang. Kepala api juga sudah merangsek masuk ke arah hutan primer,” ujarnya.

Tim Manggala Agni terus melakukan penyisiran untuk mencari jalur menuju kepala api. Dari sisi barat, petugas bergerak ke arah utara untuk membuka akses dan mendekati titik api.

Operasi pemadaman di Sungai Guntung Hilir juga mendapat dukungan satu unit helikopter water bombing dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Dukungan dari udara ini diharapkan membantu menekan api di area yang sulit dijangkau melalui jalur darat.

Selain itu, satu unit alat berat tambahan dikerahkan untuk membuka akses menuju sisi utara kepala api. Alat berat tersebut sekaligus digunakan untuk menyiapkan embung sebagai sumber air dan membuat sekat bakar di sekitar lokasi.

Dengan kondisi api yang belum sepenuhnya terkendali di kedua wilayah, operasi pemadaman masih terus dilanjutkan. Fokus utama tim saat ini adalah membuka akses menuju kepala api, memutus pergerakan api melalui sekat bakar, mendekatkan sumber air dan mencegah api semakin meluas, terutama ke kawasan hutan primer.

Karhutla di Kerumutan dan Sungai Guntung Hilir menjadi gambaran beratnya penanganan kebakaran di Riau ketika api berada di medan sulit dijangkau, bahan bakar sangat padat dan kondisi cuaca turut mendukung penyebaran api. (ntr/mcr)