
PEKANBARU - Menjelang sore hari, Ruang Terbuka Hijau (RTH) Putri Kaca Mayang ramai dikunjungi oleh warga Pekanbaru. Suasana yang sejuk dan rindang, arena bermain, sarana olahraga hingga aneka jajanan menjadi daya tersendiri untuk mengisi waktu luang di akhir pekan.
Ruang terbuka di tengah kota itu perlahan menjadi tempat dari berbagai aktivitas. Anak-anak datang untuk bermain, orang tua menemani buah hati, sementara anak muda memilih duduk santai, bersua foto atau menghabiskan waktu bersama teman.
Salah satu pengunjung, Poedjo warga Panam, mengaku memilih RTH Putri Kaca Mayang karena memiliki fasilitas yang ramah anak. Poedjo datang bersama istri dan buah hatinya.
RTH Putri Kaca Mayang dinilai menjadi ruang yang ramah untuk anak untuk belajar dan tumbuh.
“Anak saya umur satu tahun, saya bawa ke sini karena ada fasilitas bagus untuk anak belajar jalan dan bermain. Jadi ruang untuk anak saya agar bisa berkembang secara fisik,” kata Poedjo saat diwawancarai jurnalis Pekanbarutv.com, Sabtu (22/8/2026) sore.
Baginya, taman kota bukan sekadar tempat untuk mengisi waktu luang. Ia juga menjadi ruang bagi anak untuk bergerak di luar rumah, mengenal lingkungan, dan berinteraksi dengan orang lain.
Poedjo menuturkan, RTH Putri Kaca Mayang memiliki letak yang strategis di tengah kota sehingga mudah dikunjungi. Dari beberapa taman yang pernah ia datangi, tidak ada fasilitas selengkap dan ramah anak seperti RTH Putri Kaca Mayang.
“Selain Kaca Mayang ada juga ke taman lain, tetapi fasilitas untuk anak-anak di sana masih kurang,” ujarnya.

Poedjo beserta keluarganya di arena bermain RTH Putri Kaca Mayang pada Sabtu sore, 22 Agustus 2026. (Foto: Abdul Haris/ Pekanbarutv)
Sebab itu, Poedjo berharap agar taman lainnya memiliki fasilitas yang lengkap seperti RTH Putri Kaca Mayang. Sehingga menjadi ruang rekreasi yang nyaman untuk berbagai kalangan.
Poedjo meyakini taman yang inklusif menjadi indikator kualitas ruang publik, semua olang harus bisa mengaksesnya dengan nyaman dan aman.
Senada dengan Poedjo, Wiwit bersama rekannya memilih menikmati sore di RTH Putri Kaca Mayang karena tempatnya yang asri dan sejuk.
Ia memilih menghabiskan sore di Kaca Mayang karena suasananya yang rindang dan sejuk dan pelbagai jajanan yang membuat pengunjung tidak harus pergi jauh ketika ingin makan atau sekadar menikmati camilan.
Sebagai anak muda, menurutnya tempat rekreasi di kota Bertuah ini tak jauh-jauh dari Mall hingga Coffee Shop. Sehingga taman adalah tempat alternatif untuk dikunjungi.
“Kalo di Pekanbaru ini kan nggak terlalu banyak tempat bermainnya. Di sini lebih cocok untuk semua kalangan kita anak muda,” beber Wiwit.
Wiwit mengaku lebih sering datang ke taman ini pada waktu sore hari. Sekedar untuk nongkrong atau menikmati aneka jajanan dijajakan pedagang.
Ruang Publik yang Harus Terus Dibenahi
Meski sudah menjadi ruang publik bersama, RTH Putri Kaca Mayang masih memiliki sejumlah hal yang menurut pengunjung perlu dibenahi.
Wiwit berharap pepohonan di kawasan taman diperbanyak agar suasananya semakin teduh. Ia juga menginginkan tempat duduk yang lebih nyaman serta penambahan fasilitas umum.
“Taman ini perlu dibanyakin lagi pohonnya, tempat duduknya yang ada sandarannya. Kalau bisa ditambah lagi fasilitas umumnya,” ujarnya.
Harapan serupa datang dari Poedjo. Ia ingin fasilitas yang ramah anak tidak hanya tersedia di Kaca Mayang, tetapi juga di ruang-ruang publik lainnya di Pekanbaru.
Dengan begitu, warga memiliki lebih banyak pilihan untuk membawa keluarga berekreasi tanpa harus bergantung pada satu lokasi.
Pada akhirnya, keberadaan taman kota bukan hanya perkara seberapa banyak pohon yang ditanam atau berapa banyak permainan yang tersedia.
Ruang terbuka publik juga menyangkut siapa yang dapat menggunakannya dan seberapa nyaman mereka berada di sana.
Anak membutuhkan tempat untuk bermain. Orang tua membutuhkan ruang untuk mendampingi anak. Anak muda membutuhkan tempat untuk berkumpul.
Sementara warga lainnya mungkin hanya membutuhkan bangku untuk bersandar dan rehat sejenak untuk beristirahat dari hiruk pikuk kota. Taman ini menjadi ruang yang dapat dipakai warga untuk menikmati kotanya.
Taman ini menjadi jeda. Tempat warga menepi sejenak dari kesibukan, membawa anak bermain, bertemu kawan, atau sekadar bercengkrama menjelang senja.
Sebab pada akhirnya, kota bukan hanya tentang jalan yang sibuk dan gedung yang menjulang. Kota juga tentang ruang yang memberi kesempatan bagi warganya untuk berhenti menikmati hidup di dalamnya. (*)




PEKANBARU - Menjelang sore hari, Ruang Terbuka Hijau (RTH) Putri Kaca Mayang ramai dikunjungi oleh warga Pekanbaru. Suasana yang sejuk dan rindang, arena bermain, sarana olahraga hingga aneka jajanan menjadi daya tersendiri untuk mengisi waktu luang di akhir pekan.
Ruang terbuka di tengah kota itu perlahan menjadi tempat dari berbagai aktivitas. Anak-anak datang untuk bermain, orang tua menemani buah hati, sementara anak muda memilih duduk santai, bersua foto atau menghabiskan waktu bersama teman.
Salah satu pengunjung, Poedjo warga Panam, mengaku memilih RTH Putri Kaca Mayang karena memiliki fasilitas yang ramah anak. Poedjo datang bersama istri dan buah hatinya.
RTH Putri Kaca Mayang dinilai menjadi ruang yang ramah untuk anak untuk belajar dan tumbuh.
“Anak saya umur satu tahun, saya bawa ke sini karena ada fasilitas bagus untuk anak belajar jalan dan bermain. Jadi ruang untuk anak saya agar bisa berkembang secara fisik,” kata Poedjo saat diwawancarai jurnalis Pekanbarutv.com, Sabtu (22/8/2026) sore.
Baginya, taman kota bukan sekadar tempat untuk mengisi waktu luang. Ia juga menjadi ruang bagi anak untuk bergerak di luar rumah, mengenal lingkungan, dan berinteraksi dengan orang lain.
Poedjo menuturkan, RTH Putri Kaca Mayang memiliki letak yang strategis di tengah kota sehingga mudah dikunjungi. Dari beberapa taman yang pernah ia datangi, tidak ada fasilitas selengkap dan ramah anak seperti RTH Putri Kaca Mayang.
“Selain Kaca Mayang ada juga ke taman lain, tetapi fasilitas untuk anak-anak di sana masih kurang,” ujarnya.

Poedjo beserta keluarganya di arena bermain RTH Putri Kaca Mayang pada Sabtu sore, 22 Agustus 2026. (Foto: Abdul Haris/ Pekanbarutv)
Sebab itu, Poedjo berharap agar taman lainnya memiliki fasilitas yang lengkap seperti RTH Putri Kaca Mayang. Sehingga menjadi ruang rekreasi yang nyaman untuk berbagai kalangan.
Poedjo meyakini taman yang inklusif menjadi indikator kualitas ruang publik, semua olang harus bisa mengaksesnya dengan nyaman dan aman.
Senada dengan Poedjo, Wiwit bersama rekannya memilih menikmati sore di RTH Putri Kaca Mayang karena tempatnya yang asri dan sejuk.
Ia memilih menghabiskan sore di Kaca Mayang karena suasananya yang rindang dan sejuk dan pelbagai jajanan yang membuat pengunjung tidak harus pergi jauh ketika ingin makan atau sekadar menikmati camilan.
Sebagai anak muda, menurutnya tempat rekreasi di kota Bertuah ini tak jauh-jauh dari Mall hingga Coffee Shop. Sehingga taman adalah tempat alternatif untuk dikunjungi.
“Kalo di Pekanbaru ini kan nggak terlalu banyak tempat bermainnya. Di sini lebih cocok untuk semua kalangan kita anak muda,” beber Wiwit.
Wiwit mengaku lebih sering datang ke taman ini pada waktu sore hari. Sekedar untuk nongkrong atau menikmati aneka jajanan dijajakan pedagang.
Ruang Publik yang Harus Terus Dibenahi
Meski sudah menjadi ruang publik bersama, RTH Putri Kaca Mayang masih memiliki sejumlah hal yang menurut pengunjung perlu dibenahi.
Wiwit berharap pepohonan di kawasan taman diperbanyak agar suasananya semakin teduh. Ia juga menginginkan tempat duduk yang lebih nyaman serta penambahan fasilitas umum.
“Taman ini perlu dibanyakin lagi pohonnya, tempat duduknya yang ada sandarannya. Kalau bisa ditambah lagi fasilitas umumnya,” ujarnya.
Harapan serupa datang dari Poedjo. Ia ingin fasilitas yang ramah anak tidak hanya tersedia di Kaca Mayang, tetapi juga di ruang-ruang publik lainnya di Pekanbaru.
Dengan begitu, warga memiliki lebih banyak pilihan untuk membawa keluarga berekreasi tanpa harus bergantung pada satu lokasi.
Pada akhirnya, keberadaan taman kota bukan hanya perkara seberapa banyak pohon yang ditanam atau berapa banyak permainan yang tersedia.
Ruang terbuka publik juga menyangkut siapa yang dapat menggunakannya dan seberapa nyaman mereka berada di sana.
Anak membutuhkan tempat untuk bermain. Orang tua membutuhkan ruang untuk mendampingi anak. Anak muda membutuhkan tempat untuk berkumpul.
Sementara warga lainnya mungkin hanya membutuhkan bangku untuk bersandar dan rehat sejenak untuk beristirahat dari hiruk pikuk kota. Taman ini menjadi ruang yang dapat dipakai warga untuk menikmati kotanya.
Taman ini menjadi jeda. Tempat warga menepi sejenak dari kesibukan, membawa anak bermain, bertemu kawan, atau sekadar bercengkrama menjelang senja.
Sebab pada akhirnya, kota bukan hanya tentang jalan yang sibuk dan gedung yang menjulang. Kota juga tentang ruang yang memberi kesempatan bagi warganya untuk berhenti menikmati hidup di dalamnya. (*)