logo
● TKD Riau Turun 16,73 Persen, Pemda Diminta Perkuat PAD dan Percepat Belanja Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Ole Romeny Minta Skuad Garuda Tuntaskan Misi Lawan Thailand Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Pertarungan Otak di Area Teknis SUGBK Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● 133 Pedagang Ruko Plaza Sukaramai Pertanyakan Rekomendasi Pemko Pekanbaru untuk Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Ekonomi Riau September 2026: Inflasi Naik, Ekspor Tumbuh, NTP Menguat Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Update Cuaca Jumat 2 Oktober: Hujan Guyur Sejumlah Wilayah Riau, BMKG Ingatkan P Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● BREAKING NEWS: Kebakaran Besar Melanda Bangko Rohil, Saat ini Api Masih Berkobar Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Kemendagri Evaluasi Regulasi Daerah untuk Perkuat Pencegahan Karhutla Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / Ekonomi / Ekonomi
Ekonomi Riau September 2026: Inflasi Naik, Ekspor Tumbuh, NTP Menguat
Layar TV yang menyajikan Rilis Berita Resmi Statistik di kantor BPS Riau pada Kamis, (1/10/2026). (Foto: Abdul Haris/Pekanbarutv)
Ekonomi Riau September 2026: Inflasi Naik, Ekspor Tumbuh, NTP Menguat
Editor: Arya Mahendra | Penulis: abdul haris
Rubrik: ekonomi | 2 Oktober 2026 | 10:11:20

PEKANBARU - Kinerja ekonomi Provinsi Riau pada September 2026 menunjukkan sejumlah perkembangan yang beragam.

Inflasi bulanan meningkat, sementara nilai ekspor tumbuh dan daya tukar petani menguat. Di sisi lain, kunjungan wisatawan mancanegara secara tahunan mengalami penurunan.

Ketua Tim Statistik Distribusi dan Jasa BPS Riau, Fitri Hariyanti mencatat inflasi September 2026 sebesar 0,64 persen secara bulanan (month-to-month/m-to-m).

iklan-view

Angka tersebut menunjukkan kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 113,54 pada Agustus menjadi 114,27 pada September 2026.

Secara tahunan (year-on-year/y-on-y), Fitri bilang, Riau mengalami inflasi sebesar 2,79 persen. Sementara secara tahun kalender (year-to-date/y-to-d), inflasi tercatat 1,84 persen.

Menurutnya, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan. Kelompok ini mengalami inflasi 1,76 persen dengan andil 0,58 persen.

Dia membeberkan, dua kelompok lain yang turut memberikan andil terhadap inflasi bulanan adalah pendidikan sebesar 0,55 persen dengan andil 0,03 persen serta transportasi yang mengalami inflasi 0,27 persen dengan andil 0,03 persen.

Sejumlah komoditas pangan menjadi pendorong utama inflasi September.

Di antaranya cabai merah, ayam hidup, cabai rawit, ikan serai, bawang merah, udang basah, roti manis, ikan nila, dan beberapa komoditas lainnya.

Sebaliknya, kata Fitri, sejumlah komoditas memberikan tekanan deflasi, antara lain emas perhiasan, kentang, angkutan udara, bayam, tomat, terong, buncis, jeruk, ketimun, sawi putih, kol putih, bawang putih, dan kembang kol.

Jika dilihat berdasarkan wilayah, seluruh kabupaten/kota yang menjadi wilayah penghitungan IHK di Riau mengalami inflasi secara bulanan. Inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Kampar sebesar 0,82 persen, sedangkan terendah tercatat di Tembilahan sebesar 0,20 persen.

"Secara tahunan, seluruh kabupaten/kota IHK juga mengalami inflasi. Kampar mencatat inflasi tertinggi sebesar 3,21 persen, sedangkan Kota Dumai terendah dengan 2,35 persen, " bebernya. 

Ekspor Riau Tumbuh Positif

Di tengah kenaikan harga, perdagangan luar negeri Riau masih menunjukkan kinerja positif. Nilai ekspor Riau pada Agustus 2026 mencapai US$2,22 miliar, naik 5,57 persen dibandingkan Agustus 2025.

Sepanjang Januari-Agustus 2026, nilai ekspor Riau mencapai US$14,62 miliar atau meningkat 2,33 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kenaikan terutama didorong ekspor nonmigas yang mencapai US$14,19 miliar, naik 5,72 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.

Dari sepuluh komoditas nonmigas dengan nilai ekspor terbesar, lima komoditas mengalami peningkatan. Kenaikan terbesar berasal dari kelompok lemak dan minyak hewan/nabati yang bertambah US$498,15 juta atau 6,37 persen.

Namun, sejumlah komoditas mengalami penurunan nilai ekspor. Bubur kayu atau pulp turun US$158,42 juta atau 12,24 persen.

Sementara itu, Buah-buahan turun US$37,43 juta atau 50,60 persen, bahan-bahan nabati turun US$14,11 juta atau 8,29 persen, serat stapel buatan turun US$5 juta atau 2,60 persen, dan berbagai makanan olahan turun US$4,89 juta atau 2,71 persen.

Tiongkok masih menjadi negara tujuan utama ekspor nonmigas Riau. Nilainya mencapai US$2,66 miliar atau 18,78 persen dari total ekspor nonmigas Januari-Agustus 2026. Setelahnya terdapat India sebesar US$1,26 miliar dan Malaysia sebesar US$1,10 miliar.

Ketiga negara tersebut secara keseluruhan menyerap sekitar 35,42 persen ekspor nonmigas Riau.

Sementara itu, impor Riau sepanjang Januari-Agustus 2026 mencapai US$2,42 miliar, naik 103,07 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kenaikan impor terjadi pada sektor migas maupun nonmigas. Impor migas tercatat US$101,82 juta, sedangkan impor nonmigas mencapai US$2,14 miliar.

Dengan nilai ekspor US$14,62 miliar dan impor US$2,42 miliar, Riau mencatat surplus neraca perdagangan barang sebesar US$12,37 miliar sepanjang Januari-Agustus 2026. Meski surplus masih besar, nilainya turun US$805,42 juta dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Surplus tersebut ditopang oleh komoditas nonmigas sebesar US$12,05 miliar dan migas sebesar US$322,46 juta.

NTP Riau Naik Mencapai 197,35

Dari sektor pertanian, BPS Riau memaparkan nilai Tukar Petani (NTP) Riau pada September 2026 mencapai 197,35. Angka tersebut naik 1,39 persen dibandingkan Agustus yang berada di level 194,66.

Kenaikan NTP terjadi karena indeks harga yang diterima petani (It) meningkat 1,99 persen, lebih tinggi dibandingkan kenaikan indeks harga yang dibayar petani (Ib) sebesar 0,60 persen.

Kenaikan Ib antara lain dipengaruhi oleh meningkatnya Indeks Harga Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) sebesar 0,77 persen serta indeks biaya produksi dan penambahan barang modal (BPPBM) sebesar 0,16 persen.

Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) juga meningkat 1,83 persen, dari 189,41 pada Agustus menjadi 192,87 pada September 2026.

Kenaikan NTP terjadi pada tiga dari lima subsektor. Hortikultura naik 1,99 persen, tanaman perkebunan rakyat 1,46 persen, dan peternakan 0,89 persen.

Sementara itu, subsektor perikanan turun 0,30 persen dan tanaman pangan turun 0,28 persen.

Dengan NTP sebesar 197,35, Riau menjadi provinsi dengan NTP tertinggi kedua di Pulau Sumatera pada September 2026. Posisi pertama ditempati Bengkulu dengan NTP 206,79.

Kunjungan Wisman Turun

Terpisah, dari sektor pariwisata menunjukkan pergerakan yang berbeda. BPS mencatat kunjungan wisatawan mancanegara ke Riau pada Agustus 2026 sebanyak 23.144 kunjungan.

Jumlah tersebut naik 3 persen dibandingkan Juli 2026 yang mencapai 22.452 kunjungan. Namun, jika dibandingkan dengan Agustus 2025, jumlah kunjungan wisman justru turun 10,51 persen.

Penurunan secara tahunan juga terjadi pada tingkat penghunian kamar (TPK) hotel? Tidak demikian. TPK hotel berbintang pada Agustus 2026 justru meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

TPK hotel berbintang tercatat 49,99 persen, turun 1,19 poin dibandingkan Juli yang mencapai 51,18 persen. Namun, dibandingkan Agustus 2025 yang sebesar 43,68 persen, TPK meningkat 6,31 poin.

Sementara itu, TPK hotel nonbintang turun 0,43 poin secara bulanan, dari 27,28 persen pada Juli menjadi 26,85 persen pada Agustus 2026.

Rata-rata lama menginap tamu (RLMT) di hotel berbintang pada Agustus 2026 tercatat 1,34 malam, naik 0,01 poin dibandingkan bulan sebelumnya.

Data tersebut menunjukkan perekonomian Riau pada periode September 2026 bergerak dengan sejumlah arah yang berbeda: tekanan harga terutama dari kelompok pangan meningkat, sementara ekspor dan daya tukar petani masih mencatat pertumbuhan.

Pada sektor pariwisata, kunjungan wisman meningkat secara bulanan tetapi masih menurun jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. (*)

Tags: ekonomi riau
Home / Ekonomi
Ekonomi Riau September 2026: Inflasi Naik, Ekspor Tumbuh, NTP Menguat
Editor: Arya Mahendra | Penulis: abdul haris
Rubrik: ekonomi | 2 Oktober 2026 | 10:11:20
Ekonomi Riau September 2026: Inflasi Naik, Ekspor Tumbuh, NTP Menguat
Layar TV yang menyajikan Rilis Berita Resmi Statistik di kantor BPS Riau pada Kamis, (1/10/2026). (Foto: Abdul Haris/Pekanbarutv)

PEKANBARU - Kinerja ekonomi Provinsi Riau pada September 2026 menunjukkan sejumlah perkembangan yang beragam.

Inflasi bulanan meningkat, sementara nilai ekspor tumbuh dan daya tukar petani menguat. Di sisi lain, kunjungan wisatawan mancanegara secara tahunan mengalami penurunan.

Ketua Tim Statistik Distribusi dan Jasa BPS Riau, Fitri Hariyanti mencatat inflasi September 2026 sebesar 0,64 persen secara bulanan (month-to-month/m-to-m).

Angka tersebut menunjukkan kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 113,54 pada Agustus menjadi 114,27 pada September 2026.

Secara tahunan (year-on-year/y-on-y), Fitri bilang, Riau mengalami inflasi sebesar 2,79 persen. Sementara secara tahun kalender (year-to-date/y-to-d), inflasi tercatat 1,84 persen.

Menurutnya, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan. Kelompok ini mengalami inflasi 1,76 persen dengan andil 0,58 persen.

Dia membeberkan, dua kelompok lain yang turut memberikan andil terhadap inflasi bulanan adalah pendidikan sebesar 0,55 persen dengan andil 0,03 persen serta transportasi yang mengalami inflasi 0,27 persen dengan andil 0,03 persen.

Sejumlah komoditas pangan menjadi pendorong utama inflasi September.

Di antaranya cabai merah, ayam hidup, cabai rawit, ikan serai, bawang merah, udang basah, roti manis, ikan nila, dan beberapa komoditas lainnya.

Sebaliknya, kata Fitri, sejumlah komoditas memberikan tekanan deflasi, antara lain emas perhiasan, kentang, angkutan udara, bayam, tomat, terong, buncis, jeruk, ketimun, sawi putih, kol putih, bawang putih, dan kembang kol.

Jika dilihat berdasarkan wilayah, seluruh kabupaten/kota yang menjadi wilayah penghitungan IHK di Riau mengalami inflasi secara bulanan. Inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Kampar sebesar 0,82 persen, sedangkan terendah tercatat di Tembilahan sebesar 0,20 persen.

"Secara tahunan, seluruh kabupaten/kota IHK juga mengalami inflasi. Kampar mencatat inflasi tertinggi sebesar 3,21 persen, sedangkan Kota Dumai terendah dengan 2,35 persen, " bebernya. 

Ekspor Riau Tumbuh Positif

Di tengah kenaikan harga, perdagangan luar negeri Riau masih menunjukkan kinerja positif. Nilai ekspor Riau pada Agustus 2026 mencapai US$2,22 miliar, naik 5,57 persen dibandingkan Agustus 2025.

Sepanjang Januari-Agustus 2026, nilai ekspor Riau mencapai US$14,62 miliar atau meningkat 2,33 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kenaikan terutama didorong ekspor nonmigas yang mencapai US$14,19 miliar, naik 5,72 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.

Dari sepuluh komoditas nonmigas dengan nilai ekspor terbesar, lima komoditas mengalami peningkatan. Kenaikan terbesar berasal dari kelompok lemak dan minyak hewan/nabati yang bertambah US$498,15 juta atau 6,37 persen.

Namun, sejumlah komoditas mengalami penurunan nilai ekspor. Bubur kayu atau pulp turun US$158,42 juta atau 12,24 persen.

Sementara itu, Buah-buahan turun US$37,43 juta atau 50,60 persen, bahan-bahan nabati turun US$14,11 juta atau 8,29 persen, serat stapel buatan turun US$5 juta atau 2,60 persen, dan berbagai makanan olahan turun US$4,89 juta atau 2,71 persen.

Tiongkok masih menjadi negara tujuan utama ekspor nonmigas Riau. Nilainya mencapai US$2,66 miliar atau 18,78 persen dari total ekspor nonmigas Januari-Agustus 2026. Setelahnya terdapat India sebesar US$1,26 miliar dan Malaysia sebesar US$1,10 miliar.

Ketiga negara tersebut secara keseluruhan menyerap sekitar 35,42 persen ekspor nonmigas Riau.

Sementara itu, impor Riau sepanjang Januari-Agustus 2026 mencapai US$2,42 miliar, naik 103,07 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kenaikan impor terjadi pada sektor migas maupun nonmigas. Impor migas tercatat US$101,82 juta, sedangkan impor nonmigas mencapai US$2,14 miliar.

Dengan nilai ekspor US$14,62 miliar dan impor US$2,42 miliar, Riau mencatat surplus neraca perdagangan barang sebesar US$12,37 miliar sepanjang Januari-Agustus 2026. Meski surplus masih besar, nilainya turun US$805,42 juta dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Surplus tersebut ditopang oleh komoditas nonmigas sebesar US$12,05 miliar dan migas sebesar US$322,46 juta.

NTP Riau Naik Mencapai 197,35

Dari sektor pertanian, BPS Riau memaparkan nilai Tukar Petani (NTP) Riau pada September 2026 mencapai 197,35. Angka tersebut naik 1,39 persen dibandingkan Agustus yang berada di level 194,66.

Kenaikan NTP terjadi karena indeks harga yang diterima petani (It) meningkat 1,99 persen, lebih tinggi dibandingkan kenaikan indeks harga yang dibayar petani (Ib) sebesar 0,60 persen.

Kenaikan Ib antara lain dipengaruhi oleh meningkatnya Indeks Harga Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) sebesar 0,77 persen serta indeks biaya produksi dan penambahan barang modal (BPPBM) sebesar 0,16 persen.

Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) juga meningkat 1,83 persen, dari 189,41 pada Agustus menjadi 192,87 pada September 2026.

Kenaikan NTP terjadi pada tiga dari lima subsektor. Hortikultura naik 1,99 persen, tanaman perkebunan rakyat 1,46 persen, dan peternakan 0,89 persen.

Sementara itu, subsektor perikanan turun 0,30 persen dan tanaman pangan turun 0,28 persen.

Dengan NTP sebesar 197,35, Riau menjadi provinsi dengan NTP tertinggi kedua di Pulau Sumatera pada September 2026. Posisi pertama ditempati Bengkulu dengan NTP 206,79.

Kunjungan Wisman Turun

Terpisah, dari sektor pariwisata menunjukkan pergerakan yang berbeda. BPS mencatat kunjungan wisatawan mancanegara ke Riau pada Agustus 2026 sebanyak 23.144 kunjungan.

Jumlah tersebut naik 3 persen dibandingkan Juli 2026 yang mencapai 22.452 kunjungan. Namun, jika dibandingkan dengan Agustus 2025, jumlah kunjungan wisman justru turun 10,51 persen.

Penurunan secara tahunan juga terjadi pada tingkat penghunian kamar (TPK) hotel? Tidak demikian. TPK hotel berbintang pada Agustus 2026 justru meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

TPK hotel berbintang tercatat 49,99 persen, turun 1,19 poin dibandingkan Juli yang mencapai 51,18 persen. Namun, dibandingkan Agustus 2025 yang sebesar 43,68 persen, TPK meningkat 6,31 poin.

Sementara itu, TPK hotel nonbintang turun 0,43 poin secara bulanan, dari 27,28 persen pada Juli menjadi 26,85 persen pada Agustus 2026.

Rata-rata lama menginap tamu (RLMT) di hotel berbintang pada Agustus 2026 tercatat 1,34 malam, naik 0,01 poin dibandingkan bulan sebelumnya.

Data tersebut menunjukkan perekonomian Riau pada periode September 2026 bergerak dengan sejumlah arah yang berbeda: tekanan harga terutama dari kelompok pangan meningkat, sementara ekspor dan daya tukar petani masih mencatat pertumbuhan.

Pada sektor pariwisata, kunjungan wisman meningkat secara bulanan tetapi masih menurun jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. (*)

Tags: ekonomi riau