logo
● Kualitas Udara Pekanbaru Memburuk, Siswa Kembali Belajar dari Rumah Selama Dua H Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Peneliti Dirgantara 14 Negara Berkumpul di Yogyakarta, Bahas Masa Depan Roket hi Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Konflik Yaman-Saudi Memanas, Rupiah Melemah ke Rp17.917 Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Progres Pengaspalan Tembus 60 Persen, Fraksi Golkar Ingatkan Pemko Pekanbaru Jan Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Dugaan Penipuan Rp9,6 Miliar di Polda Riau, Wali Kota Payakumbuh Zulmaeta Buka S Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Udara Tak Sehat, Pemkab Kuansing Berlakukan PJJ Selama Dua Hari Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Tak Terima Anak Sering Keluar Malam, Ayah di Rohul Tikam Anak Kandung Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Empat Pengunjung Positif Narkoba, Polisi Amankan Pria Bawa Samurai Saat Razia TH Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / News / Kepulauan Meranti
Isu LGBT di Kalangan Pelajar Meranti, LAMR Dorong Penguatan Pendidikan Karakter dan Agama
Ketua Umum Dewan Pimpinan Harian (DPH) LAMR Kepulauan Meranti Datuk Seri Afrizal Cik.(foto:mediacentre)
Isu LGBT di Kalangan Pelajar Meranti, LAMR Dorong Penguatan Pendidikan Karakter dan Agama
Editor: Ridho Haztil | Penulis: raka sagara
Rubrik: news | 3 Oktober 2026 | 13:43:20

SELATPANJANG-Munculnya isu dugaan perilaku LGBT di kalangan pelajar di Kabupaten Kepulauan Meranti menjadi perhatian Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR). Lembaga adat tersebut mendorong penguatan pendidikan karakter, nilai agama dan budaya Melayu sebagai bagian dari pembinaan generasi muda.

Ketua Umum Dewan Pimpinan Harian (DPH) LAMR Kabupaten Kepulauan Meranti Datuk Seri Afrizal Cik mengatakan, persoalan yang berkaitan dengan pergaulan remaja perlu disikapi secara serius, namun tetap mengedepankan pembinaan dan pendampingan terhadap anak.

iklan-view

Pernyataan itu disampaikan Afrizal menyusul pemberitaan mengenai dugaan relasi sesama jenis yang melibatkan pelajar di salah satu sekolah menengah atas sederajat di Kabupaten Kepulauan Meranti, Sabtu (3/10/2026).

Menurutnya, munculnya kasus tersebut harus menjadi momentum bagi semua pihak untuk memperkuat perhatian terhadap perkembangan perilaku dan lingkungan pergaulan anak.

"Kita ingin anak-anak Meranti berilmu, berakhlak, memahami adat dan memiliki masa depan yang baik. Karena itu, pembinaan tidak boleh menunggu sampai persoalan muncul," ujar Afrizal di Selatpanjang.

Ia menilai pembentukan karakter remaja tidak dapat sepenuhnya diserahkan kepada sekolah. Keluarga memiliki peran penting dalam memberikan pengawasan sekaligus membangun komunikasi yang terbuka dengan anak.

Perkembangan media sosial juga disebut membuat remaja semakin mudah memperoleh berbagai informasi dan membangun interaksi di luar lingkungan keluarga maupun sekolah. Kondisi tersebut, kata Afrizal, membutuhkan pendampingan orang tua agar anak mampu memilah informasi dan memahami batas-batas pergaulan.

"Jangan hanya menyalahkan anak. Lingkungan pergaulan, pengawasan keluarga, penggunaan media sosial dan komunikasi dengan orang tua juga harus menjadi perhatian," katanya.

LAMR Meranti, lanjut Afrizal, siap berkontribusi dalam pembinaan generasi muda melalui penguatan nilai adat Melayu. Nilai kesopanan, tanggung jawab, penghormatan terhadap sesama dan kepedulian terhadap keluarga dinilai dapat menjadi bagian dari pendidikan karakter.

Ia berharap pemerintah daerah, sekolah, keluarga, tokoh agama dan lembaga adat duduk bersama menyusun langkah pembinaan yang lebih terintegrasi dalam merespons isu LGBT di kalangan pelajar.

"Generasi muda adalah masa depan Meranti. Mereka harus dibimbing dengan ilmu, agama, kasih sayang keluarga dan nilai budaya," pungkasnya.(*)

Home / News
Isu LGBT di Kalangan Pelajar Meranti, LAMR Dorong Penguatan Pendidikan Karakter dan Agama
Editor: Ridho Haztil | Penulis: raka sagara
Rubrik: news | 3 Oktober 2026 | 13:43:20
Isu LGBT di Kalangan Pelajar Meranti, LAMR Dorong Penguatan Pendidikan Karakter dan Agama
Ketua Umum Dewan Pimpinan Harian (DPH) LAMR Kepulauan Meranti Datuk Seri Afrizal Cik.(foto:mediacentre)

SELATPANJANG-Munculnya isu dugaan perilaku LGBT di kalangan pelajar di Kabupaten Kepulauan Meranti menjadi perhatian Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR). Lembaga adat tersebut mendorong penguatan pendidikan karakter, nilai agama dan budaya Melayu sebagai bagian dari pembinaan generasi muda.

Ketua Umum Dewan Pimpinan Harian (DPH) LAMR Kabupaten Kepulauan Meranti Datuk Seri Afrizal Cik mengatakan, persoalan yang berkaitan dengan pergaulan remaja perlu disikapi secara serius, namun tetap mengedepankan pembinaan dan pendampingan terhadap anak.

Pernyataan itu disampaikan Afrizal menyusul pemberitaan mengenai dugaan relasi sesama jenis yang melibatkan pelajar di salah satu sekolah menengah atas sederajat di Kabupaten Kepulauan Meranti, Sabtu (3/10/2026).

Menurutnya, munculnya kasus tersebut harus menjadi momentum bagi semua pihak untuk memperkuat perhatian terhadap perkembangan perilaku dan lingkungan pergaulan anak.

"Kita ingin anak-anak Meranti berilmu, berakhlak, memahami adat dan memiliki masa depan yang baik. Karena itu, pembinaan tidak boleh menunggu sampai persoalan muncul," ujar Afrizal di Selatpanjang.

Ia menilai pembentukan karakter remaja tidak dapat sepenuhnya diserahkan kepada sekolah. Keluarga memiliki peran penting dalam memberikan pengawasan sekaligus membangun komunikasi yang terbuka dengan anak.

Perkembangan media sosial juga disebut membuat remaja semakin mudah memperoleh berbagai informasi dan membangun interaksi di luar lingkungan keluarga maupun sekolah. Kondisi tersebut, kata Afrizal, membutuhkan pendampingan orang tua agar anak mampu memilah informasi dan memahami batas-batas pergaulan.

"Jangan hanya menyalahkan anak. Lingkungan pergaulan, pengawasan keluarga, penggunaan media sosial dan komunikasi dengan orang tua juga harus menjadi perhatian," katanya.

LAMR Meranti, lanjut Afrizal, siap berkontribusi dalam pembinaan generasi muda melalui penguatan nilai adat Melayu. Nilai kesopanan, tanggung jawab, penghormatan terhadap sesama dan kepedulian terhadap keluarga dinilai dapat menjadi bagian dari pendidikan karakter.

Ia berharap pemerintah daerah, sekolah, keluarga, tokoh agama dan lembaga adat duduk bersama menyusun langkah pembinaan yang lebih terintegrasi dalam merespons isu LGBT di kalangan pelajar.

"Generasi muda adalah masa depan Meranti. Mereka harus dibimbing dengan ilmu, agama, kasih sayang keluarga dan nilai budaya," pungkasnya.(*)