logo
Blackout Sumatera, Ditlantas Polda Riau Siaga Penuh: Patroli Blue Light Ditingka Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Sumatera Blackout! Pekanbaru Gelap Gulita, Diduga Gangguan Jaringan 275 kV di Mu Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Nekat Haji Lewat Jalur Nonprosedural, 6 WNI Dicegah Berangkat di Bandara SSK II Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Rupiah Tersungkur ke Rp17.673 per Dolar AS, Jadi Mata Uang Terlemah Sepekan Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Ratusan Mahasiswa Demo Polda Riau, Desak Penindakan Mafia BBM Ilegal dan Copot K Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Polresta Pekanbaru Dalami Kasus Dugaan Pengeroyokan di SMK Pertanian, Pihak Seko Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Toko Elektronik Online Palsu Tipu Korban Rp154 Juta, Polresta Pekanbaru Bekuk Pe Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Trump dan Netanyahu Perang Mulut di Telepon Gara-gara AS Tunda Serangan Besar ke Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / Ekonomi / Keuangan
Tertekan Konflik Timur Tengah, Rupiah Kembali Melemah, Ditutup di Level Rp17.667 per-Dolar AS
Ilustrasi. Rupiah kembali melemah dalam penutupan perdagangan, Kamis (21/5/2026) petang.
Tertekan Konflik Timur Tengah, Rupiah Kembali Melemah, Ditutup di Level Rp17.667 per-Dolar AS
Editor: Arya Mahendra | Penulis: arya mahendra
21 Mei 2026 | 19:50:28

JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah pada perdagangan Kamis (21/5/2026). Rupiah turun 13 poin ke level Rp17.667 per dolar AS dibanding penutupan sebelumnya di Rp17.653 per dolar AS.

Pengamat ekonomi dan mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, tekanan terhadap rupiah masih dipicu kombinasi sentimen global, terutama ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan sikap bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang tetap mewaspadai inflasi.

“Pada perdagangan sore ini, rupiah ditutup melemah 13 poin, setelah sempat tertekan hingga 30 poin,” ujar Ibrahim.

Menurutnya, meningkatnya tensi konflik Iran serta ekspektasi suku bunga tinggi di AS membuat investor cenderung meninggalkan aset berisiko dan beralih ke dolar AS sebagai aset aman.

iklan-view

Ibrahim menilai pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait konflik Iran turut menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Trump menyebut konflik Iran memasuki “tahap akhir”, namun memperingatkan aksi militer AS bisa meningkat jika negosiasi gagal.

Tekanan pasar juga dipicu langkah Iran memperketat kontrol Selat Hormuz setelah konflik dengan AS dan Israel. Kondisi itu memunculkan kekhawatiran terganggunya pasokan energi global.

“Kehilangan pasokan dari Timur Tengah membuat banyak negara mulai menarik cadangan strategis mereka dan memicu kekhawatiran penipisan stok energi,” kata Ibrahim.

Selain faktor geopolitik, pasar turut mencermati risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) AS yang menunjukkan mayoritas pejabat The Fed masih melihat risiko inflasi cukup tinggi.

Risalah tersebut membuka peluang kenaikan suku bunga jika tekanan inflasi belum kembali ke target 2 persen. Pada rapat April lalu, FOMC memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5 persen hingga 3,75 persen. (lp6)

Home / Ekonomi
Tertekan Konflik Timur Tengah, Rupiah Kembali Melemah, Ditutup di Level Rp17.667 per-Dolar AS
Editor: Arya Mahendra | Penulis: arya mahendra
Rubrik: ekonomi | 21 Mei 2026 | 19:50:28
Tertekan Konflik Timur Tengah, Rupiah Kembali Melemah, Ditutup di Level Rp17.667 per-Dolar AS
Ilustrasi. Rupiah kembali melemah dalam penutupan perdagangan, Kamis (21/5/2026) petang.

JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah pada perdagangan Kamis (21/5/2026). Rupiah turun 13 poin ke level Rp17.667 per dolar AS dibanding penutupan sebelumnya di Rp17.653 per dolar AS.

Pengamat ekonomi dan mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, tekanan terhadap rupiah masih dipicu kombinasi sentimen global, terutama ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan sikap bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang tetap mewaspadai inflasi.

“Pada perdagangan sore ini, rupiah ditutup melemah 13 poin, setelah sempat tertekan hingga 30 poin,” ujar Ibrahim.

Menurutnya, meningkatnya tensi konflik Iran serta ekspektasi suku bunga tinggi di AS membuat investor cenderung meninggalkan aset berisiko dan beralih ke dolar AS sebagai aset aman.

Ibrahim menilai pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait konflik Iran turut menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Trump menyebut konflik Iran memasuki “tahap akhir”, namun memperingatkan aksi militer AS bisa meningkat jika negosiasi gagal.

Tekanan pasar juga dipicu langkah Iran memperketat kontrol Selat Hormuz setelah konflik dengan AS dan Israel. Kondisi itu memunculkan kekhawatiran terganggunya pasokan energi global.

“Kehilangan pasokan dari Timur Tengah membuat banyak negara mulai menarik cadangan strategis mereka dan memicu kekhawatiran penipisan stok energi,” kata Ibrahim.

Selain faktor geopolitik, pasar turut mencermati risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) AS yang menunjukkan mayoritas pejabat The Fed masih melihat risiko inflasi cukup tinggi.

Risalah tersebut membuka peluang kenaikan suku bunga jika tekanan inflasi belum kembali ke target 2 persen. Pada rapat April lalu, FOMC memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5 persen hingga 3,75 persen. (lp6)