
JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah pada perdagangan Kamis (21/5/2026). Rupiah turun 13 poin ke level Rp17.667 per dolar AS dibanding penutupan sebelumnya di Rp17.653 per dolar AS.
Pengamat ekonomi dan mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, tekanan terhadap rupiah masih dipicu kombinasi sentimen global, terutama ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan sikap bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang tetap mewaspadai inflasi.
“Pada perdagangan sore ini, rupiah ditutup melemah 13 poin, setelah sempat tertekan hingga 30 poin,” ujar Ibrahim.
Menurutnya, meningkatnya tensi konflik Iran serta ekspektasi suku bunga tinggi di AS membuat investor cenderung meninggalkan aset berisiko dan beralih ke dolar AS sebagai aset aman.
Ibrahim menilai pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait konflik Iran turut menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Trump menyebut konflik Iran memasuki “tahap akhir”, namun memperingatkan aksi militer AS bisa meningkat jika negosiasi gagal.
Tekanan pasar juga dipicu langkah Iran memperketat kontrol Selat Hormuz setelah konflik dengan AS dan Israel. Kondisi itu memunculkan kekhawatiran terganggunya pasokan energi global.
“Kehilangan pasokan dari Timur Tengah membuat banyak negara mulai menarik cadangan strategis mereka dan memicu kekhawatiran penipisan stok energi,” kata Ibrahim.
Selain faktor geopolitik, pasar turut mencermati risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) AS yang menunjukkan mayoritas pejabat The Fed masih melihat risiko inflasi cukup tinggi.
Risalah tersebut membuka peluang kenaikan suku bunga jika tekanan inflasi belum kembali ke target 2 persen. Pada rapat April lalu, FOMC memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5 persen hingga 3,75 persen. (lp6)
JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah pada perdagangan Kamis (21/5/2026). Rupiah turun 13 poin ke level Rp17.667 per dolar AS dibanding penutupan sebelumnya di Rp17.653 per dolar AS.
Pengamat ekonomi dan mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, tekanan terhadap rupiah masih dipicu kombinasi sentimen global, terutama ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan sikap bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang tetap mewaspadai inflasi.
“Pada perdagangan sore ini, rupiah ditutup melemah 13 poin, setelah sempat tertekan hingga 30 poin,” ujar Ibrahim.
Menurutnya, meningkatnya tensi konflik Iran serta ekspektasi suku bunga tinggi di AS membuat investor cenderung meninggalkan aset berisiko dan beralih ke dolar AS sebagai aset aman.
Ibrahim menilai pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait konflik Iran turut menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Trump menyebut konflik Iran memasuki “tahap akhir”, namun memperingatkan aksi militer AS bisa meningkat jika negosiasi gagal.
Tekanan pasar juga dipicu langkah Iran memperketat kontrol Selat Hormuz setelah konflik dengan AS dan Israel. Kondisi itu memunculkan kekhawatiran terganggunya pasokan energi global.
“Kehilangan pasokan dari Timur Tengah membuat banyak negara mulai menarik cadangan strategis mereka dan memicu kekhawatiran penipisan stok energi,” kata Ibrahim.
Selain faktor geopolitik, pasar turut mencermati risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) AS yang menunjukkan mayoritas pejabat The Fed masih melihat risiko inflasi cukup tinggi.
Risalah tersebut membuka peluang kenaikan suku bunga jika tekanan inflasi belum kembali ke target 2 persen. Pada rapat April lalu, FOMC memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5 persen hingga 3,75 persen. (lp6)