logo
Polemik SPMB Siak Hulu, DPRD Kampar Soroti Kinerja Disdikpora hingga Dugaan Inte Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Polda Riau Bongkar Modus Pengurangan Isi Truk Tangki BBM Bersubsidi, Tiga Orang Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Menhut Raja Juli Bungkam Soal Amplop Suhardiman, KPK Tegaskan Sudah Masuk Ranah Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Rupiah Menguat ke Rp17.888 per Dolar AS, Kekhawatiran Defisit APBN Mulai Mereda Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Dua Residivis Spesialis Bobol Ruko Kosong Ditangkap, Beraksi 12 Kali di Pekanbar Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Kabar Baik untuk Petani Riau: Harga Sawit Naik, TBS Plasma Sentuh Rp3.930/Kg, Sw Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Sebulan Dua Korban Tewas, Kini Harimau Sumatera Nyaris Menerkam Pekerja Sawit di Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Diduga Mabuk, Pengendara Motor Tabrak Pemotor Lain di Jalan Tengku Bey Pekanbaru Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / Ekonomi / Keuangan
Rupiah Tersungkur ke Rp17.673 per Dolar AS, Jadi Mata Uang Terlemah Sepekan
Ilustrasi. Rupiah jadi mata uang terlemah pekan ini.
Rupiah Tersungkur ke Rp17.673 per Dolar AS, Jadi Mata Uang Terlemah Sepekan
Editor: Arya Mahendra | Penulis: arya mahendra
22 Mei 2026 | 17:18:33

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali tertekan pada penutupan perdagangan akhir pekan, Jumat (22/5/2026). Mata uang Garuda ditutup melemah 0,11% ke level Rp17.673 per dolar AS.

Pelemahan ini memperpanjang tren negatif rupiah sepanjang pekan. Dalam sepekan terakhir, rupiah tercatat merosot 1,38% dan menjadi mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan Asia.

Sempat mendapat angin segar saat Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,25%, tekanan terhadap rupiah kembali muncul akibat derasnya sentimen negatif dari dalam negeri.

Pelaku pasar menyoroti sejumlah kebijakan pemerintah yang dinilai berpotensi membebani fiskal negara karena membutuhkan anggaran jumbo. Selain itu, rencana pembentukan badan pengawas ekspor komoditas juga memicu kekhawatiran investor.

iklan-view

Pasar menilai langkah tersebut berpotensi memperbesar kontrol negara terhadap ekspor komoditas. Investor pun meragukan efektivitas kebijakan itu dalam menekan praktik under-invoicing maupun transfer pricing demi meningkatkan penerimaan negara.

Tekanan terhadap rupiah semakin berat setelah data Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) dan transaksi berjalan menunjukkan defisit yang kian melebar.

Bank Indonesia mencatat NPI kuartal I-2026 mengalami defisit sebesar US$9,15 miliar, jauh lebih dalam dibanding kuartal sebelumnya yang defisit US$6,07 miliar.

Sementara itu, transaksi berjalan juga berbalik defisit sebesar US$4 miliar atau setara 1,1% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Padahal pada kuartal sebelumnya masih mencatat surplus US$2,5 miliar.

Perubahan drastis sekitar US$6,5 miliar hanya dalam satu kuartal tersebut mempertegas meningkatnya tekanan eksternal terhadap perekonomian Indonesia dan memperburuk persepsi risiko investor terhadap aset domestik. (btc)

Home / Ekonomi
Rupiah Tersungkur ke Rp17.673 per Dolar AS, Jadi Mata Uang Terlemah Sepekan
Editor: Arya Mahendra | Penulis: arya mahendra
Rubrik: ekonomi | 22 Mei 2026 | 17:18:33
Rupiah Tersungkur ke Rp17.673 per Dolar AS, Jadi Mata Uang Terlemah Sepekan
Ilustrasi. Rupiah jadi mata uang terlemah pekan ini.

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali tertekan pada penutupan perdagangan akhir pekan, Jumat (22/5/2026). Mata uang Garuda ditutup melemah 0,11% ke level Rp17.673 per dolar AS.

Pelemahan ini memperpanjang tren negatif rupiah sepanjang pekan. Dalam sepekan terakhir, rupiah tercatat merosot 1,38% dan menjadi mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan Asia.

Sempat mendapat angin segar saat Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,25%, tekanan terhadap rupiah kembali muncul akibat derasnya sentimen negatif dari dalam negeri.

Pelaku pasar menyoroti sejumlah kebijakan pemerintah yang dinilai berpotensi membebani fiskal negara karena membutuhkan anggaran jumbo. Selain itu, rencana pembentukan badan pengawas ekspor komoditas juga memicu kekhawatiran investor.

Pasar menilai langkah tersebut berpotensi memperbesar kontrol negara terhadap ekspor komoditas. Investor pun meragukan efektivitas kebijakan itu dalam menekan praktik under-invoicing maupun transfer pricing demi meningkatkan penerimaan negara.

Tekanan terhadap rupiah semakin berat setelah data Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) dan transaksi berjalan menunjukkan defisit yang kian melebar.

Bank Indonesia mencatat NPI kuartal I-2026 mengalami defisit sebesar US$9,15 miliar, jauh lebih dalam dibanding kuartal sebelumnya yang defisit US$6,07 miliar.

Sementara itu, transaksi berjalan juga berbalik defisit sebesar US$4 miliar atau setara 1,1% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Padahal pada kuartal sebelumnya masih mencatat surplus US$2,5 miliar.

Perubahan drastis sekitar US$6,5 miliar hanya dalam satu kuartal tersebut mempertegas meningkatnya tekanan eksternal terhadap perekonomian Indonesia dan memperburuk persepsi risiko investor terhadap aset domestik. (btc)