logo
Blackout Sumatera, Ditlantas Polda Riau Siaga Penuh: Patroli Blue Light Ditingka Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Sumatera Blackout! Pekanbaru Gelap Gulita, Diduga Gangguan Jaringan 275 kV di Mu Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Nekat Haji Lewat Jalur Nonprosedural, 6 WNI Dicegah Berangkat di Bandara SSK II Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Rupiah Tersungkur ke Rp17.673 per Dolar AS, Jadi Mata Uang Terlemah Sepekan Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Ratusan Mahasiswa Demo Polda Riau, Desak Penindakan Mafia BBM Ilegal dan Copot K Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Polresta Pekanbaru Dalami Kasus Dugaan Pengeroyokan di SMK Pertanian, Pihak Seko Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Toko Elektronik Online Palsu Tipu Korban Rp154 Juta, Polresta Pekanbaru Bekuk Pe Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Trump dan Netanyahu Perang Mulut di Telepon Gara-gara AS Tunda Serangan Besar ke Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / Ekonomi / Keuangan
Rupiah Tersungkur ke Rp17.673 per Dolar AS, Jadi Mata Uang Terlemah Sepekan
Ilustrasi. Rupiah jadi mata uang terlemah pekan ini.
Rupiah Tersungkur ke Rp17.673 per Dolar AS, Jadi Mata Uang Terlemah Sepekan
Editor: Arya Mahendra | Penulis: arya mahendra
22 Mei 2026 | 17:18:33

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali tertekan pada penutupan perdagangan akhir pekan, Jumat (22/5/2026). Mata uang Garuda ditutup melemah 0,11% ke level Rp17.673 per dolar AS.

Pelemahan ini memperpanjang tren negatif rupiah sepanjang pekan. Dalam sepekan terakhir, rupiah tercatat merosot 1,38% dan menjadi mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan Asia.

Sempat mendapat angin segar saat Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,25%, tekanan terhadap rupiah kembali muncul akibat derasnya sentimen negatif dari dalam negeri.

Pelaku pasar menyoroti sejumlah kebijakan pemerintah yang dinilai berpotensi membebani fiskal negara karena membutuhkan anggaran jumbo. Selain itu, rencana pembentukan badan pengawas ekspor komoditas juga memicu kekhawatiran investor.

iklan-view

Pasar menilai langkah tersebut berpotensi memperbesar kontrol negara terhadap ekspor komoditas. Investor pun meragukan efektivitas kebijakan itu dalam menekan praktik under-invoicing maupun transfer pricing demi meningkatkan penerimaan negara.

Tekanan terhadap rupiah semakin berat setelah data Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) dan transaksi berjalan menunjukkan defisit yang kian melebar.

Bank Indonesia mencatat NPI kuartal I-2026 mengalami defisit sebesar US$9,15 miliar, jauh lebih dalam dibanding kuartal sebelumnya yang defisit US$6,07 miliar.

Sementara itu, transaksi berjalan juga berbalik defisit sebesar US$4 miliar atau setara 1,1% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Padahal pada kuartal sebelumnya masih mencatat surplus US$2,5 miliar.

Perubahan drastis sekitar US$6,5 miliar hanya dalam satu kuartal tersebut mempertegas meningkatnya tekanan eksternal terhadap perekonomian Indonesia dan memperburuk persepsi risiko investor terhadap aset domestik. (btc)

Home / Ekonomi
Rupiah Tersungkur ke Rp17.673 per Dolar AS, Jadi Mata Uang Terlemah Sepekan
Editor: Arya Mahendra | Penulis: arya mahendra
Rubrik: ekonomi | 22 Mei 2026 | 17:18:33
Rupiah Tersungkur ke Rp17.673 per Dolar AS, Jadi Mata Uang Terlemah Sepekan
Ilustrasi. Rupiah jadi mata uang terlemah pekan ini.

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali tertekan pada penutupan perdagangan akhir pekan, Jumat (22/5/2026). Mata uang Garuda ditutup melemah 0,11% ke level Rp17.673 per dolar AS.

Pelemahan ini memperpanjang tren negatif rupiah sepanjang pekan. Dalam sepekan terakhir, rupiah tercatat merosot 1,38% dan menjadi mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan Asia.

Sempat mendapat angin segar saat Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,25%, tekanan terhadap rupiah kembali muncul akibat derasnya sentimen negatif dari dalam negeri.

Pelaku pasar menyoroti sejumlah kebijakan pemerintah yang dinilai berpotensi membebani fiskal negara karena membutuhkan anggaran jumbo. Selain itu, rencana pembentukan badan pengawas ekspor komoditas juga memicu kekhawatiran investor.

Pasar menilai langkah tersebut berpotensi memperbesar kontrol negara terhadap ekspor komoditas. Investor pun meragukan efektivitas kebijakan itu dalam menekan praktik under-invoicing maupun transfer pricing demi meningkatkan penerimaan negara.

Tekanan terhadap rupiah semakin berat setelah data Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) dan transaksi berjalan menunjukkan defisit yang kian melebar.

Bank Indonesia mencatat NPI kuartal I-2026 mengalami defisit sebesar US$9,15 miliar, jauh lebih dalam dibanding kuartal sebelumnya yang defisit US$6,07 miliar.

Sementara itu, transaksi berjalan juga berbalik defisit sebesar US$4 miliar atau setara 1,1% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Padahal pada kuartal sebelumnya masih mencatat surplus US$2,5 miliar.

Perubahan drastis sekitar US$6,5 miliar hanya dalam satu kuartal tersebut mempertegas meningkatnya tekanan eksternal terhadap perekonomian Indonesia dan memperburuk persepsi risiko investor terhadap aset domestik. (btc)