
JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali tertekan pada penutupan perdagangan akhir pekan, Jumat (22/5/2026). Mata uang Garuda ditutup melemah 0,11% ke level Rp17.673 per dolar AS.
Pelemahan ini memperpanjang tren negatif rupiah sepanjang pekan. Dalam sepekan terakhir, rupiah tercatat merosot 1,38% dan menjadi mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan Asia.
Sempat mendapat angin segar saat Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,25%, tekanan terhadap rupiah kembali muncul akibat derasnya sentimen negatif dari dalam negeri.
Pelaku pasar menyoroti sejumlah kebijakan pemerintah yang dinilai berpotensi membebani fiskal negara karena membutuhkan anggaran jumbo. Selain itu, rencana pembentukan badan pengawas ekspor komoditas juga memicu kekhawatiran investor.
Pasar menilai langkah tersebut berpotensi memperbesar kontrol negara terhadap ekspor komoditas. Investor pun meragukan efektivitas kebijakan itu dalam menekan praktik under-invoicing maupun transfer pricing demi meningkatkan penerimaan negara.
Tekanan terhadap rupiah semakin berat setelah data Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) dan transaksi berjalan menunjukkan defisit yang kian melebar.
Bank Indonesia mencatat NPI kuartal I-2026 mengalami defisit sebesar US$9,15 miliar, jauh lebih dalam dibanding kuartal sebelumnya yang defisit US$6,07 miliar.
Sementara itu, transaksi berjalan juga berbalik defisit sebesar US$4 miliar atau setara 1,1% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Padahal pada kuartal sebelumnya masih mencatat surplus US$2,5 miliar.
Perubahan drastis sekitar US$6,5 miliar hanya dalam satu kuartal tersebut mempertegas meningkatnya tekanan eksternal terhadap perekonomian Indonesia dan memperburuk persepsi risiko investor terhadap aset domestik. (btc)
JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali tertekan pada penutupan perdagangan akhir pekan, Jumat (22/5/2026). Mata uang Garuda ditutup melemah 0,11% ke level Rp17.673 per dolar AS.
Pelemahan ini memperpanjang tren negatif rupiah sepanjang pekan. Dalam sepekan terakhir, rupiah tercatat merosot 1,38% dan menjadi mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan Asia.
Sempat mendapat angin segar saat Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,25%, tekanan terhadap rupiah kembali muncul akibat derasnya sentimen negatif dari dalam negeri.
Pelaku pasar menyoroti sejumlah kebijakan pemerintah yang dinilai berpotensi membebani fiskal negara karena membutuhkan anggaran jumbo. Selain itu, rencana pembentukan badan pengawas ekspor komoditas juga memicu kekhawatiran investor.
Pasar menilai langkah tersebut berpotensi memperbesar kontrol negara terhadap ekspor komoditas. Investor pun meragukan efektivitas kebijakan itu dalam menekan praktik under-invoicing maupun transfer pricing demi meningkatkan penerimaan negara.
Tekanan terhadap rupiah semakin berat setelah data Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) dan transaksi berjalan menunjukkan defisit yang kian melebar.
Bank Indonesia mencatat NPI kuartal I-2026 mengalami defisit sebesar US$9,15 miliar, jauh lebih dalam dibanding kuartal sebelumnya yang defisit US$6,07 miliar.
Sementara itu, transaksi berjalan juga berbalik defisit sebesar US$4 miliar atau setara 1,1% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Padahal pada kuartal sebelumnya masih mencatat surplus US$2,5 miliar.
Perubahan drastis sekitar US$6,5 miliar hanya dalam satu kuartal tersebut mempertegas meningkatnya tekanan eksternal terhadap perekonomian Indonesia dan memperburuk persepsi risiko investor terhadap aset domestik. (btc)