logo
Blackout Sumatera, Ditlantas Polda Riau Siaga Penuh: Patroli Blue Light Ditingka Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Sumatera Blackout! Pekanbaru Gelap Gulita, Diduga Gangguan Jaringan 275 kV di Mu Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Nekat Haji Lewat Jalur Nonprosedural, 6 WNI Dicegah Berangkat di Bandara SSK II Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Rupiah Tersungkur ke Rp17.673 per Dolar AS, Jadi Mata Uang Terlemah Sepekan Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Ratusan Mahasiswa Demo Polda Riau, Desak Penindakan Mafia BBM Ilegal dan Copot K Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Polresta Pekanbaru Dalami Kasus Dugaan Pengeroyokan di SMK Pertanian, Pihak Seko Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Toko Elektronik Online Palsu Tipu Korban Rp154 Juta, Polresta Pekanbaru Bekuk Pe Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Trump dan Netanyahu Perang Mulut di Telepon Gara-gara AS Tunda Serangan Besar ke Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / News / Internasional
Trump dan Netanyahu Perang Mulut di Telepon Gara-gara AS Tunda Serangan Besar ke Iran
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Perdana Menteri (PM) Israel, Benyamin Netanyahu. (Foto: Int)
Trump dan Netanyahu Perang Mulut di Telepon Gara-gara AS Tunda Serangan Besar ke Iran
Editor: Arya Mahendra | Penulis: arya mahendra
22 Mei 2026 | 16:05:54

WASHINGTON – Hubungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan memanas. Keduanya terlibat perdebatan sengit melalui sambungan telepon terkait langkah menghadapi Iran di tengah situasi Timur Tengah yang semakin panas.

Mengutip TRT World, Jumat (22/5/2026), percakapan yang berlangsung pada Selasa (19/5/2026) itu memperlihatkan perbedaan tajam antara Washington dan Tel Aviv soal strategi terhadap Teheran.

Trump sebelumnya disebut telah memberi tahu Netanyahu bahwa AS tengah menyiapkan serangan terarah baru terhadap Iran dengan sandi operasi “Operation Sledgehammer”. Serangan itu awalnya direncanakan diluncurkan pekan ini.

Namun, rencana tersebut mendadak dibatalkan Trump setelah mendapat tekanan dan permintaan dari sejumlah sekutu utama AS di kawasan Teluk, seperti Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Negara-negara tersebut mendorong Washington menempuh jalur diplomasi guna mencegah konflik regional meluas.

iklan-view

Dalam beberapa hari terakhir, negara-negara Teluk bersama pejabat Gedung Putih dan Pakistan dilaporkan aktif membuka kembali jalur negosiasi dengan Iran.

Keputusan Trump menunda serangan disebut memicu kemarahan Netanyahu. Menurut sejumlah pejabat AS dan sumber Israel yang mengetahui isi percakapan itu, Netanyahu secara langsung menyampaikan ketidaksetujuannya kepada Trump dan mendesak agar operasi militer tetap dijalankan.

“Perbedaannya sangat jelas. Trump masih ingin melihat peluang tercapainya kesepakatan, sementara Netanyahu menginginkan langkah berbeda,” ujar seorang pejabat Israel kepada CNN.

Trump sendiri menegaskan pemerintahannya masih membuka peluang penyelesaian diplomatik dengan Iran.

“Kita berada di tahap akhir negosiasi dengan Iran. Kita lihat saja nanti. Kita bisa mencapai kesepakatan, atau melakukan langkah yang sedikit lebih keras. Tapi saya berharap itu tidak terjadi,” kata Trump kepada wartawan, Rabu (20/5/2026) waktu setempat.

Di sisi lain, Netanyahu dikabarkan semakin frustrasi dengan sikap Trump yang dianggap memberi ruang bagi Iran untuk memperkuat posisi militernya.

Perbedaan pandangan Washington dan Tel Aviv terkait Iran sebenarnya bukan hal baru. Sejumlah pejabat AS sebelumnya juga mengakui kedua negara tidak selalu memiliki kepentingan dan tujuan yang sepenuhnya sejalan dalam menghadapi Teheran.

Saat ditanya soal hubungannya dengan Netanyahu usai percakapan panas tersebut, Trump menegaskan dirinya tetap memegang kendali.

“Dia akan melakukan apa pun yang saya inginkan,” tegas Trump. (bsc)

Home / News
Trump dan Netanyahu Perang Mulut di Telepon Gara-gara AS Tunda Serangan Besar ke Iran
Editor: Arya Mahendra | Penulis: arya mahendra
Rubrik: news | 22 Mei 2026 | 16:05:54
Trump dan Netanyahu Perang Mulut di Telepon Gara-gara AS Tunda Serangan Besar ke Iran
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Perdana Menteri (PM) Israel, Benyamin Netanyahu. (Foto: Int)

WASHINGTON – Hubungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan memanas. Keduanya terlibat perdebatan sengit melalui sambungan telepon terkait langkah menghadapi Iran di tengah situasi Timur Tengah yang semakin panas.

Mengutip TRT World, Jumat (22/5/2026), percakapan yang berlangsung pada Selasa (19/5/2026) itu memperlihatkan perbedaan tajam antara Washington dan Tel Aviv soal strategi terhadap Teheran.

Trump sebelumnya disebut telah memberi tahu Netanyahu bahwa AS tengah menyiapkan serangan terarah baru terhadap Iran dengan sandi operasi “Operation Sledgehammer”. Serangan itu awalnya direncanakan diluncurkan pekan ini.

Namun, rencana tersebut mendadak dibatalkan Trump setelah mendapat tekanan dan permintaan dari sejumlah sekutu utama AS di kawasan Teluk, seperti Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Negara-negara tersebut mendorong Washington menempuh jalur diplomasi guna mencegah konflik regional meluas.

Dalam beberapa hari terakhir, negara-negara Teluk bersama pejabat Gedung Putih dan Pakistan dilaporkan aktif membuka kembali jalur negosiasi dengan Iran.

Keputusan Trump menunda serangan disebut memicu kemarahan Netanyahu. Menurut sejumlah pejabat AS dan sumber Israel yang mengetahui isi percakapan itu, Netanyahu secara langsung menyampaikan ketidaksetujuannya kepada Trump dan mendesak agar operasi militer tetap dijalankan.

“Perbedaannya sangat jelas. Trump masih ingin melihat peluang tercapainya kesepakatan, sementara Netanyahu menginginkan langkah berbeda,” ujar seorang pejabat Israel kepada CNN.

Trump sendiri menegaskan pemerintahannya masih membuka peluang penyelesaian diplomatik dengan Iran.

“Kita berada di tahap akhir negosiasi dengan Iran. Kita lihat saja nanti. Kita bisa mencapai kesepakatan, atau melakukan langkah yang sedikit lebih keras. Tapi saya berharap itu tidak terjadi,” kata Trump kepada wartawan, Rabu (20/5/2026) waktu setempat.

Di sisi lain, Netanyahu dikabarkan semakin frustrasi dengan sikap Trump yang dianggap memberi ruang bagi Iran untuk memperkuat posisi militernya.

Perbedaan pandangan Washington dan Tel Aviv terkait Iran sebenarnya bukan hal baru. Sejumlah pejabat AS sebelumnya juga mengakui kedua negara tidak selalu memiliki kepentingan dan tujuan yang sepenuhnya sejalan dalam menghadapi Teheran.

Saat ditanya soal hubungannya dengan Netanyahu usai percakapan panas tersebut, Trump menegaskan dirinya tetap memegang kendali.

“Dia akan melakukan apa pun yang saya inginkan,” tegas Trump. (bsc)