
WASHINGTON – Hubungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan memanas. Keduanya terlibat perdebatan sengit melalui sambungan telepon terkait langkah menghadapi Iran di tengah situasi Timur Tengah yang semakin panas.
Mengutip TRT World, Jumat (22/5/2026), percakapan yang berlangsung pada Selasa (19/5/2026) itu memperlihatkan perbedaan tajam antara Washington dan Tel Aviv soal strategi terhadap Teheran.
Trump sebelumnya disebut telah memberi tahu Netanyahu bahwa AS tengah menyiapkan serangan terarah baru terhadap Iran dengan sandi operasi “Operation Sledgehammer”. Serangan itu awalnya direncanakan diluncurkan pekan ini.
Namun, rencana tersebut mendadak dibatalkan Trump setelah mendapat tekanan dan permintaan dari sejumlah sekutu utama AS di kawasan Teluk, seperti Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Negara-negara tersebut mendorong Washington menempuh jalur diplomasi guna mencegah konflik regional meluas.
Dalam beberapa hari terakhir, negara-negara Teluk bersama pejabat Gedung Putih dan Pakistan dilaporkan aktif membuka kembali jalur negosiasi dengan Iran.
Keputusan Trump menunda serangan disebut memicu kemarahan Netanyahu. Menurut sejumlah pejabat AS dan sumber Israel yang mengetahui isi percakapan itu, Netanyahu secara langsung menyampaikan ketidaksetujuannya kepada Trump dan mendesak agar operasi militer tetap dijalankan.
“Perbedaannya sangat jelas. Trump masih ingin melihat peluang tercapainya kesepakatan, sementara Netanyahu menginginkan langkah berbeda,” ujar seorang pejabat Israel kepada CNN.
Trump sendiri menegaskan pemerintahannya masih membuka peluang penyelesaian diplomatik dengan Iran.
“Kita berada di tahap akhir negosiasi dengan Iran. Kita lihat saja nanti. Kita bisa mencapai kesepakatan, atau melakukan langkah yang sedikit lebih keras. Tapi saya berharap itu tidak terjadi,” kata Trump kepada wartawan, Rabu (20/5/2026) waktu setempat.
Di sisi lain, Netanyahu dikabarkan semakin frustrasi dengan sikap Trump yang dianggap memberi ruang bagi Iran untuk memperkuat posisi militernya.
Perbedaan pandangan Washington dan Tel Aviv terkait Iran sebenarnya bukan hal baru. Sejumlah pejabat AS sebelumnya juga mengakui kedua negara tidak selalu memiliki kepentingan dan tujuan yang sepenuhnya sejalan dalam menghadapi Teheran.
Saat ditanya soal hubungannya dengan Netanyahu usai percakapan panas tersebut, Trump menegaskan dirinya tetap memegang kendali.
“Dia akan melakukan apa pun yang saya inginkan,” tegas Trump. (bsc)
WASHINGTON – Hubungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan memanas. Keduanya terlibat perdebatan sengit melalui sambungan telepon terkait langkah menghadapi Iran di tengah situasi Timur Tengah yang semakin panas.
Mengutip TRT World, Jumat (22/5/2026), percakapan yang berlangsung pada Selasa (19/5/2026) itu memperlihatkan perbedaan tajam antara Washington dan Tel Aviv soal strategi terhadap Teheran.
Trump sebelumnya disebut telah memberi tahu Netanyahu bahwa AS tengah menyiapkan serangan terarah baru terhadap Iran dengan sandi operasi “Operation Sledgehammer”. Serangan itu awalnya direncanakan diluncurkan pekan ini.
Namun, rencana tersebut mendadak dibatalkan Trump setelah mendapat tekanan dan permintaan dari sejumlah sekutu utama AS di kawasan Teluk, seperti Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Negara-negara tersebut mendorong Washington menempuh jalur diplomasi guna mencegah konflik regional meluas.
Dalam beberapa hari terakhir, negara-negara Teluk bersama pejabat Gedung Putih dan Pakistan dilaporkan aktif membuka kembali jalur negosiasi dengan Iran.
Keputusan Trump menunda serangan disebut memicu kemarahan Netanyahu. Menurut sejumlah pejabat AS dan sumber Israel yang mengetahui isi percakapan itu, Netanyahu secara langsung menyampaikan ketidaksetujuannya kepada Trump dan mendesak agar operasi militer tetap dijalankan.
“Perbedaannya sangat jelas. Trump masih ingin melihat peluang tercapainya kesepakatan, sementara Netanyahu menginginkan langkah berbeda,” ujar seorang pejabat Israel kepada CNN.
Trump sendiri menegaskan pemerintahannya masih membuka peluang penyelesaian diplomatik dengan Iran.
“Kita berada di tahap akhir negosiasi dengan Iran. Kita lihat saja nanti. Kita bisa mencapai kesepakatan, atau melakukan langkah yang sedikit lebih keras. Tapi saya berharap itu tidak terjadi,” kata Trump kepada wartawan, Rabu (20/5/2026) waktu setempat.
Di sisi lain, Netanyahu dikabarkan semakin frustrasi dengan sikap Trump yang dianggap memberi ruang bagi Iran untuk memperkuat posisi militernya.
Perbedaan pandangan Washington dan Tel Aviv terkait Iran sebenarnya bukan hal baru. Sejumlah pejabat AS sebelumnya juga mengakui kedua negara tidak selalu memiliki kepentingan dan tujuan yang sepenuhnya sejalan dalam menghadapi Teheran.
Saat ditanya soal hubungannya dengan Netanyahu usai percakapan panas tersebut, Trump menegaskan dirinya tetap memegang kendali.
“Dia akan melakukan apa pun yang saya inginkan,” tegas Trump. (bsc)