JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali tertekan dan menutup perdagangan Selasa (26/5/2026) di level Rp17.789 per dolar AS, melemah 0,26% sekaligus menjadi posisi terlemah sepanjang sejarah. Pelemahan ini menandai empat hari berturut-turut rupiah berada di zona merah, meski Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan secara agresif.
Sepanjang perdagangan, rupiah bergerak volatil. Setelah dibuka di Rp17.749 per dolar AS, mata uang Garuda terus melemah hingga menyentuh Rp17.794 per dolar AS pada sore hari.
Tekanan terhadap rupiah dipicu lonjakan harga minyak dunia. Minyak mentah Brent melonjak 3,22% ke level US$99,33 per barel setelah ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas menyusul serangan militer AS ke Iran.
Pasar khawatir konflik tersebut mengganggu pembukaan Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak dunia. Jika penutupan berlangsung lama, pasokan minyak global dikhawatirkan menyusut dan memicu lonjakan harga energi.
Dikutip dari Bloomberg Technoz, sentimen global turut menekan mayoritas mata uang Asia. Baht Thailand tercatat melemah paling dalam, disusul ringgit Malaysia dan rupiah. Sementara won Korea Selatan justru menguat 0,81%.
Bank Indonesia melalui kurs Jisdor juga mencatat rupiah berada di level Rp17.789 per dolar AS, turun dibanding penutupan sebelumnya di Rp17.743 per dolar AS.
Selain faktor eksternal, rupiah juga dibayangi kekhawatiran arus keluar modal asing, isu tata kelola, hingga kebijakan pengendalian ekspor yang dinilai membebani sentimen pasar domestik. Sejalan dengan pelemahan rupiah, IHSG terkoreksi lebih dari 1% pada perdagangan hari ini.
Mengutip Reuters, optimisme pasar terhadap meredanya konflik Iran mulai memudar setelah Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut negosiasi dengan Iran masih membutuhkan waktu. Pernyataan itu muncul sehari setelah AS melancarkan serangan yang disebut sebagai operasi defensif di wilayah selatan Iran. (btc)