logo
THM Pekanbaru Digerebek, 13 Orang Positif Narkotika Termasuk Diduga Anak Bupati Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Polsek Peranap Ungkap Sindikat Curanmor KLX di Inhu, Motor Karyawan Tambang Diju Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Polisi Bongkar Jaringan Curanmor Terorganisir di Inhu, 63 Motor Diamankan Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Rupiah Amblas ke Level Terburuk Sepanjang Sejarah, Hampir Sentuh Rp17.800/Dolar Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Jemaah Haji Siak Jalani Wukuf di Arafah, Cuaca Ekstrem dan Antrean Panjang Tak S Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Panen Jagung Pipil Segera Tiba, Polsek Payung Sekaki Pekanbaru Dorong Ketahanan Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Rutan Pekanbaru Bobol, Napi Kasus Curat Kabur, Sudah Dua Hari Petugas Lakukan Pe Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Shalat Idul Adha di Pekanbaru Digelar di 349 Titik, Walikota Agung Siapkan Hadia Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / Ekonomi / Keuangan
Rupiah Jebol ke Rp17.744 per Dolar AS, Pasar Cemas Risiko Fiskal dan Kebijakan Baru
Ilustrasi. Rupiaj jeblok lagi.
Rupiah Jebol ke Rp17.744 per Dolar AS, Pasar Cemas Risiko Fiskal dan Kebijakan Baru
Editor: Arya Mahendra | Penulis: arya mahendra
25 Mei 2026 | 17:37:17

JAKARTA — Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada penutupan perdagangan Senin (25/5/2026). Mata uang Garuda ditutup melemah 27 poin atau sekitar 0,15 persen ke level Rp17.744 per dolar Amerika Serikat (AS).

Tekanan terhadap rupiah datang dari kombinasi sentimen global dan kekhawatiran pasar terhadap arah kebijakan ekonomi domestik yang dinilai makin tidak ramah terhadap mekanisme pasar.

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, pasar global saat ini bergerak di tengah dua sentimen yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, muncul optimisme setelah Presiden AS Donald Trump memberi sinyal adanya peluang kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran.

Pasar sempat merespons positif peluang meredanya tensi geopolitik di Timur Tengah, termasuk potensi terbukanya kembali jalur strategis Selat Hormuz yang selama ini menjadi perhatian dunia.

iklan-view

“Pasar melihat ada peluang kesepakatan antara AS dan Iran. Trump juga menyebut sebagian besar negosiasi kemungkinan bisa disepakati,” ujar Ibrahim dalam risetnya.

Namun optimisme itu dinilai masih terlalu rapuh untuk dijadikan pegangan kuat. Ibrahim menilai masih ada sejumlah isu krusial yang berpotensi menggagalkan kesepakatan tersebut, terutama terkait program uranium Iran dan dana negara yang dibekukan sejak era 1970-an.

“Masalah uranium dan dana Iran yang dibekukan itu masih menjadi ganjalan besar. Saya melihat peluang perdamaian ini justru berisiko gagal total,” katanya.

Di saat bersamaan, tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, makin berat setelah pejabat bank sentral AS atau The Fed mulai mengirim sinyal kebijakan moneter ketat atau hawkish.

Pasar kini khawatir suku bunga tinggi di AS akan bertahan lebih lama apabila inflasi belum juga turun menuju target Federal Reserve. Kondisi tersebut membuat investor cenderung kembali memburu aset berbasis dolar AS.

Tekanan diperkirakan makin meningkat pekan ini karena pelaku pasar menanti sejumlah data ekonomi penting AS yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan The Fed ke depan.

Dari dalam negeri, Ibrahim menilai pelemahan rupiah justru semakin dipicu kekhawatiran investor terhadap pengelolaan fiskal pemerintah dan arah kebijakan ekonomi nasional.

Menurutnya, penurunan harga minyak dunia yang biasanya menjadi sentimen positif bagi rupiah kali ini gagal dimanfaatkan pasar karena investor lebih fokus pada risiko defisit anggaran dan perubahan regulasi perdagangan komoditas.

Sorotan juga mengarah pada kebijakan pembentukan satu pintu perdagangan komoditas strategis melalui Badan Pengelola Investasi Danantara. Kebijakan itu dinilai memunculkan kekhawatiran baru di kalangan investor dan lembaga pemeringkat internasional.

Pasar melihat arah kebijakan pemerintah mulai menjauh dari prinsip pasar bebas, sehingga memicu keraguan investor asing untuk menempatkan dana di Indonesia.

“Kebijakan yang dianggap kurang pro pasar membuat rupiah masih berpotensi terus melemah. Besok kemungkinan ada tambahan pelemahan sekitar 50 sampai 60 poin,” jelas Ibrahim.

Berdasarkan proyeksi tersebut, rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan berikutnya di kisaran Rp17.740 hingga Rp17.800 per dolar AS. (rcti)

Home / Ekonomi
Rupiah Jebol ke Rp17.744 per Dolar AS, Pasar Cemas Risiko Fiskal dan Kebijakan Baru
Editor: Arya Mahendra | Penulis: arya mahendra
Rubrik: ekonomi | 25 Mei 2026 | 17:37:17
Rupiah Jebol ke Rp17.744 per Dolar AS, Pasar Cemas Risiko Fiskal dan Kebijakan Baru
Ilustrasi. Rupiaj jeblok lagi.

JAKARTA — Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada penutupan perdagangan Senin (25/5/2026). Mata uang Garuda ditutup melemah 27 poin atau sekitar 0,15 persen ke level Rp17.744 per dolar Amerika Serikat (AS).

Tekanan terhadap rupiah datang dari kombinasi sentimen global dan kekhawatiran pasar terhadap arah kebijakan ekonomi domestik yang dinilai makin tidak ramah terhadap mekanisme pasar.

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, pasar global saat ini bergerak di tengah dua sentimen yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, muncul optimisme setelah Presiden AS Donald Trump memberi sinyal adanya peluang kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran.

Pasar sempat merespons positif peluang meredanya tensi geopolitik di Timur Tengah, termasuk potensi terbukanya kembali jalur strategis Selat Hormuz yang selama ini menjadi perhatian dunia.

“Pasar melihat ada peluang kesepakatan antara AS dan Iran. Trump juga menyebut sebagian besar negosiasi kemungkinan bisa disepakati,” ujar Ibrahim dalam risetnya.

Namun optimisme itu dinilai masih terlalu rapuh untuk dijadikan pegangan kuat. Ibrahim menilai masih ada sejumlah isu krusial yang berpotensi menggagalkan kesepakatan tersebut, terutama terkait program uranium Iran dan dana negara yang dibekukan sejak era 1970-an.

“Masalah uranium dan dana Iran yang dibekukan itu masih menjadi ganjalan besar. Saya melihat peluang perdamaian ini justru berisiko gagal total,” katanya.

Di saat bersamaan, tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, makin berat setelah pejabat bank sentral AS atau The Fed mulai mengirim sinyal kebijakan moneter ketat atau hawkish.

Pasar kini khawatir suku bunga tinggi di AS akan bertahan lebih lama apabila inflasi belum juga turun menuju target Federal Reserve. Kondisi tersebut membuat investor cenderung kembali memburu aset berbasis dolar AS.

Tekanan diperkirakan makin meningkat pekan ini karena pelaku pasar menanti sejumlah data ekonomi penting AS yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan The Fed ke depan.

Dari dalam negeri, Ibrahim menilai pelemahan rupiah justru semakin dipicu kekhawatiran investor terhadap pengelolaan fiskal pemerintah dan arah kebijakan ekonomi nasional.

Menurutnya, penurunan harga minyak dunia yang biasanya menjadi sentimen positif bagi rupiah kali ini gagal dimanfaatkan pasar karena investor lebih fokus pada risiko defisit anggaran dan perubahan regulasi perdagangan komoditas.

Sorotan juga mengarah pada kebijakan pembentukan satu pintu perdagangan komoditas strategis melalui Badan Pengelola Investasi Danantara. Kebijakan itu dinilai memunculkan kekhawatiran baru di kalangan investor dan lembaga pemeringkat internasional.

Pasar melihat arah kebijakan pemerintah mulai menjauh dari prinsip pasar bebas, sehingga memicu keraguan investor asing untuk menempatkan dana di Indonesia.

“Kebijakan yang dianggap kurang pro pasar membuat rupiah masih berpotensi terus melemah. Besok kemungkinan ada tambahan pelemahan sekitar 50 sampai 60 poin,” jelas Ibrahim.

Berdasarkan proyeksi tersebut, rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan berikutnya di kisaran Rp17.740 hingga Rp17.800 per dolar AS. (rcti)