
PADANG– MUshalla yang berdiri di kawasan pendakian Gunung Talang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, kini membutuhkan renovasi setelah lima tahun melayani pendaki dari berbagai daerah dalam beribadah.
Untuk membiayai perbaikan tersebut, Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Universitas Andalas (Unand) membuka penggalangan dana dengan target Rp13,65 juta.
Renovasi dijadwalkan berlangsung pada 17–19 Juli 2026 dan difokuskan pada sejumlah fasilitas utama yang mulai mengalami penurunan fungsi. Perbaikan meliputi pembaruan lantai MUshalla, rehabilitasi sarana wudhu, peningkatan sistem penyediaan air bersih dan pengecatan ulang bangunan.
Keberadaan MUshalla ini memiliki nilai penting bagi aktivitas pendakian di Gunung Talang. Lokasinya berada di kawasan alun-alun yang dikenal sebagai “lapangan bola” pada ketinggian sekitar 2.500 meter di atas permukaan laut, hanya beberapa ratus meter dari puncak Gunung Talang yang memiliki elevasi 2.597 mdpl.

Fasilitas tersebut menjadi salah satu tempat ibadah yang paling strategis bagi pendaki yang ingin tetap menjalankan kewajiban salat di tengah aktivitas pendakian. Karena itu, kondisi bangunan dan ketersediaan air bersih menjadi faktor penting untuk menjaga fungsi sosial dan keagamaan mushalla tersebut.
Salah seorang panitia renovasi sekaligus inisiator pembangunan MUshalla, Deni Prima Kurnia mengatakan, kebutuhan perbaikan saat ini tidak hanya berkaitan dengan aspek kenyamanan, tetapi juga keberlanjutan fasilitas yang telah digunakan ribuan pendaki sejak pertama kali diresmikan pada 2021.
Deni mengatakan, keberadaan tempat ibadah tersebut lahir dari kebutuhan nyata para pendaki yang selama bertahun-tahun tidak memiliki fasilitas salat yang memadai di jalur pendakian Gunung Talang.
“Sejumlah pendaki gunung yang dimotori Mapala Unand pada 2021 bekerja sama mewujudkan tempat salat bagi para pendaki. Impian untuk memiliki fasilitas ibadah yang representatif akhirnya bisa direalisasikan,” kata Deni, Jumat (19/6/2026) di Padang.
Dibangun dari Semangat Gotong Royong Pendaki
MUshalla Gunung Talang memiliki sejarah yang tidak biasa. Gagasan pembangunannya muncul pada Desember 2020 ketika Mapala Unand dan sejumlah pendaki lainnya menilai perlunya fasilitas ibadah permanen di kawasan pendakian yang menjadi salah satu destinasi favorit di Sumatera Barat tersebut.
Rencana awal pembangunan sebenarnya dilakukan pada momentum pergantian tahun 2020 menuju 2021. Namun, kebijakan pembatasan dan larangan pendakian yang diberlakukan pemerintah daerah saat itu membuat proses pembangunan harus ditunda.
Meski demikian, semangat para penggiat alam bebas ini tidak surut. Setelah berbagai persiapan dilakukan, pembangunan akhirnya dapat direalisasikan melalui kolaborasi Mapala Universitas Andalas, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kampwuang Aia Batumbuak dan pemerintah nagari setempat.
Seluruh material bangunan harus diangkut secara manual melalui jalur pendakian Aia Batumbuak. Medan pegunungan yang menanjak dan sulit dilalui kendaraan membuat proses pembangunan menjadi tantangan tersendiri.
Kerja kolektif tersebut akhirnya membuahkan hasil. Pemakaian MUshalla kemudian diresmikan Rektor Universitas Andalas saat itu, Yuliandri, pada 14 Februari 2021. Sejak saat itu, MUshalla inipun menjadi fasilitas publik yang dapat dimanfaatkan seluruh pendaki tanpa memandang asal komunitas maupun daerah.
Air Bersih Jadi Fokus Perbaikan
Dalam rencana renovasi tahun ini, sistem penyediaan air menjadi salah satu prioritas utama.
Bagi pendaki, keberadaan air bersih tidak hanya dibutuhkan untuk kebutuhan ibadah seperti berwudhu, tetapi juga mendukung kebersihan lingkungan sekitar mushalla. Seiring bertambahnya jumlah pengunjung dan faktor cuaca pegunungan yang ekstrem, beberapa sarana pendukung mulai memerlukan pembaruan.
Selain itu, kondisi lantai bangunan yang telah digunakan selama beberapa tahun juga dinilai perlu diperbaiki agar tetap aman dan nyaman bagi pengguna.
"Pengecatan ulang dilakukan untuk menjaga daya tahan bangunan terhadap perubahan cuaca yang cukup ekstrem di kawasan pegunungan," ujar Nurdian Effendi yang juga inisiator renovasi MUshalla.
Renovasi tersebut diharapkan dapat memperpanjang usia layanan mushalla dan menjaga kualitas fasilitas publik yang telah dibangun melalui swadaya masyarakat.
Dampak bagi Wisata Pendakian Gunung Talang
Gunung Talang merupakan salah satu destinasi pendakian populer di Sumatera Barat. Setiap tahun, gunung ini menjadi tujuan ribuan pendaki lokal maupun luar daerah karena akses yang relatif mudah dan panorama kawah aktif yang menjadi daya tarik utama.
Dalam konteks wisata alam, keberadaan fasilitas dasar seperti tempat ibadah menjadi bagian penting dari upaya meningkatkan kualitas pengalaman pengunjung.
MUshalla di kawasan pendakian tidak hanya berfungsi sebagai sarana ibadah, tetapi juga menjadi simbol bahwa pengembangan wisata alam dapat berjalan seiring dengan pemenuhan kebutuhan sosial dan spiritual masyarakat.
Karena itu, keberlanjutan fasilitas tersebut dinilai memiliki dampak yang lebih luas dibanding sekadar perbaikan bangunan fisik. Keberadaannya turut mendukung citra kawasan pendakian yang ramah bagi seluruh kalangan, termasuk keluarga dan pendaki yang mengutamakan kemudahan beribadah selama berada di alam terbuka.
Menurut Nurdian Effendi yang akrab disapa Cak Nur itu, perbaikan diperlukan agar MUshalla tetap dapat dimanfaatkan secara optimal dalam jangka panjang.
“Renovasi dilakukan agar fasilitas ini tetap layak digunakan para pendaki yang datang ke Gunung Talang setiap tahun,” ujarnya.
Buka Donasi dan Relawan
Untuk memenuhi kebutuhan anggaran sebesar Rp13,65 juta, panitia membuka partisipasi masyarakat melalui program donasi terbuka.
Selain bantuan dana, panitia juga mengajak relawan yang memiliki kemampuan teknis maupun pengalaman kegiatan lapangan untuk ikut terlibat dalam proses renovasi yang dijadwalkan berlangsung pada pertengahan Juli mendatang.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan fasilitas publik di kawasan pegunungan masih sangat bergantung pada partisipasi komunitas dan semangat gotong royong masyarakat.
Jika target renovasi tercapai, MUshalla yang dikenal sebagai salah satu fasilitas ibadah tertinggi di kawasan Gunung Talang itu diharapkan dapat kembali melayani para pendaki dengan kondisi yang lebih baik, aman dan nyaman untuk beberapa tahun ke depan.
Di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap wisata alam dan pendakian gunung, keberadaan fasilitas publik yang terawat menjadi salah satu faktor penting untuk mendukung keselamatan, kenyamanan, serta kualitas pengalaman pengunjung di kawasan konservasi dan pegunungan.
Karena itu, bagi aktivis lingkungan atau masyarakat yang peduli dan ingin berpartisipasi bisa mengirimkan donasinya melalui Rekening BNI dengan nomor 4848566461 an. Nur Alamsyah dan mengkonfirmasi ke 08126605119.
"Untuk informasi program renovasi atau yang ingin ikut bergabung bekerja melakukan renovasi di lapangan bisa menghubungi langsung Nurdian 082320270768), Patra 082173044555 dan Dimas 0812 7611 1040," tukasnya. (bsh)





PADANG– MUshalla yang berdiri di kawasan pendakian Gunung Talang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, kini membutuhkan renovasi setelah lima tahun melayani pendaki dari berbagai daerah dalam beribadah.
Untuk membiayai perbaikan tersebut, Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Universitas Andalas (Unand) membuka penggalangan dana dengan target Rp13,65 juta.
Renovasi dijadwalkan berlangsung pada 17–19 Juli 2026 dan difokuskan pada sejumlah fasilitas utama yang mulai mengalami penurunan fungsi. Perbaikan meliputi pembaruan lantai MUshalla, rehabilitasi sarana wudhu, peningkatan sistem penyediaan air bersih dan pengecatan ulang bangunan.
Keberadaan MUshalla ini memiliki nilai penting bagi aktivitas pendakian di Gunung Talang. Lokasinya berada di kawasan alun-alun yang dikenal sebagai “lapangan bola” pada ketinggian sekitar 2.500 meter di atas permukaan laut, hanya beberapa ratus meter dari puncak Gunung Talang yang memiliki elevasi 2.597 mdpl.
Fasilitas tersebut menjadi salah satu tempat ibadah yang paling strategis bagi pendaki yang ingin tetap menjalankan kewajiban salat di tengah aktivitas pendakian. Karena itu, kondisi bangunan dan ketersediaan air bersih menjadi faktor penting untuk menjaga fungsi sosial dan keagamaan mushalla tersebut.
Salah seorang panitia renovasi sekaligus inisiator pembangunan MUshalla, Deni Prima Kurnia mengatakan, kebutuhan perbaikan saat ini tidak hanya berkaitan dengan aspek kenyamanan, tetapi juga keberlanjutan fasilitas yang telah digunakan ribuan pendaki sejak pertama kali diresmikan pada 2021.
Deni mengatakan, keberadaan tempat ibadah tersebut lahir dari kebutuhan nyata para pendaki yang selama bertahun-tahun tidak memiliki fasilitas salat yang memadai di jalur pendakian Gunung Talang.
“Sejumlah pendaki gunung yang dimotori Mapala Unand pada 2021 bekerja sama mewujudkan tempat salat bagi para pendaki. Impian untuk memiliki fasilitas ibadah yang representatif akhirnya bisa direalisasikan,” kata Deni, Jumat (19/6/2026) di Padang.
Dibangun dari Semangat Gotong Royong Pendaki
MUshalla Gunung Talang memiliki sejarah yang tidak biasa. Gagasan pembangunannya muncul pada Desember 2020 ketika Mapala Unand dan sejumlah pendaki lainnya menilai perlunya fasilitas ibadah permanen di kawasan pendakian yang menjadi salah satu destinasi favorit di Sumatera Barat tersebut.
Rencana awal pembangunan sebenarnya dilakukan pada momentum pergantian tahun 2020 menuju 2021. Namun, kebijakan pembatasan dan larangan pendakian yang diberlakukan pemerintah daerah saat itu membuat proses pembangunan harus ditunda.
Meski demikian, semangat para penggiat alam bebas ini tidak surut. Setelah berbagai persiapan dilakukan, pembangunan akhirnya dapat direalisasikan melalui kolaborasi Mapala Universitas Andalas, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kampwuang Aia Batumbuak dan pemerintah nagari setempat.
Seluruh material bangunan harus diangkut secara manual melalui jalur pendakian Aia Batumbuak. Medan pegunungan yang menanjak dan sulit dilalui kendaraan membuat proses pembangunan menjadi tantangan tersendiri.
Kerja kolektif tersebut akhirnya membuahkan hasil. Pemakaian MUshalla kemudian diresmikan Rektor Universitas Andalas saat itu, Yuliandri, pada 14 Februari 2021. Sejak saat itu, MUshalla inipun menjadi fasilitas publik yang dapat dimanfaatkan seluruh pendaki tanpa memandang asal komunitas maupun daerah.
Air Bersih Jadi Fokus Perbaikan
Dalam rencana renovasi tahun ini, sistem penyediaan air menjadi salah satu prioritas utama.
Bagi pendaki, keberadaan air bersih tidak hanya dibutuhkan untuk kebutuhan ibadah seperti berwudhu, tetapi juga mendukung kebersihan lingkungan sekitar mushalla. Seiring bertambahnya jumlah pengunjung dan faktor cuaca pegunungan yang ekstrem, beberapa sarana pendukung mulai memerlukan pembaruan.
Selain itu, kondisi lantai bangunan yang telah digunakan selama beberapa tahun juga dinilai perlu diperbaiki agar tetap aman dan nyaman bagi pengguna.
"Pengecatan ulang dilakukan untuk menjaga daya tahan bangunan terhadap perubahan cuaca yang cukup ekstrem di kawasan pegunungan," ujar Nurdian Effendi yang juga inisiator renovasi MUshalla.
Renovasi tersebut diharapkan dapat memperpanjang usia layanan mushalla dan menjaga kualitas fasilitas publik yang telah dibangun melalui swadaya masyarakat.
Dampak bagi Wisata Pendakian Gunung Talang
Gunung Talang merupakan salah satu destinasi pendakian populer di Sumatera Barat. Setiap tahun, gunung ini menjadi tujuan ribuan pendaki lokal maupun luar daerah karena akses yang relatif mudah dan panorama kawah aktif yang menjadi daya tarik utama.
Dalam konteks wisata alam, keberadaan fasilitas dasar seperti tempat ibadah menjadi bagian penting dari upaya meningkatkan kualitas pengalaman pengunjung.
MUshalla di kawasan pendakian tidak hanya berfungsi sebagai sarana ibadah, tetapi juga menjadi simbol bahwa pengembangan wisata alam dapat berjalan seiring dengan pemenuhan kebutuhan sosial dan spiritual masyarakat.
Karena itu, keberlanjutan fasilitas tersebut dinilai memiliki dampak yang lebih luas dibanding sekadar perbaikan bangunan fisik. Keberadaannya turut mendukung citra kawasan pendakian yang ramah bagi seluruh kalangan, termasuk keluarga dan pendaki yang mengutamakan kemudahan beribadah selama berada di alam terbuka.
Menurut Nurdian Effendi yang akrab disapa Cak Nur itu, perbaikan diperlukan agar MUshalla tetap dapat dimanfaatkan secara optimal dalam jangka panjang.
“Renovasi dilakukan agar fasilitas ini tetap layak digunakan para pendaki yang datang ke Gunung Talang setiap tahun,” ujarnya.
Buka Donasi dan Relawan
Untuk memenuhi kebutuhan anggaran sebesar Rp13,65 juta, panitia membuka partisipasi masyarakat melalui program donasi terbuka.
Selain bantuan dana, panitia juga mengajak relawan yang memiliki kemampuan teknis maupun pengalaman kegiatan lapangan untuk ikut terlibat dalam proses renovasi yang dijadwalkan berlangsung pada pertengahan Juli mendatang.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan fasilitas publik di kawasan pegunungan masih sangat bergantung pada partisipasi komunitas dan semangat gotong royong masyarakat.
Jika target renovasi tercapai, MUshalla yang dikenal sebagai salah satu fasilitas ibadah tertinggi di kawasan Gunung Talang itu diharapkan dapat kembali melayani para pendaki dengan kondisi yang lebih baik, aman dan nyaman untuk beberapa tahun ke depan.
Di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap wisata alam dan pendakian gunung, keberadaan fasilitas publik yang terawat menjadi salah satu faktor penting untuk mendukung keselamatan, kenyamanan, serta kualitas pengalaman pengunjung di kawasan konservasi dan pegunungan.
Karena itu, bagi aktivis lingkungan atau masyarakat yang peduli dan ingin berpartisipasi bisa mengirimkan donasinya melalui Rekening BNI dengan nomor 4848566461 an. Nur Alamsyah dan mengkonfirmasi ke 08126605119.
"Untuk informasi program renovasi atau yang ingin ikut bergabung bekerja melakukan renovasi di lapangan bisa menghubungi langsung Nurdian 082320270768), Patra 082173044555 dan Dimas 0812 7611 1040," tukasnya. (bsh)