logo
Keluhan Warga Direspons Cepat, Pemprov Riau Benahi Jalan Simpang Perak–Istana Sa Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Hasil Pendataan Kemenhaj: Banyak Jemaah Haji Terjerat Utang Demi Berangkat ke Ta Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Sindikat Narkoba Riau-Sumsel Dibongkar, Lima Pelaku Ditangkap dengan 300 Gram Sa Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Musprov FMI Sumbar 2026: Didi Cahyadi Ningrat Terpilih Pimpin FMI Sumatera Barat Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Heli Water Bombing ke-5 Tiba di Pekanbaru, Titik Panas Terdeteksi Lagi di Pelala Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi PIALA DUNIA 2026: Samurai Biru Mengamuk, De Oranje Berpesta, Jerman Lolos ke Fas Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Ketika Polisi Datang Membawa Paket Bansos, Ribuan Warga Riau Rasakan Manfaatnya Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Road to Riau Bhayangkara Run 2026, Kapolda Ajak Masyarakat Bersatu Lawan Karhutl Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / Ekonomi / KEUANGAN
Rupiah Melemah Tipis 7 Poin, Analis Prediksi Pekan Depan di Kisaran Rp17.800-Rp18.000 Per Dolar AS
Ilustrasi. Rupiah melemah 7 poin di penutupan perdagangan, Jumat (19/6/2026).
Rupiah Melemah Tipis 7 Poin, Analis Prediksi Pekan Depan di Kisaran Rp17.800-Rp18.000 Per Dolar AS
Editor: Arya Mahendra | Penulis: arya mahendra
19 Juni 2026 | 18:51:06

JAKARTA – Nilai tukar rupiah masih berada dalam tekanan menjelang pekan perdagangan baru. Pada penutupan perdagangan Jumat (19/6/2026), mata uang Garuda melemah tipis 7 poin dan berakhir di level Rp17.801 per dolar Amerika Serikat (AS), dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.794 per dolar AS.

Pelemahan tersebut menunjukkan bahwa rupiah belum sepenuhnya mampu keluar dari tekanan eksternal maupun domestik, meski sentimen pasar global mulai membaik dalam beberapa hari terakhir.

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan pergerakan rupiah pada Senin (22/6/2026) masih akan berlangsung fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Rupiah diproyeksikan bergerak di kisaran Rp17.800 hingga Rp17.850 per dolar AS.

Dalam jangka waktu sepekan ke depan, Ibrahim memperkirakan nilai tukar rupiah akan bergerak dalam rentang yang cukup lebar, yakni Rp17.500 hingga Rp18.000 per dolar AS. Proyeksi tersebut mencerminkan tingginya ketidakpastian yang masih membayangi pasar keuangan global.

iklan-view

Menurutnya, meski ketegangan geopolitik mulai mereda setelah Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan sementara yang membuka kembali kelancaran jalur perdagangan di Selat Hormuz, faktor tersebut belum cukup kuat untuk mengangkat posisi rupiah secara signifikan.

Tekanan utama justru datang dari Amerika Serikat. Sikap Federal Reserve (The Fed) yang masih membuka peluang pengetatan kebijakan moneter membuat investor tetap memburu aset berbasis dolar AS. Para pembuat kebijakan bank sentral AS bahkan memberi sinyal hanya akan melakukan satu kali pemangkasan suku bunga hingga akhir 2026, sehingga ekspektasi suku bunga tinggi masih bertahan lebih lama.

Kondisi tersebut membuat dolar AS tetap kuat dan menjadi tantangan bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Dari dalam negeri, sentimen negatif juga muncul setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) menetapkan status kriteria arus informasi (information flow) Indonesia menjadi negatif. MSCI juga menyoroti masih terbatasnya tingkat liberalisasi valuta asing di Indonesia.

Meski demikian, MSCI tetap mempertahankan Indonesia dalam kategori Emerging Market atau negara berkembang karena dinilai masih memiliki sejumlah keunggulan dari sisi keterbukaan pasar.

Dengan kombinasi faktor global dan domestik tersebut, rupiah diperkirakan masih bergerak volatil pada awal pekan depan. Pelaku pasar akan mencermati arah kebijakan The Fed serta respons investor terhadap evaluasi MSCI terhadap pasar keuangan Indonesia sebagai penentu arah pergerakan rupiah selanjutnya. (**)

Sumber: Investor.id

Home / Ekonomi
Rupiah Melemah Tipis 7 Poin, Analis Prediksi Pekan Depan di Kisaran Rp17.800-Rp18.000 Per Dolar AS
Editor: Arya Mahendra | Penulis: arya mahendra
Rubrik: ekonomi | 19 Juni 2026 | 18:51:06
Rupiah Melemah Tipis 7 Poin, Analis Prediksi Pekan Depan di Kisaran Rp17.800-Rp18.000 Per Dolar AS
Ilustrasi. Rupiah melemah 7 poin di penutupan perdagangan, Jumat (19/6/2026).

JAKARTA – Nilai tukar rupiah masih berada dalam tekanan menjelang pekan perdagangan baru. Pada penutupan perdagangan Jumat (19/6/2026), mata uang Garuda melemah tipis 7 poin dan berakhir di level Rp17.801 per dolar Amerika Serikat (AS), dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.794 per dolar AS.

Pelemahan tersebut menunjukkan bahwa rupiah belum sepenuhnya mampu keluar dari tekanan eksternal maupun domestik, meski sentimen pasar global mulai membaik dalam beberapa hari terakhir.

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan pergerakan rupiah pada Senin (22/6/2026) masih akan berlangsung fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Rupiah diproyeksikan bergerak di kisaran Rp17.800 hingga Rp17.850 per dolar AS.

Dalam jangka waktu sepekan ke depan, Ibrahim memperkirakan nilai tukar rupiah akan bergerak dalam rentang yang cukup lebar, yakni Rp17.500 hingga Rp18.000 per dolar AS. Proyeksi tersebut mencerminkan tingginya ketidakpastian yang masih membayangi pasar keuangan global.

Menurutnya, meski ketegangan geopolitik mulai mereda setelah Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan sementara yang membuka kembali kelancaran jalur perdagangan di Selat Hormuz, faktor tersebut belum cukup kuat untuk mengangkat posisi rupiah secara signifikan.

Tekanan utama justru datang dari Amerika Serikat. Sikap Federal Reserve (The Fed) yang masih membuka peluang pengetatan kebijakan moneter membuat investor tetap memburu aset berbasis dolar AS. Para pembuat kebijakan bank sentral AS bahkan memberi sinyal hanya akan melakukan satu kali pemangkasan suku bunga hingga akhir 2026, sehingga ekspektasi suku bunga tinggi masih bertahan lebih lama.

Kondisi tersebut membuat dolar AS tetap kuat dan menjadi tantangan bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Dari dalam negeri, sentimen negatif juga muncul setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) menetapkan status kriteria arus informasi (information flow) Indonesia menjadi negatif. MSCI juga menyoroti masih terbatasnya tingkat liberalisasi valuta asing di Indonesia.

Meski demikian, MSCI tetap mempertahankan Indonesia dalam kategori Emerging Market atau negara berkembang karena dinilai masih memiliki sejumlah keunggulan dari sisi keterbukaan pasar.

Dengan kombinasi faktor global dan domestik tersebut, rupiah diperkirakan masih bergerak volatil pada awal pekan depan. Pelaku pasar akan mencermati arah kebijakan The Fed serta respons investor terhadap evaluasi MSCI terhadap pasar keuangan Indonesia sebagai penentu arah pergerakan rupiah selanjutnya. (**)

Sumber: Investor.id