
PEKANBARU–Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan Senin (22/6/2026), sejalan dengan tekanan yang dialami mayoritas mata uang Asia. Di tengah pelemahan rupiah, pasar saham domestik justru bergerak positif dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat lebih dari 0,5 persen pada sesi pagi.
Berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 09.13 WIB, rupiah berada di level Rp17.813 per dolar AS. Posisi tersebut melemah 0,05 persen dibandingkan penutupan perdagangan akhir pekan lalu yang berada di Rp17.804 per dolar AS.
Pelemahan rupiah terjadi bersamaan dengan tren negatif yang melanda sebagian besar mata uang Asia terhadap dolar AS. Won Korea Selatan mencatat pelemahan terdalam dengan penurunan 0,47 persen.
Selain itu, ringgit Malaysia terkoreksi 0,24 persen, peso Filipina melemah 0,21 persen, yen Jepang turun 0,16 persen, dolar Taiwan melemah 0,08 persen, dan dolar Singapura juga turun 0,08 persen.

Yuan China mengalami pelemahan sebesar 0,05 persen, setara dengan rupiah. Sementara itu, dolar Hong Kong terkoreksi 0,02 persen terhadap mata uang AS.
Di kawasan Asia, hanya baht Thailand yang mampu mencatat penguatan terhadap dolar AS dengan kenaikan tipis 0,02 persen pada perdagangan pagi.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan mata uang Negeri Paman Sam terhadap sejumlah mata uang utama dunia berada di level 100,84. Angka tersebut relatif tidak berubah dibandingkan posisi pada akhir pekan lalu.
Di pasar modal, kondisi berbeda terlihat pada pergerakan IHSG yang berada di zona hijau sejak awal perdagangan. Hingga pukul 09.26 WIB, indeks tercatat naik 32,122 poin atau 0,52 persen ke level 6.209,262.
Meski menguat, pergerakan IHSG sempat mengalami fluktuasi. Setelah dibuka di level 6.217,049, indeks sempat menyentuh posisi tertinggi di 6.226,717 sebelum terkoreksi hingga level terendah 6.156,349.
Data perdagangan menunjukkan mayoritas saham bergerak menguat. Sebanyak 315 saham mencatat kenaikan harga, sementara 232 saham melemah dan 185 saham lainnya bergerak stagnan.
Aktivitas transaksi di Bursa Efek Indonesia juga terpantau cukup ramai pada awal perdagangan. Volume transaksi mencapai 4,04 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp2,46 triliun dari total 336.718 kali transaksi.
Pergerakan rupiah dan IHSG yang berbeda arah pada awal pekan menunjukkan respons pasar yang beragam terhadap sentimen global dan regional. Di satu sisi, tekanan terhadap mata uang Asia masih berlanjut seiring kuatnya dolar AS, namun di sisi lain minat investor terhadap pasar saham domestik tetap terjaga.
Kondisi ini menjadi perhatian pelaku pasar karena nilai tukar rupiah memiliki pengaruh terhadap berbagai sektor ekonomi, terutama yang bergantung pada impor dan pembiayaan dalam mata uang asing. Sementara itu, penguatan IHSG memberikan sinyal bahwa sebagian investor masih melihat peluang di pasar saham Indonesia.
Pelaku pasar akan terus mencermati perkembangan ekonomi global, arah pergerakan dolar AS, serta sentimen domestik yang berpotensi memengaruhi pergerakan rupiah dan pasar saham dalam beberapa waktu ke depan. (kpc)





PEKANBARU–Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan Senin (22/6/2026), sejalan dengan tekanan yang dialami mayoritas mata uang Asia. Di tengah pelemahan rupiah, pasar saham domestik justru bergerak positif dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat lebih dari 0,5 persen pada sesi pagi.
Berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 09.13 WIB, rupiah berada di level Rp17.813 per dolar AS. Posisi tersebut melemah 0,05 persen dibandingkan penutupan perdagangan akhir pekan lalu yang berada di Rp17.804 per dolar AS.
Pelemahan rupiah terjadi bersamaan dengan tren negatif yang melanda sebagian besar mata uang Asia terhadap dolar AS. Won Korea Selatan mencatat pelemahan terdalam dengan penurunan 0,47 persen.
Selain itu, ringgit Malaysia terkoreksi 0,24 persen, peso Filipina melemah 0,21 persen, yen Jepang turun 0,16 persen, dolar Taiwan melemah 0,08 persen, dan dolar Singapura juga turun 0,08 persen.
Yuan China mengalami pelemahan sebesar 0,05 persen, setara dengan rupiah. Sementara itu, dolar Hong Kong terkoreksi 0,02 persen terhadap mata uang AS.
Di kawasan Asia, hanya baht Thailand yang mampu mencatat penguatan terhadap dolar AS dengan kenaikan tipis 0,02 persen pada perdagangan pagi.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan mata uang Negeri Paman Sam terhadap sejumlah mata uang utama dunia berada di level 100,84. Angka tersebut relatif tidak berubah dibandingkan posisi pada akhir pekan lalu.
Di pasar modal, kondisi berbeda terlihat pada pergerakan IHSG yang berada di zona hijau sejak awal perdagangan. Hingga pukul 09.26 WIB, indeks tercatat naik 32,122 poin atau 0,52 persen ke level 6.209,262.
Meski menguat, pergerakan IHSG sempat mengalami fluktuasi. Setelah dibuka di level 6.217,049, indeks sempat menyentuh posisi tertinggi di 6.226,717 sebelum terkoreksi hingga level terendah 6.156,349.
Data perdagangan menunjukkan mayoritas saham bergerak menguat. Sebanyak 315 saham mencatat kenaikan harga, sementara 232 saham melemah dan 185 saham lainnya bergerak stagnan.
Aktivitas transaksi di Bursa Efek Indonesia juga terpantau cukup ramai pada awal perdagangan. Volume transaksi mencapai 4,04 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp2,46 triliun dari total 336.718 kali transaksi.
Pergerakan rupiah dan IHSG yang berbeda arah pada awal pekan menunjukkan respons pasar yang beragam terhadap sentimen global dan regional. Di satu sisi, tekanan terhadap mata uang Asia masih berlanjut seiring kuatnya dolar AS, namun di sisi lain minat investor terhadap pasar saham domestik tetap terjaga.
Kondisi ini menjadi perhatian pelaku pasar karena nilai tukar rupiah memiliki pengaruh terhadap berbagai sektor ekonomi, terutama yang bergantung pada impor dan pembiayaan dalam mata uang asing. Sementara itu, penguatan IHSG memberikan sinyal bahwa sebagian investor masih melihat peluang di pasar saham Indonesia.
Pelaku pasar akan terus mencermati perkembangan ekonomi global, arah pergerakan dolar AS, serta sentimen domestik yang berpotensi memengaruhi pergerakan rupiah dan pasar saham dalam beberapa waktu ke depan. (kpc)