
JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada pembukaan perdagangan Kamis (25/6/2026). Mata uang Garuda dibuka melemah seiring berlanjutnya penguatan dolar Amerika Serikat (AS) di pasar global.
Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.05 WIB di pasar spot exchange, rupiah tercatat berada di level Rp17.963 per dolar AS atau melemah 11 poin (0,06 persen) dibandingkan posisi sebelumnya.
Pelemahan ini melanjutkan tren negatif sehari sebelumnya. Pada penutupan perdagangan Rabu (24/6/2026), rupiah juga terkoreksi cukup dalam, turun 93 poin dan berakhir di level Rp17.952 per dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah datang seiring menguatnya dolar AS yang mencatat kenaikan untuk hari ketiga berturut-turut. Pelaku pasar global tengah mengantisipasi arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed), yang diperkirakan masih membuka ruang pengetatan moneter pada tahun ini.

Mengutip Yahoo Finance, indeks dolar AS (DXY) naik 0,19 persen ke posisi 101,58 setelah sempat menyentuh level 101,80, tertinggi dalam 13 bulan terakhir sejak Mei 2025.
Penguatan dolar tidak hanya menekan rupiah, tetapi juga mayoritas mata uang utama dunia. Euro melemah 0,21 persen ke level US$1,1357, sementara poundsterling Inggris turun 0,29 persen menjadi US$1,3165.
Tekanan terhadap poundsterling semakin besar setelah muncul kabar pengunduran diri Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, yang memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas politik di negara tersebut.
Di kawasan Asia, yen Jepang juga ikut tertekan dan melemah 0,13 persen ke level 161,78 per dolar AS.
Sejumlah analis menilai dolar AS masih berada dalam jalur penguatan dan berpotensi mencatat reli terpanjang sejak awal bulan. Dalam enam sesi perdagangan terakhir, mata uang Negeri Paman Sam itu telah menguat dalam lima sesi.
Analis Barclays menyebut model penyeimbangan mereka masih memberikan sinyal beli moderat terhadap dolar AS dibandingkan sebagian besar mata uang utama dunia.
"Secara keseluruhan, sinyal tersebut menunjukkan belum adanya bias arah yang kuat terhadap seluruh mata uang utama menjelang akhir Juni," tulis analis Barclays dalam laporannya.
Kondisi ini membuat rupiah dan sejumlah mata uang negara berkembang masih berisiko menghadapi tekanan lanjutan dalam jangka pendek, terutama jika ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed semakin menguat. (**)
Sumber: Investor.id





JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada pembukaan perdagangan Kamis (25/6/2026). Mata uang Garuda dibuka melemah seiring berlanjutnya penguatan dolar Amerika Serikat (AS) di pasar global.
Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.05 WIB di pasar spot exchange, rupiah tercatat berada di level Rp17.963 per dolar AS atau melemah 11 poin (0,06 persen) dibandingkan posisi sebelumnya.
Pelemahan ini melanjutkan tren negatif sehari sebelumnya. Pada penutupan perdagangan Rabu (24/6/2026), rupiah juga terkoreksi cukup dalam, turun 93 poin dan berakhir di level Rp17.952 per dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah datang seiring menguatnya dolar AS yang mencatat kenaikan untuk hari ketiga berturut-turut. Pelaku pasar global tengah mengantisipasi arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed), yang diperkirakan masih membuka ruang pengetatan moneter pada tahun ini.
Mengutip Yahoo Finance, indeks dolar AS (DXY) naik 0,19 persen ke posisi 101,58 setelah sempat menyentuh level 101,80, tertinggi dalam 13 bulan terakhir sejak Mei 2025.
Penguatan dolar tidak hanya menekan rupiah, tetapi juga mayoritas mata uang utama dunia. Euro melemah 0,21 persen ke level US$1,1357, sementara poundsterling Inggris turun 0,29 persen menjadi US$1,3165.
Tekanan terhadap poundsterling semakin besar setelah muncul kabar pengunduran diri Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, yang memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas politik di negara tersebut.
Di kawasan Asia, yen Jepang juga ikut tertekan dan melemah 0,13 persen ke level 161,78 per dolar AS.
Sejumlah analis menilai dolar AS masih berada dalam jalur penguatan dan berpotensi mencatat reli terpanjang sejak awal bulan. Dalam enam sesi perdagangan terakhir, mata uang Negeri Paman Sam itu telah menguat dalam lima sesi.
Analis Barclays menyebut model penyeimbangan mereka masih memberikan sinyal beli moderat terhadap dolar AS dibandingkan sebagian besar mata uang utama dunia.
"Secara keseluruhan, sinyal tersebut menunjukkan belum adanya bias arah yang kuat terhadap seluruh mata uang utama menjelang akhir Juni," tulis analis Barclays dalam laporannya.
Kondisi ini membuat rupiah dan sejumlah mata uang negara berkembang masih berisiko menghadapi tekanan lanjutan dalam jangka pendek, terutama jika ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed semakin menguat. (**)
Sumber: Investor.id