logo
Banjir Dahsyat Terjang Perbatasan Nepal-Tibet, Sedikitnya 97 Tewas dan 384 Wisat Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Rupiah Nyaris Stagnan di Rp17.725 per Dolar AS, Pasar Menanti Sinyal Ketua The F Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi 549 Warga Pelalawan Terserang ISPA, Kabut Asap Karhutla Mulai Mengancam Kesehata Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Jelang Aksi 27 Agustus: Polri Perketat Jalur Masuk Jakarta, Massa dari Sumatera Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Kabut Asap Mulai Selimuti Rohil, Tiga Hotspot Terdeteksi, Pemerintah Diminta Tak Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi 37 Orang Ditetapkan Jadi Tersangka Karhutla di Riau, Polda: Semuanya Pelaku Pero Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Puluhan Tahun Dinanti, Jalan Poros Kuba Rusak Parah, Warga Tagih Keseriusan Peme Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Polda Riau Gulung Sindikat Curanmor Lintas Provinsi: 6 Tersangka Ditangkap, 44 M Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / Hukum / PEKANBARU
Ahli Psikologi Forensik: Atasan Tak Bisa Dipidana Hanya Karena Bawahan Berbuat Korupsi
Saksi ahli psikologi forensik, Reza Indragiri Amriel, saat disumpah sebelum memberikan keterangan dalam sidang Abdul Wahid.
Ahli Psikologi Forensik: Atasan Tak Bisa Dipidana Hanya Karena Bawahan Berbuat Korupsi
Editor: Arya Mahendra | Penulis: Rico Syahputra
Rubrik: hukum | 25 Juni 2026 | 21:24:25

PEKANBARU – Saksi ahli psikologi forensik, Reza Indragiri Amriel, menegaskan bahwa pertanggungjawaban pidana seseorang tidak dapat ditentukan semata-mata karena adanya hubungan jabatan atau kedekatan dengan pelaku tindak pidana. Dalam perspektif psikologi forensik, harus terdapat bukti mengenai pengetahuan dan kehendak seseorang terhadap perbuatan pidana yang terjadi.

Hal itu disampaikan Reza saat memberikan keterangan sebagai saksi ahli yang dihadirkan tim penasihat hukum Gubernur Riau nonaktif Abdul Wahid dalam sidang dugaan korupsi di lingkungan Dinas PUPR-PKPP Provinsi Riau di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Pekanbaru, Kamis (25/6/2026) sore.

Dalam persidangan, Reza diminta menjelaskan sejauh mana seorang kepala daerah dapat dikaitkan dengan dugaan tindak pidana yang dilakukan tenaga ahli yang diangkatnya.

iklan-view

Menurut Reza, psikologi forensik mengenal dua unsur penting yang harus diuji untuk menilai pertanggungjawaban pidana seseorang, yakni cognitive competence atau kompetensi kognitif dan volitional competence atau kompetensi kehendak.

"Apakah seseorang mengetahui bahwa suatu perbuatan merupakan tindak pidana, dan apakah yang bersangkutan memiliki kehendak agar perbuatan pidana itu terjadi. Dua unsur itu yang harus dibuktikan," ujarnya di hadapan majelis hakim.

Ia menjelaskan, kompetensi kognitif berkaitan dengan pengetahuan seseorang terhadap peristiwa atau tindakan yang melanggar hukum. Sementara kompetensi kehendak menyangkut ada atau tidaknya niat maupun kemauan seseorang terhadap terjadinya tindak pidana tersebut.

"Dari sudut pandang psikologi forensik, seseorang dapat dimintai pertanggungjawaban pidana apabila terbukti memiliki pengetahuan sekaligus kehendak terhadap perbuatan pidana yang terjadi," katanya.

Reza juga menanggapi pertanyaan mengenai kemungkinan seorang atasan dimintai pertanggungjawaban atas tindak pidana yang dilakukan bawahannya. Menurut dia, dalam kajian psikologi forensik terdapat konsep superior responsibility doctrine yang awalnya berkembang dalam lingkungan militer.

Konsep tersebut membahas sejauh mana seorang pimpinan dapat dimintai pertanggungjawaban atas kesalahan yang dilakukan oleh pihak yang berada di bawah komandonya.

Namun, Reza menyebut terdapat perbedaan pandangan mengenai penerapan konsep tersebut di lingkungan sipil. Sebagian kalangan menilai konsep itu dapat diterapkan di luar institusi militer, sementara kelompok lain berpandangan sebaliknya karena adanya perbedaan karakter organisasi antara militer dan sipil.

"Ada juga pandangan ketiga yang menilai penerapannya harus dilihat secara kasus per kasus dan tidak bisa digeneralisasi," ujarnya.

Terkait penerapannya di Indonesia, Reza mengaku belum menemukan ketentuan hukum yang secara tegas mengatur apakah konsep superior responsibility defense dapat diterapkan atau tidak dalam perkara pidana.

Meski demikian, berdasarkan pengamatannya terhadap sejumlah kasus yang pernah terjadi, ia menilai mekanisme pertanggungjawaban pidana di Indonesia umumnya berhenti pada pelaku yang secara langsung melakukan tindak pidana.

"Saya tidak mengatakan konsep itu tidak bisa diterapkan, tetapi berdasarkan berbagai kasus yang saya amati, konsep tersebut tidak diterapkan di Indonesia," katanya.

Ia mencontohkan sejumlah perkara yang melibatkan pejabat negara maupun aparat penegak hukum, di mana proses hukum hanya menjerat pelaku utama tanpa diikuti pertanggungjawaban pidana terhadap atasan mereka.

Karena itu, Reza berpendapat hubungan struktural antara atasan dan bawahan tidak secara otomatis menjadi dasar untuk membebankan pertanggungjawaban pidana kepada seorang pimpinan tanpa adanya bukti mengenai pengetahuan maupun kehendak atas tindak pidana yang dilakukan bawahannya. (ric)

Home / Hukum
Ahli Psikologi Forensik: Atasan Tak Bisa Dipidana Hanya Karena Bawahan Berbuat Korupsi
Editor: Arya Mahendra | Penulis: Rico Syahputra
Rubrik: hukum | 25 Juni 2026 | 21:24:25
Ahli Psikologi Forensik: Atasan Tak Bisa Dipidana Hanya Karena Bawahan Berbuat Korupsi
Saksi ahli psikologi forensik, Reza Indragiri Amriel, saat disumpah sebelum memberikan keterangan dalam sidang Abdul Wahid.

PEKANBARU – Saksi ahli psikologi forensik, Reza Indragiri Amriel, menegaskan bahwa pertanggungjawaban pidana seseorang tidak dapat ditentukan semata-mata karena adanya hubungan jabatan atau kedekatan dengan pelaku tindak pidana. Dalam perspektif psikologi forensik, harus terdapat bukti mengenai pengetahuan dan kehendak seseorang terhadap perbuatan pidana yang terjadi.

Hal itu disampaikan Reza saat memberikan keterangan sebagai saksi ahli yang dihadirkan tim penasihat hukum Gubernur Riau nonaktif Abdul Wahid dalam sidang dugaan korupsi di lingkungan Dinas PUPR-PKPP Provinsi Riau di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Pekanbaru, Kamis (25/6/2026) sore.

Dalam persidangan, Reza diminta menjelaskan sejauh mana seorang kepala daerah dapat dikaitkan dengan dugaan tindak pidana yang dilakukan tenaga ahli yang diangkatnya.

Menurut Reza, psikologi forensik mengenal dua unsur penting yang harus diuji untuk menilai pertanggungjawaban pidana seseorang, yakni cognitive competence atau kompetensi kognitif dan volitional competence atau kompetensi kehendak.

"Apakah seseorang mengetahui bahwa suatu perbuatan merupakan tindak pidana, dan apakah yang bersangkutan memiliki kehendak agar perbuatan pidana itu terjadi. Dua unsur itu yang harus dibuktikan," ujarnya di hadapan majelis hakim.

Ia menjelaskan, kompetensi kognitif berkaitan dengan pengetahuan seseorang terhadap peristiwa atau tindakan yang melanggar hukum. Sementara kompetensi kehendak menyangkut ada atau tidaknya niat maupun kemauan seseorang terhadap terjadinya tindak pidana tersebut.

"Dari sudut pandang psikologi forensik, seseorang dapat dimintai pertanggungjawaban pidana apabila terbukti memiliki pengetahuan sekaligus kehendak terhadap perbuatan pidana yang terjadi," katanya.

Reza juga menanggapi pertanyaan mengenai kemungkinan seorang atasan dimintai pertanggungjawaban atas tindak pidana yang dilakukan bawahannya. Menurut dia, dalam kajian psikologi forensik terdapat konsep superior responsibility doctrine yang awalnya berkembang dalam lingkungan militer.

Konsep tersebut membahas sejauh mana seorang pimpinan dapat dimintai pertanggungjawaban atas kesalahan yang dilakukan oleh pihak yang berada di bawah komandonya.

Namun, Reza menyebut terdapat perbedaan pandangan mengenai penerapan konsep tersebut di lingkungan sipil. Sebagian kalangan menilai konsep itu dapat diterapkan di luar institusi militer, sementara kelompok lain berpandangan sebaliknya karena adanya perbedaan karakter organisasi antara militer dan sipil.

"Ada juga pandangan ketiga yang menilai penerapannya harus dilihat secara kasus per kasus dan tidak bisa digeneralisasi," ujarnya.

Terkait penerapannya di Indonesia, Reza mengaku belum menemukan ketentuan hukum yang secara tegas mengatur apakah konsep superior responsibility defense dapat diterapkan atau tidak dalam perkara pidana.

Meski demikian, berdasarkan pengamatannya terhadap sejumlah kasus yang pernah terjadi, ia menilai mekanisme pertanggungjawaban pidana di Indonesia umumnya berhenti pada pelaku yang secara langsung melakukan tindak pidana.

"Saya tidak mengatakan konsep itu tidak bisa diterapkan, tetapi berdasarkan berbagai kasus yang saya amati, konsep tersebut tidak diterapkan di Indonesia," katanya.

Ia mencontohkan sejumlah perkara yang melibatkan pejabat negara maupun aparat penegak hukum, di mana proses hukum hanya menjerat pelaku utama tanpa diikuti pertanggungjawaban pidana terhadap atasan mereka.

Karena itu, Reza berpendapat hubungan struktural antara atasan dan bawahan tidak secara otomatis menjadi dasar untuk membebankan pertanggungjawaban pidana kepada seorang pimpinan tanpa adanya bukti mengenai pengetahuan maupun kehendak atas tindak pidana yang dilakukan bawahannya. (ric)