
CARACAS – Venezuela dilanda bencana besar setelah dua gempa bumi dahsyat berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5 mengguncang negara Amerika Selatan itu pada Rabu (24/6/2026) waktu setempat. Sedikitnya 32 orang dilaporkan tewas, sekitar 700 lainnya terluka, sementara ribuan warga masih dinyatakan hilang di tengah operasi penyelamatan yang terus berlangsung.
Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) mencatat gempa pertama berkekuatan magnitudo 7,2 terjadi pada pukul 18.04 waktu setempat di dekat San Felipe, sekitar 280 kilometer sebelah barat Caracas. Kurang dari satu menit kemudian, gempa kedua yang lebih kuat dengan magnitudo 7,5 mengguncang wilayah yang sama, memicu kerusakan luas di sejumlah kota.
Guncangan kuat menyebabkan puluhan bangunan runtuh di Caracas dan wilayah sekitarnya. Negara bagian La Guaira, Miranda, Aragua, Carabobo, serta Falcon dilaporkan mengalami kerusakan parah. Bandara Internasional Maiquetía bahkan terpaksa ditutup total akibat kerusakan signifikan pada fasilitasnya.
Pelaksana Tugas Presiden Venezuela, Delcy Rodríguez, segera menetapkan status darurat nasional dan mengerahkan seluruh sumber daya negara untuk mempercepat upaya penyelamatan.

"Puluhan bangunan telah runtuh dan saat ini kami melakukan operasi penyelamatan secara intensif untuk menyelamatkan sebanyak mungkin nyawa," ujar Rodríguez dalam pidato yang disiarkan televisi pemerintah.
Situasi di Caracas digambarkan sangat mencekam. Rekaman video menunjukkan petugas darurat berjibaku di antara reruntuhan beton dan baja, sementara keluarga korban berusaha mencari kerabat yang diduga masih terjebak di bawah puing-puing.

Sebuah situs pelacakan orang hilang yang dibuat kelompok oposisi mencatat lebih dari 6.600 orang belum diketahui keberadaannya hanya beberapa jam setelah gempa terjadi.
USGS memperingatkan dampak bencana ini berpotensi jauh lebih besar. Berdasarkan pemodelan prediktif lembaga tersebut, terdapat kemungkinan 44 persen jumlah korban jiwa dapat melampaui 10.000 orang. Risiko gempa susulan kuat, tanah longsor, dan likuifaksi juga masih mengancam wilayah terdampak.
"Ini adalah gempa terkuat yang pernah saya rasakan seumur hidup," kata jurnalis BBC Mundo, Nicole Koster, yang berada di lantai tujuh sebuah apartemen di pusat Caracas saat gempa terjadi.
Menurutnya, guncangan begitu keras hingga ia mengira bangunan tempat tinggalnya akan runtuh. Dari luar gedung, ia mendengar suara-suara warga yang meminta pertolongan dari balik reruntuhan.
Kesaksian serupa disampaikan Maria Alejandra, warga Caracas. "Ketika kami turun ke bawah, pemandangannya seperti film horor," ujarnya.
Maria Romero, warga berusia 80 tahun di Caracas selatan, bahkan menyebut gempa kali ini lebih mengerikan dibanding gempa besar yang pernah melanda kota tersebut pada 1967.
"Polisi membantu saya keluar dari rumah. Gempa ini lebih buruk daripada yang terjadi pada tahun 1967," katanya.
Bencana semakin diperparah oleh terputusnya aliran listrik, layanan internet, dan penghentian distribusi gas alam ke ribuan rumah sebagai langkah pencegahan untuk menghindari ledakan maupun kebakaran.
Menteri Dalam Negeri Venezuela, Diosdado Cabello, mengatakan seluruh unsur keamanan, perlindungan sipil, pemadam kebakaran, relawan, dan aparat kepolisian telah dikerahkan ke lokasi terdampak.
Hingga Kamis dini hari, sedikitnya 20 gempa susulan tercatat mengguncang wilayah tersebut.
Gelombang solidaritas internasional pun mulai mengalir. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan negaranya siap memberikan bantuan kemanusiaan, termasuk mengirim tim pencarian dan penyelamatan, pasokan medis, serta dukungan logistik.
Selain Amerika Serikat, sejumlah negara seperti Brasil, Meksiko, Kolombia, Panama, Turki, Kuba, Nikaragua, Qatar, Inggris, Yordania, Barbados, dan El Salvador juga menyatakan kesiapan membantu Venezuela. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan sejumlah lembaga keuangan internasional turut menawarkan dukungan bagi penanganan pascabencana.
Seluruh WNI Selamat
Di tengah situasi darurat tersebut, pemerintah Indonesia memastikan seluruh warga negara Indonesia (WNI) yang berada di Venezuela dalam kondisi aman. Kementerian Luar Negeri RI menyebut tiga WNI yang terdata di negara itu selamat, sementara gedung KBRI Caracas maupun Wisma Duta tidak mengalami kerusakan berarti.
Secara geologis, Venezuela memang berada di kawasan rawan gempa karena terletak di pertemuan Lempeng Karibia dan Lempeng Amerika Selatan. USGS menjelaskan gempa kali ini dipicu pergeseran patahan dangkal yang kompleks di sepanjang batas kedua lempeng tersebut.
Dengan ribuan orang masih belum ditemukan dan ancaman gempa susulan terus menghantui, Venezuela kini berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan korban yang kemungkinan masih hidup di bawah reruntuhan. Operasi pencarian dan evakuasi diperkirakan akan berlangsung selama beberapa hari ke depan. (**)
Sumber: CNN/BBC





CARACAS – Venezuela dilanda bencana besar setelah dua gempa bumi dahsyat berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5 mengguncang negara Amerika Selatan itu pada Rabu (24/6/2026) waktu setempat. Sedikitnya 32 orang dilaporkan tewas, sekitar 700 lainnya terluka, sementara ribuan warga masih dinyatakan hilang di tengah operasi penyelamatan yang terus berlangsung.
Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) mencatat gempa pertama berkekuatan magnitudo 7,2 terjadi pada pukul 18.04 waktu setempat di dekat San Felipe, sekitar 280 kilometer sebelah barat Caracas. Kurang dari satu menit kemudian, gempa kedua yang lebih kuat dengan magnitudo 7,5 mengguncang wilayah yang sama, memicu kerusakan luas di sejumlah kota.
Guncangan kuat menyebabkan puluhan bangunan runtuh di Caracas dan wilayah sekitarnya. Negara bagian La Guaira, Miranda, Aragua, Carabobo, serta Falcon dilaporkan mengalami kerusakan parah. Bandara Internasional Maiquetía bahkan terpaksa ditutup total akibat kerusakan signifikan pada fasilitasnya.
Pelaksana Tugas Presiden Venezuela, Delcy Rodríguez, segera menetapkan status darurat nasional dan mengerahkan seluruh sumber daya negara untuk mempercepat upaya penyelamatan.
"Puluhan bangunan telah runtuh dan saat ini kami melakukan operasi penyelamatan secara intensif untuk menyelamatkan sebanyak mungkin nyawa," ujar Rodríguez dalam pidato yang disiarkan televisi pemerintah.
Situasi di Caracas digambarkan sangat mencekam. Rekaman video menunjukkan petugas darurat berjibaku di antara reruntuhan beton dan baja, sementara keluarga korban berusaha mencari kerabat yang diduga masih terjebak di bawah puing-puing.

Sebuah situs pelacakan orang hilang yang dibuat kelompok oposisi mencatat lebih dari 6.600 orang belum diketahui keberadaannya hanya beberapa jam setelah gempa terjadi.
USGS memperingatkan dampak bencana ini berpotensi jauh lebih besar. Berdasarkan pemodelan prediktif lembaga tersebut, terdapat kemungkinan 44 persen jumlah korban jiwa dapat melampaui 10.000 orang. Risiko gempa susulan kuat, tanah longsor, dan likuifaksi juga masih mengancam wilayah terdampak.
"Ini adalah gempa terkuat yang pernah saya rasakan seumur hidup," kata jurnalis BBC Mundo, Nicole Koster, yang berada di lantai tujuh sebuah apartemen di pusat Caracas saat gempa terjadi.
Menurutnya, guncangan begitu keras hingga ia mengira bangunan tempat tinggalnya akan runtuh. Dari luar gedung, ia mendengar suara-suara warga yang meminta pertolongan dari balik reruntuhan.
Kesaksian serupa disampaikan Maria Alejandra, warga Caracas. "Ketika kami turun ke bawah, pemandangannya seperti film horor," ujarnya.
Maria Romero, warga berusia 80 tahun di Caracas selatan, bahkan menyebut gempa kali ini lebih mengerikan dibanding gempa besar yang pernah melanda kota tersebut pada 1967.
"Polisi membantu saya keluar dari rumah. Gempa ini lebih buruk daripada yang terjadi pada tahun 1967," katanya.
Bencana semakin diperparah oleh terputusnya aliran listrik, layanan internet, dan penghentian distribusi gas alam ke ribuan rumah sebagai langkah pencegahan untuk menghindari ledakan maupun kebakaran.
Menteri Dalam Negeri Venezuela, Diosdado Cabello, mengatakan seluruh unsur keamanan, perlindungan sipil, pemadam kebakaran, relawan, dan aparat kepolisian telah dikerahkan ke lokasi terdampak.
Hingga Kamis dini hari, sedikitnya 20 gempa susulan tercatat mengguncang wilayah tersebut.
Gelombang solidaritas internasional pun mulai mengalir. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan negaranya siap memberikan bantuan kemanusiaan, termasuk mengirim tim pencarian dan penyelamatan, pasokan medis, serta dukungan logistik.
Selain Amerika Serikat, sejumlah negara seperti Brasil, Meksiko, Kolombia, Panama, Turki, Kuba, Nikaragua, Qatar, Inggris, Yordania, Barbados, dan El Salvador juga menyatakan kesiapan membantu Venezuela. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan sejumlah lembaga keuangan internasional turut menawarkan dukungan bagi penanganan pascabencana.
Seluruh WNI Selamat
Di tengah situasi darurat tersebut, pemerintah Indonesia memastikan seluruh warga negara Indonesia (WNI) yang berada di Venezuela dalam kondisi aman. Kementerian Luar Negeri RI menyebut tiga WNI yang terdata di negara itu selamat, sementara gedung KBRI Caracas maupun Wisma Duta tidak mengalami kerusakan berarti.
Secara geologis, Venezuela memang berada di kawasan rawan gempa karena terletak di pertemuan Lempeng Karibia dan Lempeng Amerika Selatan. USGS menjelaskan gempa kali ini dipicu pergeseran patahan dangkal yang kompleks di sepanjang batas kedua lempeng tersebut.
Dengan ribuan orang masih belum ditemukan dan ancaman gempa susulan terus menghantui, Venezuela kini berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan korban yang kemungkinan masih hidup di bawah reruntuhan. Operasi pencarian dan evakuasi diperkirakan akan berlangsung selama beberapa hari ke depan. (**)
Sumber: CNN/BBC