
PEKANBARU-Di tengah banyaknya tren kuliner modern yang menawarkan beragam makanan kekinian, kuliner tradisional masih memiliki tempat di hati masyarakat. Salah satunya tempe mendoan khas Banyumas yang kini hadir menyapa lidah warga Pekanbaru di Festival Nurlela.
Stan Tempe Mendoan Banyumas menjadi salah satu pilihan kuliner yang menarik perhatian pengunjung. Aroma gurih dari adonan tepung dan tempe yang digoreng cepat membuat stan tersebut ramai didatangi pembeli.
Pemilik usaha, Febri, mengatakan kehadiran tempe mendoan di Pekanbaru menjadi bagian dari upaya mempertahankan cita rasa kuliner tradisional agar tetap dikenal, khususnya di tengah semakin beragamnya pilihan makanan modern.

Febri merupakan perempuan asal Medan yang membawa resep mendoan warisan keluarga untuk diperkenalkan kepada masyarakat Pekanbaru.
Menurutnya, tempe mendoan memiliki karakter yang berbeda dengan tempe goreng tepung pada umumnya. Proses pengolahan yang sederhana justru menjadi ciri khas makanan tradisional tersebut.
“Banyak yang mengira mendoan itu cuma tempe goreng biasa. Padahal, mendoan Banyumas asli itu punya karakter sendiri. Kata ‘mendo’ artinya setengah matang atau lembek,” ujar Febri.
Ia menjelaskan, tempe yang digunakan untuk mendoan dibuat tipis. Tempe kemudian dicelupkan ke dalam adonan tepung yang telah diracik menggunakan berbagai bumbu rempah dan daun bawang.
Mendoan selanjutnya digoreng dalam waktu singkat menggunakan minyak yang benar-benar panas. Proses tersebut membuat bagian tepung matang, sementara tekstur tempe tetap lembut dan menjadi ciri khas mendoan Banyumas.
“Tempenya khusus dibuat tipis-tipis, tepungnya pakai racikan bumbu rempah dan daun bawang yang melimpah, lalu digoreng sangat cepat di minyak yang benar-benar panas,” katanya.
Untuk menambah cita rasa, mendoan disajikan bersama sambal kecap dengan perpaduan rasa pedas dan manis. Sambal tersebut dilengkapi irisan cabai rawit hijau dan bawang merah.
Bagi Febri, mempertahankan kuliner tradisional bukan sekadar menjual makanan. Ada cita rasa, resep keluarga, serta budaya yang ikut diperkenalkan kepada masyarakat melalui setiap sajian.
Kehadiran mendoan di Pasar Nurlela juga menunjukkan bahwa makanan tradisional masih mampu bersaing di tengah maraknya kuliner modern. Kesederhanaan bahan dan proses pengolahannya justru menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang ingin menikmati makanan dengan cita rasa khas.



PEKANBARU-Di tengah banyaknya tren kuliner modern yang menawarkan beragam makanan kekinian, kuliner tradisional masih memiliki tempat di hati masyarakat. Salah satunya tempe mendoan khas Banyumas yang kini hadir menyapa lidah warga Pekanbaru di Festival Nurlela.
Stan Tempe Mendoan Banyumas menjadi salah satu pilihan kuliner yang menarik perhatian pengunjung. Aroma gurih dari adonan tepung dan tempe yang digoreng cepat membuat stan tersebut ramai didatangi pembeli.
Pemilik usaha, Febri, mengatakan kehadiran tempe mendoan di Pekanbaru menjadi bagian dari upaya mempertahankan cita rasa kuliner tradisional agar tetap dikenal, khususnya di tengah semakin beragamnya pilihan makanan modern.
Febri merupakan perempuan asal Medan yang membawa resep mendoan warisan keluarga untuk diperkenalkan kepada masyarakat Pekanbaru.
Menurutnya, tempe mendoan memiliki karakter yang berbeda dengan tempe goreng tepung pada umumnya. Proses pengolahan yang sederhana justru menjadi ciri khas makanan tradisional tersebut.
“Banyak yang mengira mendoan itu cuma tempe goreng biasa. Padahal, mendoan Banyumas asli itu punya karakter sendiri. Kata ‘mendo’ artinya setengah matang atau lembek,” ujar Febri.
Ia menjelaskan, tempe yang digunakan untuk mendoan dibuat tipis. Tempe kemudian dicelupkan ke dalam adonan tepung yang telah diracik menggunakan berbagai bumbu rempah dan daun bawang.
Mendoan selanjutnya digoreng dalam waktu singkat menggunakan minyak yang benar-benar panas. Proses tersebut membuat bagian tepung matang, sementara tekstur tempe tetap lembut dan menjadi ciri khas mendoan Banyumas.
“Tempenya khusus dibuat tipis-tipis, tepungnya pakai racikan bumbu rempah dan daun bawang yang melimpah, lalu digoreng sangat cepat di minyak yang benar-benar panas,” katanya.
Untuk menambah cita rasa, mendoan disajikan bersama sambal kecap dengan perpaduan rasa pedas dan manis. Sambal tersebut dilengkapi irisan cabai rawit hijau dan bawang merah.
Bagi Febri, mempertahankan kuliner tradisional bukan sekadar menjual makanan. Ada cita rasa, resep keluarga, serta budaya yang ikut diperkenalkan kepada masyarakat melalui setiap sajian.
Kehadiran mendoan di Pasar Nurlela juga menunjukkan bahwa makanan tradisional masih mampu bersaing di tengah maraknya kuliner modern. Kesederhanaan bahan dan proses pengolahannya justru menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang ingin menikmati makanan dengan cita rasa khas.