logo
Terjadi di Pekanbaru: Sopir Antre Bio Solar hingga 10 Jam, Masalahnya di Kuota a Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Amplop Suhardiman untuk Raja Juli Belum Berujung Pemanggilan, KPK Fokus Bongkar Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Dentuman Anak Krakatau Menggelegar hingga Jabar, BNPB: Jangan Panik, Belum Ada P Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Tol Palindra Tertutup Kabut Asap, Bus Damri Tabrak ALS, Belasan Penumpang Luka Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Menteri HAM Dorong Kasasi atas Pembatalan Pemecatan Prajurit TNI di Kasus Penyir Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Solar Langka, Kecemasan yang Mengular Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi MTQ Nasional ke-31 di Semarang Diikuti 2.242 Peserta dari Seluruh Indonesia Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Pertamina Patra Niaga Tindak Tegas Pelanggaran Penyaluran BBM Subsidi di Sumatra Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / News / Pekanbaru
Lemang di Pinggir Jalan Pekanbaru, Tradisi Kuliner yang Tetap Bertahan
Penjual lemang yang ada di pinggir Jalan Sudirman, Pekanbaru menunggu pembeli (ft:putri/pekanbarutv)
Lemang di Pinggir Jalan Pekanbaru, Tradisi Kuliner yang Tetap Bertahan
Editor: Ridho Haztil | Penulis: widya putri sugianto
Rubrik: news | 27 Agustus 2026 | 19:00:41

PEKANBARU-Menjelang sore, aroma lemang yang dibakar dalam ruas bambu mulai tercium dari sejumlah lapak sederhana di pinggir jalan Kota Pekanbaru.

Beberapa batang lemang yang baru matang disusun berjajar menunggu pembeli. Pemandangan tersebut menjadi bagian dari aktivitas kuliner sore di Pekanbaru. Di tengah menjamurnya makanan modern, lemang tetap memiliki tempat bagi masyarakat yang ingin menikmati cita rasa tradisional.

Bagi sebagian pembeli, lemang bukan sekadar makanan. Ada cita rasa masa lalu dan tradisi keluarga yang ikut hadir dalam setiap potongannya.

iklan-view

Salah seorang pedagang lemang, Arni, mengatakan aktivitas berjualan sudah dijalaninya selama sekitar 10 tahun.

Menurutnya, pembeli biasanya mulai ramai menjelang sore, terutama ketika masyarakat pulang bekerja.

“Paling ramai itu pas jam pulang kerja, sekitar jam empat sore sampai malam. Banyak yang mampir beli lemang hangat untuk camilan di rumah atau dibawa pulang untuk keluarga,” ujar Arni.

Harga lemang yang dijual berkisar Rp45.000 hingga Rp60.000 per batang. Pembeli dapat memilih lemang yang baru matang dan masih hangat dari tungku.

Bagi pedagang, berjualan lemang bukan hanya soal mencari penghasilan. Aktivitas tersebut sekaligus menjadi cara mempertahankan makanan tradisional agar tetap dikenal masyarakat.

Tradisi yang Bertahan di Tengah Kota

Lemang merupakan salah satu makanan tradisional yang proses pembuatannya masih mempertahankan cara pengolahan secara sederhana.

Beras ketan dimasukkan ke dalam bambu yang telah dilapisi daun pisang. Setelah itu, bambu dibakar hingga lemang matang.

Proses tersebut membutuhkan waktu dan ketelatenan. Cara memasaknya juga menjadi bagian penting dari karakter lemang yang sulit dipisahkan dari makanan tersebut.

Di tengah kehidupan perkotaan yang semakin praktis, makanan seperti lemang menghadapi tantangan untuk tetap bertahan.

Masyarakat kini memiliki semakin banyak pilihan makanan. Namun, keberadaan pedagang lemang di ruang-ruang publik menunjukkan bahwa kuliner tradisional masih memiliki pasar.

Bukan Sekadar Jajanan

Bagi masyarakat yang pernah menikmati lemang sejak kecil, makanan ini sering memiliki nilai emosional.

Lemang dapat hadir dalam suasana keluarga, perayaan tertentu, maupun sekadar menjadi teman minum kopi dan teh pada sore hari.

Karena itu, mempertahankan keberadaan makanan tradisional tidak selalu harus dilakukan melalui kegiatan besar.

Pedagang yang tetap membuat dan menjual lemang juga memiliki peran dalam menjaga keberlanjutan tradisi tersebut.

Setiap batang lemang yang dibakar menjadi bagian dari proses pewarisan pengetahuan kuliner. Cara memilih bahan, menyiapkan bambu, mengolah beras ketan hingga proses pembakaran diperoleh melalui pengalaman.

Tradisi tersebut kemudian dapat terus dikenal oleh generasi berikutnya.

Di Pekanbaru, keberadaan lapak-lapak lemang sederhana menjadi pengingat bahwa modernisasi kota tidak selalu harus menghapus makanan lama.

Justru, ruang kuliner tradisional dapat tumbuh berdampingan dengan perkembangan zaman.

Lemang yang disantap hangat pada sore hari akhirnya bukan hanya tentang rasa kenyang atau camilan untuk keluarga.

Di balik asap tungku dan ruas bambu yang terbakar, terdapat cerita tentang tradisi yang terus dipertahankan.

Selama masih ada pembuat, penjual dan masyarakat yang memilih menikmatinya, lemang memiliki kesempatan untuk tetap menjadi bagian dari identitas kuliner masyarakat.

Home / News
Lemang di Pinggir Jalan Pekanbaru, Tradisi Kuliner yang Tetap Bertahan
Editor: Ridho Haztil | Penulis: widya putri sugianto
Rubrik: news | 27 Agustus 2026 | 19:00:41
Lemang di Pinggir Jalan Pekanbaru, Tradisi Kuliner yang Tetap Bertahan
Penjual lemang yang ada di pinggir Jalan Sudirman, Pekanbaru menunggu pembeli (ft:putri/pekanbarutv)

PEKANBARU-Menjelang sore, aroma lemang yang dibakar dalam ruas bambu mulai tercium dari sejumlah lapak sederhana di pinggir jalan Kota Pekanbaru.

Beberapa batang lemang yang baru matang disusun berjajar menunggu pembeli. Pemandangan tersebut menjadi bagian dari aktivitas kuliner sore di Pekanbaru. Di tengah menjamurnya makanan modern, lemang tetap memiliki tempat bagi masyarakat yang ingin menikmati cita rasa tradisional.

Bagi sebagian pembeli, lemang bukan sekadar makanan. Ada cita rasa masa lalu dan tradisi keluarga yang ikut hadir dalam setiap potongannya.

Salah seorang pedagang lemang, Arni, mengatakan aktivitas berjualan sudah dijalaninya selama sekitar 10 tahun.

Menurutnya, pembeli biasanya mulai ramai menjelang sore, terutama ketika masyarakat pulang bekerja.

“Paling ramai itu pas jam pulang kerja, sekitar jam empat sore sampai malam. Banyak yang mampir beli lemang hangat untuk camilan di rumah atau dibawa pulang untuk keluarga,” ujar Arni.

Harga lemang yang dijual berkisar Rp45.000 hingga Rp60.000 per batang. Pembeli dapat memilih lemang yang baru matang dan masih hangat dari tungku.

Bagi pedagang, berjualan lemang bukan hanya soal mencari penghasilan. Aktivitas tersebut sekaligus menjadi cara mempertahankan makanan tradisional agar tetap dikenal masyarakat.

Tradisi yang Bertahan di Tengah Kota

Lemang merupakan salah satu makanan tradisional yang proses pembuatannya masih mempertahankan cara pengolahan secara sederhana.

Beras ketan dimasukkan ke dalam bambu yang telah dilapisi daun pisang. Setelah itu, bambu dibakar hingga lemang matang.

Proses tersebut membutuhkan waktu dan ketelatenan. Cara memasaknya juga menjadi bagian penting dari karakter lemang yang sulit dipisahkan dari makanan tersebut.

Di tengah kehidupan perkotaan yang semakin praktis, makanan seperti lemang menghadapi tantangan untuk tetap bertahan.

Masyarakat kini memiliki semakin banyak pilihan makanan. Namun, keberadaan pedagang lemang di ruang-ruang publik menunjukkan bahwa kuliner tradisional masih memiliki pasar.

Bukan Sekadar Jajanan

Bagi masyarakat yang pernah menikmati lemang sejak kecil, makanan ini sering memiliki nilai emosional.

Lemang dapat hadir dalam suasana keluarga, perayaan tertentu, maupun sekadar menjadi teman minum kopi dan teh pada sore hari.

Karena itu, mempertahankan keberadaan makanan tradisional tidak selalu harus dilakukan melalui kegiatan besar.

Pedagang yang tetap membuat dan menjual lemang juga memiliki peran dalam menjaga keberlanjutan tradisi tersebut.

Setiap batang lemang yang dibakar menjadi bagian dari proses pewarisan pengetahuan kuliner. Cara memilih bahan, menyiapkan bambu, mengolah beras ketan hingga proses pembakaran diperoleh melalui pengalaman.

Tradisi tersebut kemudian dapat terus dikenal oleh generasi berikutnya.

Di Pekanbaru, keberadaan lapak-lapak lemang sederhana menjadi pengingat bahwa modernisasi kota tidak selalu harus menghapus makanan lama.

Justru, ruang kuliner tradisional dapat tumbuh berdampingan dengan perkembangan zaman.

Lemang yang disantap hangat pada sore hari akhirnya bukan hanya tentang rasa kenyang atau camilan untuk keluarga.

Di balik asap tungku dan ruas bambu yang terbakar, terdapat cerita tentang tradisi yang terus dipertahankan.

Selama masih ada pembuat, penjual dan masyarakat yang memilih menikmatinya, lemang memiliki kesempatan untuk tetap menjadi bagian dari identitas kuliner masyarakat.