logo
SYD Law Office Bagikan 1.000 Masker untuk Warga Terdampak Kabut Asap Pelalawan Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi KPK Limpahkan Berkas Dua Tersangka Suap Jual Beli Jabatan Kuansing ke JPU Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Karhutla Rantau Baru Capai 253 Hektare, Tim Gabungan dan RAPP Berjibaku Cegah Ap Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Lemang di Pinggir Jalan Pekanbaru, Tradisi Kuliner yang Tetap Bertahan Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Banjir Bandang Nepal, 270 Orang Tewas dan 1.300 Orang Hilang Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Kepala BIN Dorong UU Penanggulangan Spionase dan Intervensi Asing untuk Perkuat Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Riau Belum Aman dari Karhutla, Pangdam: 110 Perwira Pusat Dikerahkan Perkuat Pen Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Polda Riau Ungkap 35 Kasus Karhutla, Total Tersangka 38 Orang, Kapolda: Modus Te Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / News / Pekanbaru
Lemang di Pinggir Jalan Pekanbaru, Tradisi Kuliner yang Tetap Bertahan
Penjual lemang yang ada di pinggir Jalan Sudirman, Pekanbaru menunggu pembeli (ft:putri/pekanbarutv)
Lemang di Pinggir Jalan Pekanbaru, Tradisi Kuliner yang Tetap Bertahan
Editor: Ridho Haztil | Penulis: widya putri sugianto
Rubrik: news | 27 Agustus 2026 | 19:00:41

PEKANBARU-Menjelang sore, aroma lemang yang dibakar dalam ruas bambu mulai tercium dari sejumlah lapak sederhana di pinggir jalan Kota Pekanbaru.

Beberapa batang lemang yang baru matang disusun berjajar menunggu pembeli. Pemandangan tersebut menjadi bagian dari aktivitas kuliner sore di Pekanbaru. Di tengah menjamurnya makanan modern, lemang tetap memiliki tempat bagi masyarakat yang ingin menikmati cita rasa tradisional.

Bagi sebagian pembeli, lemang bukan sekadar makanan. Ada cita rasa masa lalu dan tradisi keluarga yang ikut hadir dalam setiap potongannya.

iklan-view

Salah seorang pedagang lemang, Arni, mengatakan aktivitas berjualan sudah dijalaninya selama sekitar 10 tahun.

Menurutnya, pembeli biasanya mulai ramai menjelang sore, terutama ketika masyarakat pulang bekerja.

“Paling ramai itu pas jam pulang kerja, sekitar jam empat sore sampai malam. Banyak yang mampir beli lemang hangat untuk camilan di rumah atau dibawa pulang untuk keluarga,” ujar Arni.

Harga lemang yang dijual berkisar Rp45.000 hingga Rp60.000 per batang. Pembeli dapat memilih lemang yang baru matang dan masih hangat dari tungku.

Bagi pedagang, berjualan lemang bukan hanya soal mencari penghasilan. Aktivitas tersebut sekaligus menjadi cara mempertahankan makanan tradisional agar tetap dikenal masyarakat.

Tradisi yang Bertahan di Tengah Kota

Lemang merupakan salah satu makanan tradisional yang proses pembuatannya masih mempertahankan cara pengolahan secara sederhana.

Beras ketan dimasukkan ke dalam bambu yang telah dilapisi daun pisang. Setelah itu, bambu dibakar hingga lemang matang.

Proses tersebut membutuhkan waktu dan ketelatenan. Cara memasaknya juga menjadi bagian penting dari karakter lemang yang sulit dipisahkan dari makanan tersebut.

Di tengah kehidupan perkotaan yang semakin praktis, makanan seperti lemang menghadapi tantangan untuk tetap bertahan.

Masyarakat kini memiliki semakin banyak pilihan makanan. Namun, keberadaan pedagang lemang di ruang-ruang publik menunjukkan bahwa kuliner tradisional masih memiliki pasar.

Bukan Sekadar Jajanan

Bagi masyarakat yang pernah menikmati lemang sejak kecil, makanan ini sering memiliki nilai emosional.

Lemang dapat hadir dalam suasana keluarga, perayaan tertentu, maupun sekadar menjadi teman minum kopi dan teh pada sore hari.

Karena itu, mempertahankan keberadaan makanan tradisional tidak selalu harus dilakukan melalui kegiatan besar.

Pedagang yang tetap membuat dan menjual lemang juga memiliki peran dalam menjaga keberlanjutan tradisi tersebut.

Setiap batang lemang yang dibakar menjadi bagian dari proses pewarisan pengetahuan kuliner. Cara memilih bahan, menyiapkan bambu, mengolah beras ketan hingga proses pembakaran diperoleh melalui pengalaman.

Tradisi tersebut kemudian dapat terus dikenal oleh generasi berikutnya.

Di Pekanbaru, keberadaan lapak-lapak lemang sederhana menjadi pengingat bahwa modernisasi kota tidak selalu harus menghapus makanan lama.

Justru, ruang kuliner tradisional dapat tumbuh berdampingan dengan perkembangan zaman.

Lemang yang disantap hangat pada sore hari akhirnya bukan hanya tentang rasa kenyang atau camilan untuk keluarga.

Di balik asap tungku dan ruas bambu yang terbakar, terdapat cerita tentang tradisi yang terus dipertahankan.

Selama masih ada pembuat, penjual dan masyarakat yang memilih menikmatinya, lemang memiliki kesempatan untuk tetap menjadi bagian dari identitas kuliner masyarakat.

Home / News
Lemang di Pinggir Jalan Pekanbaru, Tradisi Kuliner yang Tetap Bertahan
Editor: Ridho Haztil | Penulis: widya putri sugianto
Rubrik: news | 27 Agustus 2026 | 19:00:41
Lemang di Pinggir Jalan Pekanbaru, Tradisi Kuliner yang Tetap Bertahan
Penjual lemang yang ada di pinggir Jalan Sudirman, Pekanbaru menunggu pembeli (ft:putri/pekanbarutv)

PEKANBARU-Menjelang sore, aroma lemang yang dibakar dalam ruas bambu mulai tercium dari sejumlah lapak sederhana di pinggir jalan Kota Pekanbaru.

Beberapa batang lemang yang baru matang disusun berjajar menunggu pembeli. Pemandangan tersebut menjadi bagian dari aktivitas kuliner sore di Pekanbaru. Di tengah menjamurnya makanan modern, lemang tetap memiliki tempat bagi masyarakat yang ingin menikmati cita rasa tradisional.

Bagi sebagian pembeli, lemang bukan sekadar makanan. Ada cita rasa masa lalu dan tradisi keluarga yang ikut hadir dalam setiap potongannya.

Salah seorang pedagang lemang, Arni, mengatakan aktivitas berjualan sudah dijalaninya selama sekitar 10 tahun.

Menurutnya, pembeli biasanya mulai ramai menjelang sore, terutama ketika masyarakat pulang bekerja.

“Paling ramai itu pas jam pulang kerja, sekitar jam empat sore sampai malam. Banyak yang mampir beli lemang hangat untuk camilan di rumah atau dibawa pulang untuk keluarga,” ujar Arni.

Harga lemang yang dijual berkisar Rp45.000 hingga Rp60.000 per batang. Pembeli dapat memilih lemang yang baru matang dan masih hangat dari tungku.

Bagi pedagang, berjualan lemang bukan hanya soal mencari penghasilan. Aktivitas tersebut sekaligus menjadi cara mempertahankan makanan tradisional agar tetap dikenal masyarakat.

Tradisi yang Bertahan di Tengah Kota

Lemang merupakan salah satu makanan tradisional yang proses pembuatannya masih mempertahankan cara pengolahan secara sederhana.

Beras ketan dimasukkan ke dalam bambu yang telah dilapisi daun pisang. Setelah itu, bambu dibakar hingga lemang matang.

Proses tersebut membutuhkan waktu dan ketelatenan. Cara memasaknya juga menjadi bagian penting dari karakter lemang yang sulit dipisahkan dari makanan tersebut.

Di tengah kehidupan perkotaan yang semakin praktis, makanan seperti lemang menghadapi tantangan untuk tetap bertahan.

Masyarakat kini memiliki semakin banyak pilihan makanan. Namun, keberadaan pedagang lemang di ruang-ruang publik menunjukkan bahwa kuliner tradisional masih memiliki pasar.

Bukan Sekadar Jajanan

Bagi masyarakat yang pernah menikmati lemang sejak kecil, makanan ini sering memiliki nilai emosional.

Lemang dapat hadir dalam suasana keluarga, perayaan tertentu, maupun sekadar menjadi teman minum kopi dan teh pada sore hari.

Karena itu, mempertahankan keberadaan makanan tradisional tidak selalu harus dilakukan melalui kegiatan besar.

Pedagang yang tetap membuat dan menjual lemang juga memiliki peran dalam menjaga keberlanjutan tradisi tersebut.

Setiap batang lemang yang dibakar menjadi bagian dari proses pewarisan pengetahuan kuliner. Cara memilih bahan, menyiapkan bambu, mengolah beras ketan hingga proses pembakaran diperoleh melalui pengalaman.

Tradisi tersebut kemudian dapat terus dikenal oleh generasi berikutnya.

Di Pekanbaru, keberadaan lapak-lapak lemang sederhana menjadi pengingat bahwa modernisasi kota tidak selalu harus menghapus makanan lama.

Justru, ruang kuliner tradisional dapat tumbuh berdampingan dengan perkembangan zaman.

Lemang yang disantap hangat pada sore hari akhirnya bukan hanya tentang rasa kenyang atau camilan untuk keluarga.

Di balik asap tungku dan ruas bambu yang terbakar, terdapat cerita tentang tradisi yang terus dipertahankan.

Selama masih ada pembuat, penjual dan masyarakat yang memilih menikmatinya, lemang memiliki kesempatan untuk tetap menjadi bagian dari identitas kuliner masyarakat.