logo
Banjir Dahsyat Terjang Perbatasan Nepal-Tibet, Sedikitnya 97 Tewas dan 384 Wisat Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Rupiah Nyaris Stagnan di Rp17.725 per Dolar AS, Pasar Menanti Sinyal Ketua The F Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi 549 Warga Pelalawan Terserang ISPA, Kabut Asap Karhutla Mulai Mengancam Kesehata Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Jelang Aksi 27 Agustus: Polri Perketat Jalur Masuk Jakarta, Massa dari Sumatera Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Kabut Asap Mulai Selimuti Rohil, Tiga Hotspot Terdeteksi, Pemerintah Diminta Tak Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi 37 Orang Ditetapkan Jadi Tersangka Karhutla di Riau, Polda: Semuanya Pelaku Pero Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Puluhan Tahun Dinanti, Jalan Poros Kuba Rusak Parah, Warga Tagih Keseriusan Peme Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Polda Riau Gulung Sindikat Curanmor Lintas Provinsi: 6 Tersangka Ditangkap, 44 M Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / Lingkungan / PELALAWAN
549 Warga Pelalawan Terserang ISPA, Kabut Asap Karhutla Mulai Mengancam Kesehatan
Ratusan warga Pelalawan terserang ISPA akibat kabut asap karhutla yang terjadi di Riau saat ini. (Foto: Istimewa)
549 Warga Pelalawan Terserang ISPA, Kabut Asap Karhutla Mulai Mengancam Kesehatan
Editor: Arya Mahendra
Rubrik: lingkungan | 26 Agustus 2026 | 22:32:32

PELALAWAN - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai berdampak nyata terhadap kesehatan masyarakat Kabupaten Pelalawan, Riau. Hingga Selasa (25/8/2026), sebanyak 549 warga tercatat terserang infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Kepala Dinas Kesehatan Pelalawan Asril mengatakan, peningkatan kasus ISPA mulai terdeteksi sejak kabut asap muncul pada 18 Agustus 2026. Data tersebut dihimpun dari fasilitas kesehatan tingkat pertama, khususnya puskesmas yang tersebar di seluruh wilayah Pelalawan.

"Kami mulai mendeteksi peningkatan kasus ISPA sejak kabut asap muncul pada 18 Agustus lalu sampai hari ini," kata Asril, Rabu (26/8/2026).

iklan-view

Dari total 549 penderita, sebanyak 278 orang merupakan laki-laki dan 271 perempuan. Puskesmas Pangkalan Kuras I menjadi fasilitas kesehatan dengan jumlah pasien ISPA terbanyak, yakni mencapai 147 orang.

Kasus ISPA juga tercatat di sejumlah wilayah lainnya. Puskesmas Ukui menangani 70 pasien, Puskesmas Kerumutan 72 pasien, Puskesmas Pangkalan Kerinci I sebanyak 60 pasien, Puskesmas Langgam 52 pasien, Puskesmas Pangkalan Kuras II 28 pasien, Puskesmas Bandar Seikijang 26 pasien, Puskesmas Bandar Petalangan 25 pasien, Puskesmas Pelalawan 27 pasien, Puskesmas Teluk Meranti 21 pasien, Puskesmas Pangkalan Lesung 11 pasien, Puskesmas Bunut 10 pasien, Puskesmas Kuala Kampar 6 pasien dan Puskesmas Pangkalan Kerinci II sebanyak 4 pasien.

Meski jumlah kasus terus bertambah, hingga kini belum ada pasien yang harus dirujuk ke rumah sakit. Seluruh penderita masih dapat ditangani di fasilitas kesehatan tingkat awal, termasuk puskesmas dan melalui pelayanan bidan desa.

"Sampai saat ini pasien masih bisa ditangani di faskes awal seperti puskesmas maupun bidan desa. Belum ada rujukan ke RS," ujarnya.

Dinas Kesehatan Pelalawan mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan selama kualitas udara belum sepenuhnya pulih. Paparan asap karhutla dapat memicu berbagai gangguan kesehatan, terutama pada saluran pernapasan.

Keluhan yang muncul antara lain batuk, pilek, demam hingga sakit tenggorokan. Risiko gangguan kesehatan juga lebih besar bagi kelompok rentan, seperti lanjut usia serta masyarakat yang memiliki penyakit bawaan, termasuk asma dan gangguan paru-paru.

Asril mengimbau masyarakat memperbanyak konsumsi air putih, mengonsumsi vitamin dan obat sesuai kebutuhan, serta memperbanyak istirahat. Masyarakat yang mengalami keluhan lebih berat diminta segera mendatangi fasilitas kesehatan terdekat.

"Untuk kelompok yang rentan, harus lebih menjaga kesehatan dari dampak asap. Jika kondisinya lebih parah, segera ke puskesmas," katanya.

Untuk memperkuat pelayanan kesehatan di wilayah terdampak karhutla, Posko Kesehatan Penanggulangan Bencana Karhutla juga didirikan di Kecamatan Kerumutan, tepatnya di Desa Bandar Panjang.

Posko tersebut merupakan kolaborasi Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Bid Dokkes) Polda Riau, Seksi Kedokteran dan Kesehatan (Si Dokkes) Polres Pelalawan, Dinas Kesehatan Pelalawan dan Puskesmas Kerumutan.

Keberadaan posko diharapkan dapat mempercepat pelayanan dan penanganan masyarakat yang terdampak kabut asap, sekaligus menjadi bagian dari upaya pemerintah mengantisipasi meluasnya dampak kesehatan akibat karhutla.

Di tengah karhutla yang masih berlangsung, angka 549 kasus ISPA menjadi alarm bahwa persoalan kebakaran hutan dan lahan bukan hanya menyangkut lingkungan, tetapi juga mulai memukul kesehatan masyarakat. (mcr)

549 Warga Pelalawan Terserang ISPA, Kabut Asap Karhutla Mulai Mengancam Kesehatan
Editor: Arya Mahendra
Rubrik: lingkungan | 26 Agustus 2026 | 22:32:32
549 Warga Pelalawan Terserang ISPA, Kabut Asap Karhutla Mulai Mengancam Kesehatan
Ratusan warga Pelalawan terserang ISPA akibat kabut asap karhutla yang terjadi di Riau saat ini. (Foto: Istimewa)

PELALAWAN - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai berdampak nyata terhadap kesehatan masyarakat Kabupaten Pelalawan, Riau. Hingga Selasa (25/8/2026), sebanyak 549 warga tercatat terserang infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Kepala Dinas Kesehatan Pelalawan Asril mengatakan, peningkatan kasus ISPA mulai terdeteksi sejak kabut asap muncul pada 18 Agustus 2026. Data tersebut dihimpun dari fasilitas kesehatan tingkat pertama, khususnya puskesmas yang tersebar di seluruh wilayah Pelalawan.

"Kami mulai mendeteksi peningkatan kasus ISPA sejak kabut asap muncul pada 18 Agustus lalu sampai hari ini," kata Asril, Rabu (26/8/2026).

Dari total 549 penderita, sebanyak 278 orang merupakan laki-laki dan 271 perempuan. Puskesmas Pangkalan Kuras I menjadi fasilitas kesehatan dengan jumlah pasien ISPA terbanyak, yakni mencapai 147 orang.

Kasus ISPA juga tercatat di sejumlah wilayah lainnya. Puskesmas Ukui menangani 70 pasien, Puskesmas Kerumutan 72 pasien, Puskesmas Pangkalan Kerinci I sebanyak 60 pasien, Puskesmas Langgam 52 pasien, Puskesmas Pangkalan Kuras II 28 pasien, Puskesmas Bandar Seikijang 26 pasien, Puskesmas Bandar Petalangan 25 pasien, Puskesmas Pelalawan 27 pasien, Puskesmas Teluk Meranti 21 pasien, Puskesmas Pangkalan Lesung 11 pasien, Puskesmas Bunut 10 pasien, Puskesmas Kuala Kampar 6 pasien dan Puskesmas Pangkalan Kerinci II sebanyak 4 pasien.

Meski jumlah kasus terus bertambah, hingga kini belum ada pasien yang harus dirujuk ke rumah sakit. Seluruh penderita masih dapat ditangani di fasilitas kesehatan tingkat awal, termasuk puskesmas dan melalui pelayanan bidan desa.

"Sampai saat ini pasien masih bisa ditangani di faskes awal seperti puskesmas maupun bidan desa. Belum ada rujukan ke RS," ujarnya.

Dinas Kesehatan Pelalawan mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan selama kualitas udara belum sepenuhnya pulih. Paparan asap karhutla dapat memicu berbagai gangguan kesehatan, terutama pada saluran pernapasan.

Keluhan yang muncul antara lain batuk, pilek, demam hingga sakit tenggorokan. Risiko gangguan kesehatan juga lebih besar bagi kelompok rentan, seperti lanjut usia serta masyarakat yang memiliki penyakit bawaan, termasuk asma dan gangguan paru-paru.

Asril mengimbau masyarakat memperbanyak konsumsi air putih, mengonsumsi vitamin dan obat sesuai kebutuhan, serta memperbanyak istirahat. Masyarakat yang mengalami keluhan lebih berat diminta segera mendatangi fasilitas kesehatan terdekat.

"Untuk kelompok yang rentan, harus lebih menjaga kesehatan dari dampak asap. Jika kondisinya lebih parah, segera ke puskesmas," katanya.

Untuk memperkuat pelayanan kesehatan di wilayah terdampak karhutla, Posko Kesehatan Penanggulangan Bencana Karhutla juga didirikan di Kecamatan Kerumutan, tepatnya di Desa Bandar Panjang.

Posko tersebut merupakan kolaborasi Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Bid Dokkes) Polda Riau, Seksi Kedokteran dan Kesehatan (Si Dokkes) Polres Pelalawan, Dinas Kesehatan Pelalawan dan Puskesmas Kerumutan.

Keberadaan posko diharapkan dapat mempercepat pelayanan dan penanganan masyarakat yang terdampak kabut asap, sekaligus menjadi bagian dari upaya pemerintah mengantisipasi meluasnya dampak kesehatan akibat karhutla.

Di tengah karhutla yang masih berlangsung, angka 549 kasus ISPA menjadi alarm bahwa persoalan kebakaran hutan dan lahan bukan hanya menyangkut lingkungan, tetapi juga mulai memukul kesehatan masyarakat. (mcr)