
JAKARTA - Banjir bandang dahsyat menerjang wilayah perbatasan Nepal dan Tibet, China, pada Rabu (26/8/2026). Bencana yang dipicu longsor dan aliran material besar itu menewaskan sedikitnya 97 orang dan membuat ratusan lainnya masih hilang.
Dikutip dari cnnindonesia, bencana paling parah terjadi di Distrik Rasuwa, Nepal, serta kawasan Gyirong di Tibet, China. Banjir dan longsor menyapu permukiman, jalan, jembatan hingga sejumlah proyek pembangkit listrik tenaga air.
Di Nepal, 384 wisatawan dan pelancong dilaporkan hilang. Dari jumlah tersebut, 291 merupakan warga negara asing. Mereka berasal antara lain dari India, Inggris, Amerika Serikat, Malaysia, Australia, Afrika Selatan, Belanda dan sejumlah negara lainnya.

Puluhan pekerja proyek pembangkit listrik juga ikut hilang. Sedikitnya 60 pekerja, termasuk sejumlah insinyur, yang tengah mengerjakan proyek PLTA Langtang Khola di Rasuwa kehilangan kontak ketika banjir menerjang kawasan proyek.
Saat kejadian, para pekerja sedang melakukan pekerjaan pelapisan beton di dalam terowongan. Derasnya banjir kemudian merusak infrastruktur proyek dan kawasan di sekitarnya.
Bencana diduga bermula dari aktivitas gempa yang kemudian memicu longsoran es dan batu di kawasan pegunungan. Longsoran tersebut diduga membendung aliran Sungai Lhende Khola dan kemudian melepaskan volume air serta material dalam jumlah besar ke wilayah Nepal.
Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) mencatat gempa berkekuatan magnitudo 4,4 terjadi di kawasan tersebut sekitar pukul 08.37 waktu setempat.
Dampaknya sangat luas. Sejumlah jembatan dan puluhan kilometer jalan rusak, sementara proyek pembangkit listrik tenaga air ikut terdampak. Sekitar 200 truk juga dilaporkan tersapu banjir.
Di sisi China, longsor menerjang kawasan Gyirong Port, salah satu jalur utama penghubung China dan Nepal. Bencana memutus akses jalan, komunikasi serta pasokan listrik di kawasan tersebut.
Presiden China Xi Jinping memerintahkan pengerahan penuh untuk mencari dan menyelamatkan korban. Pemerintah China juga mengerahkan tim penyelamat serta menyiapkan bantuan berupa tenda, perlengkapan tidur, pakaian dan kebutuhan darurat bagi warga terdampak.
Sementara di Nepal, polisi, militer dan tim penyelamat dikerahkan untuk menyisir kawasan terdampak. Operasi dilakukan menggunakan helikopter, drone dan peralatan penyelamatan lainnya.
Namun, proses evakuasi menghadapi medan yang sulit. Material lumpur dan batu menutup sejumlah akses, sementara kondisi cuaca dan kerusakan infrastruktur membuat helikopter kesulitan mendarat di beberapa lokasi.
Perdana Menteri Nepal Balendra Shah meminta warga yang tinggal di sepanjang aliran sungai meningkatkan kewaspadaan dan segera menjauh dari kawasan berbahaya.
Pemerintah Nepal juga telah meminta dukungan internasional untuk mempercepat pencarian dan penyelamatan korban. India dan China menyatakan kesiapan membantu operasi kemanusiaan di wilayah terdampak.
Bencana ini masih terus berkembang. Jumlah korban diperkirakan dapat bertambah karena tim penyelamat masih berupaya menjangkau sejumlah wilayah yang terisolasi, sementara ratusan orang belum diketahui keberadaannya. (*)




JAKARTA - Banjir bandang dahsyat menerjang wilayah perbatasan Nepal dan Tibet, China, pada Rabu (26/8/2026). Bencana yang dipicu longsor dan aliran material besar itu menewaskan sedikitnya 97 orang dan membuat ratusan lainnya masih hilang.
Dikutip dari cnnindonesia, bencana paling parah terjadi di Distrik Rasuwa, Nepal, serta kawasan Gyirong di Tibet, China. Banjir dan longsor menyapu permukiman, jalan, jembatan hingga sejumlah proyek pembangkit listrik tenaga air.
Di Nepal, 384 wisatawan dan pelancong dilaporkan hilang. Dari jumlah tersebut, 291 merupakan warga negara asing. Mereka berasal antara lain dari India, Inggris, Amerika Serikat, Malaysia, Australia, Afrika Selatan, Belanda dan sejumlah negara lainnya.
Puluhan pekerja proyek pembangkit listrik juga ikut hilang. Sedikitnya 60 pekerja, termasuk sejumlah insinyur, yang tengah mengerjakan proyek PLTA Langtang Khola di Rasuwa kehilangan kontak ketika banjir menerjang kawasan proyek.
Saat kejadian, para pekerja sedang melakukan pekerjaan pelapisan beton di dalam terowongan. Derasnya banjir kemudian merusak infrastruktur proyek dan kawasan di sekitarnya.
Bencana diduga bermula dari aktivitas gempa yang kemudian memicu longsoran es dan batu di kawasan pegunungan. Longsoran tersebut diduga membendung aliran Sungai Lhende Khola dan kemudian melepaskan volume air serta material dalam jumlah besar ke wilayah Nepal.
Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) mencatat gempa berkekuatan magnitudo 4,4 terjadi di kawasan tersebut sekitar pukul 08.37 waktu setempat.
Dampaknya sangat luas. Sejumlah jembatan dan puluhan kilometer jalan rusak, sementara proyek pembangkit listrik tenaga air ikut terdampak. Sekitar 200 truk juga dilaporkan tersapu banjir.
Di sisi China, longsor menerjang kawasan Gyirong Port, salah satu jalur utama penghubung China dan Nepal. Bencana memutus akses jalan, komunikasi serta pasokan listrik di kawasan tersebut.
Presiden China Xi Jinping memerintahkan pengerahan penuh untuk mencari dan menyelamatkan korban. Pemerintah China juga mengerahkan tim penyelamat serta menyiapkan bantuan berupa tenda, perlengkapan tidur, pakaian dan kebutuhan darurat bagi warga terdampak.
Sementara di Nepal, polisi, militer dan tim penyelamat dikerahkan untuk menyisir kawasan terdampak. Operasi dilakukan menggunakan helikopter, drone dan peralatan penyelamatan lainnya.
Namun, proses evakuasi menghadapi medan yang sulit. Material lumpur dan batu menutup sejumlah akses, sementara kondisi cuaca dan kerusakan infrastruktur membuat helikopter kesulitan mendarat di beberapa lokasi.
Perdana Menteri Nepal Balendra Shah meminta warga yang tinggal di sepanjang aliran sungai meningkatkan kewaspadaan dan segera menjauh dari kawasan berbahaya.
Pemerintah Nepal juga telah meminta dukungan internasional untuk mempercepat pencarian dan penyelamatan korban. India dan China menyatakan kesiapan membantu operasi kemanusiaan di wilayah terdampak.
Bencana ini masih terus berkembang. Jumlah korban diperkirakan dapat bertambah karena tim penyelamat masih berupaya menjangkau sejumlah wilayah yang terisolasi, sementara ratusan orang belum diketahui keberadaannya. (*)