
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) nyaris tak bergerak pada penutupan perdagangan Rabu (26/8/2026). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup di level Rp17.725 per dolar AS, melemah tipis dua poin atau sekitar 0,01 persen dari posisi sebelumnya Rp17.723 per dolar AS.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan rupiah sempat menguat tujuh poin sebelum akhirnya berbalik melemah tipis pada penutupan perdagangan.
Pergerakan rupiah turut dipengaruhi sentimen global setelah media Rusia melaporkan AS dan Iran hampir mencapai kesepakatan gencatan senjata. Kesepakatan tersebut disebut mencakup jaminan kebebasan navigasi di Selat Hormuz dan diperkirakan diumumkan dalam beberapa hari mendatang.

Sentimen itu muncul setelah Pakistan menyatakan adanya kemajuan dalam pembicaraan mediasi dengan Iran terkait pemulihan kesepakatan gencatan senjata sementara. Pakistan sebelumnya juga berperan dalam memfasilitasi gencatan senjata AS-Iran pada Juni lalu.
Di tengah perkembangan geopolitik tersebut, perhatian investor kini beralih ke sejumlah agenda ekonomi AS. Salah satunya rilis data Personal Consumption Expenditures (PCE) yang menjadi salah satu indikator penting inflasi AS.
Pasar juga menunggu pidato pertama Warsh sebagai Ketua The Fed dalam simposium Jackson Hole pada Jumat. Pernyataan tersebut dinilai penting karena investor mencari petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed di tengah tekanan inflasi yang masih bertahan dan prospek ekonomi AS.
Dari dalam negeri, Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia Destry Damayanti menilai siklus ekonomi domestik masih memiliki ruang untuk dipacu. Salah satu yang perlu dioptimalkan adalah fungsi intermediasi perbankan.
Hingga Juli 2026, terdapat undisbursed loan sekitar Rp2.548 triliun, atau sekitar 21 persen dari total plafon kredit. Ruang lainnya terdapat pada peningkatan penyaluran kredit kepada sektor UMKM yang dinilai penting untuk menjaga daya beli sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi.
Ibrahim menambahkan, pasar juga mencermati sejumlah data ekonomi domestik yang akan dirilis pekan depan, mulai dari inflasi Agustus, kinerja perdagangan Juli, PMI Manufaktur, cadangan devisa hingga Indeks Keyakinan Konsumen.
Dengan berbagai sentimen tersebut, rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif pada perdagangan Kamis (27/8/2026), dengan kecenderungan melemah.
"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.720 per USD hingga Rp17.760 per USD," kata Ibrahim. (mtv)




JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) nyaris tak bergerak pada penutupan perdagangan Rabu (26/8/2026). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup di level Rp17.725 per dolar AS, melemah tipis dua poin atau sekitar 0,01 persen dari posisi sebelumnya Rp17.723 per dolar AS.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan rupiah sempat menguat tujuh poin sebelum akhirnya berbalik melemah tipis pada penutupan perdagangan.
Pergerakan rupiah turut dipengaruhi sentimen global setelah media Rusia melaporkan AS dan Iran hampir mencapai kesepakatan gencatan senjata. Kesepakatan tersebut disebut mencakup jaminan kebebasan navigasi di Selat Hormuz dan diperkirakan diumumkan dalam beberapa hari mendatang.
Sentimen itu muncul setelah Pakistan menyatakan adanya kemajuan dalam pembicaraan mediasi dengan Iran terkait pemulihan kesepakatan gencatan senjata sementara. Pakistan sebelumnya juga berperan dalam memfasilitasi gencatan senjata AS-Iran pada Juni lalu.
Di tengah perkembangan geopolitik tersebut, perhatian investor kini beralih ke sejumlah agenda ekonomi AS. Salah satunya rilis data Personal Consumption Expenditures (PCE) yang menjadi salah satu indikator penting inflasi AS.
Pasar juga menunggu pidato pertama Warsh sebagai Ketua The Fed dalam simposium Jackson Hole pada Jumat. Pernyataan tersebut dinilai penting karena investor mencari petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed di tengah tekanan inflasi yang masih bertahan dan prospek ekonomi AS.
Dari dalam negeri, Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia Destry Damayanti menilai siklus ekonomi domestik masih memiliki ruang untuk dipacu. Salah satu yang perlu dioptimalkan adalah fungsi intermediasi perbankan.
Hingga Juli 2026, terdapat undisbursed loan sekitar Rp2.548 triliun, atau sekitar 21 persen dari total plafon kredit. Ruang lainnya terdapat pada peningkatan penyaluran kredit kepada sektor UMKM yang dinilai penting untuk menjaga daya beli sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi.
Ibrahim menambahkan, pasar juga mencermati sejumlah data ekonomi domestik yang akan dirilis pekan depan, mulai dari inflasi Agustus, kinerja perdagangan Juli, PMI Manufaktur, cadangan devisa hingga Indeks Keyakinan Konsumen.
Dengan berbagai sentimen tersebut, rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif pada perdagangan Kamis (27/8/2026), dengan kecenderungan melemah.
"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.720 per USD hingga Rp17.760 per USD," kata Ibrahim. (mtv)