logo
Kabut Asap Mulai Selimuti Rohil, Tiga Hotspot Terdeteksi, Pemerintah Diminta Tak Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi 37 Orang Ditetapkan Jadi Tersangka Karhutla di Riau, Polda: Semuanya Pelaku Pero Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Puluhan Tahun Dinanti, Jalan Poros Kuba Rusak Parah, Warga Tagih Keseriusan Peme Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Polda Riau Gulung Sindikat Curanmor Lintas Provinsi: 6 Tersangka Ditangkap, 44 M Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Lima Komisioner Baru KI Riau Dilantik, Target Pertama: Naikkan Indeks Keterbukaa Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Karhutla Kerumutan Nyaris Tembus 1.000 Hektare, Ratusan Personel Berjibaku Jinak Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi BMKG Pantau 2.461 Hotspot di Sumatera, 223 Titik Berada di Riau Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Harga Sawit Riau Naik, TBS Umur 9 Tahun Jadi yang Tertinggi Rp3.878,72 per Kg Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / Lingkungan / ROHIL
Kabut Asap Mulai Selimuti Rohil, Tiga Hotspot Terdeteksi, Pemerintah Diminta Tak Lengah
Kabut asap menyelimuti sejumlah wilayah di Rokan Hilir. (Foto: Romi/Pekanbarutv)
Kabut Asap Mulai Selimuti Rohil, Tiga Hotspot Terdeteksi, Pemerintah Diminta Tak Lengah
Editor: Arya Mahendra | Penulis: romi ramadani
Rubrik: lingkungan | 26 Agustus 2026 | 18:25:44

ROKAN HILIR - Kabut asap mulai menyelimuti sejumlah wilayah di Kabupaten Rokan Hilir, Riau. Kondisi ini terlihat di Bagansiapiapi dengan udara yang tampak berkabut dan jarak pandang yang mulai menurun.

‎Munculnya kabut asap menjadi perhatian karena terjadi di tengah meningkatnya aktivitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Sumatera.

‎Berdasarkan data pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang diterima Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Rokan Hilir, terdapat tiga titik panas atau hotspot yang terdeteksi di wilayah Rohil, yakni di Kecamatan Pujud dan Tanah Putih.‎

iklan-view

‎Kalaksana BPBD Rohil H Syafnurizal mengatakan, karhutla memang terjadi di wilayah Rohil. Namun, kondisi kebakaran saat ini disebut masih dapat dikendalikan dan belum meluas secara signifikan.‎

‎“Memang terjadi karhutla, namun saat ini sudah dapat dikendalikan. Dalam artian tidak begitu luas,” kata Syafnurizal.‎

‎Meski demikian, munculnya kabut asap di Bagansiapiapi menjadi sinyal bahwa ancaman karhutla tidak boleh dianggap sepele. Pemerintah dan masyarakat dituntut meningkatkan kewaspadaan sebelum kondisi berkembang menjadi lebih serius.

‎Syafnurizal mengatakan, kabut asap yang dirasakan masyarakat Bagansiapiapi diperkirakan tidak seluruhnya berasal dari kebakaran di wilayah Rohil. Menurutnya, asap dari karhutla lokal diperkirakan hanya sedikit.‎

‎“Kalau kabut asap karena karhutla di Rohil, diperkirakan tidak ada atau sedikit sekali. Begitu juga tidak ada yang dari Dumai,” ujarnya.

‎BPBD menduga kabut asap yang menyelimuti Bagansiapiapi lebih berkaitan dengan pergerakan asap dari wilayah lain di Sumatera yang sedang mengalami peningkatan karhutla. Namun, arah angin dan kondisi atmosfer membuat sebaran asap dapat berubah sewaktu-waktu.‎

‎Data BMKG yang diterima BPBD menunjukkan Riau menjadi salah satu wilayah dengan jumlah hotspot cukup tinggi. Tercatat 355 hotspot di Riau, dengan Pelalawan menyumbang 216 titik dan Indragiri Hilir 80 titik.‎

‎Artinya, ancaman asap tidak bisa hanya dilihat dari jumlah hotspot yang berada di Rohil. Asap dari daerah lain dapat terbawa angin dan memengaruhi kualitas udara di wilayah yang tidak sedang mengalami kebakaran besar.

‎Karena itu, pemerintah daerah diminta tidak menunggu kondisi memburuk baru mengambil langkah. Tiga hotspot di Rohil memang belum sebesar daerah lain, tetapi titik panas tetap merupakan potensi kebakaran yang harus dipastikan penanganannya.

‎Apalagi masyarakat sudah mulai merasakan dampak berupa kabut asap.

‎Masyarakat juga diminta tidak melakukan pembakaran lahan dan segera melaporkan apabila menemukan titik api atau kepulan asap di kawasan hutan dan lahan.

‎BPBD Rohil menyatakan akan terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan hotspot dan karhutla serta berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memastikan setiap potensi kebakaran dapat ditangani sedini mungkin.‎

‎Kabut asap yang mulai menyelimuti Bagansiapiapi seharusnya tidak dianggap sebagai pemandangan biasa. Ini adalah peringatan. Pemerintah harus memastikan tiga hotspot di Rohil benar-benar terkendali dan tidak berkembang menjadi bencana yang lebih besar.

‎Sebab, pengalaman karhutla di masa lalu sudah cukup menjadi pelajaran jangan menunggu asap menebal, korban bermunculan, dan masyarakat mulai mengeluhkan kualitas udara, baru penanganan diperketat.(rom)

Kabut Asap Mulai Selimuti Rohil, Tiga Hotspot Terdeteksi, Pemerintah Diminta Tak Lengah
Editor: Arya Mahendra | Penulis: romi ramadani
Rubrik: lingkungan | 26 Agustus 2026 | 18:25:44
Kabut Asap Mulai Selimuti Rohil, Tiga Hotspot Terdeteksi, Pemerintah Diminta Tak Lengah
Kabut asap menyelimuti sejumlah wilayah di Rokan Hilir. (Foto: Romi/Pekanbarutv)

ROKAN HILIR - Kabut asap mulai menyelimuti sejumlah wilayah di Kabupaten Rokan Hilir, Riau. Kondisi ini terlihat di Bagansiapiapi dengan udara yang tampak berkabut dan jarak pandang yang mulai menurun.

‎Munculnya kabut asap menjadi perhatian karena terjadi di tengah meningkatnya aktivitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Sumatera.

‎Berdasarkan data pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang diterima Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Rokan Hilir, terdapat tiga titik panas atau hotspot yang terdeteksi di wilayah Rohil, yakni di Kecamatan Pujud dan Tanah Putih.‎

‎Kalaksana BPBD Rohil H Syafnurizal mengatakan, karhutla memang terjadi di wilayah Rohil. Namun, kondisi kebakaran saat ini disebut masih dapat dikendalikan dan belum meluas secara signifikan.‎

‎“Memang terjadi karhutla, namun saat ini sudah dapat dikendalikan. Dalam artian tidak begitu luas,” kata Syafnurizal.‎

‎Meski demikian, munculnya kabut asap di Bagansiapiapi menjadi sinyal bahwa ancaman karhutla tidak boleh dianggap sepele. Pemerintah dan masyarakat dituntut meningkatkan kewaspadaan sebelum kondisi berkembang menjadi lebih serius.

‎Syafnurizal mengatakan, kabut asap yang dirasakan masyarakat Bagansiapiapi diperkirakan tidak seluruhnya berasal dari kebakaran di wilayah Rohil. Menurutnya, asap dari karhutla lokal diperkirakan hanya sedikit.‎

‎“Kalau kabut asap karena karhutla di Rohil, diperkirakan tidak ada atau sedikit sekali. Begitu juga tidak ada yang dari Dumai,” ujarnya.

‎BPBD menduga kabut asap yang menyelimuti Bagansiapiapi lebih berkaitan dengan pergerakan asap dari wilayah lain di Sumatera yang sedang mengalami peningkatan karhutla. Namun, arah angin dan kondisi atmosfer membuat sebaran asap dapat berubah sewaktu-waktu.‎

‎Data BMKG yang diterima BPBD menunjukkan Riau menjadi salah satu wilayah dengan jumlah hotspot cukup tinggi. Tercatat 355 hotspot di Riau, dengan Pelalawan menyumbang 216 titik dan Indragiri Hilir 80 titik.‎

‎Artinya, ancaman asap tidak bisa hanya dilihat dari jumlah hotspot yang berada di Rohil. Asap dari daerah lain dapat terbawa angin dan memengaruhi kualitas udara di wilayah yang tidak sedang mengalami kebakaran besar.

‎Karena itu, pemerintah daerah diminta tidak menunggu kondisi memburuk baru mengambil langkah. Tiga hotspot di Rohil memang belum sebesar daerah lain, tetapi titik panas tetap merupakan potensi kebakaran yang harus dipastikan penanganannya.

‎Apalagi masyarakat sudah mulai merasakan dampak berupa kabut asap.

‎Masyarakat juga diminta tidak melakukan pembakaran lahan dan segera melaporkan apabila menemukan titik api atau kepulan asap di kawasan hutan dan lahan.

‎BPBD Rohil menyatakan akan terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan hotspot dan karhutla serta berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memastikan setiap potensi kebakaran dapat ditangani sedini mungkin.‎

‎Kabut asap yang mulai menyelimuti Bagansiapiapi seharusnya tidak dianggap sebagai pemandangan biasa. Ini adalah peringatan. Pemerintah harus memastikan tiga hotspot di Rohil benar-benar terkendali dan tidak berkembang menjadi bencana yang lebih besar.

‎Sebab, pengalaman karhutla di masa lalu sudah cukup menjadi pelajaran jangan menunggu asap menebal, korban bermunculan, dan masyarakat mulai mengeluhkan kualitas udara, baru penanganan diperketat.(rom)