
ROKAN HILIR - Harapan masyarakat Kecamatan Kubu Babussalam, Kabupaten Rokan Hilir, Riau, untuk menikmati akses jalan yang layak hingga kini masih menjadi penantian panjang. Jalan poros yang menjadi salah satu akses utama masyarakat tersebut mengalami kerusakan parah dan disebut telah berlangsung selama puluhan tahun.
Kondisi ini menjadi sorotan karena jalan tersebut bukan sekadar akses penghubung antardesa. Ruas jalan ini digunakan masyarakat setiap hari untuk menjalankan aktivitas, mengangkut hasil perkebunan, berdagang, hingga menuju pusat pemerintahan dan perekonomian, termasuk akses menuju wilayah Pekanbaru dan Medan.
Pantauan di lapangan pada Rabu (26/8/2026), sejumlah titik jalan terlihat dipenuhi lubang dan permukaan yang rusak. Pengendara harus bermanuver menghindari lubang demi lubang agar kendaraan tidak mengalami kerusakan maupun kecelakaan.

Kerusakan semakin menyulitkan pengguna jalan ketika hujan. Genangan air menutupi lubang sehingga pengendara sulit memperkirakan kedalaman dan kondisi permukaan jalan.
Warga menyebut ruas jalan yang mengalami kerusakan mencapai sekitar dua kilometer. Namun, persoalan tersebut bukan baru dirasakan masyarakat dalam beberapa bulan terakhir. Mereka mengaku sudah puluhan tahun menghadapi kondisi jalan yang tidak kunjung mendapatkan perbaikan sebagaimana yang diharapkan.
Bagi masyarakat, kondisi tersebut sudah berada pada tahap yang mengkhawatirkan. Sebab, kerusakan jalan tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga mengancam keselamatan pengguna jalan.

Zahron, seorang pedagang buah, mengatakan kerusakan jalan sudah lama terjadi dan telah menyebabkan sejumlah pengguna jalan menjadi korban.
“Jalan ini sudah lama rusak parah. Sudah banyak memakan korban. Ada yang sampai koma, bahkan ada juga yang meninggal dunia,” kata Zahron.
Menurutnya, masyarakat sudah terlalu lama merasakan dampak buruk dari jalan yang rusak tersebut. Aktivitas sehari-hari menjadi lebih sulit, sementara risiko kecelakaan terus menghantui pengguna jalan.
Keluhan serupa disampaikan Ajan, salah seorang pengguna jalan. Ia menilai kondisi jalan saat ini sudah sangat memprihatinkan dan persoalan tersebut telah dirasakan masyarakat selama puluhan tahun.
“Jalannya sangat hancur. Sudah puluhan tahun seperti ini yang kami rasakan,” ujar Ajan.
Kerusakan jalan juga berdampak langsung terhadap aktivitas ekonomi masyarakat. Ajan mengaku galon air yang dibawanya setiap hari tidak jarang mengalami kerusakan akibat kondisi jalan yang penuh lubang.
“Saya bawa galon air setiap hari. Banyak yang bocor dan pecah karena jalan rusak,” katanya.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa buruknya infrastruktur tidak hanya membuat perjalanan lebih lama dan berisiko, tetapi juga berpotensi menambah beban ekonomi masyarakat.
Di tengah kondisi jalan yang terus memburuk, masyarakat mempertanyakan sejauh mana keseriusan pemerintah dalam menyelesaikan persoalan tersebut. Sebab, jika kerusakan benar telah berlangsung selama puluhan tahun, maka persoalan ini seharusnya tidak lagi dipandang sebagai masalah kecil atau sekadar kerusakan biasa.
Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir dan Pemerintah Provinsi Riau diminta tidak menunggu hingga semakin banyak masyarakat menjadi korban baru mengambil tindakan.
Perbaikan jalan juga diharapkan tidak hanya bersifat sementara dengan menutup lubang di sejumlah titik, tetapi dilakukan secara menyeluruh dan memperhatikan kualitas serta ketahanan jalan.
Bagi warga Kubu Babussalam, jalan tersebut merupakan urat nadi kehidupan. Di atas jalan itulah aktivitas ekonomi bergerak, hasil usaha masyarakat didistribusikan, dan kebutuhan sehari-hari dipenuhi.
Puluhan tahun menunggu seharusnya sudah cukup menjadi alasan bagi pemerintah untuk memberikan perhatian serius.
Masyarakat tidak meminta jalan mewah. Mereka hanya meminta jalan yang aman, layak, dan tidak lagi menjadi ancaman setiap kali dilalui.
Kini, warga menunggu tindakan nyata pemerintah, bukan sekadar janji perbaikan. Jangan sampai jalan yang sudah puluhan tahun rusak baru benar-benar menjadi perhatian setelah korban kembali berjatuhan. (rom)




ROKAN HILIR - Harapan masyarakat Kecamatan Kubu Babussalam, Kabupaten Rokan Hilir, Riau, untuk menikmati akses jalan yang layak hingga kini masih menjadi penantian panjang. Jalan poros yang menjadi salah satu akses utama masyarakat tersebut mengalami kerusakan parah dan disebut telah berlangsung selama puluhan tahun.
Kondisi ini menjadi sorotan karena jalan tersebut bukan sekadar akses penghubung antardesa. Ruas jalan ini digunakan masyarakat setiap hari untuk menjalankan aktivitas, mengangkut hasil perkebunan, berdagang, hingga menuju pusat pemerintahan dan perekonomian, termasuk akses menuju wilayah Pekanbaru dan Medan.
Pantauan di lapangan pada Rabu (26/8/2026), sejumlah titik jalan terlihat dipenuhi lubang dan permukaan yang rusak. Pengendara harus bermanuver menghindari lubang demi lubang agar kendaraan tidak mengalami kerusakan maupun kecelakaan.
Kerusakan semakin menyulitkan pengguna jalan ketika hujan. Genangan air menutupi lubang sehingga pengendara sulit memperkirakan kedalaman dan kondisi permukaan jalan.
Warga menyebut ruas jalan yang mengalami kerusakan mencapai sekitar dua kilometer. Namun, persoalan tersebut bukan baru dirasakan masyarakat dalam beberapa bulan terakhir. Mereka mengaku sudah puluhan tahun menghadapi kondisi jalan yang tidak kunjung mendapatkan perbaikan sebagaimana yang diharapkan.
Bagi masyarakat, kondisi tersebut sudah berada pada tahap yang mengkhawatirkan. Sebab, kerusakan jalan tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga mengancam keselamatan pengguna jalan.

Zahron, seorang pedagang buah, mengatakan kerusakan jalan sudah lama terjadi dan telah menyebabkan sejumlah pengguna jalan menjadi korban.
“Jalan ini sudah lama rusak parah. Sudah banyak memakan korban. Ada yang sampai koma, bahkan ada juga yang meninggal dunia,” kata Zahron.
Menurutnya, masyarakat sudah terlalu lama merasakan dampak buruk dari jalan yang rusak tersebut. Aktivitas sehari-hari menjadi lebih sulit, sementara risiko kecelakaan terus menghantui pengguna jalan.
Keluhan serupa disampaikan Ajan, salah seorang pengguna jalan. Ia menilai kondisi jalan saat ini sudah sangat memprihatinkan dan persoalan tersebut telah dirasakan masyarakat selama puluhan tahun.
“Jalannya sangat hancur. Sudah puluhan tahun seperti ini yang kami rasakan,” ujar Ajan.
Kerusakan jalan juga berdampak langsung terhadap aktivitas ekonomi masyarakat. Ajan mengaku galon air yang dibawanya setiap hari tidak jarang mengalami kerusakan akibat kondisi jalan yang penuh lubang.
“Saya bawa galon air setiap hari. Banyak yang bocor dan pecah karena jalan rusak,” katanya.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa buruknya infrastruktur tidak hanya membuat perjalanan lebih lama dan berisiko, tetapi juga berpotensi menambah beban ekonomi masyarakat.
Di tengah kondisi jalan yang terus memburuk, masyarakat mempertanyakan sejauh mana keseriusan pemerintah dalam menyelesaikan persoalan tersebut. Sebab, jika kerusakan benar telah berlangsung selama puluhan tahun, maka persoalan ini seharusnya tidak lagi dipandang sebagai masalah kecil atau sekadar kerusakan biasa.
Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir dan Pemerintah Provinsi Riau diminta tidak menunggu hingga semakin banyak masyarakat menjadi korban baru mengambil tindakan.
Perbaikan jalan juga diharapkan tidak hanya bersifat sementara dengan menutup lubang di sejumlah titik, tetapi dilakukan secara menyeluruh dan memperhatikan kualitas serta ketahanan jalan.
Bagi warga Kubu Babussalam, jalan tersebut merupakan urat nadi kehidupan. Di atas jalan itulah aktivitas ekonomi bergerak, hasil usaha masyarakat didistribusikan, dan kebutuhan sehari-hari dipenuhi.
Puluhan tahun menunggu seharusnya sudah cukup menjadi alasan bagi pemerintah untuk memberikan perhatian serius.
Masyarakat tidak meminta jalan mewah. Mereka hanya meminta jalan yang aman, layak, dan tidak lagi menjadi ancaman setiap kali dilalui.
Kini, warga menunggu tindakan nyata pemerintah, bukan sekadar janji perbaikan. Jangan sampai jalan yang sudah puluhan tahun rusak baru benar-benar menjadi perhatian setelah korban kembali berjatuhan. (rom)