
PEKANBARU - Pemerintah dan aparat gabungan di Provinsi Riau memperkuat langkah pencegahan kebakaran hutan dan lahan menjelang September. Meski jumlah titik panas mengalami penurunan, potensi karhutla masih menjadi perhatian karena musim kemarau belum sepenuhnya berakhir.
Pangdam XIX/Tuanku Tambusai Mayjen TNI Agus Hadi Waluyo mengatakan sebanyak 110 perwira dari pusat telah didatangkan ke Riau untuk memperkuat edukasi dan sosialisasi pencegahan karhutla.
Para perwira tersebut akan disebar ke sejumlah kabupaten dan bekerja bersama jajaran Kodim, Polres, Koramil, Polsek, Babinsa, Bhabinkamtibmas hingga perangkat desa.

"Tim penyuluhnya nanti akan bergerak secara masif sekaligus menjadi pemantau sampai sejauh mana kesadaran masyarakat ini mengerti tentang potensi kebakaran hutan dan lahan," kata Mayjen Agus.
Selain edukasi, pemerintah dan TNI-Polri juga menyiapkan infrastruktur pendukung. Salah satunya pembangunan sumur bor untuk memastikan ketersediaan sumber air di wilayah yang rawan kebakaran.
Langkah lain disiapkan untuk menghadapi dampak asap. Agus mengatakan posko kesehatan akan dibentuk dan dilengkapi oksigen serta masker yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
Posko juga disiapkan di sekitar lokasi kebakaran untuk mendukung personel yang berada di lapangan, mulai dari Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api, TNI hingga Polri.
Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan menegaskan seluruh pihak belum boleh berpuas diri. Ia meminta jajaran di tingkat kabupaten hingga desa terus melakukan pencegahan.
"Jangan berpuas diri dulu. Masih ada bulan September," kata Irjen Herry.
Irjen Herry juga meminta perusahaan pemegang konsesi mengambil peran lebih besar sebagai first responder dengan memastikan sistem deteksi dini dan penanganan awal berjalan di wilayah masing-masing.
Sementara itu, Plt Gubernur Riau SF Hariyanto menilai penurunan hotspot merupakan hasil kolaborasi seluruh pihak. Namun, pengawasan harus tetap dilakukan agar kebakaran tidak kembali meluas. (ric)




PEKANBARU - Pemerintah dan aparat gabungan di Provinsi Riau memperkuat langkah pencegahan kebakaran hutan dan lahan menjelang September. Meski jumlah titik panas mengalami penurunan, potensi karhutla masih menjadi perhatian karena musim kemarau belum sepenuhnya berakhir.
Pangdam XIX/Tuanku Tambusai Mayjen TNI Agus Hadi Waluyo mengatakan sebanyak 110 perwira dari pusat telah didatangkan ke Riau untuk memperkuat edukasi dan sosialisasi pencegahan karhutla.
Para perwira tersebut akan disebar ke sejumlah kabupaten dan bekerja bersama jajaran Kodim, Polres, Koramil, Polsek, Babinsa, Bhabinkamtibmas hingga perangkat desa.
"Tim penyuluhnya nanti akan bergerak secara masif sekaligus menjadi pemantau sampai sejauh mana kesadaran masyarakat ini mengerti tentang potensi kebakaran hutan dan lahan," kata Mayjen Agus.
Selain edukasi, pemerintah dan TNI-Polri juga menyiapkan infrastruktur pendukung. Salah satunya pembangunan sumur bor untuk memastikan ketersediaan sumber air di wilayah yang rawan kebakaran.
Langkah lain disiapkan untuk menghadapi dampak asap. Agus mengatakan posko kesehatan akan dibentuk dan dilengkapi oksigen serta masker yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
Posko juga disiapkan di sekitar lokasi kebakaran untuk mendukung personel yang berada di lapangan, mulai dari Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api, TNI hingga Polri.
Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan menegaskan seluruh pihak belum boleh berpuas diri. Ia meminta jajaran di tingkat kabupaten hingga desa terus melakukan pencegahan.
"Jangan berpuas diri dulu. Masih ada bulan September," kata Irjen Herry.
Irjen Herry juga meminta perusahaan pemegang konsesi mengambil peran lebih besar sebagai first responder dengan memastikan sistem deteksi dini dan penanganan awal berjalan di wilayah masing-masing.
Sementara itu, Plt Gubernur Riau SF Hariyanto menilai penurunan hotspot merupakan hasil kolaborasi seluruh pihak. Namun, pengawasan harus tetap dilakukan agar kebakaran tidak kembali meluas. (ric)