
PEKANBARU - Kabut asap yang menyelimuti Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), Riau, mulai berdampak terhadap kesehatan masyarakat. Dalam periode tiga pekan, sejak 25 Agustus hingga 14 September 2026, Dinas Kesehatan (Diskes) Rohul mencatat 1.860 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Yang menjadi perhatian, hampir separuh kasus tersebut terjadi pada kelompok usia anak hingga remaja. Dari total kasus, sebanyak 931 penderita berusia 0-18 tahun.
Kepala Dinas Kesehatan Rohul, dr Bambang Triono MM, merinci 354 kasus terjadi pada balita usia 0-5 tahun, 349 kasus pada anak usia 5-9 tahun, dan 228 kasus pada kelompok remaja usia 10-18 tahun.

“Artinya, hampir satu dari dua penderita ISPA dalam periode tersebut berasal dari kelompok usia 0-18 tahun,” kata Bambang, Selasa (15/9/2026), seperti dikutip mediacenter riau.
Berdasarkan jenis kelamin, penderita ISPA perempuan tercatat sedikit lebih banyak dibandingkan laki-laki. Dari 1.860 kasus, sebanyak 959 penderita merupakan perempuan, sedangkan laki-laki mencapai 901 kasus.
Sebaran kasus juga menunjukkan sejumlah wilayah memiliki angka cukup tinggi. Kecamatan Kabun menjadi daerah dengan kasus ISPA terbanyak, yakni 284 kasus, terdiri atas 140 penderita laki-laki dan 144 perempuan.
Selanjutnya, kasus tercatat di Kecamatan Tandun sebanyak 141 kasus, Ujung Batu 124 kasus, Rambah 104 kasus, Pagarantapah 66 kasus, Bonai Darussalam 48 kasus, serta Rambah Hilir II sebanyak 43 kasus. Kasus lainnya tersebar di sejumlah kecamatan di Kabupaten Rohul.
Bambang menegaskan, ISPA tidak semata-mata disebabkan oleh kabut asap. Penyakit tersebut tetap dapat menyerang masyarakat dalam kondisi tanpa paparan asap. Namun, kualitas udara yang memburuk akibat asap dapat menjadi salah satu faktor yang memicu peningkatan kasus.
“Tidak ada asap pun masyarakat bisa terkena ISPA. Hanya karena ada asap, kasusnya sedikit meningkat,” ujarnya.
Di tengah kondisi kualitas udara Rohul yang kurang sehat, Diskes mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap kelompok rentan seperti balita, anak-anak dan remaja.
Masyarakat juga diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk. Jika harus beraktivitas di luar rumah, penggunaan masker dianjurkan sebagai langkah perlindungan dari paparan udara yang tidak sehat.
“Kalaupun keluar rumah, kita imbau tetap gunakan masker ketika harus beraktivitas di luar,” kata Bambang. (*)




PEKANBARU - Kabut asap yang menyelimuti Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), Riau, mulai berdampak terhadap kesehatan masyarakat. Dalam periode tiga pekan, sejak 25 Agustus hingga 14 September 2026, Dinas Kesehatan (Diskes) Rohul mencatat 1.860 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Yang menjadi perhatian, hampir separuh kasus tersebut terjadi pada kelompok usia anak hingga remaja. Dari total kasus, sebanyak 931 penderita berusia 0-18 tahun.
Kepala Dinas Kesehatan Rohul, dr Bambang Triono MM, merinci 354 kasus terjadi pada balita usia 0-5 tahun, 349 kasus pada anak usia 5-9 tahun, dan 228 kasus pada kelompok remaja usia 10-18 tahun.
“Artinya, hampir satu dari dua penderita ISPA dalam periode tersebut berasal dari kelompok usia 0-18 tahun,” kata Bambang, Selasa (15/9/2026), seperti dikutip mediacenter riau.
Berdasarkan jenis kelamin, penderita ISPA perempuan tercatat sedikit lebih banyak dibandingkan laki-laki. Dari 1.860 kasus, sebanyak 959 penderita merupakan perempuan, sedangkan laki-laki mencapai 901 kasus.
Sebaran kasus juga menunjukkan sejumlah wilayah memiliki angka cukup tinggi. Kecamatan Kabun menjadi daerah dengan kasus ISPA terbanyak, yakni 284 kasus, terdiri atas 140 penderita laki-laki dan 144 perempuan.
Selanjutnya, kasus tercatat di Kecamatan Tandun sebanyak 141 kasus, Ujung Batu 124 kasus, Rambah 104 kasus, Pagarantapah 66 kasus, Bonai Darussalam 48 kasus, serta Rambah Hilir II sebanyak 43 kasus. Kasus lainnya tersebar di sejumlah kecamatan di Kabupaten Rohul.
Bambang menegaskan, ISPA tidak semata-mata disebabkan oleh kabut asap. Penyakit tersebut tetap dapat menyerang masyarakat dalam kondisi tanpa paparan asap. Namun, kualitas udara yang memburuk akibat asap dapat menjadi salah satu faktor yang memicu peningkatan kasus.
“Tidak ada asap pun masyarakat bisa terkena ISPA. Hanya karena ada asap, kasusnya sedikit meningkat,” ujarnya.
Di tengah kondisi kualitas udara Rohul yang kurang sehat, Diskes mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap kelompok rentan seperti balita, anak-anak dan remaja.
Masyarakat juga diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk. Jika harus beraktivitas di luar rumah, penggunaan masker dianjurkan sebagai langkah perlindungan dari paparan udara yang tidak sehat.
“Kalaupun keluar rumah, kita imbau tetap gunakan masker ketika harus beraktivitas di luar,” kata Bambang. (*)