logo
Hotspot Sumatera Merosot, BMKG Ingatkan Hujan Lebat dan Angin Kencang di Riau Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Kemenkes: 174 Ribu Warga Terserang ISPA, 40.363 di Antaranya Balita Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi DPRD dan Pemko Pekanbaru Sepakati APBD-P 2026 Rp3,26 Triliun, Banjir Jadi Sorota Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi UPDATE: Satu Korban Galodo Arosuka Ditemukan Tewas, Jalur Padang-Solok Masih Ter Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Rupiah Melemah ke Rp17.884, Investor Cermati Arah Suku Bunga The Fed dan BI Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Sekolah di Pekanbaru Kembali Belajar Tatap Muka Terbatas Mulai Besok Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi HUT Lalu Lintas ke-71, Kapolda Riau Soroti Karhutla yang Terus Berulang: Apa Tak Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Harga TBS Sawit Riau Periode 23-29 September Turun Rp27 per Kg Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / Lingkungan / ROHUL
ISPA di Rohul Tembus 1.860 Kasus, Hampir Separuh Penderitanya Anak dan Remaja
Ilustrasi. Foto dihasilkan AI.
ISPA di Rohul Tembus 1.860 Kasus, Hampir Separuh Penderitanya Anak dan Remaja
Editor: Arya Mahendra
Rubrik: lingkungan | 15 September 2026 | 19:21:21

PEKANBARU - Kabut asap yang menyelimuti Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), Riau, mulai berdampak terhadap kesehatan masyarakat. Dalam periode tiga pekan, sejak 25 Agustus hingga 14 September 2026, Dinas Kesehatan (Diskes) Rohul mencatat 1.860 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Yang menjadi perhatian, hampir separuh kasus tersebut terjadi pada kelompok usia anak hingga remaja. Dari total kasus, sebanyak 931 penderita berusia 0-18 tahun.

Kepala Dinas Kesehatan Rohul, dr Bambang Triono MM, merinci 354 kasus terjadi pada balita usia 0-5 tahun, 349 kasus pada anak usia 5-9 tahun, dan 228 kasus pada kelompok remaja usia 10-18 tahun.

iklan-view

“Artinya, hampir satu dari dua penderita ISPA dalam periode tersebut berasal dari kelompok usia 0-18 tahun,” kata Bambang, Selasa (15/9/2026), seperti dikutip mediacenter riau.

Berdasarkan jenis kelamin, penderita ISPA perempuan tercatat sedikit lebih banyak dibandingkan laki-laki. Dari 1.860 kasus, sebanyak 959 penderita merupakan perempuan, sedangkan laki-laki mencapai 901 kasus.

Sebaran kasus juga menunjukkan sejumlah wilayah memiliki angka cukup tinggi. Kecamatan Kabun menjadi daerah dengan kasus ISPA terbanyak, yakni 284 kasus, terdiri atas 140 penderita laki-laki dan 144 perempuan.

Selanjutnya, kasus tercatat di Kecamatan Tandun sebanyak 141 kasus, Ujung Batu 124 kasus, Rambah 104 kasus, Pagarantapah 66 kasus, Bonai Darussalam 48 kasus, serta Rambah Hilir II sebanyak 43 kasus. Kasus lainnya tersebar di sejumlah kecamatan di Kabupaten Rohul.

Bambang menegaskan, ISPA tidak semata-mata disebabkan oleh kabut asap. Penyakit tersebut tetap dapat menyerang masyarakat dalam kondisi tanpa paparan asap. Namun, kualitas udara yang memburuk akibat asap dapat menjadi salah satu faktor yang memicu peningkatan kasus.

“Tidak ada asap pun masyarakat bisa terkena ISPA. Hanya karena ada asap, kasusnya sedikit meningkat,” ujarnya.

Di tengah kondisi kualitas udara Rohul yang kurang sehat, Diskes mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap kelompok rentan seperti balita, anak-anak dan remaja.

Masyarakat juga diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk. Jika harus beraktivitas di luar rumah, penggunaan masker dianjurkan sebagai langkah perlindungan dari paparan udara yang tidak sehat.

“Kalaupun keluar rumah, kita imbau tetap gunakan masker ketika harus beraktivitas di luar,” kata Bambang. (*)

ISPA di Rohul Tembus 1.860 Kasus, Hampir Separuh Penderitanya Anak dan Remaja
Editor: Arya Mahendra
Rubrik: lingkungan | 15 September 2026 | 19:21:21
ISPA di Rohul Tembus 1.860 Kasus, Hampir Separuh Penderitanya Anak dan Remaja
Ilustrasi. Foto dihasilkan AI.

PEKANBARU - Kabut asap yang menyelimuti Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), Riau, mulai berdampak terhadap kesehatan masyarakat. Dalam periode tiga pekan, sejak 25 Agustus hingga 14 September 2026, Dinas Kesehatan (Diskes) Rohul mencatat 1.860 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Yang menjadi perhatian, hampir separuh kasus tersebut terjadi pada kelompok usia anak hingga remaja. Dari total kasus, sebanyak 931 penderita berusia 0-18 tahun.

Kepala Dinas Kesehatan Rohul, dr Bambang Triono MM, merinci 354 kasus terjadi pada balita usia 0-5 tahun, 349 kasus pada anak usia 5-9 tahun, dan 228 kasus pada kelompok remaja usia 10-18 tahun.

“Artinya, hampir satu dari dua penderita ISPA dalam periode tersebut berasal dari kelompok usia 0-18 tahun,” kata Bambang, Selasa (15/9/2026), seperti dikutip mediacenter riau.

Berdasarkan jenis kelamin, penderita ISPA perempuan tercatat sedikit lebih banyak dibandingkan laki-laki. Dari 1.860 kasus, sebanyak 959 penderita merupakan perempuan, sedangkan laki-laki mencapai 901 kasus.

Sebaran kasus juga menunjukkan sejumlah wilayah memiliki angka cukup tinggi. Kecamatan Kabun menjadi daerah dengan kasus ISPA terbanyak, yakni 284 kasus, terdiri atas 140 penderita laki-laki dan 144 perempuan.

Selanjutnya, kasus tercatat di Kecamatan Tandun sebanyak 141 kasus, Ujung Batu 124 kasus, Rambah 104 kasus, Pagarantapah 66 kasus, Bonai Darussalam 48 kasus, serta Rambah Hilir II sebanyak 43 kasus. Kasus lainnya tersebar di sejumlah kecamatan di Kabupaten Rohul.

Bambang menegaskan, ISPA tidak semata-mata disebabkan oleh kabut asap. Penyakit tersebut tetap dapat menyerang masyarakat dalam kondisi tanpa paparan asap. Namun, kualitas udara yang memburuk akibat asap dapat menjadi salah satu faktor yang memicu peningkatan kasus.

“Tidak ada asap pun masyarakat bisa terkena ISPA. Hanya karena ada asap, kasusnya sedikit meningkat,” ujarnya.

Di tengah kondisi kualitas udara Rohul yang kurang sehat, Diskes mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap kelompok rentan seperti balita, anak-anak dan remaja.

Masyarakat juga diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk. Jika harus beraktivitas di luar rumah, penggunaan masker dianjurkan sebagai langkah perlindungan dari paparan udara yang tidak sehat.

“Kalaupun keluar rumah, kita imbau tetap gunakan masker ketika harus beraktivitas di luar,” kata Bambang. (*)