logo
● Hari ke-14 Tragedi KM Virgo: 11 Jasad Kembali Ditemukan, Total Korban Tewas Jadi Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Comeback Dramatis PSPS Pekanbaru, Askar Bertuah Tundukkan Sumsel United 2-1 Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Resmi Emban Amanah sebagai Wakapolda Riau, Brigjen Pol Simson Zet Ringu Bicara " Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● BMKG Pantau Kemunculan 8 Hotspot di Riau, Sebaran Terbanyak di Inhu Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Warga Riau Diminta Waspada, BMKG Prediksi Hujan Lebat dan Angin Kencang Hari Ini Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● KKP Evakuasi Bangkai Diduga Paus di Inhil, Sampel Darah Dibawa ke Laboratorium Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● 11 Lokasi PETI Ditertibkan di Kuansing, Polisi Musnahkan 42 Rakit Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Indonesia vs Singapura: Adu Kualitas Teknik di Bawah Gemuruh GBK Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / Ekonomi / KEUANGAN
Rupiah Akhir Pekan Menguat Tipis, Tapi Bayang-Bayang Rp18.000 Belum Pergi
Ilustrasi. Rupiah menguat tipis pada penutupan perdagangan, Jumat (25/9/2026). (Foto: AI/Pekanbarutv)
Rupiah Akhir Pekan Menguat Tipis, Tapi Bayang-Bayang Rp18.000 Belum Pergi
Editor: Arya Mahendra
Rubrik: ekonomi | 25 September 2026 | 17:06:12

JAKARTA - Rupiah menutup perdagangan akhir pekan dengan penguatan tipis. Nilai tukar rupiah di pasar spot pada Jumat (25/9/2026) naik 13 poin atau 0,07 persen ke level Rp17.903 per dolar AS, dari posisi penutupan sehari sebelumnya Rp17.916 per dolar AS.

Meski menguat, posisi rupiah masih bertahan di atas Rp17.900 per dolar AS. Artinya, tekanan terhadap mata uang Garuda belum sepenuhnya mereda, sementara level psikologis Rp18.000 masih menjadi perhatian pasar. Dalam sepekan, rupiah tercatat melemah sekitar 0,82 persen dibandingkan posisi Rp17.758 per dolar AS pada Jumat pekan sebelumnya.

Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuabi, mengatakan penguatan rupiah salah satunya dipengaruhi membaiknya hubungan ekonomi antara Amerika Serikat dan China.

iklan-view

Menurut Ibrahim, sentimen positif muncul setelah Washington dan Beijing sepakat memperpanjang gencatan perdagangan hingga 10 Januari 2027. Kesepakatan tersebut sebelumnya dijadwalkan berakhir pada 10 November 2026.

“Washington dan Beijing sepakat untuk memperpanjang gencatan senjata perdagangan mereka hingga 10 Januari 2027,” kata Ibrahim dalam keterangannya yang dikutip Pekanbarutv.com, Jumat (25/9/2026).

Perpanjangan tersebut memberi ruang bagi kedua negara untuk melanjutkan pembicaraan ekonomi. Sejumlah agenda yang berpotensi dibahas antara lain peningkatan pembelian produk pertanian Amerika Serikat oleh China serta peluang kerja sama di sektor jasa keuangan.

Kesepakatan itu diumumkan setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng melakukan pertemuan di Washington.

Sinyal The Fed Masih Jadi Risiko

Di sisi lain, pasar masih menghadapi sentimen yang berpotensi menekan rupiah, terutama dari arah kebijakan moneter Amerika Serikat.

Presiden Federal Reserve Bank of New York, John Williams, menegaskan pentingnya mengembalikan inflasi ke target. Pernyataan tersebut membuka ruang bagi kemungkinan kenaikan suku bunga kembali sebelum akhir tahun.

Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland, Beth Hammack, juga mengingatkan bahwa semakin lama inflasi bertahan tinggi, semakin sulit mengembalikannya ke target.

Sentimen tersebut diperkuat oleh sejumlah data ekonomi AS yang masih menunjukkan ketahanan. Data Purchasing Managers' Index (PMI) S&P Global AS mencatat PMI komposit September berada di level 58,4, menjadi level tertinggi dalam lima tahun.

Sementara itu, klaim awal tunjangan pengangguran AS turun menjadi 197 ribu untuk pekan yang berakhir 19 September, di bawah ekspektasi pasar sebesar 201 ribu.

Data ekonomi yang relatif kuat tersebut berpotensi mempertahankan tekanan terhadap pasar mata uang negara berkembang karena membuka ruang bagi kebijakan suku bunga AS yang lebih ketat.

JISDOR Masih di Atas Rp17.900

Tekanan tersebut juga tercermin dari pergerakan kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia.

Dalam data terbaru yang tersedia, JISDOR pada 24 September berada di level Rp17.898 per dolar AS, naik dari Rp17.803 sehari sebelumnya.

Dengan rupiah pasar spot yang masih berada di Rp17.903, perhatian pelaku pasar pada perdagangan awal pekan depan diperkirakan tetap tertuju pada perkembangan hubungan AS-China, arah kebijakan The Fed, serta dinamika geopolitik global.

Rupiah memang berhasil mengakhiri perdagangan Jumat dengan penguatan, tetapi jaraknya dengan level Rp18.000 masih tipis. Kondisi ini membuat pergerakan mata uang Garuda tetap sensitif terhadap perubahan sentimen global. (*)

Home / Ekonomi
Rupiah Akhir Pekan Menguat Tipis, Tapi Bayang-Bayang Rp18.000 Belum Pergi
Editor: Arya Mahendra
Rubrik: ekonomi | 25 September 2026 | 17:06:12
Rupiah Akhir Pekan Menguat Tipis, Tapi Bayang-Bayang Rp18.000 Belum Pergi
Ilustrasi. Rupiah menguat tipis pada penutupan perdagangan, Jumat (25/9/2026). (Foto: AI/Pekanbarutv)

JAKARTA - Rupiah menutup perdagangan akhir pekan dengan penguatan tipis. Nilai tukar rupiah di pasar spot pada Jumat (25/9/2026) naik 13 poin atau 0,07 persen ke level Rp17.903 per dolar AS, dari posisi penutupan sehari sebelumnya Rp17.916 per dolar AS.

Meski menguat, posisi rupiah masih bertahan di atas Rp17.900 per dolar AS. Artinya, tekanan terhadap mata uang Garuda belum sepenuhnya mereda, sementara level psikologis Rp18.000 masih menjadi perhatian pasar. Dalam sepekan, rupiah tercatat melemah sekitar 0,82 persen dibandingkan posisi Rp17.758 per dolar AS pada Jumat pekan sebelumnya.

Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuabi, mengatakan penguatan rupiah salah satunya dipengaruhi membaiknya hubungan ekonomi antara Amerika Serikat dan China.

Menurut Ibrahim, sentimen positif muncul setelah Washington dan Beijing sepakat memperpanjang gencatan perdagangan hingga 10 Januari 2027. Kesepakatan tersebut sebelumnya dijadwalkan berakhir pada 10 November 2026.

“Washington dan Beijing sepakat untuk memperpanjang gencatan senjata perdagangan mereka hingga 10 Januari 2027,” kata Ibrahim dalam keterangannya yang dikutip Pekanbarutv.com, Jumat (25/9/2026).

Perpanjangan tersebut memberi ruang bagi kedua negara untuk melanjutkan pembicaraan ekonomi. Sejumlah agenda yang berpotensi dibahas antara lain peningkatan pembelian produk pertanian Amerika Serikat oleh China serta peluang kerja sama di sektor jasa keuangan.

Kesepakatan itu diumumkan setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng melakukan pertemuan di Washington.

Sinyal The Fed Masih Jadi Risiko

Di sisi lain, pasar masih menghadapi sentimen yang berpotensi menekan rupiah, terutama dari arah kebijakan moneter Amerika Serikat.

Presiden Federal Reserve Bank of New York, John Williams, menegaskan pentingnya mengembalikan inflasi ke target. Pernyataan tersebut membuka ruang bagi kemungkinan kenaikan suku bunga kembali sebelum akhir tahun.

Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland, Beth Hammack, juga mengingatkan bahwa semakin lama inflasi bertahan tinggi, semakin sulit mengembalikannya ke target.

Sentimen tersebut diperkuat oleh sejumlah data ekonomi AS yang masih menunjukkan ketahanan. Data Purchasing Managers' Index (PMI) S&P Global AS mencatat PMI komposit September berada di level 58,4, menjadi level tertinggi dalam lima tahun.

Sementara itu, klaim awal tunjangan pengangguran AS turun menjadi 197 ribu untuk pekan yang berakhir 19 September, di bawah ekspektasi pasar sebesar 201 ribu.

Data ekonomi yang relatif kuat tersebut berpotensi mempertahankan tekanan terhadap pasar mata uang negara berkembang karena membuka ruang bagi kebijakan suku bunga AS yang lebih ketat.

JISDOR Masih di Atas Rp17.900

Tekanan tersebut juga tercermin dari pergerakan kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia.

Dalam data terbaru yang tersedia, JISDOR pada 24 September berada di level Rp17.898 per dolar AS, naik dari Rp17.803 sehari sebelumnya.

Dengan rupiah pasar spot yang masih berada di Rp17.903, perhatian pelaku pasar pada perdagangan awal pekan depan diperkirakan tetap tertuju pada perkembangan hubungan AS-China, arah kebijakan The Fed, serta dinamika geopolitik global.

Rupiah memang berhasil mengakhiri perdagangan Jumat dengan penguatan, tetapi jaraknya dengan level Rp18.000 masih tipis. Kondisi ini membuat pergerakan mata uang Garuda tetap sensitif terhadap perubahan sentimen global. (*)