
JAKARTA - Nilai tukar rupiah menutup perdagangan pekan ini dengan penguatan. Mata uang Garuda berada di level Rp17.882 per dolar AS pada penutupan perdagangan Jumat (2/10/2026), menguat 84 poin atau 0,47 persen dibandingkan posisi penutupan sehari sebelumnya di Rp17.966 per dolar AS.
Penguatan tersebut memperpanjang tren positif rupiah di penghujung pekan. Pergerakan rupiah terjadi ketika indeks dolar AS berada di bawah tekanan, sementara pasar mulai mengurangi ekspektasi terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada Oktober.
Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan salah satu faktor yang menopang rupiah adalah meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Kondisi tersebut dipengaruhi data inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan. Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober sekitar 26 persen, turun dari sekitar 69 persen pada pekan sebelumnya.

Meski demikian, ruang penguatan rupiah masih dibayangi sentimen global. Pasar tetap mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah, khususnya meningkatnya spekulasi mengenai potensi eskalasi konflik Amerika Serikat dan Iran setelah pemilihan umum paruh waktu AS pada November.
Rencana pengiriman tambahan sekitar 10.000 tentara AS ke Timur Tengah serta kemungkinan meningkatnya ketegangan AS-Iran menjadi perhatian investor. Situasi tersebut turut membuat pasar mencermati perkembangan di Selat Hormuz, jalur pelayaran penting bagi pasokan energi global.
Menurut Ibrahim, potensi gangguan terhadap pasokan energi dapat meningkatkan risiko inflasi global. Kondisi itu pada akhirnya dapat memengaruhi arah kebijakan moneter bank-bank sentral, termasuk The Fed, sehingga tetap menjadi faktor yang diperhitungkan pelaku pasar dalam menentukan posisi terhadap rupiah.
Dari dalam negeri, perhatian pasar juga tertuju pada kebijakan Bank Indonesia (BI). BI memperluas jenis surat berharga yang dapat digunakan sebagai underlying dalam operasi moneter, termasuk obligasi dan sukuk korporasi berkualitas tinggi.
Ibrahim menilai kebijakan tersebut memberikan ruang lebih besar bagi perbankan untuk mengelola likuiditas sekaligus berpotensi meningkatkan aktivitas transaksi surat berharga korporasi di pasar keuangan. Langkah itu merupakan bagian dari penguatan operasi moneter yang lebih berorientasi pasar dan terintegrasi dengan pengembangan Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing (PUVA).
Dengan demikian, meski rupiah berhasil mengakhiri perdagangan Jumat di bawah level Rp18.000 per dolar AS, tekanan eksternal masih menjadi faktor yang perlu diwaspadai. Pergerakan rupiah pada pekan depan diperkirakan tetap fluktuatif, dengan perhatian pasar tertuju pada perkembangan geopolitik, arah kebijakan The Fed, serta data ekonomi Amerika Serikat.
Ibrahim memperkirakan rupiah pada perdagangan Senin mendatang bergerak di kisaran Rp17.880–Rp17.930 per dolar AS. Sementara untuk perdagangan sepanjang pekan depan, rupiah diperkirakan berada dalam rentang Rp17.750 - Rp18.050 per dolar AS. (*)




JAKARTA - Nilai tukar rupiah menutup perdagangan pekan ini dengan penguatan. Mata uang Garuda berada di level Rp17.882 per dolar AS pada penutupan perdagangan Jumat (2/10/2026), menguat 84 poin atau 0,47 persen dibandingkan posisi penutupan sehari sebelumnya di Rp17.966 per dolar AS.
Penguatan tersebut memperpanjang tren positif rupiah di penghujung pekan. Pergerakan rupiah terjadi ketika indeks dolar AS berada di bawah tekanan, sementara pasar mulai mengurangi ekspektasi terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada Oktober.
Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan salah satu faktor yang menopang rupiah adalah meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Kondisi tersebut dipengaruhi data inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan. Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober sekitar 26 persen, turun dari sekitar 69 persen pada pekan sebelumnya.
Meski demikian, ruang penguatan rupiah masih dibayangi sentimen global. Pasar tetap mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah, khususnya meningkatnya spekulasi mengenai potensi eskalasi konflik Amerika Serikat dan Iran setelah pemilihan umum paruh waktu AS pada November.
Rencana pengiriman tambahan sekitar 10.000 tentara AS ke Timur Tengah serta kemungkinan meningkatnya ketegangan AS-Iran menjadi perhatian investor. Situasi tersebut turut membuat pasar mencermati perkembangan di Selat Hormuz, jalur pelayaran penting bagi pasokan energi global.
Menurut Ibrahim, potensi gangguan terhadap pasokan energi dapat meningkatkan risiko inflasi global. Kondisi itu pada akhirnya dapat memengaruhi arah kebijakan moneter bank-bank sentral, termasuk The Fed, sehingga tetap menjadi faktor yang diperhitungkan pelaku pasar dalam menentukan posisi terhadap rupiah.
Dari dalam negeri, perhatian pasar juga tertuju pada kebijakan Bank Indonesia (BI). BI memperluas jenis surat berharga yang dapat digunakan sebagai underlying dalam operasi moneter, termasuk obligasi dan sukuk korporasi berkualitas tinggi.
Ibrahim menilai kebijakan tersebut memberikan ruang lebih besar bagi perbankan untuk mengelola likuiditas sekaligus berpotensi meningkatkan aktivitas transaksi surat berharga korporasi di pasar keuangan. Langkah itu merupakan bagian dari penguatan operasi moneter yang lebih berorientasi pasar dan terintegrasi dengan pengembangan Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing (PUVA).
Dengan demikian, meski rupiah berhasil mengakhiri perdagangan Jumat di bawah level Rp18.000 per dolar AS, tekanan eksternal masih menjadi faktor yang perlu diwaspadai. Pergerakan rupiah pada pekan depan diperkirakan tetap fluktuatif, dengan perhatian pasar tertuju pada perkembangan geopolitik, arah kebijakan The Fed, serta data ekonomi Amerika Serikat.
Ibrahim memperkirakan rupiah pada perdagangan Senin mendatang bergerak di kisaran Rp17.880–Rp17.930 per dolar AS. Sementara untuk perdagangan sepanjang pekan depan, rupiah diperkirakan berada dalam rentang Rp17.750 - Rp18.050 per dolar AS. (*)