logo
● Kualitas Udara Pekanbaru Memburuk, Siswa Kembali Belajar dari Rumah Selama Dua H Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Peneliti Dirgantara 14 Negara Berkumpul di Yogyakarta, Bahas Masa Depan Roket hi Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Konflik Yaman-Saudi Memanas, Rupiah Melemah ke Rp17.917 Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Progres Pengaspalan Tembus 60 Persen, Fraksi Golkar Ingatkan Pemko Pekanbaru Jan Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Dugaan Penipuan Rp9,6 Miliar di Polda Riau, Wali Kota Payakumbuh Zulmaeta Buka S Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Udara Tak Sehat, Pemkab Kuansing Berlakukan PJJ Selama Dua Hari Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Tak Terima Anak Sering Keluar Malam, Ayah di Rohul Tikam Anak Kandung Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Empat Pengunjung Positif Narkoba, Polisi Amankan Pria Bawa Samurai Saat Razia TH Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
Konser Israel & New Breed Ditolak, Sikap Israel Houghton Jadi Sorotan
Penyanyi Israel Houghton dan Israel & New Breed dikritik banyak pihak. Desakan agar konser ini dibatalkan makin menguat menjelang pelaksanannya yang dijadwalkan di Jakarta pada 24 Oktober 2026 . (Foto: New Breed Music)
Konser Israel & New Breed Ditolak, Sikap Israel Houghton Jadi Sorotan
Editor: putrajaya
Rubrik: news | 5 Oktober 2026 | 09:54:59

JAKARTA - Rencana konser Israel & New Breed di Jakarta mendapat penolakan dari Senator DPD RI Dailami Firdaus. Cucu ulama Betawi KH Abdullah Syafii itu meminta pemerintah tidak memberikan izin penyelenggaraan konser yang dijadwalkan berlangsung pada 24 Oktober 2026 tersebut.

Penolakan Dailami terutama menyoroti sikap vokalis Israel & New Breed, Israel Houghton, yang pada Oktober 2023 pernah menyatakan dukungan kepada Israel melalui akun media sosialnya. Pernyataan itu kembali menjadi sorotan di tengah konflik Gaza dan seruan solidaritas terhadap Palestina di Indonesia.

iklan-view

Konser bertajuk "Til The Whole World Knows Tour 2026" tersebut dijadwalkan berlangsung di The Music Hall, Grha Pengharapan Building, Jakarta. Penjualan tiket dan informasi penyelenggaraan konser masih tercantum pada platform penjualan tiket.

Dailami meminta instansi yang memiliki kewenangan dalam proses perizinan untuk mencermati latar belakang dan kontroversi yang berkembang sebelum mengambil keputusan.

Menurut dia, persoalan tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan pertunjukan musik. Sikap salah satu personel utama terhadap Israel menjadi faktor yang menurutnya perlu diperhitungkan, terutama karena konser digelar ketika isu Palestina dan penderitaan warga Gaza masih menjadi perhatian besar masyarakat Indonesia.

"Pemerintah harus tegas dan konsisten dengan sikap politik luar negeri Indonesia yang mendukung kemerdekaan Palestina. Jangan sampai kegiatan yang berpotensi menimbulkan persoalan di tengah masyarakat justru dibiarkan berjalan tanpa pertimbangan yang matang," kata Dailami dalam keterangannya, Minggu (4/10/2026).

Pernyataan Israel Houghton pada Oktober 2023 menjadi salah satu dasar munculnya seruan boikot terhadap konser tersebut. Dalam unggahan yang kembali beredar, Houghton menyatakan dukungan kepada Israel dan menulis bahwa dirinya berdiri bersama Israel. Pernyataan itu kemudian dikaitkan dengan sikap politiknya terhadap konflik Israel-Palestina.

Seruan penolakan tidak hanya datang dari Dailami. Sejumlah figur publik, antara lain Chiki Fawzi, Wanda Hamidah, Annisa Theresia Maqdisia, dan seniman pantomim Wanggi Hoed, sebelumnya juga menyerukan boikot terhadap konser tersebut.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga telah meminta penyelenggara memberikan penjelasan terbuka mengenai konser tersebut. Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional Sudarnoto Abdul Hakim mengatakan informasi mengenai dugaan keterkaitan konser dengan dukungan terhadap Israel perlu diverifikasi agar masyarakat tidak mengambil sikap berdasarkan rumor.

Sudarnoto menegaskan, jika setelah dilakukan verifikasi ternyata konser tersebut membawa atau mempromosikan agenda dukungan terhadap Israel, pemerintah perlu memberikan perhatian serius. MUI juga meminta penyelenggara menjelaskan pihak-pihak yang terlibat serta tujuan kegiatan secara transparan.

Dailami menilai berkembangnya penolakan dari berbagai kalangan seharusnya menjadi pertimbangan pemerintah sebelum memberikan izin. Ia meminta kementerian dan lembaga terkait, aparat keamanan, serta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melakukan kajian secara menyeluruh.

Menurutnya, aspek ekonomi tidak semestinya menjadi satu-satunya pertimbangan dalam memberikan izin kegiatan hiburan. Pemerintah juga perlu melihat aspek ketertiban umum, situasi keamanan, serta respons masyarakat terhadap kegiatan tersebut.

"Perputaran ekonomi memang penting, tetapi pemerintah tidak boleh hanya melihat besarnya keuntungan. Aspek sosial, ketertiban umum, dan sensitivitas masyarakat juga harus menjadi pertimbangan utama. Jangan sampai kepentingan ekonomi mengabaikan persoalan yang lebih luas," ujarnya seperti dilansir republika.

Dailami kemudian meminta Pemprov DKI Jakarta melalui Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif lebih berhati-hati dalam memproses rencana konser tersebut. Ia meminta izin tidak diterbitkan sampai terdapat kejelasan mengenai penyelenggaraan konser dan persoalan yang melatarbelakangi penolakan.

Di sisi lain, penyelenggara melalui platform tiket mempromosikan Israel & New Breed sebagai kelompok musik gospel dan worship yang membawa pesan iman, persatuan, dan harapan. Konser di Jakarta dijadwalkan pada Sabtu, 24 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB.

Dengan demikian, polemik konser ini tidak hanya berkisar pada kehadiran musisi internasional di Jakarta. Sikap politik Israel Houghton terhadap Israel, situasi konflik Gaza, serta dugaan adanya keterkaitan dengan agenda dukungan terhadap Israel menjadi alasan yang mendorong sejumlah pihak meminta pemerintah meninjau kembali rencana pertunjukan tersebut. (*)

Home / News
Konser Israel & New Breed Ditolak, Sikap Israel Houghton Jadi Sorotan
Editor: putrajaya
Rubrik: news | 5 Oktober 2026 | 09:54:59
Konser Israel & New Breed Ditolak, Sikap Israel Houghton Jadi Sorotan
Penyanyi Israel Houghton dan Israel & New Breed dikritik banyak pihak. Desakan agar konser ini dibatalkan makin menguat menjelang pelaksanannya yang dijadwalkan di Jakarta pada 24 Oktober 2026 . (Foto: New Breed Music)

JAKARTA - Rencana konser Israel & New Breed di Jakarta mendapat penolakan dari Senator DPD RI Dailami Firdaus. Cucu ulama Betawi KH Abdullah Syafii itu meminta pemerintah tidak memberikan izin penyelenggaraan konser yang dijadwalkan berlangsung pada 24 Oktober 2026 tersebut.

Penolakan Dailami terutama menyoroti sikap vokalis Israel & New Breed, Israel Houghton, yang pada Oktober 2023 pernah menyatakan dukungan kepada Israel melalui akun media sosialnya. Pernyataan itu kembali menjadi sorotan di tengah konflik Gaza dan seruan solidaritas terhadap Palestina di Indonesia.

Konser bertajuk "Til The Whole World Knows Tour 2026" tersebut dijadwalkan berlangsung di The Music Hall, Grha Pengharapan Building, Jakarta. Penjualan tiket dan informasi penyelenggaraan konser masih tercantum pada platform penjualan tiket.

Dailami meminta instansi yang memiliki kewenangan dalam proses perizinan untuk mencermati latar belakang dan kontroversi yang berkembang sebelum mengambil keputusan.

Menurut dia, persoalan tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan pertunjukan musik. Sikap salah satu personel utama terhadap Israel menjadi faktor yang menurutnya perlu diperhitungkan, terutama karena konser digelar ketika isu Palestina dan penderitaan warga Gaza masih menjadi perhatian besar masyarakat Indonesia.

"Pemerintah harus tegas dan konsisten dengan sikap politik luar negeri Indonesia yang mendukung kemerdekaan Palestina. Jangan sampai kegiatan yang berpotensi menimbulkan persoalan di tengah masyarakat justru dibiarkan berjalan tanpa pertimbangan yang matang," kata Dailami dalam keterangannya, Minggu (4/10/2026).

Pernyataan Israel Houghton pada Oktober 2023 menjadi salah satu dasar munculnya seruan boikot terhadap konser tersebut. Dalam unggahan yang kembali beredar, Houghton menyatakan dukungan kepada Israel dan menulis bahwa dirinya berdiri bersama Israel. Pernyataan itu kemudian dikaitkan dengan sikap politiknya terhadap konflik Israel-Palestina.

Seruan penolakan tidak hanya datang dari Dailami. Sejumlah figur publik, antara lain Chiki Fawzi, Wanda Hamidah, Annisa Theresia Maqdisia, dan seniman pantomim Wanggi Hoed, sebelumnya juga menyerukan boikot terhadap konser tersebut.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga telah meminta penyelenggara memberikan penjelasan terbuka mengenai konser tersebut. Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional Sudarnoto Abdul Hakim mengatakan informasi mengenai dugaan keterkaitan konser dengan dukungan terhadap Israel perlu diverifikasi agar masyarakat tidak mengambil sikap berdasarkan rumor.

Sudarnoto menegaskan, jika setelah dilakukan verifikasi ternyata konser tersebut membawa atau mempromosikan agenda dukungan terhadap Israel, pemerintah perlu memberikan perhatian serius. MUI juga meminta penyelenggara menjelaskan pihak-pihak yang terlibat serta tujuan kegiatan secara transparan.

Dailami menilai berkembangnya penolakan dari berbagai kalangan seharusnya menjadi pertimbangan pemerintah sebelum memberikan izin. Ia meminta kementerian dan lembaga terkait, aparat keamanan, serta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melakukan kajian secara menyeluruh.

Menurutnya, aspek ekonomi tidak semestinya menjadi satu-satunya pertimbangan dalam memberikan izin kegiatan hiburan. Pemerintah juga perlu melihat aspek ketertiban umum, situasi keamanan, serta respons masyarakat terhadap kegiatan tersebut.

"Perputaran ekonomi memang penting, tetapi pemerintah tidak boleh hanya melihat besarnya keuntungan. Aspek sosial, ketertiban umum, dan sensitivitas masyarakat juga harus menjadi pertimbangan utama. Jangan sampai kepentingan ekonomi mengabaikan persoalan yang lebih luas," ujarnya seperti dilansir republika.

Dailami kemudian meminta Pemprov DKI Jakarta melalui Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif lebih berhati-hati dalam memproses rencana konser tersebut. Ia meminta izin tidak diterbitkan sampai terdapat kejelasan mengenai penyelenggaraan konser dan persoalan yang melatarbelakangi penolakan.

Di sisi lain, penyelenggara melalui platform tiket mempromosikan Israel & New Breed sebagai kelompok musik gospel dan worship yang membawa pesan iman, persatuan, dan harapan. Konser di Jakarta dijadwalkan pada Sabtu, 24 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB.

Dengan demikian, polemik konser ini tidak hanya berkisar pada kehadiran musisi internasional di Jakarta. Sikap politik Israel Houghton terhadap Israel, situasi konflik Gaza, serta dugaan adanya keterkaitan dengan agenda dukungan terhadap Israel menjadi alasan yang mendorong sejumlah pihak meminta pemerintah meninjau kembali rencana pertunjukan tersebut. (*)