
JAKARTA – Nilai tukar rupiah berhasil menutup perdagangan Selasa (9/6/2026) dengan penguatan signifikan di tengah membaiknya sentimen pasar global. Mata uang rupiah ditutup di level Rp18.058 per dolar AS, menguat 129 poin atau 0,71 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya.
Penguatan rupiah terjadi seiring menguatnya mayoritas mata uang Asia terhadap dolar AS. Yuan China naik 0,18 persen, peso Filipina menguat 0,22 persen, ringgit Malaysia terapresiasi 0,24 persen, sementara won Korea Selatan melonjak 0,37 persen. Dolar Singapura dan dolar Hong Kong juga bergerak positif, meski dalam penguatan yang lebih terbatas.
Di kelompok mata uang negara maju, tren serupa juga terlihat. Euro menguat 0,06 persen, poundsterling Inggris naik 0,28 persen, dolar Australia bertambah 0,13 persen, sedangkan dolar Kanada dan franc Swiss masing-masing menguat 0,09 persen dan 0,10 persen terhadap dolar AS.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai penguatan rupiah dipicu meningkatnya optimisme investor setelah Iran dan Israel dilaporkan menyepakati penghentian serangan yang sempat memicu kekhawatiran pasar global.
Menurutnya, salah satu poin penting dalam upaya perdamaian tersebut adalah dorongan agar Selat Hormuz kembali beroperasi normal. Jalur strategis ini selama ini menjadi lintasan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia sehingga setiap gangguan berpotensi memicu lonjakan harga energi global.
“Pasar merespons positif meredanya ketegangan geopolitik karena risiko gangguan pasokan energi mulai berkurang,” ujar Ibrahim.
Meski demikian, pelaku pasar masih dibayangi kekhawatiran terhadap inflasi Amerika Serikat yang berpotensi tetap tinggi akibat tekanan harga energi. Kondisi tersebut dapat membuat Federal Reserve menunda pemangkasan suku bunga atau bahkan mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.
Kekhawatiran itu tercermin dari meningkatnya imbal hasil obligasi pemerintah AS dan menguatnya dolar AS dalam beberapa waktu terakhir. Investor kini menanti rilis data inflasi AS atau Consumer Price Index (CPI) Mei yang dijadwalkan keluar pada Rabu (10/6/2026). Inflasi diperkirakan mencapai 4,2 persen secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan 3,8 persen pada April.
Dari dalam negeri, sentimen positif juga datang dari rencana pemerintah menyiapkan paket stimulus ekonomi baru untuk menjaga daya beli masyarakat dan menopang pertumbuhan ekonomi di tengah tekanan eksternal.
Pemerintah dan Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi kebijakan fiskal dan moneter guna menjaga stabilitas ekonomi nasional. Sinergi tersebut dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia.
Sementara itu, Bank Indonesia sebelumnya telah menaikkan suku bunga acuan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,5 persen. Kebijakan tersebut ditempuh sebagai langkah lanjutan untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah tingginya ketidakpastian global, terutama akibat konflik di Timur Tengah.
Selain menjaga nilai tukar, kenaikan suku bunga juga ditujukan untuk memastikan inflasi tetap berada dalam target pemerintah sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen pada 2026 dan 2027.
Ke depan, BI diperkirakan masih akan mengoptimalkan berbagai instrumen stabilisasi, termasuk meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik guna mendorong masuknya aliran modal asing.
Untuk perdagangan Rabu (10/6/2026), rupiah diproyeksikan bergerak dalam kisaran Rp18.050 hingga Rp18.100 per dolar AS dengan arah pasar yang masih sangat dipengaruhi perkembangan inflasi AS dan situasi geopolitik global. (**)
Sumber: CNNIndonesia


JAKARTA – Nilai tukar rupiah berhasil menutup perdagangan Selasa (9/6/2026) dengan penguatan signifikan di tengah membaiknya sentimen pasar global. Mata uang rupiah ditutup di level Rp18.058 per dolar AS, menguat 129 poin atau 0,71 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya.
Penguatan rupiah terjadi seiring menguatnya mayoritas mata uang Asia terhadap dolar AS. Yuan China naik 0,18 persen, peso Filipina menguat 0,22 persen, ringgit Malaysia terapresiasi 0,24 persen, sementara won Korea Selatan melonjak 0,37 persen. Dolar Singapura dan dolar Hong Kong juga bergerak positif, meski dalam penguatan yang lebih terbatas.
Di kelompok mata uang negara maju, tren serupa juga terlihat. Euro menguat 0,06 persen, poundsterling Inggris naik 0,28 persen, dolar Australia bertambah 0,13 persen, sedangkan dolar Kanada dan franc Swiss masing-masing menguat 0,09 persen dan 0,10 persen terhadap dolar AS.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai penguatan rupiah dipicu meningkatnya optimisme investor setelah Iran dan Israel dilaporkan menyepakati penghentian serangan yang sempat memicu kekhawatiran pasar global.
Menurutnya, salah satu poin penting dalam upaya perdamaian tersebut adalah dorongan agar Selat Hormuz kembali beroperasi normal. Jalur strategis ini selama ini menjadi lintasan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia sehingga setiap gangguan berpotensi memicu lonjakan harga energi global.
“Pasar merespons positif meredanya ketegangan geopolitik karena risiko gangguan pasokan energi mulai berkurang,” ujar Ibrahim.
Meski demikian, pelaku pasar masih dibayangi kekhawatiran terhadap inflasi Amerika Serikat yang berpotensi tetap tinggi akibat tekanan harga energi. Kondisi tersebut dapat membuat Federal Reserve menunda pemangkasan suku bunga atau bahkan mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.
Kekhawatiran itu tercermin dari meningkatnya imbal hasil obligasi pemerintah AS dan menguatnya dolar AS dalam beberapa waktu terakhir. Investor kini menanti rilis data inflasi AS atau Consumer Price Index (CPI) Mei yang dijadwalkan keluar pada Rabu (10/6/2026). Inflasi diperkirakan mencapai 4,2 persen secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan 3,8 persen pada April.
Dari dalam negeri, sentimen positif juga datang dari rencana pemerintah menyiapkan paket stimulus ekonomi baru untuk menjaga daya beli masyarakat dan menopang pertumbuhan ekonomi di tengah tekanan eksternal.
Pemerintah dan Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi kebijakan fiskal dan moneter guna menjaga stabilitas ekonomi nasional. Sinergi tersebut dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia.
Sementara itu, Bank Indonesia sebelumnya telah menaikkan suku bunga acuan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,5 persen. Kebijakan tersebut ditempuh sebagai langkah lanjutan untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah tingginya ketidakpastian global, terutama akibat konflik di Timur Tengah.
Selain menjaga nilai tukar, kenaikan suku bunga juga ditujukan untuk memastikan inflasi tetap berada dalam target pemerintah sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen pada 2026 dan 2027.
Ke depan, BI diperkirakan masih akan mengoptimalkan berbagai instrumen stabilisasi, termasuk meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik guna mendorong masuknya aliran modal asing.
Untuk perdagangan Rabu (10/6/2026), rupiah diproyeksikan bergerak dalam kisaran Rp18.050 hingga Rp18.100 per dolar AS dengan arah pasar yang masih sangat dipengaruhi perkembangan inflasi AS dan situasi geopolitik global. (**)
Sumber: CNNIndonesia